Distrik Gion, Kyoto, Jepang (Foto; Elitha Evinora Tarigan)
Distrik Gion, Kyoto, Jepang (Foto; Elitha Evinora Tarigan)
KYOTO – Orang Jepang sangat suka naik kendaraan umum. Jalan raya mereka juga sama sepinya dengan kondisi jalan gang rumah ini.
Pajak yang tinggi dan sistem yang sangat teratur membuat warga Jepang memilih untuk naik transportasi umum yang menjangkau hingga sudut rumah warga.
Jalan raya di Jepang hanya diisi oleh mobil mewah. Di Tokyo misalnya, mobil sekelas Lamborghini dan Ferrari terparkir santai di sudut-sudut cafe di pinggir jalan. Anda sudah tentu tahu bila pemiliknya sudah pasti orang berada.
Warga Jepang juga sangat suka berjalan kaki. Jadi tak perlu heran bila melihat suasana jalan raya dan perumahan sepi di siang hari. Mereka sangat suka menggunakan transportasi unum seperti kereta bawah tanah. Anda akan menemukan kerumunan manusia seramai Tanah Abang bila masuknke area stasiun kereta. Selamat berlibur di Jepang.
Kantor kementerian pertanian (Foto: Pertanian/ THE EDITOR)
PANAIKANG – Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan adalah salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang menjadi daerah lumbung padi nasional. Hampir sebagian penduduk di kabupaten ini menyandarkan hidupnya sebagai petani dan perikanan. Meski dialiri oleh lima sungai besar, namun belum semua area pertanian dialiri air dengan sempurna.
Di Kecamatan Minasatene misalnya, Sungai Leang Lonrong yang memiliki panjang sekitar 6.250 kilometer dan luas daerah aliran sungai mencapai 25 kilometer ternyata tidak bisa mengairi seluruh sawah di kecamatan ini karena tidak adanya embung.
Ketua Kelompok Tani Bonto Ulu, Abdul Aziz yang berada di Desa Panaikang Kecamatan Minasatene mengatakan selama ini petani yang berada di desanya hanya bisa menanam padi dua kali dalam setahun. Ia berharap di tahun-tahun selanjutnya 25 petani yang masuk dalam kelompoknya bisa mulai menanam padi tiga kali setahun di atas lahan mereka yang mencapai 25 hektar.
Selama ini, lanjutnya, 25 petani ini tengah menanti bantuan Alsintan dari pemerintah, terutama Bupati Pangkajene dan Kepulauan serta Menteri Pertanian. Pasalnya perbaikan kesejahteraan para petani tersebut sangat bergantung pada modernisasi Alsintan yang dibantu oleh pemerintah.
“Kami berharap bisa mendapat bantuan combine harvester dari pemerintah,” ungkap Abdul saat berbincang dengan redaksi, Minggu (8/8).
Kata Abdul, 25 petani yang berada di bawah naungannya tiap tahun aktif menanam padi, jagung dan kedelai. Keberadaan combine harvester tersebut diyakininya akan meningkatkan produksi tanaman pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani di kecamatannya. Sayangnya, permintaan mereka akan alat pertanian modern tersebut belum juga dikabulkan oleh kementerian pertanian sejak tahun 2018 lalu.
“Harapan kami Alsinyan akan membantu kami mendapat keuntungan yang signifikan dari hasil pertanian kami. Jadi kedepannya kami bisa membeli Alsintan baru lainnya dan padi yang kami tanam makin cepat produksinya,” tandasnya.
Sebagaimana diketahui, sehari menjelang perayaan Idul Adha, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sempatkan diri untuk menghadiri acara panen padi dan menanam porang di Kelurahan Balleangin, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan pada Senin (19/7) siang.
Tiba di lokasi di Desa Panaikang, Syahrul langsung menuju lokasi tanam padi yang tak jauh dari jalan raya utama. Ia terlihat ramah menyapa pejabat setempat yang sudah tiba sejak pagi. Tak langsung duduk, Syahrul langsung naik ke atas mesin pemotong padi yang tersedia di sawah.
Sembari tersenyum, Ia langsung menjalankan mesin pemotong padi tersebut dan langsung menyalakan mesin layaknya profesional. Setelah satu putaran memotong, Syahrul turun dan mulai memanggil Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangkep.
Syahrul meminta agar petani tidak membiarkan lahannya kosong usai panen padi. Bila memungkinkan, Syahrul berharap petani di Desa Pinaikang mau bertanam padi hingga tiga kali dalam setahun.
“Begini, kalau kau cuma dua kali tanam, berarti kau cuma pakai 12 bulan itu hanya enam bulan dalam setahun. Lalu setengahnya kau buang. Nah sekarang kita harus gunakan apa yang ada agar bisa kita tanam dulu sambil tunggu rentangan tanam lagi,” ujar Syahrul.
Kata Syahrul, ide menanam padi sebanyak tiga kali dalam satu tahun sangat memungkinkan karena saat ini telah tersedia bibit unggul. Dimana varietas unggul ini bisa mempercepat masa panen padi dan hasil produksinya juga tinggi.
Bila hanya menanam padi sebanyak dua kali selama satu tahun, lanjut Syahrul, maka lahan baiknya ditanam dengan komoditas tumbuhan lain seperti kedelai atau kacang hijau. Karena membiarkan lahan kosong selama enam bulan sangat sia-sia.
“Enam bulan sisanya harus kita intervensi. boleh jagung boleh. boleh kedelai boleh. Tanah itu di kepala saya tidak boleh nganggur selama lebih dari 20 hari. Sekarang bisa buat tiga kali tanam dan Pangkep itu bagus banget,” ungkapnya.
Syahrul berjanji akan memberikan bantuan kepada petani di Desa Panaikang beberapa alat mesin pertanian seperti Combain Harvester. Beberapa bibit tanaman seperti kedelai hitam juga akan diberikan kepada petani.
“Abis ini selesaikan pakai combain ya. Kalau mau pake kedelai hitam, ubi kayu dll juga bisa. Pak Dirjen tolong mainkan bibitnya. Pak Bupati saya titip Pangkep agar menjadi contoh pertanian modern,” katanya.
Dia menambahkan, semua kegiatan pertanian di Kabupaten Pangkep sudah dihitung matang, sehingga hasilnya bisa memenuhi kebutuhan lokal maupun nasional.
“Seperti halnya yang dikatakan Bapak Presiden bahwa pertanian itu jangan hanya lihat data, namun juga turun ke lapangan seperti apa kondisinya. Alhamdulillah produksinya bagus. Saya lihat sekarang para bupati dan para gubernur turun langsung ke lapangan. Ini yang terus kita dorong sehingga produktivitas kita meningkat,” tuturnya
Dalam kunjungan tersebut beberapa Dirjen juga turut hadir seperti Dirjen Tanaman Pangan Suwandi, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Ali Jamil dan Sekjen Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono.
Museum Sangiran (Foto: Pariwisata Solo/ THE EDITOR)
Museum Sangiran (Foto: Pariwisata Solo/ THE EDITOR)
SOLO – Banyak yang tidak tahu bila Indonesia memiliki banyak situs purbakala yang sangat penting bagi dunia. Mendengar nama Situs Sangiran, mungkin yang terbayang dalam pikiran kita adalah “fosil dan fosil”. Namun, kekayaan arkeologis yang ada di situs Sangiran tidak hanya fosil, tetapi juga alat-alat batu hasil budaya manusia purba serta lapisan tanah purba yang dapat menunjukkan perubahan lingkungan alam sejak dua juta tahun lalu sampai sekarang tanpa terputus.
Sangiran berada di sebelah utara Surakarta di lembah Sungai Bengawan Solo, Jawa Tengah. Nama Situs Sangiran mulai dikenal sejak seorang peneliti Belanda bernama Von Koenigswald melakukan penelitian pada tahun 1934. Pada waktu itu Von Koenigswald menemukan alat-alat batu hasil budaya manusia purba dalam penelitiannya di Situs Sangiran.
Situs Sangiran pertama kali ditemukan oleh P.E.C schemulling pada tahun 1883. Ketika aktif melakukan eksplorasi pada akhir abad ke-19, Eugene Dubois pernah melakukan penelitian di sini, namun tidak terlalu intensif karena kemudian ia memusatkan aktivitas di kawasan Trinil, Ngawi.
Selanjutnya pada tahun 1936 ditemukanlah fosil manusia purba pertama di Situs Sangiran. Setelah itu, tahun demi tahun penelitian semakin banyak dilakukan di Sangiran yang menghasilkan berbagai temuan, baik berupa fosil manusia, fosil hewan, alat tulang, dan alat batu.
Tahun 1934, ahli antropologi Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut, setelah mencermati laporan-laporan berbagai penemuan balung buta (tulang buta/raksasa) oleh warga dan diperdagangkan. Saat itu perdagangan fosil mulai ramai akibat penemuan tengkorak dan tulang paha Pithecanthropus erectus (“Manusia Jawa”) oleh Eugene Dubois di Trinil, Ngawi, tahun 1891.
Trinil sendiri juga terletak di lembah Bengawan Solo, kira-kira 40 km timur Sangiran. Dengan dibantu tokoh setempat, setiap hari von Koenigswald meminta penduduk untuk mencari balung buta, yang kemudian ia bayar. Pada tahun-tahun berikutnya, hasil penggalian menemukan berbagai fosil Homo erectus lainnya.
Ada sekitar 60 lebih fosil Homo erectus atau hominid lainnya dengan variasi yang besar, termasuk seri Meganthropus palaeojavanicus, telah ditemukan di situs tersebut dan kawasan sekitarnya. Selain manusia purba, ditemukan pula berbagai fosil tulang-belulang hewan-hewan bertulang belakang (Vertebrata), seperti buaya (kelompok gavial dan Crocodilus), Hippopotamus (kuda nil), berbagai rusa, harimau purba, dan gajah purba (stegodon dan gajah modern).
Saat ini situs Sangiran tidak hanya dikenal di Indonesia, melainkan juga di dunia internasional dan sebagai situs yang mampu menyumbangkan pengetahuan penting mengenai bukti-bukti evolusi (perubahan fisik) manusia seperti evolusi fauna, kebudayaan, dan lingkungan yang terjadi sejak dua juta tahun yang lalu.
Karena nilai-nilainya, situs Sangiran telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. UNESCO menetapkan Situs Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia Nomor 593 pada tahun 1996 dengan nama The Sangiran Early Man Site. Dari segi penelitian tentang fosil manusia, Sangiran disejajarkan bersama situs Zhoukoudian yang berada di Cina, Willandra Lakes di Australia, Olduvai Gorge di Tanzania, dan Sterkfontein di Afrika Selatan.
Situs Sangiran beserta semua kandungan arkeologis yang ada di dalamnya merupakan cagar budaya yang penting untuk dijaga dan dilestarikan. Pelestarian situs Sangiran penting dilakukan agar semua nilai penting yang terkandung di dalamnya dapat terus dipelajari, dimanfaatkan, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.
Museum Purbakala Sangiran
Penggalian oleh tim von Koenigswald yang berakhir 1941 dan koleksi-koleksinya sebagian disimpan di bangunan yang didirikannya bersama Toto Marsono di Sangiran, yang kelak menjadi Museum Purbakala Sangiran, tetapi koleksi-koleksi pentingnya dikirim ke kawannya di Jerman, Franz Weidenreich.
Sebuah museum yang sederhana ada di Sangiran selama beberapa dekade sebelum modern, yang berfungsi dengan baik sebagai museum dan pusat pengunjung dibuka pada Desember 2011. Museum Sangiran yang terletak di kawasan Situs Sangiran dibagi menjadi lima klaster.
Klaster pertama adalah Klaster Krikilan yang berfungsi sebagai pusat kunjungan atau visitor center, yang memberikan informasi secara lengkap tentang Situs Sangiran. Kemudian ada Klaster Dayu, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, dan Museum Manyarejo.
Situs ini buka pada hari Selasa hingga hari Minggu, pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00 WIB. Pengunjung hanya dikenakan harga tiket sebesar Rp5.000,- per orang untuk dapat menikmati wisata edukasi di situs manusia purba ini. Seperti museum lainnya, Situs Sangiran tutup pada hari Senin untuk proses pembersihan dan perawatan koleksi.
Upaya pelestarian Situs Sangiran terus dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan kegiatan sarasehan, sosialisasi, dan pemberian imbalan bagi anggota masyarakat yang menemukan fosil dan menyerahkan fosil temuannya kepada Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran.
Upaya tersebut terus intensif dilakukan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya fosil bagi ilmu pengetahuan. Selain itu ada juga kegiatan penelitian yang masih terus dilakukan, pameran keliling di beberapa kota setiap tahun, bioskop keliling, pembuatan buku/jurnal, konservasi fosil, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan tersebut sudah dianggarkan setiap tahunnya, sehingga saat ini dapat menekan penjualan gelap dan aktivitas pencarian fosil yang dilakukan masyarakat.
Beras produksi KUB Tonasa Tani Jaya yang siap dikirim ke seluruh Sulawesi (Foto: Kaha/ THE EDITOR)
Beras produksi KUB Tonasa Tani Jaya yang siap dikirim ke seluruh Sulawesi (Foto: Kaha/ THE EDITOR)
KABBA – 30 petani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tonasa Tani Jaya tengah berpesta merayakan keberhasilan mereka memproduksi 24 ton beras di periode Agustus 2021 ini. 3000 hektar lahan persawahan yang berada dalam kelompok ini kini siap melayani pembeli dari seluruh Sulawesi.
Dari pantauan The Editor, beras-beras yang diproduksi KUB ini tengah masuk dalam proses pengemasan. Meski masih menggunakan karung goni yang umum dijual di pasaran namun semangat petani memproduksi beras berkualitas premium tidak luntur.
“Stok kami terbatas dan siap melayani pembeli degan harga pasar,” ujar Ketua KUB Tonasa Tani Jaya, Andaq Hidayat saat berbincang dengan redaksi, Sabtu (7/8).
Kata Andaq, 24 ton beras yang berhasil diproduksi oleh kelompok taninya akan semakin meningkat bila pemerintah mau membantu petani membuka saluran air yang mengalir dari kawasan perbukitan Leang Lonrong.
Saat ini petani di Kecamatan Minasatene hanya bisa menanam padi dua kali dalam setahun karena minimnya pasokan air yang mengalir ke persawahan.
“Saat ini kawasan pertanian yang bisa tanam padi 3 kali dalam setahun hanya berkisar 100 hektar saja. Itu pun yang areanya dekat dengan sumber air di Leang Lonrong. Selebihnya ribuan hektar lainnya hanya bisa tanam dua kali setahun. Pasokan air mini,” ungkap Andaq.
Karena kondisi ini, Andaq berharap pemerintah mau membantu petani yang ingin memperbaiki situasi perekonomiannya dengan membangun embung. Pembangunan embung ini sudah dinanti oleh petani dan masyarakat di Kecamatan Minasatene selama puluhan tahun.
“Jadi permintaan pak menteri kemarin agar petani tidak membiarkan lahan tidur dan tanam padi 3 kali dalam satu tahun bisa kami lakukan. Tanpa air dari embung maka petani tidak bisa menanam padi sebanyak itu,” ungkap Andaq.
Beras masuk dalam tahap pengiriman (Foto: Kaha/ THE EDITOR)
Sebagaimana diketahui, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam kunjungannya ke Desa Panaikang pada Senin (19/7) kemarin meminta agar petani tidak membiarkan lahannya kosong usai panen padi. Bila memungkinkan, Syahrul berharap petani di Desa Pinaikang mau bertanam padi hingga tiga kali dalam setahun.
Begini, kalau kau cuma dua kali tanam, berarti kau cuma pakai 12 bulan itu hanya enam bulan dalam setahun. Lalu setengahnya kau buang. Nah sekarang kita harus gunakan apa yang ada agar bisa kita tanam dulu sambil tunggu rentangan tanam lagi,” ujar Syahrul.
Kata Syahrul, ide menanam padi sebanyak tiga kali dalam satu tahun sangat memungkinkan karena saat ini telah tersedia bibit unggul. Dimana varietas unggul ini bisa mempercepat masa panen padi dan hasil produksinya juga tinggi.
Bila hanya menanam padi sebanyak dua kali selama satu tahun, lanjut Syahrul, maka lahan baiknya ditanam dengan komoditas tumbuhan lain seperti kedelai atau kacang hijau. Karena membiarkan lahan kosong selama enam bulan sangat sia-sia.
“Enam bulan sisanya harus kita intervensi. boleh jagung boleh. boleh kedelai boleh. Tanah itu di kepala saya tidak boleh nganggur selama lebih dari 20 hari. Sekarang bisa buat tiga kali tanam dan Pangkep itu bagus banget,” ungkapnya.
Syahrul berjanji akan memberikan bantuan kepada petani di Desa Panaikang beberapa alat mesin pertanian seperti Combain Harvester.Beberapa bibit tanaman seperti kedelai hitam juga akan diberikan kepada petani.
Hasil karya dari pelatihan ecoprint yang diadakan oleh Yusriani (Foto: @yumiecoprint/ THE EDITOR)
Hasil karya dari pelatihan ecoprint yang diadakan oleh Yusriani (Foto: @yumiecoprint/ THE EDITOR)
JOGJAKARTA – Apa rasanya memakai baju yang coraknya berasal dari bunga dan daun asli dari Indonesia? Tentu sangat menyenangkan bukan. Karena bunga-bunga yang dipakai sebagai corak di kain yang Anda pakai benar-benar bunga asli, bukan tiruan. Teknik pewarnaan ini ternyata sangat mudah untuk dibuat. Untuk mengetahuinya, The Editor akan mengajak Anda jalan-jalan ke Jawa Tengah.
Yusriani (33), Ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan Pelda Sugiyono, Pisangan, Sleman, Yogyakarta ini adalah salah satu pengrajin ecoprint di Jawa Tengah. Berbagai macam jenis kain diberi motif oleh Yusriani dari bahan-bahan alami. Kain yang dipakai tak hanya sebatas warna putih saja, berbagai varian warna disesuaikan dengan warna dan ukuran daun serta bunga asli yang dipakai untuk menjadi motif kain tersebut.
Kata Yusriani, dibutuhkan dua potong kain saat proses pewarnaan dimulai. Salah satu diantaranya akan dipakai sebagai kain utama dimana daun dan bunga alami akan melekat, dan kain yang lainnya dipakai sebagai blangket kain penutup.
Cara menorehkan corak-corak alami ini adalah pertama-tama dengan membentangkan kain yang akan dijadikan sebagai bahan utama. Tidak perlu diatas meja, Anda ternyata juga bisa meletakkan kain di atas lantai. Karena yang penting permukaannya datar dan mampu memuat seluruh bagian kain tanpa terkecuali.
Selanjutnya, meletakkan bunga dan daun sesuai pilihan selera Anda. Untuk bunga, Anda bisa menggunakan berbagai macam, warna dan ukuran bunga sesuai dengan selera Anda sendiri. Namun untuk daun hanya tertentu saja, Yusriani sehari-hari biasa menggunakan daun jati, daun kepyar, daun lanang, daun biden, daun cosmos dan lain sebagainya.
“Bahan-bahan ini, terutama daun bisa langsung dipakai begitu dipetik. Atau bisa juga disimpan selama sehari atau lebih, asal tidak kusut,” ungkapnya.
Menyusun motif sesuai selera (Foto: @yumiecoprint/ THE EDITOR)
Daun dan bunga yang tadinya sudah disusun rapi diatas kain akan ditutup dengan kain penutup. Proses ini butuh ketelitian karena daun dan bunga yang disusun diatas kain dasar tidak boleh bergeser.
Bila sudah ditutup maka segera digulung dan dilipat hingga ukuran gulungan hanya sebesar bambu. Lalu kemudian, gulungan tersebut diikat dan dan dimasukkan ke dalam wadah pengukusan selama 2 jam.
Yusriani mengatakan kain dikukus tujuannya untuk mengeluarkan warna daun dan bunga secara alam diatas kain. Selain itu, teknik ini juga membuat corak daun dan bunga terlihat jelas dan 100 persen sama dengan bentuk aslinya.
Usai dikukus, bukalah kain secara perlahan dan mulai direntangkan untuk melihat hasil warna yang muncul. Bersihkan daun dan bunga yang sudah mengering akibat proses pengukusan dari atas kain.
Hasil akhir yang Anda peroleh sangat tergantung dari saat kain digulung. Bila proses penggulungan sempurna maka corak yang Anda inginkan pun akan sempurna muncul di kain.
Kain dengan motif fenomenal ini memang sangat menarik karena coraknya yang alami. Bila ingin memilikinya, maka Anda bisa langsung pesan kepada Yusriani yang menyediakan jasa pengiriman ke seluruh Indonesia. Yusriani dapat dihubungi di nomor telepon 085647844443 atau silahkan langsung klik di Instagramnya di @yumiecoprint.
Pohon zaitun ini dilindungi oleh pemerintah Yunani (Foto: Approach Guide/ THE EDITOR)
Pohon zaitun ini dilindungi oleh pemerintah Yunani (Foto: Approach Guide/ THE EDITOR)
YUNANI – Siapa yang tidak tahu tentang kehebatan minyak zaitun? Tentu semua orang tahu bila minyak zaitun adalah salah satu bahan yang paling dicari di dunia.
Pada zaman Alkitab, minyak zaitun banyak digunakan sebagai makanan, kosmetik, bahan bakar, serta obat, dan untuk keperluan lainnya.
Alkitab menyebutkan minyak zaitun lebih dari 250 kali, baik minyak itu sendiri maupun sebagai bahan dasar minyak wangi (JW.ORG).
Salah satu pohon zaitun paling tua di bumi berada di Desa Vouves, Kolymvari, Chania, Kreta, Yunani. Pohon zaitun yang berada dibawah pengelolaan perusahaan yang memproduksi minyak zaitun yakni, Terra Creta Olive Oil ini berusia lebih dari 3.000 tahun. Dan, yang paling mengagumkan adalah, pohon zaitun ini masih terus menghasilkan buah hingga sekarang.
Diameter pohon zaitun tua ini adalah 4,6 meter dengan batang yang memiliki keliling hingga 12,5 meter. Pohon ini sudah pernah dicangkokkan dengan kultivar Tsounati.
Pohon zaitun ini telah dinobatkan sebagai salah satu tumbuhan cagar budaya oleh pemerintah Yunani. Sementara itu, pemilik perusahaan pengelolaan minyak zaitun menjadikan pohon tua ini sebagai simbol keseimbangan alam.
Tak hanya buahnya yang masih terus dipakai untuk menghasilkan minyak zaitun. Ranting dari pohon legendaris ini juga dipakai sebagai karangan bunga bagi pemenang Olimpiade Athena di tahun 2004 dan Olimpiade Beijing di tahun 2008 lalu.
Buah dan minyak zaitun yang dihasilkan dari pohon zaitun ini dapat Anda nikmati di toko yang berada di Desa Vouves. Perlu diketahui, Yunani adalah salah satu negara yang memiliki tingkat konsumsi minyak zaitun tertinggi di dunia. Tiap orang di negara ini mengkonsumsi 24 liter minyak zaitun per tahun. Sementara di urutan kedua dan ketiga adalah Spanyol dan Italia yang mengkonsumsi minyak zaitun rata-rata 14 liter per tahun.
1/4 kota Kreta, Yunani dipenuhi oleh pohon zaitun. Jadi tak perlu heran bila tengah berada disini maka Anda akan menikmati pemandangan alam dalam bentuk wisata ke area perkebunan pohon zaitun saja.
Mengunjungi gudang Bulog (Foto: Bulog/ THE EDITOR)
Mengunjungi gudang Bulog (Foto: Bulog/ THE EDITOR)
JAKARTA – Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menegaskan bahwa pemberitaan mengenai adanya beras bantuan PPMK yang basah di kelurahan Pandegalang, Banten Kamis (5/8) kemarin memang sempat ramai, namun sudah dilakukan langkah-langkah perbaikan yang cepat dan maksimal berupa penarikan dan penggantian dengan beras yang berkualitas baik.
“Bahwa disini ada pembagian beras bansos dalam rangka PPKM yang kurang baik, bahkan judulnya seru banget. Setelah saya cek dilapangan ini, ternyata sudah tidak ada masalah,” kata Menko PMK Muhadjir Effendy dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (6/8) malam.
Muhajir mengatakan, setelah mendengarkan laporan kronologis dari PT Pos Indonesia, pihak BULOG dan Bupati, mengenai apa yang terjadi di Pandeglang, sudah bisa diketahui bahwa beras yang tidak bagus itu karena terkena hujan dan sudah disisihkan serta sudah diganti dengan beras yang baik oleh Pihak Bulog.
Sementara itu, Kepala Divisi Perawatan dan Pengendalian Mutu Perum BULOG, Etik Yulianti mengatakan, langkah-langkah perbaikan sudah dilakukan namun tetap akan kita evaluasi terus guna mencegah terjadinya hal-hal seperti ini terulang kembali. Selanjutnya akan menjadi prosedur tetap dalam pola penanganan insiden serupa nantinya, termasuk jika terjadi insiden di situasi cuaca yang ekstrim dan daerah terpencil lainnya yang berisiko tinggi.
Untuk memastikan prosesnya, Etik Yulianti bahkan menyempatkan diri untuk menemui sejumlah warga penerima bantuan beras PPKM dan memintanya untuk memasak beras dari BULOG di tempat disaksikan banyak orang, termasuk Bupati Pandeglang Irna Narulita Dimyati yang ikut terus dalam rombongan tim BULOG kantor Pusat Jakarta.
“Ini berasnya ibu, sudah dimasak silakan mencicipi. Enak rasanya, pulen,” kata Ibu Ipah, warga Kelurahan Pandeglang.
Hal senada juga diakui warga lainnya, Ibu Titin, yang justru mengharapkan bisa tetap mendapatkan bantuan beras PPKM, terlebih di saat susah seperti sekarang.
Bupati Pandeglang Irna Narulita Dimyati mengatakan, sebetulnya kejadian ini merupakan insiden kecil yang dibesar-besarkan, karena sebetulnya kita berfokus pada solusi untuk menyelesaikan masalahnya. Beruntung insiden ini bisa tertangani dengan cepat sehingga bisa selesai dengan cepat juga.
“Saya sangat mendukung penanganan yang seperti ini, cepat dan tuntas,” kata Irna lagi.
Sebelumnya Menko PMK mendatangi kantor PT. Pos Indonesia Cabang Pandeglang pada pukul 16.00 WIB, turut mendampingi Kepala Divisi Perawatan dan Pengendalian warga penerima bantuan beras PPKM Mutu Perum BULOG, Bupati Pandeglang, Kepala dinas sosial setempat, Kejaksaan Tinggi, Kapolres, dan PT. Pos Indonesia cabang Pandeglang.
Rombongan kemudian mengunjungi mitra penggilingan BULOG, dan juga meninjau gudang BULOG serta memeriksa beras yang belum disalurkan PT. Pos Indonesia.
Salah satu pintu masuk menuju Desa Budaya Hahoe. Suasana musim semi membuat warga mempersiapkan lahannya untuk ditanami padi dan sayur-sayuran (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)
Salah satu pintu masuk menuju Desa Budaya Hahoe. Suasana musim semi membuat warga mempersiapkan lahannya untuk ditanami padi dan sayur-sayuran (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)
KOREA SELATAN – Desain arsitektur Desa Hahoe sangat mengagumkan, betapa tidak, desa berusia 600 tahun ini bisa dijadikan sebagai contoh desain pembangunan sebuah daerah dengan sempurna.
Mengapa dikatakan demikian? Karena pendiri desa ini memikirkan pengaturan masyarakat dengan sempurna agar bisa terus berproduksi agar menjadi desa yang makmur.
Tidak banyak desa yang berada dekat dengan aliran sungai berhasil dibangun sesukses dan secantik Hahoe. Desa ini bentuknya seperti bunga lotus. Pintu masuknya di desain sempit dan kecil agar tidak mudah diintervensi oleh pihak asing.
Anggota klan Pungsan Ryu adalah pendiri Desa Hahoe. Selama 600 tahun, klan marga Pungsan Ryu mengolah tanah yang mereka tinggali. Salah satunya adalah bidang pertanian.
Bila dilihat dari bentuk desa ini, diketahui bahwa tempat tinggal para bangsawan diletakkan di bagian belakang. Rumah-rumah ini ditandai dengan atap genteng dan dinding berwarna putih.
Sementara itu, di bagian depan adalah rumah-rumah beratap jerami yang biasa menjadi tempat dimana petani dan warga kelas bawah atau rakyat jelata tinggal. Mereka juga tinggal dekat dengan lahan pertanian yang mengandalkan penanaman padi.
Jadi, bila dilihat dari bukit yang berada di seberang sungai, Desa Hahoe sangat rapi. Karena sejak awal di desain 600 tahun lalu, susunan pohon-pohon dan jalanan di sepanjang rumah diatur dengan baik. Pengunjung dapat melihat gaya hidup masyarakat zaman kuno secara aktual saat berada disana.
Pintu dan tembok rumah bangsawan yang berusia 600 tahun (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)
Rumah-rumah di desa ini di bangun ke arah yang berbeda karena harus mengikuti desain yang sudah ditentukan, yakni menghadap ke arah sungai.
Jadi tak heran bila sebagian rumah ada yang ditemukan saling berhadapan, namun ada juga yang membelakangi satu sama lain.
Ciri lain dari desa ini adalah masyarakat yang tinggal secara turun temurun. Di akhir zaman Joseon, sekitar 350 rumah tangga tinggal di desa tersebut.
Sementara saat ini hanya ada 127 rumah tangga. Diantaranya, 12 rumah ditetapkan sebagai harta warisan atau situs cerita rakyat yang sangat penting.
Rumah-rumah bangsawan di desa ini pada umumnya memiliki pagar berupa bebatuan setinggi 2 meter lebih, lebih tinggi dari pada pagar bebatuan pembatas desa. Pintu kayu di bagian tengah sebagai ruang untuk masuk di desain hampir sama seluruhnya.
Sementara itu, rumah rakyat jelata umumnya jarang dan bahkan hampir tidak memiliki pagar. Namun desainnya tetap harus menghadap ke arah sungai.
Karena rumah tersebut adalah milik klan marga tertentu, maka pengunjung tidak diizinkan sembarangan memasuki rumah-rumah yang ada disana. Karena sebagian diantaranya masih dihuni.
Beberapa rumah sudah disiapkan oleh pihak administratif kota Andong untuk dilihat dan dijadikan sebagai objek foto. Disana kita bisa melihat bagaimana susunan rumah masyarakat Korea sebenarnya, dimana rumah utama, dapur dan rumah pembantu dibedakan rumahnya meski tinggal di halaman yang sama.
Dengan kata lain, orang Korea biasanya membutuhkan halaman luas untuk membangun rumah yang ideal.
Kantor pengaduan untuk korban uji coba vaksin (Foto: Sofyan/ THE EDITOR)
Kantor pengaduan untuk korban uji coba vaksin (Foto: Sofyan/ THE EDITOR)
MAKASSAR – Perhimpunan Bantuan Hukum dan hak asasi manusia (PBHI) Sulawesi Selatan membuka posko pengaduan untuk menyikapi dampak massif yang ditimbulkan oleh uji coba vaksin covid-19. Launching Posko pengaduan Korban Vaksinasi ini dilakukan di kantor PBHI yang berada di Jalan Topaz Raya kompleks ruko zamrud blok B/1 Makassar, Sulawesi Selatan pada Kamis (5/8).
Koordinator Posko PBHI Hasmin Sulaeman mengatakan bahwa uji coba vaksin covid-19 harusnya bersifat sukarela atau tanpa paksaan, mengingat resiko dan dampak dari suatu percobaan klinis yang tidak dapat diperkirakan.
“Keselamatan jiwa manusia selalu menjadi pertimbangan sehingga uji coba vaksin dimulai dari hewan, kalau pun di uji coba kepada manusia maka harus bersifat sukarela,” ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.
Menurut Hasmin, dalam kasus uji coba vaksin di Indonesia justru bersifat wajib karena pemerintah mewajibkan rakyat untuk mengikuti uji coba vaksin covid19. “Harusnya pemerintah menyadari konsekuensi resiko yang dapat mencederai, ataupun merenggut jiwa dampak dari uji coba yang mewajibkan rakyat,” tutur Hasmin
“Nyatanya uji coba vaksin yang dipaksakan berlaku ini nihil dengan instrumen keselamatan bagi yang terdampak maupun yang tidak bersedia,” ungkap Hasmin
Dari laporan maupun pengamatan PBHI Sulawesi Selatan, lanjutnya, maka kami menyimpulkan jika uji coba vaksin sinovac dan semacamnya yang bersifat wajib, dan memaksa telah mengarah sebagai kejahatan kemanusiaan.
Untuk itu, lanjut Hasmin, guna merespon berbagai dampak yang telah mencederai serta membahayakan jiwa akibat pemaksaan uji coba vaksinasi covid-19 ini, maka PBHI membuka posko pengaduan korban. PBHI menginisiasi posko ini guna mengadvokasi dan membantu korban uji coba Vaksinasi covid-19.
Hasmin mengatakan bahwa bagi PBHI, pemerintah tidak boleh dibiarkan menabrak konstitusi dan hak asasi manusia atas nama uji coba klinis.
“Kami mengingatkan pemerintah dan masyarakat bahwa vaksin ini bersifat uji coba, karena sifatnya uji coba klinis ini maka harusnya bersifat sukarela, sekarang dibalikkan menjadi kewajiban, maka inilah yang kami anggap telah merampas hak asasi manusia ” imbuhnya
Posko ini rencananya akan dijadikan sebagai tempat untuk meminta pertanggung jawaban pemerintah atas dampak yang telah ditimbulkan akibat pemaksaan uju coba klinis ini, baik itu cedera, kelumpuhan hingga meninggal dunia.
Panjangnya antrian kendaraan yang ingin melintas di Jalan Poros (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)
Panjangnya antrian kendaraan yang ingin melintas di Jalan Poros (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)
MAROS – Kemacetan di sepanjang Jalan Poros di Kota Maros, Sulawesi Selatan jadi makanan sehari-hari tiap warga yang lewat di tempat ini. Tiada hari tanpa macet dan tiada jam tanpa macet, kecuali dini hari. Pengendara roda empat akan menghabiskan waktu minimal 30 menit untuk melintas di Jalan Poros.
Dari pantauan The Editor siang ini, antrian kendaraan roda empat berjalan pelan dan terkadang berhenti lama di sepanjang Jalan Maros. Dari penuturan warga setempat keberadaan Grand Mall sejak tahun Agustus 2017 lalu adalah awal pemicu kemacetan di tempat ini.
Disebut-sebut bila kemacetan terjadi karena banyaknya kendaraan yang keluar dan masuk Grand Mall. Antrian kendaraan yang panjang membuat arus lalu lintas dari dan menuju Jalan Poros terhambat. Kondisi ini makin diperparah dengan infrastruktur jalan rusak di Jembatan Maros yang mengakibatkan hanya satu bagian jalan saja yang bisa dilalui. Tidak ada petugas terlihat saat kemacetan terjadi.
Sebelumnya, Dinas Perhubungan (Dishub) Maros telah mencoba mengurai kemacetan di Jalan Poros dengan cara membuka jalur alternatif milik pusat perbelanjaan Grand Mall. Sayangnya, dua pintu keluar yang ada di dalam kawasan Grand Mall dibuka pada hari libur dan akhir pekan.