Blog

KITRA Luwu Adakan Aksi Minta Dukungan Dari Rakyat

Aksi KITRA di Luwu pada Sabtu, 30 Juli 2021 (Foto: THE EDITOR)

LUWU – Aktivis gerakan KITRA Kabupaten Luwu gelar aksi sosialisasi tuntutan agar pemerintah menaikkan gaji TNI POLRI sebesar 50 juta per bulan. Gerakan ini dilakukan dengan membagikan selebaran kertas yang berisi tuntutan yang harus dipenuhi oleh pemerintah terkait gaji aparat kepolisian di Lapangan Opu Daeng Risadju, Luwu, Sabtu (30/7).

“Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian dan komitmen Gerakan KITRA memperjuangkan kesejahteraan TNI POLRI,” ujar Koordinator KITRA Luwu, Hasmin Sulaeman dalam keterangan yang diterima redaksi.

Kata Hasimin, dukungan dan kepedulian KITRA bersama masyarakat Luwu akan berpengaruh bagi terwujudnya kenaikan 50 juta gaji TNI POLRI di masa depan.

Menurutnya, sosialisasi ini dilakukan Kitra Luwu sebagai bagian untuk membangun solidaritas sesama anak bangsa. Karena selama ini pemerintah dianggap telah memiskinkan aparat kepolisian dan TNI.

“Pemiskinan yang melanda TNI POLRI jangan dianggap hanya urusan keluarga TNI POLRI tetapi harus menjadi keprihatinan kita semua,” tuturnya.

Bila tuntutan KITRA yang didasari niat dan kesadaran membangun negara ini tidak segera diwujudkan oleh pemerintah dan pihak terkait, lanjutnya, maka KITRA Luwu akan terus bergerak.

“Tuntutan ini adalah harga mati yang harus diwujudkan pemerintah, bangsa ini jangan sampai terkesan atau secara tidak sadar telah mempermainkan nasib keluarga TNI POLRI,” pungkasnya

Merasa Pantas

Ilustrasi yang dibuat oleh AI Google
Ilustrasi yang dibuat oleh AI Google

Berkurban dan berhaji, dua hal yang menandai semangat Iduladha. Intinya, pada hari besar keagamaan ini, umat Muslim diuji untuk menunjukkan ketakwaannya. 

Melalui berkurban, seorang Muslim rela menyisihkan hartanya untuk berbagi daging hewan terbaik pilihannya dengan lingkungan sekitar. 

Tak hanya berhenti dengan membeli hewan di peternak, mereka yang berkurban pun berkontribusi memberikan pengalaman berupa memotong hewan dan menyediakan daging yang aman dikonsumsi. 

Di sisi lain, masyarakat sekitarnya bisa mendapatkan pengalaman berkumpul dengan keluarga sambil mengolah daging kurban.

Kemudian, melalui berhaji, selain proses mendaftar untuk melakukan perjalanan ke Tanah Suci, seorang muslim menyisihkan hartanya melalui proses panjang. Panjangnya proses itu bisa bertahun-tahun bahkan melewati berbagai fase kehidupan hingga tua sebelum masanya tiba.

Duwi Setiya, CIMM, Perencana Keuangan Anggota International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia
Duwi Setiya, CIMM, Perencana Keuangan Anggota International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia

Pengalaman unik yang terasa dari cerita mereka yang sederhana, hidup secara sederhana, tapi memiliki keinginan luar biasa: beribadah langsung di Rumah Allah. 

Bagi lingkungan sekitar, pengalaman itu muncul berupa harapan dan doa, tak hanya untuk keselamatan calon haji, melainkan turut menjadi bagian dari ritual tahunan sakral, meskipun waktu masihlah misteri.

Sebelum sampai ke ujian ketakwaan, semangat Iduladha sebenarnya relevan dengan berbagai hal di kehidupan kita.  

Untuk berkurban, umat Islam mempersembahkan hewan-hewan ternak, bukan anaknya seperti kisah Nabi Ibrahim AS. Bukan untuk menurunkan nilainya, tapi untuk mengundang dan membuat umat Islam merasa pantas menjalankan ibadah tersebut.

Kemudahan pun bertambah karena biaya berkurban hari ini bisa lebih terjangkau dengan penyedia layanan urun dana sehingga kurban bisa dilakukan secara kolektif.

Begitu juga dengan berhaji, salah satu ibadah wajib bagi seluruh Muslim. 

Meskipun diperlukan dana setidaknya Rp54,19 juta per orang, mengacu pada biaya perjalanan haji yang ditetapkan Kementerian Agama pada 2026, yang paling dasar adalah apakah umat Muslim merasa pantas berhaji. 

Biaya tersebut memang tidak murah, tapi masa tunggu 26 tahun sebenarnya membawa peluang. Secara praktis, seorang Muslim yang ingin berhaji bisa menyisihkan Rp173.685 per bulan atau Rp5.789 per hari, lebih murah dari dua bungkus Indomie seharga Rp3.200 untuk tiap bungkusnya.

Jika punya kemampuan lebih, ada pilihan haji khusus senilai Rp165 juta hingga Rp270 juta dengan masa tunggu lebih singkat, yakni 5-7 tahun. 

Praktisnya, perlu dana sekitar Rp1,96 juta hingga Rp3,21 juta per bulan. Solusi terbuka saat kita tahu bahwa ada banyak cara untuk memenuhi dana tersebut selain menaruh dana tabungan haji di bank. 

Instrumen investasi keuangan berbasis syariah, seperti reksa dana syariah, surat utang syariah atau sukuk, dan saham syariah bisa digunakan untuk memenuhi dana haji karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dari suku bunga Bank Indonesia (BI).

Terlepas dari kurban dan haji, gambaran itu memberikan kita keyakinan bahwa masih ada kesempatan. Memang ada banyak kebutuhan dana besar, mulai dari dana darurat, dana pendidikan, hingga dana pensiun. 

Namun, nilai di balik dana yang besar itu, yakni menyiapkan amunisi bertahan di situasi tak pasti, memberikan masa depan terbaik bagi anak, hingga memberikan kehidupan laik di usia senja akhirnya mendorong kita berupaya memecah keraguan dan mencari kesempatan. 

Dorongan itu pun datang dari pertanyaan sederhana, yakni apakah kita merasa pantas mendapatkan pilihan yang lebih baik?

 

Penulis: Duwi Setiya, Perencana Keuangan dari Certified Islamic Money Manager (CIMM) dan Anggota International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia

Menantang Sejarah? Israel Nekat Gelar Festival LGBT 2026 di Puing-Puing Kota Sodom dan Gomora

Kementerian Luar Negeri Israel mendukung Festival Pride Land 2026 di atas puing-puing Kota Sodom dan Gomora di Israel. Terlihat kontroversi netizen yang mendukung dan mencibir acara yang akan berlangsung pada Juni 2026 mendatang (Foto: @stateofisrael/Instagram)
Kementerian Luar Negeri Israel mendukung Festival Pride Land 2026 di atas puing-puing Kota Sodom dan Gomora di Israel. Terlihat kontroversi netizen yang mendukung dan mencibir acara yang akan berlangsung pada Juni 2026 mendatang (Foto: @stateofisrael/Instagram)

THE EDITOR – Israel mengadakan Festival Pride Land atau disebut juga Festival LGBT yang terbesar di dunia di kota bekas reruntuhan Sodom dan Gomora di Gurun Yudea pada Juni 2026 mendatang. Di kota tersebut, di masa lalu, segerombolan pria Gay pernah mendobrak rumah Lot, keponakan Abraham dan memaksa dua orang malaikat yang tengah bermalam di rumahnya untuk berhubungan seksual.

Sikap yang tidak terpuji ini membuat Kota Sodom dan Gomora dihukum dengan hujan api dan belerang yang membakar seluruh kota dan isinya. Peristiwa bersejarah ini tercatat dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru secara detail. Bagi Bangsa Israel dan seluruh Orang Kristen di seluruh dunia kejadian tersebut menjadi tanda peringatan keras agar manusia tidak berbuat cabul.

Akan tetapi, ada apa dengan Israel di jaman modern saat ini? Mengapa acara yang penuh dengan kontroversi ini diadakan di kota yang pernah dihancurkan oleh Tuhan yang tercatat dalam kitab-kitab sakral mereka?

Sebelum kita kembali pada masa di saat kota Sodom dan Gomora dihancurkan hingga jatuh ke dasar Laut Mati, maka baiknya kita ketahui dulu bersama bahwa Festival Pride Land ini rencananya akan menampilkan para seniman internasional serta aksi musik DJ dari komunitas LGBT Israel. 

The Jerusalem Post pada 19 April 2026 menyebutkan bila penyelenggara serta CEO dari acara tersebut Jonathan Gadol mengatakan bila festival pride land ditujukan untuk menyampaikan pesan kepada dunia tentang keterbukaan, penerimaan dan arti pentingnya membangun komunitas bagi LGBT. 

Selama 4 hari, acara tersebut akan dibuka selama 24 jam dengan menyewa 15 hotel berbintang, kawasan pantai dan arena pertunjukan pusat dan pesta tanpa henti. 

Tampaknya, tak sekedar kehidupan malam saja yang ingin ditunjukkan, sebab selama festival berlangsung, area ramah keluarga dengan kegiatan khusus untuk anak-anak, lokakarya ramah keluarga serta pemandangan khusus untuk bersantai akan dibuka. 

Tapi, bila memang sebatas acara seni saja, justru  mengapa Kota Sodom dan Gomora dihancurkan oleh Tuhan?

BEGINI CERITANYA

Di dalam Kitab Kejadian yang tercatat dalam Alkitab Perjanjian Lama disebutkan bila Abraham, seorang pria yang menjadi Leluhur Bangsa Israel dan Bapa Segala Bangsa bagi Orang Kristen memilih untuk tinggal di Negeri Kanaan, sedangkan Lot, keponakan Abraham tinggal di Sodom.

Lot adalah anak Haran, saudara kandung Abraham. Ayah Lot yang telah meninggal dunia membuat Ia diadopsi oleh Abraham dan Sara. Lot menemani mereka mengembara ke Kanaan.

Jurnal Nature yang dipublikasikan oleh media-media internasional pada 20 September 2021 lalu menyebutkan bila sekitar tahun 1650 SM atau tepatnya 3600 tahun yang lalu, ledakan kosmis menghancurkan sebuah kota bernama Tall el-Hammam, sebuah kota pada Zaman Perunggu Pertengahan yang letaknya di Lembah Yordania Selatan di bagian Timur Laut dari Laut mati. Tall el-Hamman dikatakan adalah kota Sodom dan Gomora yang dikatakan dalam Alkitab.

Sementara itu situs sejarah dunia Britannica.com menyebut bila kota Sodom dan Gomora hancur pada tahun 1900 SM akibat gempa bumi. Meski berbeda tahun, tetapi posisi kota yang hancur tersebut dikatakan berada di tengah Laut Mati di Israel yang sekarang.

Setelah pindah ke Kanaan, tepatnya di wilayah perkemahan antara kota Betel dan Ai, kedua keluarga ini menjadi sangat kaya raya. Ternak-ternak mereka bertambah sangat banyak dan wilayah Kanaan menjadi sempit karena dipenuhi oleh hewan peliharaan Abraham dan Lot.

Dalam Kitab Kejadian 13 ayat 5 disebutkan bila Lot, yang pergi dengan Abraham ke Kanaan membawa serta harta yang Ia miliki seperti domba, sapi dan kemah. Tampaknya Ia mewarisi seluruh harta kekayaan ayahnya dan membawanya ke tempat dimana Abraham berada.

Akan tetapi, harta Abraham dan Lot teramat sangat banyak hingga tanah Kanaan tak cukup untuk mereka tempati berdua. 

Hingga pada suatu hari, penjaga ternak Lot dan Abraham bertengkar karena Negeri Kanaan yang semakin terasa sempit. Padahal, Alkitab mencatat bila luas Kanaan yang diberikan oleh Tuhan kepada Abraham adalah 20.000 – 25.000 KM Persegi dan membentang dari wilayah Lebanon Modern, Suriah, Yordania hingga Israel dan Palestina.

Abraham yang bijaksana menyarankan agar mereka berpisah dan mempersilahkan Lot, Sang Keponakan memilih daerah yang ingin Ia tinggali.

Lot memilih daerah yang banyak airnya, yaitu seluruh Distrik Yordan bagian Selatan, dekat dengan Sodom. Dikatakan dalam Alkitab bila Sodom berdekatan dengan Kota Gomora, Adma, Zeboyim dan Bela. Masing-masing kota ini memiliki raja-rajanya sendiri yang pernah menyerbu Lot dan menjarah semua hartanya, tapi berhasil direbut kembalikan oleh Abraham yang memiliki lebih dari 300 budak pekerja.

Tak hanya itu, Sodom terkenal dengan penduduk yang suka menantang Tuhan dan terkenal dengan praktek-praktek amoral seperti homoseksualitas. Bahkan, Alkitab secara khusus membahas dimana Tuhan berbincang dengan Abraham tentang kejahatan masyarakat kota tersebut. 

Selama tinggal disana, Lot dikatakan tidak mengikuti gaya hidup masyarakat Kota Sodom. Akan tetapi, Lot ternyata tidak bahagia tinggal di antara masyarakat yang dikatakan memiliki sifat yang sangat jahat.

Dan Tuhan, dikatakan ingin menghancurkannya meski sudah ditahan oleh Abraham karena Lot, keponakannya tinggal di sana.

ORANG-ORANG SODOM INGIN MENIDURI MALAIKAT YANG DIUTUS OLEH TUHAN

Kata-kata di atas memang sangat provokatif tapi memang benar itulah yang terjadi sebab pada saat hari penghakiman tiba, Tuhan mengutus 2 orang malaikatnya  ke rumah Lot.

Dalam Kitab Kejadian 19 dikatakan bila saat itu, di sore hari, Lot melihat 2 malaikat datang kepadanya dan bersujud dan mengundang keduanya untuk tinggal di rumahnya. Permintaan Lot tersebut tampaknya sulit untuk ditolak.

Namun, saat tengah beristirahat di malam hari, rumah Lot dikepung oleh pria-pria kota, baik yang muda maupun yang tua. Mereka berteriak meminta agar Lot menyerahkan kedua malaikat sebab ingin berhubungan seks dengannya. Gerombolan itu adalah Gay.

Kalimat tepat yang ditulis oleh Alkitab adalah sebagai berikut, “Sebelum mereka tidur, semua pria di kota Sodom, dari yang muda sampai yang tua, ramai-ramai mengepung rumah itu. Mereka berteriak-teriak kepada Lot, ”Mana orang-orang yang malam ini datang ke rumahmu? Bawa mereka keluar, kami mau berhubungan seks dengan mereka,”

Anda bisa bayangkan bagaimana aksi gerombolan Gay yang brutal ini?

MESKI DIBUAT BUTA TAPI GEROMBOLAN GAY ITU TETAP TIDAK MENYERAH!!

Dikatakan bila 2 malaikat tersebut sempat membutakan mata pria-pria  Gay yang memaksa Lot di depan pintu. Meski sudah buta, mereka saja tetap berusaha mencari pintu masuk agar bisa berhubungan seks dengan malaikat tersebut.

Karena situasi sudah kacau, Lot coba menawarkan 2 anak perempuannya yang masih perawan untuk ditiduri oleh para Gay akan tetapi ditolak mentah-mentah. Mereka hanya ingin tidur dengan malaikat yang sudah pasti memiliki wajah yang rupawan.

Dalam Alkitab, malaikat selalu digambarkan sebagai sosok pria yang tampan.

Petikan Alkitab di atas adalah cerita nyata yang dipercaya oleh banyak orang Kristen dan yahudi di seluruh dunia. 

Dalam tradisi Yahudi, homoseksualitas adalah tindakan yang sangat ditentang dan melahirkan banyak film-film yang menolak aturan tersebut. 

Akan tetapi, pesta seks Gay yang dilakukan oleh penduduk Sodom menjadi catatan penting dalam ajaran kekristenan tentang perilaku seks bebas dan tidak beretika akan selalu melahirkan hukuman berat. 

Namun pertanyaannya adalah mengapa Bangsa Israel justru membiarkan acara semacam itu diadakan di negara mereka? Apakah mungkin Gay Pride diadakan tanpa ada embel-embel seks bebas selama 4 hari acara tersebut diadakan? 

“Festival ini diadakan di atas puing (kota) Sodom dan Gomora di Ein Bokek di Laut Mati lokasi kuno Sodom dan Gomora. Dari sinilah kontroversi memuncak memicu reaksi keras di berbagai kalangan Kristen. Apakah kefasikan hari ini terjadi di Israel modern yang juga disokong oleh Kristen Zionis yang mabuk Israel dan membenarkan kegiatan represif apapun yang mereka lakukan atas nama ini adalah tanah wilayah kami sehingga gereja-gereja yang berumur ribuan tahun pun harus dihancurkan oleh mereka?” Ungkap Rita Wahyu Wulandari, seorang penulis, teolog dan pengajar Alkitab Ibrani lewat akun media sosial Instagramnya @ritawahyu beberapa saat yang lalu.

Menurutnya, keputusan pemerintah Israel mendukung Festival Pride Land sangat disayangkan sebab acara yang mewah ini diadakan di tengah penderitaan orang-orang di Gaza, baik orang Muslim maupun Kristen di sana dan ketegangan kawasan yang tak kunjung berhenti.

Di UGM, Jusuf Kalla Sebut Ajaran Kristen Mirip Islam Yang Halalkan Pembunuhan. Pendeta dan Influencer Langsung Minta Pembuktian Secara Terbuka!

Ilustrasi (kiri) Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla dan (kanan) Pendeta Lukas Kusuma dari Bethany Miracle Center (FOTO: Youtube di Bethany Miracle Center (BMC).
Ilustrasi (kiri) Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla dan (kanan) Pendeta Lukas Kusuma dari Bethany Miracle Center (FOTO: Youtube di Bethany Miracle Center (BMC).

THE EDITOR – Para pendeta dan umat Kristen berang terhadap Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla yang menyebutkan bahwa Kekristenan mengajarkan peperangan seperti Islam. Hal ini Ia katakan saat didapuk sebagai pembicara di Masjid Kampus UGM (Universitas Gadjah Mada) pada Kamis, 5 Maret 2026 lalu di hadapan mahasiswa dan dosen serta akademisi UGM.

Jusuf Kalla diundang oleh UGM sebagai pembicara dengan tema ’Strategi Diplomasi Indonesia Dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar’

Bagaimana sebenarnya pernyataan Jusuf Kalla yang viral di media sosial beberapa hari belakangan ini? Berikut hasil temuan The Editor.

“Kenapa agama gampang menjadi-jadikan alasan konflik kaya di poso dan Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat (bahwa) mati atau menewaskan orang, mati atau mematikan itu syahid. Semua pihak! Kristen juga berpikir begitu, ‘kalau saya bunuh orang Islam saya syahid. Kalau saya matipun, saya syahid,” demikian kata Jusuf Kalla seperti yang dikutip redaksi dari laman resmi media sosial Youtube Masjid Kampus UGM yang ditayangkan secara langsung pada 5 Maret 2026. 

Dalam tayangan tersebut, terdapat tulisan TVM SKAM UGM yang merujuk pada Takmir Masjid Kampus UGM, yang merupakan pengelola Masjid kampus UGM yang aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan, kajian dan kuliah umum.

JUSUF KALLA SEBARKAN FITNAH DAN ‘SOK’ TAHU TENTANG KEKRISTENAN

Para netijen, influencer serta pendeta menyebut Jusuf Kalla ‘sok’ tahu atas pendapatnya tentang Kekristenan tersebut. Bahkan, tak sedikit yang melawan dan mempertanyakan alasan seorang Jusuf Kalla bisa salah dalam mempelajari sejarah.

“Saya mengatakan itu sebagai tuduhan fitnah yang keji sebab di dalam kekristenan tidak pernah diajarkan membunuh mereka yang berbeda iman atau kepercayaan. Jelas bahwa kekristenan mengajarkan kasih, pengampunan, bukan kebencian, dendam dan membunuh,” ungkap Pendeta Lukas Kusuma dari Bethany Miracle Center pada Jumat (10/4/2026) lewat akun Youtube di Bethany Miracle Center (BMC).

Ia menegaskan bahwa Yesus dalam Kekristenan tidak pernah membunuh siapapun saat Ia hidup sampai dia bangkit. Sehingga ajaran Jusuf Kalla di depan mahasiswa UGM menurutnya sangat keliru.

“Yesus justru mati demi setiap orang!” katanya.

“Jelas karena itu, Pak Jusuf Kalla keliru besar. Kekristenan tidak pernah mengajarkan untuk membunuh mereka yang berlainan agama, berlainan iman. Saya berdoa biar Pak Jusuf Kalla mendapat pencerahan yang besar tentang Yesus dan Kekristenan,”.

“Sebagai orang Kristen kami mengampuni fitnahan keji itu dan kita tidak perlu menjalankan sampai ke ranah hukum,” ungkapnya.

Meski demikian, Pendeta Lukas Kusuma memberitahu bila Jusuf Kalla sebaiknya belajar sejarah Kekristenan lewat Yesus yang dipelajari dalam Alkitab, bukan manusia lain.

Tak hanya pendeta, netizen dan influencer juga angkat bicara.

Salah satunya dari @Yerry_pattinasarany yang bicara menilai pernyataan Jusuf Kalla sangat provokatif dan menuding Kekristenan memiliki basis ajaran membunuh adalah sah dan bisa masuk surga.

“Perkataan provokatif yang disampaikan oleh Pak Jusuf Kalla sangat berbahaya di forum akademis seakan-akan Kekristenan diajarkan membunuh demi agar bisa masuk surga,” ungkapnya.

Ia menegaskan bila Yesus tidak pernah mengajarkan apa yang dikatakan oleh Jusuf Kalla. Untuk itu, Yerry mengimbau agar pihak akademis tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Jusuf Kalla. 

JUSUF KALLA DITANTANG PENDETA UNTUK BUKTIKAN TUDINGANNYA KE PUBLIK 

Pendeta Lukas Kusuma dari Bethany Miracle Center menantang Jusuf Kalla untuk membuktikan tudingannya ke publik tentang ajaran Kekristenan yang suka membunuh. Tujuannya agar Jusuf Kalla memahami sejarah dengan baik, bukan menuding.

“Yesus berkata kasihilah musuhmu. Yesus berkata berdoalah bagi yang menganiaya kamu. Ini bukan teori. Di kayu salib Yesus berkata, ‘Bapa ampunilah mereka’. Inilah inti ajaran Kekristenan, bukan membunuh musuh, tapi mengampuni musuh, bahkan rela mati untuk musuh,” katanya.

“Saya tantang dengan jujur. Tunjukkan satu saja perkataan Yesus yang memerintahkan untuk membunuh orang karena beda iman,” katanya.

Pendeta Lukas juga ingin mengajari Jusuf Kalla tentang Kitab Perjanjian Lama seperti Kitab Yosua dan kitab lainnya agar tahu dan mengerti tentang ajaran Kristen.

Sehingga, lanjutnya, Jusuf Kalla memahami perbedaan antara konteks moral, sejarah Kekristenan, perintah spesifik Tuhan yang tidak universal untuk dibawa ke kehidupan sekarang.

“Perintah membunuh tidak pernah diberikan ke Gereja Tuhan. Setelah Yesus datang tidak mandat untuk melakukan perang agama. Setelah Yesus datang tidak ada perintah untuk membunuh,” tandasnya.

Tonton tayangan video pernyataan Jusuf Kalla di hadapan akademisi UGM ini disini: Klik “Di UGM, Jusuf Kalla Sebut Ajaran Kristen Seperti Islam Yang Halalkan Pembunuhan. Pendeta dan Influencer Langsung Minta Pembuktian Secara Terbuka!”

Berapa Gaji dan Jumlah Harta Kajari Karo Yang Sedang Viral?

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karo, Danke Boru Rajagukguk saat hadir dalam acara rapat dengar pendapat yang diadakan oleh Komisi III DPR RI pada Kamis, 2 April 2026 lalu (Foto: Youtube Channel TV Parlemen)
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karo, Danke Boru Rajagukguk saat hadir dalam acara rapat dengar pendapat yang diadakan oleh Komisi III DPR RI pada Kamis, 2 April 2026 lalu (Foto: Youtube Channel TV Parlemen)

THE EDITOR – Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karo, Danke Boru Rajagukguk yang saat ini tengah viral di media massa karena kasus dugaan korupsi pembuatan video profil desa ternyata dicopot dari jabatannya.

Pencopotan ini dikatakan langsung oleh Kapuspenkum Kejaksaan Agung, Anang Supriatna dengan tujuan agar pemeriksaan terhadap Danke dapat dilakukan lebih obyektif.

Danke diperiksa karena menuntut Amsal Sitepu, seorang pekerja kreatif yang diminta untuk mengerjakan proyek pembuatan profil desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. 

Tuntutan tersebut berupa pidana 2 tahun penjara dan denda Rp 50 juta serta subsider 3 bulan kurungan. Tak hanya itu, Amsal juga diminta untuk mengganti kerugian negara sebesar Rp 202.161.980 dari proyek yang dikerjakan olehnya bersama pemerintah. 

Tuntutan tersebut ternyata viral setelah Danke menyebutkan bila jasa pekerja kreatif itu hanya 0 rupiah. Tak hanya itu, dakwaan-dakwaan serta ancaman terhadap Amsal juga viral setelah kasus ini digelar secara terbuka di Komisi III DPR RI.

Terkait hal tersebut, redaksi The Editor akan mengajak anda untuk mengetahui berapa sebenarnya gaji Danke Boru Rajagukguk yang baru perdana menjabat sebagai Kajari.

Berdasarkan PP No. 5 Tahun 2024, gaji PNS golongan IV/a-IV/e berkisar dari Rp3.287.000 hingga Rp6.373.000.

Selain gaji, Kajari akan mendapat tunjangan kinerja (Tukin) serta tunjangan jabatan yang membuatnya mampu membawa pulang gaji pokok sebesar Rp 20 – 30 juta per bulan.

Sangat mencukupi.

APA SAJA DAFTAR ASET YANG DIMILIKI DANKE?

Berdasarkan lama e-LHKPN Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Danke diketahui memiliki aset sebagai berikut:

1. Tanah seluas 6.400 meter persegi di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara senilai Rp 190 juta.

2. Satu unit mobil merek Suzuki Grand Vitara tahun 2000 senilai Rp 240 juta.

3. Satu unit mobil merek Mazda 2 tahun 2010 senilai Rp 230 juta.

4. Harta bergerak lain sebesar Rp 5 juta.

5. Kas dan setara kas sebesar Rp 11,1 juta.

Total keseluruhan harta Danke yang tercatat adalah Rp 676,1.

Namun, tak hanya itu, dari data tersebut Danke juga melaporkan bila saat ini Ia memiliki utang sebesar Rp 818.500.000. Namun, tidak disebutkan utang tersebut dipakai untuk pembelian apa saja.

Jadi, apa pendapat anda? Share di komen ya. 

One Month Into the Iran War: The Illusion of Control

People were in bed when their homes were destroyed (Photo: Entekhab/The Asian)
People were in bed when their homes were destroyed (Photo: Entekhab/The Asian)

THE EDITOR – One month into the war with Iran, a dangerous illusion persists: that this conflict is being carefully managed. It is not. What we are going through is not a calibrated military campaign with set goals and clear limits, but rather the rapid unraveling of regional order under the weight of escalation, miscalculation, and competing political agendas.

The Asian on 28 March 2026 write special edition for one month Iran War. The column said that the scale of the opening strikes by the United States and Israel was designed to project dominance. More than 1,500 airstrikes in a matter of four weeks targeted Iran’s military infrastructure, energy facilities, and nuclear sites. The aim was unmistakable: degrade Iran’s capabilities, decapitate its leadership, and reset the strategic balance of the Middle East.

But wars do not unfold in PowerPoint presentations. They evolve in reaction.

Iran’s response has been both swift and deliberately expansive. By launching over a thousand strikes not just at Israel but also across the six nations of the Gulf, Tehran has reframed the conflict from a bilateral confrontation into a regional crisis.

This is not simply retaliation; it is strategy. By widening the battlefield, Iran ensured that any attempt to isolate it militarily became politically and economically costly for everyone involved.

And that cost is already visible.

Smoke rises from an area near Dubai International Airport (DXB) in Dubai, United Arab Emirates, 16 March 2026, amid the US-Israel conflict with Iran. The Dubai Media Office reported a 'drone incident' in the vicinity of the airport that affected a fuel tank, igniting a large fire. Authorities temporarily suspended all flights at the airport as a precautionary measure; no injuries have been reported. Civil defense teams successfully contained the fire by morning (PHOTO: EPA/STRINGER)
Smoke rises from an area near Dubai International Airport (DXB) in Dubai, United Arab Emirates, 16 March 2026, amid the US-Israel conflict with Iran. The Dubai Media Office reported a ‘drone incident’ in the vicinity of the airport that affected a fuel tank, igniting a large fire. Authorities temporarily suspended all flights at the airport as a precautionary measure; no injuries have been reported. Civil defense teams successfully contained the fire by morning (PHOTO: EPA/STRINGER)

The near paralysis of the Strait of Hormuz, a narrow passage that carries roughly a fifth of the world’s oil and gas, has exposed the fragility of global energy security.

Within days, shipping traffic collapsed, fuel prices surged, and markets reacted with predictable anxiety. The war has made clear what policymakers often ignore: in an interconnected world, regional wars do not stay regional.

Yet the most troubling dimension of this conflict is not economic—it is human.

The death toll continues to climb across multiple countries, from Iran to Lebanon to Iraq. Millions have been displaced, entire communities uprooted, and critical infrastructure damaged or destroyed. Behind the statistics lies a more uncomfortable truth: the war’s human consequences are not an unintended byproduct. They are structurally embedded in the way this conflict is being fought.

Strikes on urban areas, energy infrastructure, and symbolic civilian targets suggest that both deterrence and spectacle are at play. This is warfare designed not only to weaken the enemy, but also to send messages to populations, to allies, and to global audiences.

If that is the case, then the war is succeeding on its own terms. But that success comes at a cost that no side seems willing to fully acknowledge.

Politically, the conflict is being shaped as much by domestic calculations as by strategic necessity. In Washington, hesitation reflects a public wary of another prolonged war. In Israel, the opposite dynamic is at work: strong domestic support encourages continued escalation. Between these two positions lies a widening gap in objectives, one that risks undermining any coherent endgame.

Meanwhile, diplomacy appears less like a pathway to peace and more like a tactical pause. Announcements of plans, deadlines, and backchannel negotiations create the impression of movement, but little clarity exists about what a sustainable resolution would actually look like. Reopening shipping lanes is not a peace strategy. It is damage control.

And even that remains uncertain.

The deeper problem is that no actor in this conflict is truly pursuing de-escalation as a primary objective. Each is instead seeking military, political, or symbolic leverage before coming to the table. This logic guarantees that the war will continue, because every escalation is framed as a prerequisite for negotiation rather than a failure of it.

The result is a region caught in a familiar but increasingly dangerous cycle: strike, retaliate, expand, repeat.

What makes this moment particularly volatile is the number of actors now involved. From Lebanon to the Gulf to Yemen, the conflict is no longer contained. Each new front introduces its own dynamics, its own risks, and its own potential for miscalculation. The entry of additional actors, whether state or non-state, does not just widen the war; it ominously multiplies the chances of it spiraling beyond anyone’s control.

That is the real lesson of this first month.

The war with Iran was perhaps intended as a demonstration of strength. Instead, it has become a demonstration of limits – of military power, of deterrence, and of the belief that complex regional realities can be reshaped through force alone.

There is still talk of “endgames,” of “decisive outcomes,” of “strategic victories.” But after one month, the only certainty is uncertainty. And in the Middle East, uncertainty is rarely a stable condition.

Duta Besar RI Kuncoro Waseso Hadiri Tabligh Akbar PCINU di Mesir

Duta Besar Republik Indonesia Kuncoro Waseso hadiri acara tabligh akbar yang diadakan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir pada Jumat, 27 Maret 2026 (FOTO: Humas KBRI Mesir)
Duta Besar Republik Indonesia Kuncoro Waseso hadiri acara tabligh akbar yang diadakan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir pada Jumat, 27 Maret 2026 (FOTO: Humas KBRI Mesir)

THE EDITOR – Duta Besar Republik Indonesia  Kuncoro Waseso hadiri acara tabligh akbar yang diadakan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir serta dihadiri oleh lebih dari 500 peserta dari seluruh Negeri Piramida itu.

Acara yang diadakan pada Jumat (27/3/2026) waktu Kairo, para peserta yang tergabung dari mahasiswa dan pejabat dari lingkungan KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) berkumpul di Aula Masjid Al Salam, Nasr City, Kairo. 

Rangkaian kegiatan dibuka dengan penampilan grup shalawat An Nahdhah PCINU Mesir, serta diisi dengan Tabligh Akbar oleh KH. Bahtiar Nawir, MA, A’wan Syuriah PCINU Mesir yang mengupas makna yang terkandung dalam silaturahmi dan halalbihalal.

Dalam sambutannya Dubes RI antara lain menyampaikan harapan agar PCINU Mesir dapat menjadi organisasi yang merekatkan semua elemen WNI di Mesir, serta dapat berperan di kancah internasional.

Dubes bersama jajaran pengurus PCINU Mesir juga berkesempatan membuka rangkaian kegiatan Orientasi Penerimaan Anggota Baru (Opaba) PCINU Mesir.

Acara ditutup dengan penampilan nasyid dan gambus yang mengiringi acara ramah tamah serta salam-salaman antara seluruh hadirin.

Iran Targets Gulf with 83% of Attacks, Leaving 17% for Israel: GCC

Smoke rises from an area near Dubai International Airport (DXB) in Dubai, United Arab Emirates, 16 March 2026, amid the US-Israel conflict with Iran. The Dubai Media Office reported a 'drone incident' in the vicinity of the airport that affected a fuel tank, igniting a large fire. Authorities temporarily suspended all flights at the airport as a precautionary measure; no injuries have been reported. Civil defense teams successfully contained the fire by morning (PHOTO: EPA/STRINGER)
Smoke rises from an area near Dubai International Airport (DXB) in Dubai, United Arab Emirates, 16 March 2026, amid the US-Israel conflict with Iran. The Dubai Media Office reported a 'drone incident' in the vicinity of the airport that affected a fuel tank, igniting a large fire. Authorities temporarily suspended all flights at the airport as a precautionary measure; no injuries have been reported. Civil defense teams successfully contained the fire by morning (PHOTO: EPA/STRINGER)

THE EDITOR – Since the outbreak of war on February 28, approximately 83% of Iran’s missiles and drones have been directed at Gulf Cooperation Council (GCC) states, while only 17% have targeted Israel, according to the GCC top official.

The GCC, comprising Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Saudi Arabia, and the United Arab Emirates (UAE), has borne the overwhelming share of the attacks, raising serious concerns over regional security and stability.

The Asian on 26 March 2026 said that official figures indicate that, as of Wednesday night, Iran has launched a total of 4,391 missiles and drones toward vital infrastructure and civilian facilities across GCC countries, marking a significant and dangerous escalation, the GCC Secretary-General Jassem Al Badawi said at a press conference in Riyadh, the headquarters of the six-nation alliance.

By contrast, Israel, where the conflict originated, has been struck by 930 Iranian missiles and drones, accounting for just 17% of the total attacks recorded in the region.

A country-by-country breakdown shows that the UAE has faced the highest number of strikes, with 2,156 missiles and drones. Saudi Arabia has been targeted 723 times, followed by Kuwait with 791 attacks, Bahrain with 429, Qatar with 270, and Oman with 22 drone strikes.

On Thursday, Abu Dhabi authorities said that falling debris from a successfully intercepted ballistic missile caused casualties and property damage.

The incident resulted in the deaths of two individuals, injuries to three others, and damage to several vehicles. It brought the total number of deaths in the UAE to 11, and the number of injured people to 166, with cases ranging from minor to severe across multiple nationalities.

Al Badawi said that the GCC states are considering all options to respond to Iran’s treacherous attacks on the Gulf, while prioritizing diplomacy.

He emphasized that the Gulf states are exercising the utmost restraint in the face of Iranian aggression, but have chosen not to retaliate to prevent the conflict from escalating.

Iran is responsible for the escalation and must cease its attacks immediately, he added, stressing that “the Gulf states’ right to self-defense is guaranteed by international law,” and that the attacks threaten global economic stability.

Al Badawi added that the GCC states have informed Iran that they are not a party to the conflict, and stressed that “international law prohibits the disruption of navigation in straits, and no party has the right to disrupt navigation in straits.”

The Secretary-General emphasized the necessity of including the GCC states in any talks or agreements aimed at resolving the current crisis.

Sukses Gala Dinner Atlet Bertalenta Khusus Mengantarkan Mimpi Prestasi Generasi Hebat Indonesia

(Kanan) Ketua Umum Special Olympic Indonesia (SOIna), Warsito Ellwein dan (kiri) Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria (FOTO: Humas SOIna)
(Kanan) Ketua Umum Special Olympic Indonesia (SOIna), Warsito Ellwein dan (kiri) Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria (FOTO: Humas SOIna)

THE EDITOR – Wakil Menteri (Kementerian Komunikasi dan Digital) Nezar Patria mendukung semangat kerja kemanusiaan dari panitia gala dinner yang dibentuk Pengurus Pusat SOIna, perkumpulan nirlaba yang terakreditasi Special Olimpiade Internasional. 

Ajang olahraga ini merupakan tempat bagi atlet bertalenta khusus se-Indonesia yang rencana digelar Oktober 2026 di Kupang, NTT sekaligus wujud penghargaan bagi penyandang autis, down syndrome, tuna grahita, ADHD dan lainnya.

Nezar menerima perwakilan panitia Gala Dinner di kediamannya di Yogyakarta pada 26 Maret 2026. Ia juga menerima permohonan panitia untuk duduk sebagai dewan pengarah supaya kegiatan sportifitas ini berlangsung lancar dan sukses. 

Dilaporkan oleh Panitia Gala Dinner bahwa kegiatan ini menjadi pendahuluan menuju persiapan penyelenggaraan Pekan Special Olympics Nasional (PESONAS) ke-2 di Kupang setelah sebelumnya empat tahun lalu 2022 di Semarang. Tujuannya adalah untuk membangkitkan dukungan dan simpati sosial terhadap warga berkebutuhan khusus akibat keterbelakangan dan gangguan mental. 

Panitia Gala Dinner yang dibentuk Pengurus Pusat SOIna saat tiba di kediaman Wakil Menteri (Kementerian Komunikasi dan Digital) Nezar Patria di Yogyakarta pada Rabu, 26 Maret 2026 (FOTO: Humas SOIna)
Panitia Gala Dinner yang dibentuk Pengurus Pusat SOIna saat tiba di kediaman Wakil Menteri (Kementerian Komunikasi dan Digital) Nezar Patria di Yogyakarta pada Rabu, 26 Maret 2026 (FOTO: Humas SOIna)

Di Indonesia kurang lebih terdapat 5,2 juta jiwa tersebar di berbagai pelosok dan latar belakang sosial ekonomi. Sebagian di antaranya mampu menoreh prestasi keolah-ragaan beragam cabor yang dipertandingkan. Event pertandingan yang tidak semata mengejar perlombaan kejuaraan tetapi pengakuan sukses atlet berlaga fairplay dan setara. 

“Kami berihktiar menggalang dana untuk membantu memberangkatkan atlet, ofisial, pelatih dan pendamping terutama dari asal kontingen daerah yang berkekurangan. PESONAS NTT mirip PON. Kebutuhan biaya selama sepekan kompetisi tentu besar. Donasi sukarela empati publik berapapun yang terkumpul harus kami pertanggung-jawabkan akuntabel. Dana publik wajib terlaporkan kepada publik”, kata Hari Subagyo, perwakilan panitia gala dinner SOIna. 

Kegiatan amal yang bakal digelar di auditorium RRI Jakarta pada 22 Mei 2026 sebagai momen menghadirkan atlet dan ekosistem pendukungnya. Selain lelang lukisan, kain tenun, unjuk seni, dan karya-karya lain dari para penyandang disabilitas diharapkan terbuka juga sponsorship donasi individu dan institusi. 

Menurut Nezar Patria penggalangan serupa bisa juga ditempuh melalui crowdfunding agar sedekah sosial atau amal dapat menjangkau lebih luas dan terbuka. 

“Sekarang tersedia banyak platform digital, misalnya aplikasi Kitabisa.com. Syukur kegiatan ini beroleh dukungan para pemengaruh. Banyak pesohor dan masyarakat umum tergugah peduli dan bersedia berbagi”, ucap Nezar memungkasi perbincangan.

Iran Kedapatan Mengirimkan Uang Sogok 8 Miliar/Bulan ke Ketua Parlemen Lebanon. Simak Liputannya!

Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri bertemu dengan mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada Mei 2024 (Foto: Iran Internasional)
Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri bertemu dengan mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada Mei 2024 (Foto: Iran Internasional)

THE EDITOR – Agar kepentingannya terus terjaga, Iran membayar Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri sebesar $500.000 atau setara dengan 8.4 miliar per bulan. Informasi ini dikeluarkan oleh media Iran Internasional pada tanggal 14 Maret 2026 lalu. 

Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah apa yang diinginkan oleh Iran dari Lebanon yang letaknya berdekatan dengan Israel?

Media yang berseberangan pemerintah Iran tersebut menuliskan bahwa uang sebesar 8,4 miliar setiap bulan tersebut dipakai untuk mendukung kepentingan Iran dan sekutunya bernama Hizbullah di Lebanon.

Sampai saat ini, Nabih Berri tidak mau menanggapi isu tersebut terutama saat Iran Internasional mewawancarai Ia. Akan tetapi, salah satu penasehat Nabih Berri menginformasikan bila saat ini Nabih Berri tidak akan memberi komentar apapun tentang masalah tersebut.

Namun, panasnya isu tersebut membuat banyak pejabat di Teheran berbicara dengan mengatakan bila dana tersebut dipakai untuk membeli partai Syiah Lebanon dan memastikan mereka bertindak sesuai dengan kepentingan Iran, bukan Lebanon.

SEBESAR APA KEKUATAN NABIH BERRI?

Nabih Berri (88) adalah politikus senior Syiah Lebanon yang menjabat sebagai Ketua Parlemen terlama sejak 1992. 

Sebagai pemimpin Gerakan Syiah Amal (partai politik dan mantan milisi Syiah), ia adalah sekutu dekat Hizbullah dan tokoh kunci dalam negosiasi gencatan senjata dengan Israel. Ia lahir pada 1938 dan memimpin Gerakan Syiah Amal sejak tahun 1980.

Ia menjabat sebagai Ketua Parlemen sejak 1992 dan memimpin gerakan Syiah Amal. Kekuatannya terletak pada posisi konstitusional tertinggi bagi Muslim Syiah, aliansi strategis dengan Hizbullah, serta kendali atas basis pendukung di selatan Lebanon.

Sebagai pembicara parlemen, ia memegang peran kunci dalam legislasi dan mediasi politik, sering kali dipandang sebagai perantara penting dalam krisis Lebanon.

Pada pemilihan parlemen terakhir, Berri didukung oleh 65 dari 128 kursi, menunjukkan kekuatan pengaruh aliansinya.

Di Pemilu 2022 lalu, Parlemen Libanon yang menawarkan 128 kursi untuk pertama kalinya terpecah dengan partai pro-Hizbullah Amal kehilangan mayoritas kursinya.

DW.com mengatakan bila koalisi pemerintah seperti Sunni, Syiah, Druze, Alawi). yang mencakup Hizbullah hanya mendapat 62 kursi.

Sisanya, 64 kursi lain diduduki oleh Kristen seperti Maronit, Ortodoks Yunani, Katolik Yunani, Ortodoks Armenia, Katolik Armenia, Protestan, dan Minoritas Kristen.

Gerakan Syiah Amal, partai politik dan milisi Syiah terbesar di Lebanon, bersekutu dengan Hizbullah. Secara historis, lawan utama Amal di Lebanon adalah kelompok-kelompok yang menentang pengaruh Syiah atau berkonflik dalam perebutan kekuasaan, terutama selama Perang Saudara Lebanon, seperti faksi Palestina (PLO), kelompok kiri, dan milisi sayap kanan Kriste

MENGAPA IRAN MENDANAI HIZBULLAH? 

Iran mendanai Hizbullah diketahui untuk memperluas pengaruh geopolitiknya di Timur Tengah, serta menciptakan proksi militer terkuat untuk melawan Israel dan Amerika Serikat, dan terakhir menyebarkan ideologi Syiah. 

Hizbullah bertindak sebagai garda depan pertahanan Iran di kawasan, mengamankan kepentingan Teheran dan jalur logistik ke wilayah Mediterania.

Iran menggunakan Nabih Berri, Ketua Parlemen Lebanon dan pemimpin Amal Movement, sebagai perantara strategis untuk menjembatani Hizbullah dengan faksi politik Lebanon lainnya serta dunia internasional. Berri, yang merupakan figur Syiah moderat, dipandang sebagai mediator efektif yang mampu mengakomodasi kepentingan Iran dan Hizbullah sambil tetap menjaga stabilitas politik Lebanon dalam perundingan gencatan senjata.

NABIH BERRI DIKABARKAN ENGGAN MENDUKUNG KEPENTINGAN LEBANON DEMI IRAN

Masih dari Iran Internasional, dikabarkan bila selama ini Nabih Berri selalu enggan mendukung upaya pemerintahnya sendiri, Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah. Keengganan ini muncul karena imbalan uang yang besar dari Teheran yang masuk ke rekeningnya setiap bulan.

Nabih dianggap bertugas untuk mendorong langkah-langkah politik parlemen Lebanon agar selalu selaras dengan kepentingan Iran.

Sebagai contoh, dalam beberapa bulan terakhir, Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam telah mencoba menekan Hizbullah untuk melucuti senjata guna mengurangi ketegangan dengan Israel dan komunitas internasional.

Pasukan militer Lebanon menyita senjata Hizbullah yang ditangkap di Lebanon selatan, tetapi pejabat senior Lebanon mengatakan bahwa implementasi penuh rencana tersebut dapat memicu ketegangan internal, karena Hizbullah menolak untuk menyerahkan seluruh persenjataannya.

Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem dan pejabat Republik Islam telah berulang kali menentang pelucutan senjata kelompok tersebut.

Setelah serangan Hizbullah terhadap Israel, pemerintah Lebanon mengumumkan bahwa aktivitas militer kelompok tersebut akan dilarang.

Pada 6 Maret, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memperingatkan pemerintah Lebanon bahwa jika mereka tetap tidak dapat memenuhi komitmennya terkait pelucutan senjata Hizbullah, Lebanon akan “membayar harga yang sangat mahal.”

Iran sendiri menganggap Hizbullah sebagai salah satu pilar utama Poros Perlawan anti Israel dan Amerika Serikat. Iran diketahui memang dekat dengan kelompok-kelompok bersenjata Islam seperti Hamas, Jihad Islam, Hizbullah, Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak, dan Houthi di Yaman.

Semua kelompok tersebut selalu berkaitan dengan aksi terorisme dan pelarangan terhadap aktivitas perempuan di negara-negara mereka dibesarkan.

Wall Street Journal melaporkan pada November 2025 bahwa Iran mengirim uang ratusan juta dolar pendapatan minyak mereka ke Hizbullah pada tahun 2024 melalui kantor pertukaran, perusahaan swasta, dan jaringan pembiayaan di Dubai.

Jaringan Kan Israel melaporkan pada Desember 2025 bahwa Iran telah setuju untuk membayar $1 miliar kepada Hizbullah atau setara dengan 16,8 Triliun.

Iran International tidak dapat memverifikasi kedua laporan tersebut secara independen. Namun, Kantor Ketua Parlemen Lebanon, dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah artikel tersebut diterbitkan, menyebut klaim tersebut “palsu dan tidak berdasar.”

BTS’s Arirang – A Message of Life in an Age of War

Gwanghwamun Square in Seoul is a historic landmark built more than 600 years ago and the site where the seven members of BTS made their own mark on history (Photo: Netflix)
Gwanghwamun Square in Seoul is a historic landmark built more than 600 years ago and the site where the seven members of BTS made their own mark on history (Photo: Netflix)

THE EDITOR – On March 21, 2026, Gwanghwamun Square in Seoul is heating up with the eyes of citizens and fans around the world waiting for the return stage of BTS. As the members complete their military service and prepare to resume activities as a full group, expectations for a new album and performance are growing. Their comeback stage is not merely a pop-culture celebration. 

The return of seven young men after a long pause for military duty feels like a signal that time has begun to move again, a declaration that our era has not yet lost the power of “rebirth.”

At the very same moment, however, the skies over the Middle East on the other side of the globe continue to tremble with the sound of gunfire. International politics moves coldly within the framework of national interests, and diplomatic rhetoric often appears powerless in the face of the cries from the battlefield. 

Countless meetings and agreements take place, yet human suffering does not easily stop. At such times, history always asks us a question: “What can overcome conflicts that politics cannot resolve?”

Founder of the Asia Journalist Association (AJA), Publisher of THE AsiaN, Lee Sang-ki said that since founding the Asia Journalist Association (AJA) in 2004, He have stood with journalists across Asia at the front lines of wars and conflicts. 

“Through long nights spent with reporters in regions divided by war, coups, and religious tensions, I learned one truth. Politics divides people, but culture brings them back together. Guns silence human voices, but songs make people speak again,” said Lee in theasian.asia on 20 March 2026.

“In 2002, while preparing for the founding of AJA, I remember singing the Beatles’ “Let It Be” in Malacca, Malaysia, together with journalists who later became founding members — Ivan Lim from Singapore, Norila Daud from Malaysia, and Sophal Chhay from Cambodia. Since then, whenever we meet, we have sung that song together. These days, it comes to mind more often than ever,” He add.

For Lee, BTS is the only one band group in the world can comfort a young person in Iran and give hope to a student in Lebanon. 

“This is a powerful form of soft power that no diplomatic document can ever achieve — a bond of life that connects human beings beyond borders,” Lee said.

Lee explain the meaning of ‘Arirang’ as it used in the album as a song of sorrow, yet it never remains in despair. Arirang also speaks of separation while believing in reunion. Through countless wars and colonial suffering, the Korean people never stopped singing Arirang, because within that melody lies the power of rebirth that allows human beings to stand again.

“Since my first blood donation on December 24, 1980, I have participated in the blood-donation movement for more than forty years, learning the value of life. Just as a drop of blood from one person can save another, I believe a single sincere song can heal an era. Guns and missiles can destroy cities, but culture rebuilds homes upon the ruins of broken hearts. As long as humanity does not abandon the will to live, songs will never stop,”.

Lee remember the phrases said by his friend, Iranian filmmaker Mohsen Makhmalbaf that art dies when it ignores suffering, and lives when it embraces it.

Also, a poet from England, Dylan Thomas cried out for people do not go gentle into that good night.

“It is a call that humanity must never remain silent in the face of despair,”.

“Tonight, I hope the song that will rise from Gwanghwamun becomes such a cry. I hope it becomes a message of life sent to all who continue to live under the shadow of war. I think of young people in the Middle East who listen to music while dreaming of tomorrow amid the sound of gunfire. If they can share even a moment of longing for peace while listening to a Korean song, that song has already crossed every border,”.

Lee said that the rebirth of BTS is a sign that hope is still alive in our time, proof that humanity can still choose hope instead of hatred.

“May the melody that begins in Gwanghwamun spread beyond Asia to the Middle East, and to every wounded land, as a song of life once again. Songs must not stop. And neither must humanity, nor peace, nor dreams,”.