19.9 C
Indonesia
Monday, March 16, 2026

Eksklusif The Editor: Taliban Ancam Para Jurnalis di Afghanistan, Media Lokal Ditutup

Afghan journalists film at the site of a bombing attack in Kabul, Afghanistan, Tuesday, Feb. 9, 2021. (Photo: 2021/AP Photo/Rahmat Gul/Human Right Watch/The Editor)
Afghan journalists film at the site of a bombing attack in Kabul, Afghanistan, Tuesday, Feb. 9, 2021. (Photo: 2021/AP Photo/Rahmat Gul/Human Right Watch/The Editor)

JAKARTA – Jumat (13/8) kemarin, sekitar pukul 13:41 waktu Indonesia, sebuah panggilan tak terjawab yang berasal dari Afghanistan masuk ke redaksi The Editor. Awalnya kami mengira telepon biasa dari orang iseng, nyatanya tidak.

Pada Minggu (15/8) kemarin ternyata Afghanistan sudah dinyatakan berkobar karena Taliban, kelompok fundamentalis Islam berhasil menduduki Afghanistan. Ternyata telepon yang masuk ke meja redaksi adalah teriakan minta tolong dari rekan-rekan jurnalis di Afghanistan.

Salah satu pimpinan redaksi media surat kabar terkemuka di Afghanistan mengatakan kepada The Editor bahwa saat ini sejumlah pimpinan tertinggi berbagai organisasi, pemerintah dan bahkan media sudah lari dari Afghanistan untuk menyelamatkan diri.

Ia yang mengaku sudah berada di Uzbekistan harus berada disana sampai waktu yang tidak diketahui karena Taliban ingin mengontrol semua media massa di negara tersebut.

“Kami dicari oleh mereka untuk meluruskan keinginan-keinginan mereka lewat pemberitaan,” ujarnya kepada redaksi saat dihubungi melalui telepon.

Ia mengatakan bahwa saat ini media massa di Afghanistan dalam kondisi yang sangat terancam. Meski masih ada anak buahnya yang bertugas di lapangan, namun sebagian besar sudah mulai tidak bekerja di kantor lagi.

Untuk beberapa media bahkan memindahkan aktivitas kerjanya dengan cara sembunyi-sembunyi karena Taliban ingin mengontrol pemberitaan di negara tersebut.

Pria yang sehari-hari berkantor di Kabul ini mengatakan bahwa hingga hari Minggu (15/8) kemarin Taliban belum berhasil menguasai seluruh Afghanistan. Kota yang belum mereka kuasai adalah Kabul.

Meski demikian ketakutan sudah menyebar keseluruh wilayah. Para jurnalis yang seharusnya mendapat kebebasan dalam menjalankan tugasnya sudah mulai ketakutan.

“Jurnalis saja khawatir, bagaimana dengan orang biasa,” katanya.

Kantor mereka diberedel dan tidak bisa beraktivitas lagi. Ia ingin dunia internasional membantu Afghanistan menghentikan semua yang dilakukan oleh Taliban. Ia meminta secara pribadi agar namanya tidak disebutkan dalam pemberitaan manapun karena meski sudah pindah ke negara lain, maka Ia akan tetap dicari.

“Beberapa petinggi media harus dilarikan ke negara lain agar tidak bisa dikontrol oleh Taliban,” ungkapnya.

Perlu diketahui bahwa Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) resmi menarik pasukan mereka dari Afghanistan pada Mei lalu. Amerika Serikat resmi akan menarik seluruh pasukannya pada akhir Agustus mendatang.

Namun, lanjutnya, media massa di Afghanistan menilai dengan cara yang berbeda sekarang. Ia curiga Amerika Serikat tidak ingin keluar secara resmi dari Afghanistan karena dari kabar yang Ia ketahui pasukan Amerika Serikat sudah mulai masuk kembali ke Afghanistan.

“Saya rasa Amerika Serikat tidak ingin keluar dari Afghanistan. Jadi perjanjian yang kemarin dibuat ingin keluar dari Afghanistan tidak benar-benar akan mereka lakukan. Jadi kericuhan muncul lagi maka mereka akan masuk lagi. Itu baru dugaan,” ungkapnya lagi.

Menapaki Ratusan Anak Tangga Nan Curam Air Terjun Sipiso-Piso

Air Terjun Sipiso-Piso dari kejauhan (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

Air Terjun Sipiso-Piso dari kejauhan (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

TANAH KARO – Di perhentian pertama menuju air terjun setinggi 120 meter ini, pemandangan yang tidak asik mulai terlihat. Apalagi kalau bukan sampah.

Warung yang menjual berbagai macam jajanan, air mineral dan mi instan sepertinya sangat asik membuang sampah ke lembah yang ditanami berbagai macam bunga berwarna warni. Sangat kontras memang.

Sesekali langkah saya terhenti karena beberapa anak tangga mulai hilang karena longsor. Ketinggian anak tangga yang berbeda ternyata membuat kaki terasa sangat cepat lelah saat menapaki jalan yang curam.

Setelah melewati perhentian kedua, tibalah momen untuk menuruni tangga dengan kemiringan 90 derajat. Saya juga merasa heran kenapa seterjal ini yang harus dilalui, setelah saya perhatikan ternyata medan yang dilalui semakin sulit dan curam.

Saya merasa seperti tengah menaiki sebuah tangga darurat. Selain besinya yang berwarna cokelat tua dan patahan-patahan besi disana-sini, tumpukan sampah pun terlihat jelas di bawah tangga. Wajib berhati-hati saat lewat disini.

Perjalanan masih jauh, puluhan anak tangga masih menanti di depan. Suara air terjun juga masih sayup-sayup, pertanda perjalanan memang benar-benar masih panjang.

Perlahan saya menapaki anak-anak tangga yang terkadang berganti dengan tanah liat. Berbagai macam hewan terlihat bermunculan di balik semak.

Mereka umumnya tidak mengganggu jadi tidak perlu risau. Pemandangan Danau Toba dari kejauhan dapat anda nikmati disepanjang rute perjalanan menuju air terjun.

Semakin mendekati lokasi air terjun, udara lembab nan dingin pun semakin terasa. Semak belukar yang menaungi rute perjalanan pun terlihat semakin rimbun. Tibalah di perhentian terakhir. Seorang wanita penjual air mineral dan mie instan menyambut dengan ramah. Ia dengan sigap menawari tempat untuk beristirahat kepada setiap pengunjung yang tiba disana.

Suara air terjun ternyata lebih menggoda dari pada hanya sekedar untuk beristirahat. Suara desauan air terdengar sangat kuat hingga ke jarak 50 meter. Air berarus deras terlihat mengalir disela-sela bebatuan. Setiap pengunjung harus ekstra berhati-hati saat tiba disini karena rute yang dilalui adalah tanah dan bebatuan besar yang basah dan becek.

Disarankan untuk memakai perlengkapan hiking yang mumpuni dan sepatu yang bisa tahan dibawa melewati kondisi alam yang tidak pernah lepas dari kondisi lembab dan dingin membuat bebatuan sangat licin.

Jarak ke air terjun tinggal 20 meter lagi tapi baju yang saya kenakan sudah basah karena terpaan air dari Sipiso-piso. Semakin mendekat, suara air yang jatuh setinggi 120 meter menghasilkan angin berkekuatan tinggi. Sangat tidak disarankan untuk berenang tepat di titik air terjun karena sangat berbahaya. Angin yang dihasilkan oleh jatuhan air juga sangat berbahaya. Harus sangat berhati-hati bila ingin mendekat ke air terjun.

Pemandangan yang ditawarkan usai menempuh perjalanan 45 menit memang tidak bisa dijelaskan. Panorama disekitar air terjun Sipiso-Piso sangat indah. Bunga-bunga dan berbagai tumbuhan lain memenuhi jurang-jurang dan bukit di tempat ini. Anda belum sah dianggap sebagai penikmat alam liar bila belum pernah datang menikmati terjangan angin berkekuatan tinggi dari Sipiso-Piso.

Bila sedang datang kesini, jangan memakai pakaian tebal karena anda pasti akan kesulitan saat kembali naik ke atas. Tanah Karo memang sangat dingin. Bila kadung memakai jaket tebal saat turun ke lembah, baiknya menitipkan pakaian anda ke pos terakhir yang berada tak jauh dari lokasi. Jadi, anda bisa lebih bebas dan tidak perlu membawa pakaian basah usai bersenang-senang disini. Ingat, jangan buang sampah sembarangan.

Festival Penis, Sebuah Perayaan Untuk Mendapat Keturunan Ala Masyarakat Jepang

Perayaan Kanamaya Matsuri di Jepang (Foto: KDTOUR/ THE EDITOR)

Perayaan Kanamaya Matsuri di Jepang (Foto: KDTOUR/ THE EDITOR)

JEPANG – Cara masyarakat Jepang berdoa tidak pernah sama dengan negara lain. Jepang bisa dikatakan menjadi salah satu negara dengan ragam perayaan dan festival. Kemeriahan festival ini tidak sekedar jadi tontonan turis semata karena masyarakat di negara ini merayakan festival sembari berharap mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa.

Salah satu perayaan andalan Negeri Sakura ini adalah Festival Honen atau disebut juga Festival Kesuburan. Dalam pagelaran ini, ribuan masyarakat akan mengarak patung penis raksasa di sekitar Kuil Tagata yang berada di Kota Komaki, sebelah utara Nagoya, Jepang.

Kuil Tagata adalah kuil Shinto yang ditujukan untuk orang-orang yang ingin mendapat keturunan. Selain itu, kuil ini juga ditujukan untuk memberkati keluarga-keluarga yang ingin mendapatkan kesehatan lahir dan batin. Kuil ini banyaknya dipakai untuk pemberkatan bagi anak-anak yang berusia 3 tahun.

Cara mereka beribadah mungkin sedikit asing dan tidak lazim bagi beberapa orang, terutama yang datang dari kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pasalnya, di dalam Kuil Tagata ini para peziarah diizinkan mengelus dan memegang patung penis berukuran raksasa yang diletakkan dekat kuil. Bahkan, di bagian dalam kuil terdapat beragam ukuran patung penis dengan warna dan bentuk berbeda untuk dilihat oleh pengunjung.

Dua bola sebagai lambang buah pelir juga dipajang di kuil ini. Dan sebuah goa yang melambangkan lubang vagina tersedia tepat di belakang dua bola tersebut. Konon katanya, bagi siapapun yang mengelusnya akan merasa tenang dan bahagia usai berdoa. Banyak peziarah yang datang khusus ke tempat ini untuk merenung dan memanjatkan semua keinginannya kepada Yang Maha Kuasa.

Sementara keberadaan patung-patung berbentuk penis tersebut dianggap sebagai alat untuk membantu peziarah untuk lebih berkonsentrasi saat berdoa dan merenung.

Sejarah Festival Penis

Asal-usul perayaan Kanamara Matsuri dapat ditelusuri kembali ke Zaman Edo atau Tokugawa (1603-1868), saat Kawasaki menjadi pusat perdagangan yang ramai dan memiliki kehidupan malam yang sibuk. Kuil Kanayama menjadi tempat pemujaan bagi pekerja seks komersial yang membutuhkan perlindungan dari sexually transmitted disease (STD) atau penyakit kelamin menular.

Para pelacur ini sering mengunjungi Kuil Kanayama untuk berdoa, memohon perlindungan kepada dewa dari serangan penyakit kelamin. Dikatakan pula bahwa pekerja seks kala itu kerap mengadakan perayaan bertema kesehatan dan kesuburan di sekitar kuil.

Tradisi perayaan Kanamara Matsuri sempat hilang pada tahun 1800-an, tetapi pemimpin biksu di Kuil Kanayama, Hirohiko Nakamura, memutuskan untuk menghidupkannya kembali di awal tahun 1970-an.

Perayaan Festival Honen diadakan setiap tahun pada Minggu pertama di bulan April. Ribuan orang memadati jalan raya Kota Kawasaki di Tokyo sembari merayakan hari Kanamara Matsuri atau disebut juga Hari Alat Kelamin Pria. Perayaan ini dihadiri oleh pria dan wanita Jepang yang beragama Shinto.

Biasanya, turis manca negara yang hadir dalam festival ini akan menikmati waktu dengan berburu souvenir berbentuk serba penis aneka warna dan mencari makanan. Dan, bagi turis menikmati pemandangan arak-arakan tiga patung penis raksasa oleh ribuan orang di sepanjang jalan juga menjadi suguhan tersendiri. Penis yang dicat berwarna hitam, cokelat dan merah muda cerah tersebut memiliki nama yang disebut penis baja, penis kayu dan elizabeth.

Tak hanya pria dan wanita dewasa, namun juga para orang tua dan anak-anak tak mau ketinggalan untuk berpartisipasi di festival ini. Caranya dengan memborong pernak-pernik berbentuk penis aneka warna dan ukuran. Bahkan ada juga yang sangat santai menikmati permen, cokelat dan lolipop berbentuk penis di sepanjang jalan. Toko-toko makanan yang ada di sepanjang area festival memang umum menyajikan makanan sesuai dengan tema festival yang tengah dirayakan.

Kanamara Matsuri diadakan sebagai bentuk penghormatan terhadap alat kelamin dan kesuburan pria. Di samping itu, festival ini juga merupakan cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit menular seksual. Selama bertahun-tahun, festival ini menjadi atraksi populer bagi para turis dan digunakan sebagai media pengumpul uang untuk penelitian HIV.

Prasetyo, Ketua DPRD DKI Yang Paling Mudah Ditemui Dan Diajak Adu Pendapat

Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi. Foto: Dok/DPRD DKI Jakarta/The Editor)
Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi. Foto: Dok/DPRD DKI Jakarta/The Editor)

THE EDITOR – Bukan lagi rahasia bila keberhasilan kepala daerah dalam menjalankan kebijakannya sangat tergantung pada suara anggota dewan. Nama Prasetyo muncul dalam laga perebutan kursi DPRD DKI memang sangat pelik. Pria ini adalah loyalitas PDIP sedari kecil karena kedua orang tuanya juga sangat dekat dengan partai berlambang banteng ini.

Prasetyo dengan berani membuka Rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD DKI secara terbuka untuk umum. Awak media dengan langsung dapat menyaksikan bagaimana pelik, lamban dan cepatnya rapat Banggar bila datang secara langsung. Tak jarang tumpukan kertas yang dibagikan kepada setiap anggota dewan hanya berakhir begitu saja di depan meja tanpa disentuh sedikitpun. Dan beberapa waktu kemudian rapat Banggar ditutup karena alasan belum lengkap data.

Dan bagi Prasetyo, kondisi semacam ini harus diketahui oleh masyarakat agar para anggota dewan mau giat bekerja. Baginya keterbukaan data dan informasi sangat penting karena sering kali terjadi bentrokan antara eksekutif dan legislatif dalam hal keputusan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang berkaitan langsung dengan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) DKI.

Sahabat Baik Boy Sadikin

Prasetyo adalah salah satu sahabat baik Boy Sadikin, politisi PDIP yang sempat pindah ke Partai Gerindra dan menjadi ketua relawan pemenangan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di putaran Pilkada DKI Jakarta.

Di tahun 2013 lalu, Prasetyo terpilih jadi ‘pemain pengganti’ anggota DPRD DKI melalui mekanisme pergantian antar-waktu (PAW). Prasetyo menggantikan kader PDIP yang mengundurkan diri karena pindah partai.

Saat itu, persahabatannya dengan Boy sanat terlihat karena keduanya sangat aktif mendukung kebijakan Joko Widodo dan Ahok di tingkat eksekutif. Bahkan, Prasetyo dan Boy yang merupakan sebagai anggota tim kampanye Jokowi-Ahok kerap blusukan ke seluruh area wilayah Ibukota saat bertugas.

Keluarnya Boy Sadikin dari PDIP membuat hubungan Prasetyo ikut meregang. Ia tidak bisa mencegah anak dari Gubernur DKI Jakarta periode 1966 hingga 1977, Ali Sadikin untuk keluar dari partai politik yang menyumbangkan kemenangan di Pilkada DKI.

Terbuka Pada Publik

Pola pikir partai yang tertutup seperti PDIP ternyata tidak menghalangi Prasetyo memiliki pribadi yang sama. Faktanya, selain membuka rapat Banggar, Prasetyo sendiri membuka akun media sosial Instagramnya untuk umum.

Di akun @prasetyoedimarsudi, pria berumur 59 tahun ini memberi banyak informasi kepada masyarakat tentang kondisi terbaru penyebaran virus corona dan pembahasan RPJMD yang tengah hangat di Jakarta.

Kritik juga kerap Ia sampaikan kepada Gubernur DKI Anies Baswedan beberapa waktu lalu yang meminta sumbangan penyediaan barang-barang kebutuhan pengentasan virus corona ke para Duta Besar negara sahabat di Jakarta.

Prasetyo dengan tegas mengatakan bahwa selaku Ketua Banggar, Ia telah menandatangani alokasi untuk kebutuhan penanggulangan covid-19 sebesar Rp2,1 triliun yang diambil dari APBD DKI. Dalam akunnya Prasetyo mengaku sangat terkejut dengan keputusan Anies Baswedan karena menurutnya bertingkah laku sebagai pengemis kepada para duta besar padahal APBD DKI sangat besar.

“Dengan anggaran tersebut seharusnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat mandiri melakukan penanganan Covid-19 dari hulu sampai hilir. Lalu kenapa harus meminta-minta?” tandasnya.

Belanja Kerajinan Perak di Mostar, Bosnia and Herzegovina

Salah satu jenis kerajinan tangan khas Bosnia (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)

Salah satu jenis kerajinan tangan khas Bosnia (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)

BOSNIA – Tempat paling otentik untuk berbelanja di Mostar adalah di Old Bazar Kujundziluk di Kota Tua. Menghadap ke tepi kiri Sungai Neretva, jalan-jalan berbatu pasar ini berasal dari abad ke-16 dan dipenuhi dengan toko-toko kerajinan tangan tradisional yang menjual barang-barang seperti lukisan asli, perhiasan perak, dan syal panjang, serta suvenir umum seperti t-shirt dan mug.

Ada juga peralatan rumah tangga yang unik seperti lampu gantung warna-warni, pot tembaga, barang pecah belah yang cantik, dan set alat minum teh dan kopi dari bahan perak.

Pasar ini biasanya buka diatas pukul 09.00 pagi, bila di musim dingin biasanya lebih siang lagi. Tapi jangan khawatir, untuk pelancong yang memiliki waktu sedikit dan harus tiba di pagi hari, tetap akan ada dua atau tiga toko yang buka sedari subuh.

Gambar diatas adalah lukisan tembaga berdiameter 20 cm yang dipajang di luar ruangan. Namun, untuk lukisan perak dengan diameter diatas 30 cm akan dipajang di dalam ruangan saja karena harganya yang mahal dan tipis. Jadi harus sangat hati-hati saat dipegang.

Inilah Sejarah Kerajaan Karo Yang Berkuasa Dari Aceh Besar Hingga Ke Siak Riau

Tanah Karo dikelilingi oleh Gunung Sibayak, Gunung Sinabung, Gunung Sipisopiso dan Gunung Deleng Barus (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)

Tanah Karo dikelilingi oleh Gunung Sibayak, Gunung Sinabung, Gunung Sipisopiso dan Gunung Deleng Barus (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)

JAKARTA – Karo adalah salah satu nama suku yang berada di Sumatera Utara. Brahma Putra dalam Darwis Prinst yang terbit tahun 2004 lalu menuliskan bahwa suku ini mulai muncul pada abad 1 Masehi, yaitu lewat kemunculan sebuah kerajaan di wilayah Pantai Timur Sumatera bernama Kerajaan Karo (Haru).

Pa Lagan adalah nama salah satu raja yang pernah berkuasa di kerajaan ini. Dalam sejarah diketahui bila Kerajaan Haru tumbuh dan berkembang bersamaan dengan Kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Kerajaan Malaka dan Kerajaan Aceh.

Lukas Tarigan dalam kajiannya tentang Analisis Makna Simbolis Pemakaian Busana Adat Dan Perhiasan Emas Serta Pada Upacara Adat Karo di Universitas Sumatera Utara mengatakan bahwa pada masa kejayaannya, kerajaan ini berkuasa dari Aceh Besar hingga ke Sungai Siak di Riau. Eksistensi Suku Karo di Aceh adalah dengan munculnya beberapa nama desa disana, seperti Kuta Raja dan Kuta Karang.

Lukas mengatakan bahwa Suku Karo adalah Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo di Sumatera Utara, Indonesia. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami, yakni Dataran Tinggi Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo.

Sebelum kedatangan bangsa Proto Melayu ternyata Dataran Tinggi Karo sudah didiami oleh bangsa Negrito yang bertempat tinggal di gua-gua batu. Orang-orang Karo sekarang menamakan mereka sebagai Bangsa Umang karena mereka tinggal di gua-gua batu. Lubang Umang ini banyak terdapat di daerah dataran Tinggi Karo, Langkat dan Deli Serdang. Bangsa Negrito ini kemudian terdesak dengan kedatangan bangsa Proto Melayu dengan bercampur-baur dengannya.

Kapolda Sumut Seharusnya Belajar Dari Kerusuhan Vaksinasi Di Medan, Atau Dipecat

Kerumunan yang berakhir dengan kericuhan (Foto: Netijen/ THE EDITOR)

Kerumunan yang berakhir dengan kericuhan (Foto: Netijen/ THE EDITOR)

MEDAN – Teriakan ribuan masyarakat yang menanti untuk ikut program vaksin gratis di Gedung Olahraga (GOR) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) seharusnya tidak perlu berakhir dengan kericuhan bila Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut mau belajar. Pasalnya vaksinasi yang digelar langsung oleh Kapolda Sumut yang merupakan lembaga pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat sudah gagal dalam menjalankan tugasnya.

Sebagaimana diketahui, Selasa (3/8) kemarin, ribuan masyarakat berdatangan dari berbagai sudut kota Medan menuju GOR Pemprov Sumut untuk ikut vaksin gratis dari pemerintah. Namun kegiatan yang sempat dihadiri oleh Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono ini tidak bisa menampung ribuan pendaftar yang datang sedari pagi hingga sore.

Dari tayangan video yang diterima redaksi The Editor, ribuan warga tampak berteriak meminta petugas membuka pintu GOR agar masuk ke dalam lapangan. Video tersebut diambil dari dalam GOR, dimana terlihat sebuah mobil aparat tengah parkir tepat di depan pintu.

“Buka, buka, buka, buka, buka,” teriak masyarakat dari luar pintu.

Sesaat kemudian pintu dibuka dan masyarakat masuk tanpa melalui proses pendataan dan tidak antri alias berdesak-desakan. Setelah tiba di dalam GOR, warga yang mendaftar resmi di Polsek ternyata tidak kebagian vaksin. Vaksin yang habis tidak pada orang yang seharusnya terjadi karena diduga ada oknum yang sengaja memberikan jatah tersebut kepada orang lain yang sebelumnya belum pernah mendaftar.

Dimana Ketegasan Polisi?

Ketegasan aparat kepolisian sangat dibutuhkan dalam kondisi semacam ini. Pasalnya kepanikan kerap muncul di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia sejak virus corona muncul. Baru-baru ini di Jakarta susu bear brand jadi incaran masyarakat hingga melonjak harganya hanya karena dianggap mampu tangkal virus corona. Pergolakan ekonomi semacam ini sangat berbahaya bukan.

Sekretaris Pusat BEM Nusantara, Julianda Arisha mengatakan bahwa tindakan Kapolda Sumut harus mendapat teguran keras dari Kapolri dan Gubernur Sumut. Pasalnya, kericuhan yang terjadi saat itu muncul karena Kapolda Sumut lalai dalam menjalankan tugasnya.

Kata Julianda, acara vaksinasi tersebut melanggar aturan hukum yang tertuang dalam Pasal 9 junto Pasal 93 UU No.6 Tahun 2018 karena menimbulkan kerumunan sehingga diduga menjadi cluster baru penyebaran covid-19.

“Kelalaian penyelenggaraan kegiatan tersebut harus dipertanggung jawabkan oleh Kapolda Sumut. Kami mendesak Kapolri untuk jeli dalam melihat persoalan ini,” ungkapnya kepada The Editor beberapa waktu lalu.

Munculnya kerumunan pada tangal 3 Agustus kemarin, lanjutnya menjadi bukti bahwa Kapolda Sumut juga melanggar perintah Kapolri dan UU. Ia mengingatkan bahwa kasus serupa pernah juga dilakukan oleh Kapolda Metro Jaya dalam menerapkan UU Karantina Kesehatan.

Untuk itu, Juliandra berharap Kapolri menindak tegas tindakan Kapolda Sumut karena diduga juga lalai dalam menerapkan aturan UU Karantina Kesehatan. Menurutnya, Mabes Polri juga harus bertindak tegas dalam menyikapi persoalan yang terjadi di Medan, Sumatera Utara.

Diantaranya dengan memeriksa Kapolda Sumut dan personil yang bertugas dalam kegiatan tersebut.

“Maka dari itu siapapun yang melanggar hukum dengan profesionalnya harus di proses tanpa terkecuali,” ungkapnya Ketua DPD GMNI Sumut, Nanda.

Menurutnya, kegiatan tersebut sudah gagal karena tidak mampu menerapkan aturan prokes pencegahan virus corona. Ia juga menyayangkan ketidakmampuan polisi mengatur dan menertibkan ribuan orang saat mengikuti vaksinasi gratis ini.

Tanam Bunga Kamboja di Rumah Adalah Cara Murah Usir Nyamuk

Salah satu jenis bunga kamboja (Foto: Agrozine/ THE EDITOR)

Salah satu jenis bunga kamboja (Foto: Agrozine/ THE EDITOR)

JAKARTA – Bunga Kamboja ternyata bisa mengusir nyamuk bila ditanam di rumah. Sayangnya, bunga ini jarang dipakai sebagai salah satu aksesoris rumah karena identik dengan bunga yang ditanam di area pekuburan.

Berdasarkan penelitian diketahui bila Bunga Kamboja mengandung minyak atsiri yang mengandung senyawa garniol yang dapat mengusir nyamuk. Selain itu, bunga ini juga mengandung sitronelol dan linalol yang mampu memberi efek relaksasi dan mengurangi stres.

Namun sangat disayangkan, bunga ini hanya populer untuk acara-acara tertentu saja. Jadi tak heran, Bali sebagai salah satu daerah yang memiliki beragam aktivitas budaya menjadi salah satu wilayah yang cukup jarang dikomplain oleh publik karena tidak diserang oleh nyamuk.

Bunga Kamboja termasuk tanaman yang tahan panas matahari dengan bunga yang indah, awet, dan harum. Keharuman yang dipancarkan oleh kamboja ternyata hanya disukai oleh manusia, namun tidak bagi nyamuk sehingga banyak orang yang sengaja menanam kamboja sebagai tanaman pembasmi nyamuk alami di rumah dengan melakukan ekstraksi terhadap bunga kamboja.

Tanaman yang satu ini pun berumur panjang hingga puluhan tahun. Bila memang ingin lebih berkhasiat lagi, ambil minyak dari ekstrak bunga kamboja dan oleskan di seluruh tubuh. Dijamin nyamuk-nyamuk bakal kabur.

kamboja sangat cocok untuk dijadikan hiasan taman di pekarangan rumah. Selain bentuk yang unik dan bunga yang indah, perawatan pohon kamboja sangatlah gampang.

Tigel, Tarian Pelindung di Tujuh Bukit Hutan Bangka Belitung

Dua penari menunjukkan gerakan Tari Tigel di sekitar Bukit Nenek, Bangka. (Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia/ THE EDITOR)

Dua penari menunjukkan gerakan Tari Tigel di sekitar Bukit Nenek, Bangka. (Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia/ THE EDITOR)

BANGKA BELITUNG – Sejumlah suku Melayu di sekitar lanskap Bukit Permisan, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, mengenal Tari Tigel. Tarian yang asalnya dari seni Suku Sekak yang dikenal sebagai suku lanun ini, dijadikan masyarakat lokal sebagai seni untuk melindungi hutan mereka yang berada di tujuh bukit. Suku-suku tersebut adalah Suku Sebagin, Suku Basung, Suku Gudang, Suku Jerieng, dan Suku Gayi.

Disadur dari Mongabay, tarian ini diketahui sempat menghilang ketika sistem pemerintahan adat dihapuskan pemerintah. Tapi saat ini, Tari Tigel dihidupkan kembali. Tarian ini berisi pesan perlindungan terhadap hutan di tujuh bukit di lanskap Bukit Permisan. Tujuh bukit tersebut adalah Bukit Nenek, Bukit Batu Kepale, Bukit Nangka, Bukit Putus, Bukit Meninjon, Bukit Mengkubung, dan Bukit Cek Antak.

“Saat ini sebagian hutan di tujuh bukit tersebut mulai rusak, dirambah untuk diambil kayunya atau dijadikan kebun sawit,” kata Sumardoni, pegiat seni dan budaya di Bangka Selatan, kepada Mongabay Indonesia, awal Agustus 2021 lalu.

Saat ini adat dan seni pada masyarakat di sekitar Bukit Permisan mulai luntur. Sejalan dengan lunturnya adat, sebagian masyarakat juga tidak lagi peduli dengan alam, khususnya hutan. Guna melindungi lanskap Bukit Permisan, tradisi kembali ke adat perlu dihidupkan kembali pada masyarakat di sekitarnya.

Sumardoni yang juga penari dan pekerja teater, belajar Tari Tigel dari Atok Li Ing (Sainan), sekitar 2017. Tiga tahun kemudian, Atok Li Ing meninggal dunia dalam usia 80-an.

Dijelaskan Sumardoni, Tari Tigel kali pertama dikenalkan oleh Suku Sekak yang datang ke Sebagin, ratusan tahun lalu. Suku Sekak dikenal sebagai lanun atau bajak laut, yang suka merampas dan melakukan kekerasan terhadap penduduk lokal.

Awalnya, Tigel merupakan tarian mistis yang dilakukan para perempuan (ibu-ibu), sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan melanun. Para penari tidak boleh diketahui oleh warga, bahkan wajah penari selalu ditutup selendang lebar dan panjang yang ditelekungkan, hanya menyisakan mata.

Para penari ini dahulu berbaju adat dengan peniti berjumlah 10 lebih. Ini menandakan sang penari sudah memiliki keturunan, jika lebih dari 10, menandakan jumlah anak yang dimiliki. Gerakannya berupa langkah kecil-kecil, hati-hati, dengan tangan membentang berayun, mirip orang yang menjaga keseimbangan di dak kapal atau perahu. Tidak ada gerakan erotis sama sekali.

Musiknya, berupa iringan nada monoton dari gendang dan gong dengan ritme menghipnotis menuju kesadaran trance.

“Tigel artinya menipu karena penari tidak dikenal penonton,” kata Sumardoni.

Dalam perkembangannya, Tigel dijadikan seni pertunjukan. Bukan hanya menyambut para lanun yang sukses merompak di laut, juga dalam acara pesta perkawinan atau hajatan. Sementara, masyarakat lokal memanfaatkan tarian ini sebagai bentuk pengetahuan/informasi untuk melindungi alamnya [tujuh bukit] dari pengrusakan.

Tarian ini popular hingga tahun 1970-an akhir. Seiring hilangnya masyarakat adat, tari ini pun hilang.

“Ternyata, hilangnya Tigel mempengaruhi kesadaran masyarakat dalam melindungi hutan di tujuh bukit di Bukit Permisan. Semoga, dengan dihidupkan lagi tari ini membuat warga kembali peduli atau melindungi tujuh bukit,” kata Sumardoni yang saat ini mengajar di sebuah sekolah menengah atas.

Adat Mulai Luntur

Sep Amir Ibrahim (80), tokoh masyarakat Desa Permis mengatakan, dulu suku-suku di sini sangat melindungi semua hutan. Mereka tidak sembarangan menebang pohon dan memburu hewan.

“Misal, pohon dengan ukuran kecil tidak boleh ditebang. Bila boleh, jumlahnya terbatas. Termasuk pula sejumlah akaran tidak boleh dipotong. Sebab, diyakini sebagai obat dan akan diambil jika dibutuhkan,” jelasnya.

Terkait hewan, burung sangat dilarang diburu. Sementara hewan berkaki empat yang tengah bunting, tidak diperkenankan diburu atau ditangkap. Jika ada warga melanggar, akan dihukum secara adat, seperti denda. Hukuman yang paling ditakutkan adalah dikucilkan masyarakat.

“Misalnya tidak dihadiri warga jika dia menggelar hajatan dan sebaliknya tidak diundang bila ada acara di rumah warga,” jelasnya.

Tahun 1970-an hingga 1980-an, adat tersebut masih berlaku. Tapi, setelah maraknya perambahan pohon dari orang luar (Sumatera Selatan dan Lampung), pertambangan timah liar, serta perkebunan sawit, hutan mulai terbuka. Bahkan, banyak kebun lada dan kelekak (kebun buah) yang diubah menjadi kebun sawit.

“Bahkan, karena sawit ini orang bernafsu membuka hutan di atas bukit, termasuk di sekitar mata air. Saat ini orang kaya, kian bertambah tamak saja. Mereka tidak lagi menggunakan akalnya. Jika mereka peduli, pasti akan melindungi hutan agar anak cucunya aman dan terjauhkan dari bencana,” jelasnya.

Menghidupkan Tradisi dan Adat

Sep Amir Ibrahim berharap, adat dan tradisi yang ada di sekitar Bukit Permisan dihidupkan kembali. “Termasuk menghidupkan seni yang nilai-nilainya terkait hubungan manusia dengan Tuhan dan alam.”

Kulul Sari, pegiat budaya di Bangka Selatan, juga mencemaskan banyaknya hutan yang rusak atau berubah karena dirambah atau menjadi perkebunan sawit di lanskap Bukit Permisan.

“Saat ini banyak warga tidak punya lagi kebun, sebab terjual dengan mereka yang berkebun sawit. Akhirnya, mereka membuka hutan di bukit. Bukit menjadi rusak, dampaknya mata air mulai terganggu, termasuk pula banyak hewan yang mulai hilang. Rusa, kijang, mulai sulit dilihat saat ini,” ujarnya.

Untuk menyelamatkannya, kata Kulul, adat dan tradisi harus dihidupkan kembali. “Dengan adat, masyarakat lebih patuh terhadap aturan yang melindungi alam, khususnya hutan. Ini jika dibandingkan dengan aturan hukum yang dijalankan pemerintah. Sebab masyarakat melihat, pemerintah juga mengeluarkan izin untuk sejumlah perusahaan yang dipahami masyarakat telah merusak atau membuka hutan.”

Terkait Tari Tigel, Kulul sangat setuju jika dijadikan seni yang wajib diajarkan pada generasi muda di wilayah Bukit Permisan.

“Bukan soal keindahan saja, tapi juga pesan atau nilai-nilai di balik tarian tersebut. Saya percaya, banyak tradisi dan seni di sini yang harus digali atau dihidupkan kembali,” tandasnya.

Kenalan Dengan Kuoka, Hewan Paling Bahagia di Dunia Asal Australia

Kuoka yang suka tersenyum (Foto: Mongabay/ THE EDITOR)

Kuoka yang suka tersenyum (Foto: Mongabay/ THE EDITOR)

AUSTRALIA – Kuoka atau dalam bahasa Inggris disebut Quokka adalah hewan yang paling bahagia di planet bumi. Pasalnya hewan ini memiliki fitur wajah yang selalu tersenyum baik sangat mengatup atau tidak. Karena alasan itu juga, orang-orang pasti ikut tertawa dan tersenyum saat melihat hewan ini.

Kuoka (Setonix brachyurus) adalah hewan asal Australia yang berkerabat dengan kanguru. Hewan ini dapat mudah ditemui di pulau-pulau kecil Australia seperti Rottnest Island yang letaknya tak jauh dari Perth.

Sayangnya keberadaan hewan ini terancam punah, karena senyuman yang selalu menempel di wajahnya membuat banyak turis yang ingin memilikinya sebagai hewan peliharaan.

Hewan ini memiliki panjang tubuh sekitar 40 sampai 54 cm dan panjang ekor sekitar 25 sampai 31 cm. Ukurannya tang imut ini dengan bulu yang lembut membuat turis tak tahan untuk tidak menyentuh saat berfoto.

Kuoka tinggal di area semak-semak di rawa-rawa atau di tanaman yang tumbuh di tepi sungai. Hewan ini sangat suka tinggal di tempat yang semi kering atau di area yang mudah terbakar saat musim panas.

Karena sangat suka tinggal di tempat panas, saat bernapas Kuoka harus bernapas dengan cepat agar tubuhnya tetap dingin. Nah, sistem pernafasan semacam ini yang membuat wajah Kuoka berevolusi jadi senyuman yang tak pernah berhenti.

Pemerintah Australia menerapkan aturan yang sangat ketat bagi turis yang ingin melihat hewan ini dalam jarak dekat. Turis akan dikenai denda maksimal 50.000 dolar Amerika atau sekitar Rp 700 juta bila kedapatan menggendong dan memegang hewan ini di habitatnya. Di saat yang sama turis juga akan dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun.

Memberi makan hewan ini juga mendapat hukuman dari pemerintah Australia. 300 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp4.000.000 akan dikenakan kepada turis yang kedapatan memberi makan hewan ini dengan biskuit atau roti. Tujuan aturan ini dibuat adalah untuk mencegah Kuoka mengalami penyakit kurang gizi karena memakan makanan manusia dan menjauhkannya dari stres.

Meski terlihat imut, namun Kuoka juga berbahaya karena cakar mereka yang tajam dapat melukai manusia saat terancam. Hewan ini juga dikabarkan sering membuntuti orang yang mencoba untuk lebih dekat dengan mereka.

Namun, saat terancam oleh keberadaan hewan yang lebih besar, induk Kuoka akan lari terbirit-birit dan meninggalkan anaknya sebagai umpan. Kuoka juga diketahui sering menelantarkan bayinya dan memilih untuk menghasilkan bayi lainnya.