28.4 C
Indonesia

Eksklusive The Editor: Taliban Ancam Para Jurnalis di Afghanistan, Media Lokal Ditutup

Taliban ingin mengontrol semua media massa di negara tersebut

Must read

JAKARTA – Jumat (13/8) kemarin, sekitar pukul 13:41 waktu Indonesia, sebuah panggilan tak terjawab yang berasal dari Afghanistan masuk ke redaksi The Editor. Awalnya kami mengira telepon biasa dari orang iseng, nyatanya tidak.

Pada Minggu (15/8) kemarin ternyata Afghanistan sudah dinyatakan berkobar karena Taliban, kelompok fundamentalis Islam berhasil menduduki Afghanistan. Ternyata telepon yang masuk ke meja redaksi adalah teriakan minta tolong dari rekan-rekan jurnalis di Afghanistan.

Salah satu pimpinan redaksi media surat kabar terkemuka di Afghanistan mengatakan kepada The Editor bahwa saat ini sejumlah pimpinan tertinggi berbagai organisasi, pemerintah dan bahkan media sudah lari dari Afghanistan untuk menyelamatkan diri.

Ia yang mengaku sudah berada di Uzbekistan harus berada disana sampai waktu yang tidak diketahui karena Taliban ingin mengontrol semua media massa di negara tersebut.

“Kami dicari oleh mereka untuk meluruskan keinginan-keinginan mereka lewat pemberitaan,” ujarnya kepada redaksi saat dihubungi melalui telepon.

Ia mengatakan bahwa saat ini media massa di Afghanistan dalam kondisi yang sangat terancam. Meski masih ada anak buahnya yang bertugas di lapangan, namun sebagian besar sudah mulai tidak bekerja di kantor lagi.

Untuk beberapa media bahkan memindahkan aktivitas kerjanya dengan cara sembunyi-sembunyi karena Taliban ingin mengontrol pemberitaan di negara tersebut.

Pria yang sehari-hari berkantor di Kabul ini mengatakan bahwa hingga hari Minggu (15/8) kemarin Taliban belum berhasil menguasai seluruh Afghanistan. Kota yang belum mereka kuasai adalah Kabul.

Meski demikian ketakutan sudah menyebar keseluruh wilayah. Para jurnalis yang seharusnya mendapat kebebasan dalam menjalankan tugasnya sudah mulai ketakutan.

“Jurnalis saja khawatir, bagaimana dengan orang biasa,” katanya.

Kantor mereka diberedel dan tidak bisa beraktivitas lagi. Ia ingin dunia internasional membantu Afghanistan menghentikan semua yang dilakukan oleh Taliban. Ia meminta secara pribadi agar namanya tidak disebutkan dalam pemberitaan manapun karena meski sudah pindah ke negara lain, maka Ia akan tetap dicari.

“Beberapa petinggi media harus dilarikan ke negara lain agar tidak bisa dikontrol oleh Taliban,” ungkapnya.

Perlu diketahui bahwa Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) resmi menarik pasukan mereka dari Afghanistan pada Mei lalu. Amerika Serikat resmi akan menarik seluruh pasukannya pada akhir Agustus mendatang.

Namun, lanjutnya, media massa di Afghanistan menilai dengan cara yang berbeda sekarang. Ia curiga Amerika Serikat tidak ingin keluar secara resmi dari Afghanistan karena dari kabar yang Ia ketahui pasukan Amerika Serikat sudah mulai masuk kembali ke Afghanistan.

“Saya rasa Amerika Serikat tidak ingin keluar dari Afghanistan. Jadi perjanjian yang kemarin dibuat ingin keluar dari Afghanistan tidak benar-benar akan mereka lakukan. Jadi kericuhan muncul lagi maka mereka akan masuk lagi. Itu baru dugaan,” ungkapnya lagi.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru