29.4 C
Indonesia

Menilai Tahun 2021, Memimpikan Tahun 2022

Must read

INDONESIA – Tahun 2021 kemarin adalah tahun kedua Indonesia menghadapi pandemi. Meskipun begitu, keadaan belum banyak berubah dari tahun sebelumnya. Sektor ekonomi terutama, masih bergerak walau perlahan-lahan. Semua orang mengusahakan yang terbaik agar tetap bertahan.

Kondisi kebanyakan orang yang harus diam di rumah lebih lama karena PPKM maupun faktor lainnya juga tidak jarang menjadi bahan perbincangan. 

Tingkat stres yang meningkat dirasakan oleh sebagian dari mereka. Ada yang memilih untuk mengabaikan hal ini, ada yang mencoba banyak cara agar stres mereka berkurang atau bahkan hilang. Di keduanya, ada yang berhasil dan ada juga yang gagal.

Tim Liputan The Editor melakukan wawancara kecil dengan 3 orang narasumber. Kami meminta tanggapan mereka terhadap tahun 2021 versi mereka, harapan masing-masing untuk tahun 2022, serta khususnya harapan kepada pemerintah sebagai pemangku kebijakan.

Narasumber pertama adalah seorang perempuan berinisial YSO (24). Ia adalah fresh graduate dari salah satu universitas di Jawa Barat. 

Sebagai seseorang yang baru saja lulus, tantangan terbesarnya sepanjang tahun kemarin adalah menyelesaikan tugas akhir yang merupakan syarat utama kelulusan.

Menurutnya, tahun 2021 adalah tahun yang menyedihkan, mengingat kasus Covid-19 yang mengorbankan banyak nyawa setiap harinya. ”

Terlebih kalau dengar betapa banyaknya berita duka yang diumumin lewat pengeras suara,” katanya.

Ia juga menggarisbawahi situasi ketika orang-orang kehilangan pekerjaan mereka.

“Rasanya hidup yang udah sulit jadi tambah sulit karena situasi pandemi yang kian melejit,” tambahnya.

Selebihnya, ia berharap dirinya sendiri dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi di tahun 2022 ini. “Lebih kuat lagi buat ngehadapin dunia yang kadang-kadang suka jahat,” ucapnya. 

Ia juga berharap situasi di Indonesia dapat cepat pulih “supaya semua bisa kembali berjalan dengan normal”.

Khususnya untuk pemerintah, ia berharap agar para petinggi tidak semakin mempersulit keadaan yang sudah sulit serta dapat membuat kebijakan sebaik mungkin agar tidak merugikan orang-orang.

Narasumber kedua berinisial S (20), mahasiswi salah satu universitas di Jawa Barat. Berbeda dengan narasumber sebelumnya, S melihat 2021 versinya adalah tahun paling tidak produktif baginya sekaligus menjadi masa adaptasi baik dari segi gaya hidup maupun cara pandang. 

“Tantangan terbesar di 2021 adalah waktu yang berlalu tanpa disadari,” katanya.

Oleh karena itu, ia berharap 2022 dapat menjadi tahun yang bermakna untuknya. Secara khusus ia menginginkan kesehatan dan kebahagiaan untuk orang-orang terdekat serta kelancaran untuk semua hal yang ia rencanakan.

Ia juga berharap agar orang-orang lebih paham dengan situasi yang tengah dihadapi sekarang ini. “Pandemi masih ada, dan pandemi akan bisa diatasi jika semuanya aware terhadap ini,” katanya. 

Ia menyebut, protokol kesehatan adalah hal paling kecil yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran virus.

Narasumber ketiga berinisial M. Ia menilai tahun 2021 sama saja dengan tahun 2020. Tahun ini menjadi tahun yang cukup sulit karena pandemi yang kunjung reda. 

“Dampak pandemi masih saja berpengaruh pada faktor ekonomi, terutama bagi para pedagang kecil,” katanya.

Untuk dirinya di tahun 2022, M berharap dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa “memberi manfaat ke sesama makhluk hidup”.  

Ia juga berharap pandemi dapat segera berakhir agar semuanya dapat kembali stabil seperti sebelumnya. 

Kepada pemerintah, ia mengharapkan tindakan yang tegas dan sigap serta menjadikan situasi pandemi sebagai prioritas yang didahulukan sebelum kepentingan lainnya.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru