26 C
Indonesia
Monday, March 16, 2026

Mempelajari Cara Membuat Kertas Kuno Saa Dari Daun Mulberry di Laos

Hiasan kertas Saa yang menggunakan daun dan bunga alami. Lokasi di Desa Ban Xang Khong, Laos (Foto: Elitha Evinora Tarigan)
Hiasan kertas Saa yang menggunakan daun dan bunga alami. Lokasi di Desa Ban Xang Khong, Laos (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

LAOS – Selama bertahun-tahun, desa ini memproduksi dan menjual produk kerajinan tangan yang terbuat dari sutra dan kertas Saa. Kita akan membahas tentang kertas Saa yang sangat unik.

Kertas tradisional Saa tradisional terbuat dari kulit kayu mulberry yang dipotong dan ditumbuk kecil-kecil. Setelah direndam dalam air, direbus dengan air kemudian direndam dalam alkali. Setelah beberapa lama kemudian dibilas dan dipukul dengan palu kayu. Ampas berserat yang diperoleh dimasukkan ke dalam air kemudian diaduk dan diayak sampai bagian halus dari serat tersebut membentuk helaian sutra.

Ayakan kertas ini disesuaikan dengan ukuran kertas yang ingin dibuat. Kebanyakan ukuran ayakan yang tersedia adalah 1 meter dengan lebar 50 cm. Ayakan yang dibuat dari kayu ini akan diisi dengan serat kayu tipis yang berwarna putih. Tentunya dibutuhkan air agar serat tidak terlalu tebal atau terlalu tipis. Seluruh ayakan harus tertutup sempurna layaknya adonan kue yang tipis agar kertas yang dihasilkan tidak mudah rapuh.

Ayakan yang sudah penuh dengan serat kayu akan diisi dengan berbagai macam hiasan yang berasal dari bunga dan daun alami. Setelah selesai maka ayakan dikeringkan dan ditunggu sampai mengeras.

Kertas yang dihasilkan dari proses ini terasa kasar dan kering, namun berpori dan ringan. Tekstur seratnya saling tumpang tindih berupa jaring laba-laba.

Untuk kertas Saa yang polos tanpa corak biasanya diberi berbagai macam warna agar menarik. Kertas-kertas dibentuk sedemikian rupa agar menarik perhatian turis. Ada yang diubah menjadi kertas tulis, dasar untuk lukisan, pelapis bungkus kado, pelapis hiasan lampu dan lain sebagainya.

Ayakan kertas yang dalam tahap pengeringan (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

Saat berkunjung ke desa ini, pengrajin yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga akan mengerjakan proses pembuatan kertas di halaman depan. Jadi, setiap pengunjung dapat melihat seluruh proses dari awal sampai akhir.

Saat ini, untuk memenuhi permintaan turis yang tinggi, penduduk Desa Ban Xang Khong menambahkan pewarna alami pada pulp selama produksi untuk membuat lembaran kertas berwarna.

Kertas Saa tidak hanya digunakan untuk menulis atau menggambar tetapi juga dibuat menjadi berbagai macam produk. Kreativitaslah yang membuat kertas Saa menjadi daya tarik utama bagi pengunjung Luang Prabang.

Kertas Saa, yang memiliki sejarah ribuan tahun digunakan tidak hanya untuk menulis, tetapi juga untuk membuat suvenir unik bagi pengunjung Negeri Jutaan Gajah ini.

Portugis Akui Kapal-Kapal Milik Kerajaan Aru Adalah Salah Satu Yang Tercepat di Dunia

Dr. Suprayitno, sejarawan dan dosen yang fokus pada penelitian situs di wilayah Sumatera (Foto: THE EDITOR)
Dr. Suprayitno, sejarawan dan dosen yang fokus pada penelitian situs di wilayah Sumatera (Foto: THE EDITOR)

MEDAN – Kerajaan Aru memiliki kapal tercepat di dunia, bahkan diakui oleh Bangsa Portugis. Padahal Portugis adalah salah satu bangsa yang memiliki kapal niaga yang di desain khusus untuk melintasi samudera. Demikian diungkapkan oleh Sejarawan dan Dosen yang fokus pada penelitian situs di wilayah Sumatera, Dr. Suprayitno saat berbincang dengan The Editor beberapa waktu lalu.

“Dalam catatan sejarah dituliskan bahwa orag Portugis mengakui bila kapal-kapal milik Kerajaan Aru sangat cepat dan mengalahkan kecepatan kapal milik mereka,” ungkapnya.

Suprayitno mengatakan bahwa Kerajaan Aru tercatat dalam sumber-sumber asal China, Arab dan Eropa (Portugis) sejak abad ke-13 sampai abad ke-17. Secara historis kerajaan ini sudah muncul paling tidak sejak abad ke-13 ketika utusan Kerajaan Aru berhasil tiba di Istana Kaisar Kubilai Khan pada tahun 1282 san 1290 M.

“Bila Portugis melihat di laut ada kapal yang melintas dengan kecepatan tinggi mereka akan tahu bahwa kapal itu dari Kerajaan Aru. Kapalnya sangat cepat,” kata Suprayitno.

Dalam catatan sejarah, lanjutnya, orang-orang dari Kerajaan Aru memiliki postur tubuh yang besar sehingga sangat kuat mengayuh. Kemampuan semacam ini ternyata juga didukung dengan teknologi yang sudah modern yang membuat kapal-kapal Kerajaan Aru sangat terkenal di mata Bangsa Portugis.

Pertemuan kapal Bangsa Portugis dengan kapal Kerajaan Aru selalu terjadi di lautan saat keduanya tengah melakukan misi. Sejarah mencatat Kerajaan Aru menjadi kerajaan terbesar di Sumatera pada abad ke-15. Saat itu, kerajaan ini mulai menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Malaka.

Suprayitno mengatakan bahwa bukti kekuatan Kerajaan Aru ini tercatat di Istana Kaisar China dan dalam perjalanan Laksamana Cheng Ho. Saat itu utusan-utusan dari Kerajaan Aru dikirim ke China pada tahun 1419, 1421, 1423 dan 1431.

“Dituliskan bahwa Aru menjadi bandar perdagangan yang penting di mata kaisar China. Kaisar China membalas pemberian Raja Aru dengan memberikan hadiah berupa kain sutera, mata uang (siling) dan juga uang kertas,” jelas Suprayitno.

Di jaman itu, masih kata Suprayitno, hanya negeri-negeri yang merdeka saja yang berhak mengirimkan utusan ke negeri China untuk menyampaikan upeti atau persembahan serta surat kepada Kaisar China.

Kerajaan Aru Adalah Sejarah Orang Karo

Suprayitno mengatakan bahwa posisi Kerajaan Aru berada di sekitar Belawan.Fakta ini tercatat dalam sejarah China dan hasil eskapasi Kota Cina dan Kuta Rentang, Hamparan Perak. Dimana Ma Huan dalam Ying Yai Sheng Lan (1416) mengatakan bahwa terdapat sebuah muara sungai di Kerajaan Aru yang dikenal dengan nama fresh water estuary. Catatan ini juga ditulis oleh A.H Gilles sebagaimana dikutip oleh J.V.G. Mills yang mengatakan bahwa fresh water estuary sebagai muara Sungai Deli.

Pada jaman dahulu, lanjutnya, sistem transportasi masih bertumpu pada jalur sungai sehingga bandar-bandar perdagangan sering kali dijadikan sebagai alat untuk kekuasaan politik. Jadi tak heran bila banyak kerajaan pasti berada di sekitar muara sungai. Sungai-sungai yang berada di sepanjang pantai Sumatera Timur adalah Sungai Barumun, Sungai Wampu, Sungai Deli dan Sungai Belawan.

“Sungai Deli dan Sungai Belawan terakhir ini bermuara ke Belawan dan Hamparan Perak. Tiga buah sungai yang disebutkan terakhir itu juga merupakan jalur lalu lintas penting sepanjang sejarah, setidaknya sebelum penjajah Belanda membangun jalan raya pada awal abad ke-20 bagi orang-orang Karo untuk berniaga sekaligus bermigrasi ke pesisir pantai Sumatera Timur atau Selat Malaka,” ungkapnya lagi.

Suprayitno mengatakan bahwa dalam sejarah Melayu disebutkan tentang nama-nama dan marga para pembesar Kerajaan Aru yang erat kaitannya dengan Suku Karo. Seperti Serbanyaman Raja Purba dan Raja Kembat. Bahkan nama Aru atau Haru juga terkait dengan orang Karo.

Jadi tak heran para sejarawan menemukan bahwa pusat kerajaan ini berada di hulu Sungai Deli atau muara sungai atau disebut juga Lau Tani yang terdapat di Deli Tua tempat dimana Benteng Putri Hijau berada. Benteng Putri Hijau adalah pusat pemerintahan Kerajaan Aru pada periode akhir yakni di abad ke-16 sampai abad ke-17 M.

Pada Dasarnya Semua Orang Ingin Ikut Vaksin Penangkal Virus Corona

3 Bandara Soekarno Hatta (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)
3 Bandara Soekarno Hatta (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)

TANAH KARO – YOGYAKARTA – Semua orang ingin divaksin, sayangnya pemerintah belum bisa memenuhi kebutuhan vaksin yang masih sangat tinggi di Indonesia. Dari penelusuran redaksi, kesadaran masyarakat untuk ikut program vaksin pencegah penularan virus corona cukup tinggi. Jupen Nalis Alpen, warga Jakarta yang tengah berada di Sumatera Utara tepatnya di Kabupaten Karo harus sabar mencari pendaftaran untuk vaksin untuk bisa terbang kembali ke Jakarta.

Sudah sepekan Jupen mencari informasi tentang cara untuk ikut vaksin, dua tempat yang Ia datangi seperti Klinik Damanik yang berada di Kecamatan Tigapanah dan Rumah Sakit Umum di Kota Kabanjahe. Namun ternyata tidak membuahkan hasil karena pendaftaran online untuk vaksin di Klinik Damanik sudah penuh.

Jupen ingin kembali ke Jakarta, tempat Ia dan istrinya tinggal selama beberapa tahun terakhir. Keduanya yang memiliki usaha di kawasan Blok M, Jakarta Selatan ini mengikuti anjuran pemerintah untuk ikut program vaksin saat hendak bepergian dengan pesawat udara.

Pencarian lokasi untuk vaksin ternyata sangat sulit. Lokasi vaksin nasional yang dilakukan di Lapangan Samura, Kabanjahe sempat didatangi Jupen pada Kamis (22/7), pagi. Namun Ia tidak diizinkan untuk ikut karena program vaksin tersebut hanya ditujukan untuk mereka yang telah mendapatkan suntikan dosis pertama. Jupen akhirnya pulang ke rumah sembari mencari-cari jadwal vaksin lainnya yang ada di Kabupaten Karo.

“Kalau tidak kembali ke Jakarta nanti pekerjaan istri terganggu. Jadwal cutinya sudah habis,” ujar Jupen.

Ternyata Jupen mendapat keberuntungan saat itu, karena di sore hari pada Kamis itu Ia dihubungi oleh salah satu keluarganya untuk ikut vaksin gratis di Lapangan Samura, Kota Kabanjahe. Jadwal yang ditentukan untuk ikut vaksin adalah pukul 09.00 WIB keesokan harinya, yakni Jumat (23/7).

Jupen tentu gembira, meski diberi tahu kemungkinan bisa ikut vaksin gratis hanya 50 persen namun Ia tetap mencoba. Sehingga, pagi tadi sekitar pukul 08.00 WIB Jupen dan keluarganya sudah tiba di Lapangan Samura. Lagi-lagi Ia menemui kendala karena petugas mengatakan bahwa hari ini program vaksin hanya ditujukan untuk masyarakat Desa Raya.

Sempat merasa putus asa, namun salah satu keluarga Jupen yang sebelumnya menghubunginya akhirnya muncul. Saat berbincang dengan petugas, baru akhirnya Jupen diberi izin untuk ikut vaksin. Nama Jupen telah didaftarkan sejak Kamis (22/7) malam sebelumnya di situs online milik Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah Tanah Karo.

Jupen mengaku sangat beruntung karena mendapat kesempatan ikut vaksin bersama dengan jadwal dari desa lain. Karena dengan demikian maka kemungkinan Ia untuk pulang lebih cepat ke Jakarta dapat terwujud. Saat ini Ia dan keluarganya hanya menanti untuk jadwal vaksin kedua berikutnya dan menanti masa Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Perkantoran (PPKM) Darurat berakhir.

Kejadian yang dialami Jupen ini banyak terjadi di kota-kota laon di Indonesia. Salah satunya di Yogyakarta. Paijo, salah satu warga asal Patehan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta mengatakan bahwa saat ini banyak pendatang yang kesulitan daftar online untuk vaksin.

Para aktivis gereja serta keluarga Paijo membantu masyarakat yang ingin mendaftarkan diri untuk ikut serta dalam program vaksin virus corona yang digelar pemerintah, terutama pendatang.

Dari penuturan Paijo, sejauh ini respon masyarakat Yogyakarta untuk ikut vaksin sangat tinggi. Namun pemerintah saat ini baru mengutamakan penduduk yang memegang identitas penduduk asli. Sehingga pendatang kesulitan ikut program meski area tinggal mereka sedang mendapat giliran.

“Kami coba membantu mendaftarkan pendatang yang ingin ikut program vaksin gratis ini. Mereka sangat antusias dan tidak menolak untuk di vaksin,” tuturnya.

Saat ini Paijo dan teman-temannya tetap berupaya menolong orang-orang yang mengalami kesulitan untuk ikut vaksin. Karena yang mencari vaksin ini kebanyakan adalah mahasiswa dan pekerja asal luar daerah yang bermukim di Yogyakarta. Keberadaan pria seperti Paijo dan rekan se gerejanya tentunya sangat dibutuhkan.

Masjid Biru Istanbul di Bawah Sinar Bulan

Blue Mosque in Istanbul during the night (Photo: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)
Blue Mosque in Istanbul during the night (Photo: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)
Masjid Biru di Istanbul tampak malam malam hari saat bulan purnama (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)

ISTANBUL – Masjid Biru atau lebih dikenal dengan Masjid Sultan Ahmed di Istanbul Turki terlihat seperti kastil saat dikunjungi di malam hari pada waktu musim dingin.

Beberapa waktu lalu The Editor berkunjung ke kota bersejarah Istanbul. Setibanya di bandara Ataturk, Istanbul, Turki kami langsung menuju sebuah penginapan yang letaknya hanya sepelemparan batu dari masjid biru.

Meski berkunjung di bulan Maret namun udara dingin tetap saja menembus pakaian berlapis yang saya kenakan. Setibanya di penginapan, saya langsung bertanya kepada petugas yang berjaga apakah diizinkan menikmati waktu di bagian rooftop hotel.

Tujuannya hanya satu, yakni melihat melihat menara masjid yang menjulang tinggi berwarna keemasan.

Setelah mendapat izin akhirnya saya dan dua rekan saya langsung naik keatas gedung. Tombol lift dari gedung tua tempat saya menginap terlihat lapuk. Begitu juga dengan bangunan lift yang terkadang bergoyang saat dipakai.

Dan inilah pemandangan Masjid Biru dari roof top lantai 7 sebuah peginapan di Istanbul, Turki. Ditemani sinar bulan, pemandangan yang ditawarkan ternyata luar biasa.

Bila anda berkunjung saat musim dingin, maka pastikan hotel atau penginapan yang anda tinggali memiliki fasilitas penghangat ruangan yang memadai. Karena di tempat yang saya tinggali tidak menyediakan pemanas ruangan yang aktif selama 24 jam penuh. Sementara udara dingin Istanbul sudah pasti akan mengganggu tidur Anda. Bila dibiarkan selama berjam-jam maka akan menyebabkan hipotermia.

Saran lain untuk anda yang memiliki dana terbatas saat berlibur adalah dengan memilih hotel atau penginapan yang agak jauh dari lokasi wisata, khususnya area Masjid Biru agar lebih murah dan fasilitasnya lengkap.

Menyusuri Perkebunan Blueberry Di New South Wales, Australia

Perkebunan Blueberry di daerah Coffs Harbour, South Wales, Australia (Foto: Muhammad Dahrul Azmy/ THE EDITOR)
Perkebunan Blueberry di daerah Coffs Harbour, South Wales, Australia (Foto: Muhammad Dahrul Azmy/ THE EDITOR)

NEW SOUTH WALES – Bagi saya yang lahir dan besar di Medan, tak pernah terbayangkan bekerja di sebuah perkebunan Australia. Saat ini saya tengah bekerja di sebuah perkebunan blueberry di negeri ini. Sebuah nama buah-buahan yang sebenarnya sangat asing di telinga saya. Disini saya belajar ternyata blueberry tidak sekedar varian rasa selai.

Muhammad Dahrul Azmy (26) seorang warga negara Indonesia yang bekerja sebagai pemetik buah di Australia bercerita tentang pengalaman pribadinya saat pertama kali memetik buah blueberry. Banyak pengalaman yang Ia dapatan, salah satunya pemahaman tentang perbedaan buah blueberry yang siap panen atau tidak.

New South Wales adalah sebuah negara bagian dimana pria yang akrab disapa Charles ini bekerja. Salah satu perkebunan blueberry tempat Ia bekerja berada di daerah Coffs Harbour, sekitar 9 jam perjalanan darat ke utara dari Kota Sydney, Australia.

Kebun dengan luas beberapa hektar ini memiliki 50 pekerja. Setiap hari truk hilir mudik mengangkut blueberry hasil kerja para pemetik untuk langsung dikirimkan ke supermarket di wilayah sekitar Coffs Harbour.

Seperti namanya, blueberry memang berwarna biru dan merupakan salah satu jenis beri yang paling populer. Bentuknya mirip seperti anggur dengan permukaan keras dan rasanya antara campuran manis dan asam.

“Di kebun ini, kami, para pekerja harus memilah blueberry yang matang. Awalnya, saya tidak tahu tahu cara membedakannya. Ternyata blueberry yang baik adalah yang mulus dan berwarna gelap. Semakin gelap warnanya semakin bagus karena warna gelap menunjukkan bahwa buah siap dipanen,” ujar Charles.

Tak perlu peralatan khusus untuk memetik blueberry, lanjutnya, yang diperlukan adalah kecepatan tangan saat memetik dan membedakan warna yang lebih gelap dengan warna yang sedikit keunguan. Semakin gelap warnanya semakin bagus kualitas buahnya.

Untuk bekerja di perkebunan di Australia, lanjut Charles lagi, semua orang wajib menggunakan seragam high-visible atau pakaian yang berwarna terang agar mudah terlihat. Biasanya warna baju seragam pekerja ada dua warna, yaitu hijau terang dan oranye terang. Tidak lupa juga harus menggunakan topi karena harus bekerja dibawah terik matahari.

Untuk jam kerjanya sendiri dimulai dari pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore. Memetik buah blueberry akan dihentikan oleh pemilik perusahaan apabila hari sedang hujan. Karena buah yang basah kualitasnya kurang bagus dan cepat membusuk di dalam kemasan.

Untuk perhitungan gajinya sendiri tentu dilihat dari berapa keranjang yang dihasilkan oleh pemetik. Satu keranjang blueberry dihargai $8.00 AUD dengan berat perkeranjang sekitar 2 kilogram. Rata-rata yang dihasilkan pekerja dalam satu hari sekitar 20 keranjang atau lebih.

“Harga di pasaran supermarket sendiri berkisar antara $6.00 AUD sampai $9.00 AUD tergantung dari kualitas buah. Buah ini akan dikemas dengan ukuran 100 gram per kemasan saat dijual di pasar,” ungkap Charles.

Di wilayah Coffs Harbour, ada beberapa perkebunan Blueberry. Charles sendiri bekerja di beberapa perkebunan seperti di Robinvale, Woolgoolga dan Johnson Road. Musim Blueberry di wilayah ini hanya berada di pertengahan tahun seperti di akhir bulan Juni sampai Agustus. Setelah itu buah sudah habis dipetik untuk di jual dan harus menunggu untuk musim berikutnya di tahun depan.

Agustus, Musim Panen Buah Blueberry Di Australia

Barisan tanaman blueberry yang sudah selesai dipetik (Foto: Muhammad Dahrul Azmy/ THE EDITOR)
Barisan tanaman blueberry yang sudah selesai dipetik (Foto: Muhammad Dahrul Azmy/ THE EDITOR)

AUSTRALIA – Masyarakat Australia juga suka berwisata sambil membawa keluarga di perkebunan blueberry, terutama di musim panen seperti sekarang ini.

Salah satu yang sering dikunjungi oleh warga Australia adalah perkebunan blueberry yang ada di daerah Johnson Road, New South Wales. Memetik buah blueberry adalah kegiatan tradisional yang umum dilakukan oleh warga Australia.

Memetik blueberry biasanya dilakukan di hari-hari tertentu dengan biaya murah. Dengan hanya mengeluarkan uang masuk sebesar 3 dollar – 8 dollar anda sudah bisa masuk ke dalam area perkebunan dan mulai memilih dan memetik blueberry yang anda inginkan.

Musim panen buah ini biasa berlangsung di bulan Juli sampai Agustus. Buah blueberry hanya panen sekali dalam setahun, jadi bulan ini adalah saat yang paling tepat untuk berkunjung ke Australia karena setelah musim panen berlalu, buah blueberry baru bisa dipanen lagi di musim berikutnya.

Beberapa perkebunan besar biasanya menyediakan berbagai macam wahana untuk menghibur wisatawan. Mereka yang datang ke kebun juga diizinkan mencoba berbagai mesin dan alat produksi buah blueberry.

Perlu diketahui bahwa memetik buah blueberry hanya bisa dilakukan saat musim panas. Jadi, semua aktivitas panen dan wisata memetik buah blueberry akan dihentikan bila turun hujan. Pastikan anda memeriksa kondisi cuaca sebelum berkunjung ke tempat ini.

Tidak hanya blueberry, disekitar daerah Johnson Road banyak perkebunan yang menyediakan berbagai macam buah yang siap untuk dikunjungi dan dipanen. Beberapa buah-buahan yang populer dari daerah ini adalah strawberry, raspberry, semangka, bunga matahari atau kuaci dan labu.

Cruising Di Sungai Danube Dan Menikmati Gedung Bersejarah di Budapest, Hungaria

Gedung Parlemen Budapest ini di desain oleh Imre Steindl (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

BUDAPEST – Gedung parlemen Hungaria adalah salah satu simbol kota Budapest lainnya yang bisa anda nikmati saat berkunjung ke Eropa Timur. Ada banyak cara menikmati keindahan gedung yang bisa diakses oleh publik sejak tahun 1902 ini. Salah satunya bergabung dengan tur ekslusif menyusuri Sungai Danube. Cukup membayar Rp700.000 ribuan per orang anda akan mendapat sajian berupa makan malam, musik dan tentunya perjalanan yang aman. Berikut ulasan perjalanan saya saat cruising di Budapest, Hungaria.

Gedung Parlemen Budapest ini di desain oleh Imre Steindl (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

Pertama yang harus dilakukan adalah meminta petugas hotel menghubungi jasa travel yang berkompeten untuk memesan tiket. Harga yang ditawarkan sama saja saat anda beli di lokasi pembelian tiket. Saya lebih memilih cara mudah dan cepat agar tiket cruising dapat segera saya dapatkan.

Kedua adalah menuju lokasi pertemuan. Di tiket tertulis jelas bahwa setiap peserta harus hadir i lokasi pertemuan sebelum pukul 19.00 malam. Jadi dari hotel saya berangkat pukul 18.00 WIB agar tidak terlambat.

Saya cukup terkejut saat tiba di lokasi yang dimaksud karena gedung yang dipakai sebagai titik temu adalah gedung opera. Jadi banyak sekali saya temui pria dan wanita dengan pakaian minim dan topi berbulu seliweran sepanjang jalan. Awalnya saya ragu apakah gedung opera tersebut adalah lokasi titik temu yang dimaksud. Berkali-kali saya coba bertanya ke warga lokal tapi mereka mengaku mengenal alamat yang saya tunjukkan.

Dengan bermodalkan GPS di smartphone, saya beranikan diri untuk bertanya ke salah satu penari opera wanita. Dan ternyata dia yang saya tanya adalah penerima tamu bagi peserta cruising. Masih dalam kondisi kebingungan saya hanya ikut saja saat Ia meminta saya untuk segera masuk ke dalam gedung.

Untungnya dia benar, pemandangan luar gedung memang tidak serupa dengan di dalam. Puluhan orang tua, anak muda dan yang pasti mereka berpasangan terlihat di semua sudut ruangan. Seketika rasanya tidak nyaman karena saya datang sendirian. Tapi apa mau dikata, sudah terlanjur beli tiket jadi terus lanjut.

Dari gedung opera kami dipandu menuju pinggir sungai dimana kapal sudah menunggu . Tidak perlu berebut karena setiap penumpang sudah pasti akan mendapat tempat duduk. Saat kapal mulai berjalan, sajian makan malam pun mulai dibuka dengan menu prasmanan. Anda harus mengeluarkan biaya tambahan bila ingin memesan wine atau alkohol. Selebihnya dapat dinikmati sampai puas selama perjalanan berlangsung.

Tak hanya mendapat sajian makanan, selama menikmati gedung-gedung bersejarah yang berada di sepanjang Sungai Danube, telinga anda akan dimanjakan dengan lantunan musik dari pemain biola dan cello. Mereka akan memainkan musik-musik romantis dari abad pertengahan. Saat tiba di meja saya, pemain biola khusus memainkan musik yang riang karena ternyata dari sekian puluh pengunjung hanya saya yang duduk sendirian. Saya tertawa dan ikut berdansa saat melihat Ia memainkan musik dengan nada cepat.

Menikmati keindahan gedung bersejarah Budapest di malam hari sama menyenangkannya dengan siang hari. Karena di malam hari anda bisa menikmati desain lampu yang ditata sedemikian cantik agar bisa memanjakan mata turis. Sudah siap cruising di Budapest?

Belleville Bishop Talks of Catholic Church’s Racial Divide

Bishop Edward K. Braxton of Belleville, Ill., leaves after concelebrating Mass with other U.S. bishops from Illinois, Indiana, and Wisconsin at the Basilica of St. John Lateran in Rome Dec. 11, 2019. The bishops were making their "ad limina" visits to the Vatican to report on the status of their dioceses to the pope and Vatican officials. (CNS photo/Robert Duncan/ THE EDITOR)
Bishop Edward K. Braxton of Belleville, Ill., leaves after concelebrating Mass with other U.S. bishops from Illinois, Indiana, and Wisconsin at the Basilica of St. John Lateran in Rome Dec. 11, 2019. The bishops were making their “ad limina” visits to the Vatican to report on the status of their dioceses to the pope and Vatican officials. (CNS photo/Robert Duncan/ THE EDITOR)

BELLEVILLE – Bishop Edward Braxton, one of the few African American bishops in the Roman Catholic Church, rarely talks to the press. He says he doesn’t live in a “yes or no” world, and instead makes statements in pastoral letters and other writings.

“My thinking is more nuanced than something you put on the 5 o’clock news,” said Braxton, 77. “I write as I speak. I have a moving viewpoint from many experiences.”

His parents, Baptists from Mississippi, migrated to the south side of Chicago in 1941. Catholic schools motivated their conversion. Braxton said he went on to be the only African American in his graduating class at a high school preparatory seminary. There, he chose Aristotle over basketball.

Ordained a priest in 1970, he became a post-graduate student in Belgium, earning doctoral degrees in theology and religious studies. He taught at Harvard, the University of Notre Dame and other places but ultimately realized he wouldn’t be happy as a priest “exclusively focused on the life of the mind.”

His formal demeanor followed him to his role as a pastor and bishop. To some, he seems distant, most at ease surrounded by books and art. His ringtone is set to the Lord’s Prayer sung in Latin. Last summer, after 15 years at the helm, he became bishop emeritus of the Belleville Diocese. He’d formerly served as a bishop in Louisiana and auxiliary bishop in St. Louis.

He recently agreed to visit at length with the Post-Dispatch. The topic was his new book, The Church and the Racial Divide, which details some of the things he’s been thinking about all these years. He wrote that clergy sex abuse has been the greatest crisis in the history of the Catholic Church in the United States since he was ordained, followed by the “reticence to speak up in the public square about systemic racial bias in society and in the practices of the church.”

He makes the latter argument across 208 pages dedicated to African American Catholics, “who, remarkably, have remained steadfast in their commitment to the Catholic Church, even though the racial divide continues to manifest itself within the church in many ways to this day.”

And here is the conversation with Bishop Edward Braxton as released by NCR Online:

Why did you name your book, The Church and the Racial Divide instead of The Church and Racism?

The racial divide is much more complex and widespread. The racial divide embraces the vague biases and negative feelings that many people have toward people of other races that are not hatred, that would not lead to violence or harming people. All people, unconsciously live with bias — religious, racial, sexual, social — but it would never be acted out in attacks on individuals or groups. Racism, to me, is overt. The overt psychological and mental attitude of “I hate those people. I wish them harm.” I have much more to say about this.

What was it about the Michael Brown shooting that motivated you to write this book?

It simply provided an occasion for me to organize things that I’ve been thinking for many years. It wasn’t the first time I heard of a bad, painful story about an altercation between an African American man and a police officer that resulted in the death of a young person. I’ve heard many of those. My experience goes back to Emmett Till and beyond, but it became the occasion for me to take the time and organize my thoughts in a way to be of service to the church.

Your book mentioned personal instances of being stopped and questioned for walking and driving through white neighborhoods. Why not say when and where this happened?

It’s just meant to be an instance to make the reader aware that I know where I speak. I could have written the whole book on personal experiences of unkind things said and done to me and my family. I never would write such a book.

As a boy, when you went to Emmett Till’s visitation in Chicago, your uncle warned you to stay away from such hatred. Though St. Clair County wasn’t technically part of the South, it had more reported lynchings than any other part of Illinois. How has the racial divide affected your ability to lead the flock here?

I have heard that some people may have said unkind things about me because of the racial divide, but I’ve never had any direct confrontation with anyone. If anything, some people may have thought we are a rural farming area, we really are not looking for someone who is a professor of theology. I brought missionary priests called fidei donum priests from Nigeria and Uganda who are still here. There were some instances there where people seemed unwelcoming.

Do you think you were sent here to fix a flaw in the foundation?

No.

Regardless, have you moved the needle on race?

Yes. At the same time I would say that was not my primary goal. My primary goal was to serve the people of God as a good and faithful priest, and bishop, and to build up the church by helping people to grow in their Catholic identity and education. A phrase I use almost every time I visited a parish was the phrase: “Learn your faith, love your faith, live your faith.” And within that context, part of learning your faith is learning about the dignity and value of every human person, which within that addresses racial prejudice, racism, the dignity, the value of unborn life, the value of the life of a person on death row. If you are doing that, you will see that your faith impels you not to support bias and prejudice or racism.

Yet your book is dedicated to the late Congressman John Lewis and African American Catholics, “who, remarkably, have remained steadfast in their commitment to the Catholic Church, even though the racial divide continues to manifest itself within the church in many ways to this day.” What are a few examples of that?

You are trying to get me to wallow in the mud which is something I don’t care to do.

A main point in your book is to not be silent.

I haven’t been silent. Everything I have to say is in that book.

Your father was refused entry to the Knights of Columbus, the Catholic fraternal organization. Instead, he was referred to the Knights of Peter Claver, named after the patron saint of slaves. Do rejections like that still happen in southern Illinois?

The human condition being what it is, certainly possible. Nothing that was ever reported to me. But don’t forget for a person of color to be refused entry to the Knights of Columbus, there has to be a person of color that’s there. The parishes of this diocese are racially very monochromatic for the most part.

Why aren’t there more African American Catholics? They got you

More my parents, you might say. I became a Catholic as a very young child. The schools attracted my mother. The world has turned now.

Has being Catholic limited the activism that you could do on the issue of race?

I discussed this with Jesse Jackson years ago. My temperament is somewhat introspective and highly refined or highly nuanced. It holds in tension many complex ideas. I read a lot, and I’ve traveled the world a lot. So I can’t so easily say, “This is it. You guys are all white racists, and that’s the end of the story.” I can’t do that because I don’t believe that.

What church practices still reinforce bias?

The fact that people have very little contact with people of very different racial backgrounds can reinforce existing biases. We have wonderful Catholic schools in the diocese. We have wonderful teachers, and the history texts that we use are good and better than they were in the past, but they don’t cover in a clear and full way the magnitude of the racial divide. It’s very hard for the Catholic Church not to appear Eurocentric.

You write about sacred art not being reflective of diverse society.

If you want to invite people of color into the world of the church, couldn’t some part of it look like them? Yet I am not advocating that you go into churches built by German immigrants and take black paint and spray it all over the saints and angels. I am not proposing anything as simple as that. But there is a reason I chose the cover of my book myself. I wanted to show an Afrocentric Jesus washing the feet of an Afrocentric Peter.

Did you curate more inclusive art in the diocese?

I did in the sense that every time we had printed programs, I put more diverse art. Pastorally, I am very sensitive to people are where they are.

It seems like low hanging fruit for the Catholic Church to make a meaningful change.

People have written about it and talked about it for decades now and it hasn’t happened. I think there is a sensitivity towards not wanting to seem accusatory of the people who are actually in church on Sunday. We are still building churches around the country to this day in all neighborhoods and all the angels, all the stained glass windows are people who look like Europeans.

Didn’t you have something to do with the sculpture outside the Cathedral Basilica of St. Louis that has a diverse group of children playing around the base of a tall, African American “Angel of Harmony”?

Sculptor Wiktor Szostalo designed and created it. I made suggestions, including using the image of my brother Lawrence, who had recently died of cancer, as the face of the angel. The archbishop at that time was Justin Rigali. He was supportive. We got Mrs. (Adelaide) Schlafly to fund that in honor of her husband.

Safe to say that was something you’ve done to try to make the Catholic Church more welcoming to people of color?

Well, yes and no, because not many people go to the basilica. But I tried, by using art, to help people to see an image different than all the angels inside the basilica. There are all kinds of angels inside the basilica. Beautiful angels in the splendid mosaics that are there.

One takeaway from your book is there is a need to do more instead of make more statements.

That’s true of most things. The Catholic Church is very good at issuing statements because that is something we can do. It’s easier to write a book about the racial divide than it actually is to overcome it. It’s by encounter that bridges are built.

The United States Conference of Catholic Bishops recently made news for its debate to deny President Joe Biden communion for his stance on abortion.

Which isn’t going to happen. What the bishops really were discussing was a pastoral letter on the importance of the Eucharist. Some have suggested there be a chapter on receiving communion worthily — if you are sinful you shouldn’t receive communion without going to confession. In that context, some would like to discuss the idea of should there be a ban on giving communion to people who support abortion, including the president. The idea of a universal ban doesn’t exist. And it’s not going to be created.

Do you think he should be denied communion?

No. I think that President Biden should be reminded that he is a Catholic and why is he so vigorously supporting a policy that is directly contrary to this clear teaching that developing human life in the womb should be protected and have a conversation with him. But he’s not in my diocese, and I have no control over that. I understand why bishops have different opinions on this.

Would you give the USCCB an “A” for trying to protect the unborn?

Pro-life is one of the central themes of the Catholic bishops. Sure, why not?

What grade would you give them on bridging the racial divide?

They know that they are doing more in favor to deal with the complex moral issue of abortion than they are with the racial divide, though the most recent pastoral statements have been very strong and very good. It would be very difficult for the bishops to say all Catholics who are white supremacists in their thinking shouldn’t go to communion because it’s not a legal statement like Roe v. Wade.

You designate a chapter of your book to the new National Museum of African American History and Culture in Washington, D.C., and suggest that bishops spend some time there, perhaps when they are in town for a nearby USCCB meeting.

I don’t want you to paint the bishops in one stroke. All the bishops are different kinds of people and they are all in different kinds of dioceses. Different ones are doing more on the racial divide than others. Just like different ones are doing more on abortion.

What are a few things that regular people can do to bridge the racial divide?

One of the things that I think is so hard for people to do is to seek accurate information. To read more. If you give a talk and you say in passing, “Of course this has been the case ever since the Jim Crow laws, or this has been the case ever since the Dred Scott decision,” and you have people afterwards who say, “Bishop, who is Jim Crow? Who is Dred Scott? What was the Middle Passage across the Atlantic Ocean? How could it be that Roger Taney, the chief justice of the Supreme Court, who wrote the Dred Scott decision, was really Catholic?” I had people get up and say he wasn’t Catholic. And he was. I am sorry. You can’t dispute facts.

Asisi, Kota Cantik Berwarna Pualam Bak Negeri Dongeng di Bukit Subasio, Italia

Keindahan warna Kota Asisi dari jauh (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)
Keindahan warna Kota Asisi dari jauh (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)

ASISI – Kalau ke Italia, jangan lupa ke kota Assisi, demikianlah kata salah satu temanku ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Italia. Tak terasa saya sudah beberapa kali mengunjungi Assisi, dan kota ini tak henti-hentinya memanggilku untuk datang dan datang lagi.

Kali ini bersama Christour, kami melakukan perjalanan menuju Assisi. Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang dua jam, akhirnya Group Ziarah Christour ini, yang digawangi Pak Wibisono tiba di kota Assisi. Pemandangan dari halte bus saja sebenarnya sudah mencuri perhatian kami untuk mengabadikannya lewat kamera ponsel masing-masing.

Sepanjang rute yang dilalui bus, kami disuguhi dengan pemandangan indah berupa lembah dan kota-kota kecil dengan bangunan rumah-rumah dan gereja yang cantik seperti layaknya kota-kota kecil di Eropa.

Informasi cuaca digital di dalam bus menunjukkan angka 28 derajat celcius pada pukul 9 pagi ini. Suatu angka yang rada wajar, mengingat saat ini adalah musim panas. Warna kuning bunga matahari menghiasi lembah dan bukit-bukit kecil sepanjang perjalanan menambah kemilaunya keindahan Assisi, yang terletak di propinsi Perugia, Italia.

Selain Fransiskus, kota bergaya medieval ini juga terkenal karena melahirkan tokoh besar lainnya, diantaranya Santa Clara. Kota ini sendiri memiliki penduduk sekitar 28,299 orang dan selalu dipadati jutaan peziarah dari seluruh dunia setiap tahunnya.

Pujian tak henti-hentinya dilontarkan oleh hampir semua peziarah ketika menyaksikan pemandangan kota Assisi tua yang terlihat seperti negeri dongeng, di bukit Subasio. Warna kotanya putih kekuningan karena gedungnya terbuat dari batu gamping tanpa semen, menambah keunikan dan keklasikan kota tua ini.

Jalanan yang kami lalui terbuat dari batu kali, kecil dan berkelok-kelok. Perlahan kami merayap ke atas, menuju ke pusat kota. Setelah memasuki kota, kami berfoto di sepanjang jalan yang menanjak dengan dilatarbelakangi kota Assisi tua.

Santo Fransiskus Assisi

Selain mengunjungi kota Assisi tua, kami juga memasuki Basilika Santo Fransiskus dari Assisi. Assisi adalah tempat kelahiran dan meninggalnya Santo Fransiskus. Fransiskus dilahirkan di kota Assisi, Italia pada tahun 1181. Ayahnya bernama Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya, dan ibunya bernama Donna Pica.

Di masa mudanya, Fransiskus lebih suka bersenang-senang dan menghambur-hamburkan harta ayahnya ketimbang belajar. Ketika usianya 20 tahun, Fransiskus ikut maju berperang melawan Perugia. Ia tertangkap dan disekap selama satu tahun hingga jatuh sakit.

Gereja San Damiano di Asisi, Italia (Foto; Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)

Pada suatu hari, ketika sedang berdoa di Gereja St. Damiano, Fransiskus mendengar suara Tuhan, “Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku yang hampir roboh”. Fransiskus pun pergi untuk melaksanakan perintah Tuhan. Ia menjual secara diam-diam setumpuk kain ayahnya yang mahal untuk membeli bahan-bahan guna membangun gereja yang telah tua itu.

Ayahnya sangat murka dan mengurungnya di dalam kamar. Fransiskus, dengan bantuan ibunya, berhasil melarikan diri dan pergi kepada Uskup Guido, yaitu Uskup kota Assisi. Pak Bernardone segera menyusulnya. Ia mengancam jika Fransiskus tidak mau pulang bersamanya, Ia tidak akan mengakui Fransiskus sebagai anaknya dan dengan demikian tidak akan memberikan warisan barang sepeser pun kepada Fransiskus.

Mendengar itu, Fransiskus malahan melepaskan baju yang menempel di tubuhnya dan mengembalikannya kepada ayahnya. Belakangan disadarinya bahwa gereja yang dimaksud adalah semangat kekristenan itu sendiri!.

Basilika ini dibangun pada tahun 1228 dan terdiri dari 2 bangunan gereja, yaitu bangunan gereja bagian atas, bangunan gereja bagian bawah dan makam bawah tanah, dimana sisa-sisa jasad Santo Fransiskus dikebumikan. Interior didalam gereja bagian atas adalah salah satu contoh awal bangunan bergaya gotik di Itali. Dinding gereja bagian atas dan bawah tersebut dihiasi dengan lukisan fresco dari pelukis-pelukis terkenal seperti Cimabue, Giotto, Pietro Cavallini dan beberapa seniman lukis lainnya.

Kami pun menyempatkan diri untuk mengujungi dan berdoa di makam Santo Fransiskus, yang terletak di katakombe di basilika tersebut. Relik Santo Fransiskus dimakamkan di dalam peti batu dan diletakan di atas altar. Banyak peziarah datang dan berdoa di depan altar, atau duduk disamping pagar besi, dimana relik tersebut disemayamkan. Mereka berdoa sambil menyentuh pagar besi tersebut sambil mempersembahkan lilin.

Adapun lilin-lilin ini yang telah didoakan oleh para peziarah ini akan dinyalakan di altar yang terletak di dalam seluruh basilika tersebut. Adapun derma yang disumbangkan peziarah digunakan untuk karya Fransiskan, termasuk perawatan orang sakit di seluruh dunia.

Desain dan bentuk arsitektur yang indah dan rumit, lukisan fresco, makam bawah tanah yang sederhana tapi tenang ini, menambah kekusyukan kami yang datang untuk berdoa.

Setelah kami memuaskan mata dengan melihat pemandangan secara keseluruhan dan selanjutnya perlahan-lahan berjalan turun, kami kembali ke alun-alun, dan mempersiapkan diri merayakan Perjamuan Ekaristi di kapel yang terletak di atas katakombe Santo Fransiskus. Kami semua bersyukur dan terharu karena bisa berdoa dan berada di tempat ini.

Semangat Santo Fransiskus Assisi

Tak dapat disangkal bahwa hidup dan karya Santo Fransiskus telah menginspirasi jutaaan orang di dunia, bahkan Paus Fransiskus yang adalah seorang Yesuit. Dari seorang pemuda yang kaya, dia berani meninggalkan kenyamanan dirinya untuk mengikuti Kristus. Setiap tahun jutaan peziarah berkunjung, mencari hikmat Allah dalam kesederhanaan ala Fransiskan. Inilah sukacita terbesar kita sebagai manusja, ketika kita mampu membahagiakan orang lain dengan kedamaian dan sukacita. Hidupnya yang sangat sederhana dan bersahaja

Ia wafat pada tanggal 3 Oktober 1226, dalam usianya yang ke empat puluh lima tahun dengan stigmata (Luka-luka Kristus) di tubuhnya. Dalam Gereja Katolik Santo Fransiskus adalah santo pelindung binatang dan anak-anak. Pestanya dirayakan setiap tanggal 4 Oktober.

Penulis adalah seorang pastor dari Keuskupan Agats Papua

Kenapa Menara Pisa Bentuknya Miring? Ini Penjelasannya

Jacob menahan menara Pisa (Foto: Martin Selitubun/ THE EDITOR)
Jacob menahan menara Pisa (Foto: Martin Selitubun/ THE EDITOR)

ASISI – Perjalanan saya selanjutnya adalah berkunjung ke menara miring di Kota Pisa, Italia. Saat ini saya berada di Asisi, jadi diperlukan waktu sekitar tiga jam untuk tiba di Pisa dengan menggunakan bus bersama para rombongan para peziarah Christour.

Perjalanan diisi dengan doa dan pujian serta dilengkapi dengan informasi singkat mengenai menara miring ajaib, oleh tour leader kami Pak Wibisono.

Oya, kita tentu mengenal Menara Pisa dalam pengetahuan umum yang diajarkan di sekolah dasar sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Tentu saja kami semua merasa sangat antusias dan bersyukur karena bisa melihat keajaiban dunia kali ini, sekalipun panasnya senja itu mencapai tiga puluh enam derajat celcius.

Pisa adalah salah satu kota yang terkenal pada pada abad ke tiga belas hingga abad ke lima belas karena merupakan kota pelabuhan yang disegani di Italia.

Saat itu persaingan antar kota dagang dan pelabuhan sangat ketat, karena diantaranya adalah Genova dan Venezia. Kota ini berada dekat di muara sungai Arno.

Menara Miring

Salah satu warisan terkenal yang dapat kita nikmati hingga saat ini adalah sebuah Campanille atau menara lonceng yang terkenal di katedral Pisa, Italia. Menara Pisa mulai dibangun sejak Agustus 1173. Dalam proses pembangunanya mengalami serangkaian kendala mulai dari perang hingga masalah bangunan yang miring. Maka tak heran jika menara memakan waktu pembangunan kurang lebih hampir 2 abad, karena sempat dihentikan dalam waktu yang cukup lama.

Kendala lain yang menyebabkan bentuknya yang miring, karena dibangun di atas tanah yang tidak stabil dan mengandung banyak air. Karena hal itu, tanah ini tak kuat untuk menahan beban dan akhirnya bangunan berdiri miring disalah satu sisinya. Berbagai upaya dari arsitek yang mengerjakan juga sudah dilakukan, namun tak membuahkan hasil.

Hingga akhirnya pada 1350, Tommaso Pissano arsitek ke-tiga dalam proses pembuatan Menara Pisa yang dapat menyelesaikan bangunan ini. Dirinya melakukan tahap finishing dengan menambahkan tangga dan menambah ketinggian lantai paling atas. Setelah tiga arsitek mencoba melanjutkan pembangunan Menara Pisa dan tak bisa mengembalikan atau mengubah strukturnya menjadi lurus, pada 1370 menara ini pun akhirnya dapat diselesaikan.

Menara ini terletak di belakang katedral dan merupakan bangunan ketiga Campi dei Miracoli (lapangan keajaiban) di kota Pisa. Ketinggaian menara ini adalah 55,86 meter dari permukaan tanah tertinggi. Kelebaran dinding dibawahnya mencapai 4,09 meter dan di puncak 2,48 meter. Dengan beratnya yang mencapai 14.500 ton. Menara ini memiliki 294 anak tangga. Desain menara lonceng yang unik dan artistik ini menjadi salah satu tempat yang dilindungi oleh lembaga Unesco.

Suasana disekitar basilika Pisa yang dipenuhi turis (Foto: Martin Selitubun/ THE EDITOR)

Field of Miracles sendiri diisi dengan Duomo sebagai sentralnya, gedung pembabtisan, dan menara loncengnya yang miring. Kami pun harus berdesak-desakan dengan para turis dari berbagai belahan dunia di bawah terik matahari, hanya untuk mencari spot foto yang kece. Ada yang bergaya seperti mendorong Menara Pisa, ada yang bertingkah hendak memegang puncak Pisa, ada juga yang seolah mengangkat kemiringan Pisa, dan banyak lagi. Kami pun membuat gaya seakan-akan mendorongnya beramai-ramai. Rasanya senang sekali karena melihat kebersamaan dan keseruan tersebut.

Keindahan basilika dan menara miringnya di senja itu menambah eksotisnya tempat tersebut. Hal ini disempurnakan oleh lapangan rumput hijau di sekelilingnya. Menurut Suster Yustin, JMJ, kita harus bersyukur atas perjalanan ziarah kali ini. Selain berdoa, kita juga yang mengunjungi tempat-tempat bersejarah penting dan kita harus menjaga warisan dunia ini.

“Ya. Kita harus menjaganya karena bagaimanapun juga, sejarah masa lampau akan membantu kita memasuki masa depan”, kata Suster Yustin, seorang biarawati yang berasal dari Keuskupan Manado ini.

Setelah berpuas-puas foto, kami pun keluar dari gerbang katedral. Disepanjang perjalanan keluar gerbang, terdapat banyak toko souvenir khas Pisa dengan harga yang cukup terjangkau. Setelah makan malam kami pun menuju penginapan dengan menumpangi bus.

Setelah semalam menginap di Pisa, kami pun melanjutkan perjalanan ke Lourdes, dengan singgah di Negara Monaco, Kota Ese, dan Kota Nice di Perancis. Thanks God for this beautiful Journey.

Penulis adalah seorang pastor dari Keuskupan Agats Papua