26 C
Indonesia
Monday, March 16, 2026

Meski Masih Jauh Dari Kenyataan, Rusia Mulai Kembali Ke Kehidupan Biasa #Efek Corona

Kazan Cathedral in St. Petersburg, Rusia (Fotografer: Ksenia)

RUSIA – 721.000 warga Rusia resmi dinyatakan terkena virus corona, dimana 497.000 diantaranya dinyatakan sembuh dan 11.000 lainnya meninggal dunia.

Kazan Cathedral in St. Petersburg, Rusia (Fotografer: Ksenia)

Di Rusia, jika seseorang mengetahui dirinya terkena gejala infeksi corono virus, maka satu-satunya hal yang harus Ia lakukan adalah menghubungi ambulans. Pemerintah Rusia mengeluarkan aturan kepada warga untuk tidak langsung mendatangi rumah sakit, klinik dan dokter bila virus ini.

Alasan aturan ini diterapkan adalah pihak rumah sakit tidak bisa mengutamakan pasien Covid-19 dengan gejala ringan. Rusia saat ini lebih mengutamakan penanganan pasien yang memang harus mendapatkan perawatan intensif.

“Kadang-kadang terjadi bahwa pasien yang baru pulang dibawa kembali, dengan bentuk penyakit yang sudah lebih parah,” ujar Anakurchenko kepada The Editor, Rabu (15/7).

Statistik menunjukkan di St Petersburg sendiri total warga yang terkena Corona mencapai 27.000 orang. Data yang dirilis per tanggal 11 Juli 2020 tersebut juga menunjukkan bahwa 1.500 orang dinyatakan meninggal dunia dan 21.000 orang telah pulih.

Pemerintah Rusia mengeluarkan aturan baru terkait penanganan corona, dimana per tanggal 1 Juni kemarin masyarakat wajib mengisolasi warga lanjut usia diatas 65 tahun. Meski dalam aturannya tetap disebutkan sebagai sebuah anjuran, namun di tempat-tempat biasa mereka bekerja seperti toko, kantor hukum dan transportasi umum mereka wajib mengenakan alat pelindung diri.

Dalam dua pekan terakhir, pemerintah Rusia mulai membuka beberapa fasilitas umum, misalnya museum, kolam renang, klub kebugaran, toko dan salon. Jadwal operasional kereta bawah tanah dan transportasi umum juga mulai berangsur normal. Kota ini, St. Petersburg perlahan-lahan mulai kembali ke kehidupan biasa, meski masih jauh dari kenyataan.

“Kota ini terus memiliki situasi epidemiologi yang sulit. Rumah sakit penuh sesak, dan dokter bekerja keras,” jelasnya.

Melacak Koruptor Pajak Dan Pencucian Uang Lewat RUU MLA RI-Swiss

Ketua DPR Puan Maharani menghadiri rapat secara virtual untuk mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Ia hadir 15 menit sebelum rapat paripurna dimulai dan mengikuti rapat hingga selesai pada Selasa, 14 Juli 2020 Foto: Dokumen Pribadi)

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani berharap pengesahan RUU Perjanjian Bantuan Hukum Timbal Balik Dalam Masalah Pidana atau Mutual Legal Assistance (MLA) in Criminal Matters antara pemerintah Indonesia dengan Swiss menjadi undang-undang bisa menjadi pijakan untuk memperkuat agenda pemberantasan korupsi.

Ketua DPR Puan Maharani menghadiri rapat secara virtual untuk mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Ia hadir 15 menit sebelum rapat paripurna dimulai dan mengikuti rapat hingga selesai pada Selasa, 14 Juli 2020 (Foto: Dokumen Pribadi)

“Terutama dalam pengejaran aset-aset terpidana kasus korupsi dan praktik pencucian uang sehingga proses recovery asset dari hasil tindak pidana bisa dilakukan,” tegas Puan.

Tak hanya itu, Puan juga optimistis kejahatan perpajakan bisa ditanggulangi dengan pengesahan RUU itu. Jadi amnesti pajak nantinya tidak dibutuhkan lagi karena UU ini bisa digunakan untuk memerangi kejahatan perpajakan dan penghindaran pajak yang selama ini menjadi tugas pemerintah.

Puan menyatakan hal itu usai rapat paripurna DPR RI, Selasa (14/7) yang salah satu agendanya pengesahan RUU MLA RI – Swiss menjadi UU. Agenda lainnya antara lain Penyampaian Laporan Badan Anggaran DPR RI Atas Hasil Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan RAPBN 2021 dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2021, pengesahan RUU Pilkada 2020, serta Laporan Komisi XI Atas Hasil Uji Kepatutan dan Kelayakan Terhadap Calon Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) Periode 2020-2023.

Puan menyatakan UU Perjanjian Bantuan Hukum Timbal Balik dalam Masalah Pidana antara RI – Swiss terdiri dari 39 pasal. Menurutnya, Pasal-pasal itu mengatur bantuan hukum mengenai pelacakan, pembekuan, membantu menghadirkan saksi, meminta dokumen, rekaman dan bukti, penanganan benda dan aset untuk tujuan penyitaan atau pengembalian asset.

“Juga mengatur penyediaan informasi yang berkaitan dengan suatu tindak pidana, mencari keberadaan seseorang dan asetnya, mencari lokasi dan data diri seseorang serta asetnya, termasuk memeriksa situs internet yang berkaitan dengan orang tersebut, serta menyediakan bantuan lain sesuai perjanjian yang tidak berlawanan dengan hukum di negara yang diminta bantuan,” ujarnya.

Yang istimewa, menurut Puan, UU ini bersifat retroaktif atau berlaku surut. Artinya pelaksanaan bantuan timbal balik dalam masalah pidana antara Indonesia dan Swiss dapat dilakukan terhadap tindak pidana yang telah dilakukan sebelum berlakunya perjanjian sepanjang putusan pengadilannya belum dilaksanakan. Hal ini 4 sangat penting guna menjangkau kejahatan yang dilakukan sebelum perjanjian ini terwujud.

Ketua DPR Puan Maharani mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan Pimpinan serta Anggota Gabungan Komisi I dan Komisi III DPR-RI yang berhasil menyelesaikan UU ini dalam satu masa persidangan.

“Ini membuktikan komitmen Bersama yang kuat untuk pemberantasan korupsi terutama dalam tindak pidana kerah putih lintas negara.”

Satu Orang Atlit Liga Premier Dinyatakan Positif Terkena Covid-19

Sumber Foto: Reuters
Sumber Foto: Reuters

INGGRIS – Satu orang atlit kembali dinyatakan positif terkena virus corona usai mengikuti serangkaian tes Covid-19 pekan lalu.

Hari ini, Selasa (14/7) Reuters mengabarkan bahwa hingga sekarang total pemain Liga Premier yang positif terkena virus corona berjumlah 20 orang sejak tes dilakukan pada Mei 2020 lalu.

“Liga Premier hari ini mengkonfirmasi bahwa antara Senin 6 Juli hingga Minggu 12 Juli, 2.071 pemain dan staf klub diuji untuk COVID-19. Dari jumlah tersebut, satu telah dinyatakan positif,” ujar Liga Premier dalam keterangan yang beredar kemarin Senin (13/7).

Dalam keterangan tersebut tidak disebutkan nama klub pemain yang dinyatakan positif kena corona. Sejak pemain kembali ke lapangan hijau pada Mei 2020 kemarin, sudah dilakukan 13 kali putaran tes uji coba Covid-19.

H145M, Helikopter Yang Dilengkapi Dengan Peralatan Canggih Khusus Militer

Helikopter H145M (Sumber Foto: Airbus)

JAKARTA – Modern dan serbaguna, helikopter tipe H145M menawarkan berbagai pilihan taktis di medan perang. Helikopter ini dilengkapi dengan peralatan canggih dan fleksibel yang di desain untuk menjalankan misi militer.

Helikopter H145M (Sumber Foto: Airbus)

Fitur utama H145M adalah berbagai paket peralatan misi opsional yang tersedia yang dapat dengan cepat dipasang dan dipindahkan sesuai dengan kebutuhan. Pesawat ini juga dapat dikonfigurasi ulang dari awalnya hanya sekedar mengangkut penumpang menjadi helikopter penyelamat yang dilengkapi dengan berbagai senjata balistik yang canggih.

Helikopter H145M memiliki daya tahan dan daya jangkau yang mampu bertahan diberbagai situasi dengan kecepatan jelajah 240 km per jam, serta kecepatan maksimum 250 km per jam, terutama saat beroperasi di daerah berpasir dan berdebu. Dengan kemampuan terbang hingga 6.000 kaki, helikopter ini dapat bertahan di suhu tinggi hingga 35 derajad Celcius atau 95 derajad Fahrenheit.

H145M dilengkapi dengan sistem senjata HForce milik Airbus – sistem senjata tambahan, modular, dan hemat biaya yang dapat digunakan pada versi helikopter sipil dengan tipe H125M, H145M dan H225M. Sistem pengaturan senjata yang fleksibel membuat helikopter ini disukai oleh militer karena sangat ringan dan lengkap.

Kelebihan lain dari helikopter ini adalah mampu terbang rendah disegala medan, dilengkapi mission computer, infrared/TV electro-optical system, emergency locator transmitter (ELT) dan laser range finder. Selain itu juga menggunakan teknologi HForce Generic Weapon System (HForce GWS) yang menawarkan sebuah sistem senjata deterrent dengan kualitas tinggi.

Karakteristik helikopter H145M meliputi kabin lantai datar yang tidak terhalang, pintu kabin geser besar, pintu clamshell belakang, rotor ekor yang dipasang tinggi, dan visibilitas kokpit unik. Kabin dapat dikonfigurasi hingga 10 kursi untuk pasukan militer.

Seperti H135, helikopter tipe H145 juga mampu mengangkat bobot kosong, pesawat ini ditawarkan dengan berbagai pilihan ayunan, gendongan, dan hoist. Salah satu pengguna tunggal helikopter ini adalah Angkatan Darat Amerika Serikat.

Selain Laporan Keuangan Pemerintah, RUU Bantuan Hukum Antar Negara Dan Uji Kepatutan Anggota Supervisi Bank Indonesia Akan Dibahas DPR Hari Ini

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani dalam acara Rapat Paripurna DPR ke-16tanggal 15 Juni 2020 (Sumber Foto: Dokumen Pribadi)

JAKARTA – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani dijadwalkan akan memimpin Rapat Paripurna DPR RI ke-18 dengan agenda Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LHP LKPP) Tahun 2019.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani dalam acara Rapat Paripurna DPR ke-16tanggal 15 Juni 2020 (Sumber Foto: Dokumen Pribadi)

“Saya akan memimpin Rapat Paripurna DPR RI ke-18 Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2020. Sesuai jadwal, rapat akan dilaksanakan mulai pukul 13.30 wib di Ruang Paripurna Gedung Nusantara,” ujar Puan dalam keterangan yang diterima redaksi, Selasa (14/7).

Seperti biasa, lanjutnya, ditengah pandemi covid-19, rapat akan mematuhi protokol kesehatan pencegahan penyebaran virus korona sehingga akan dikombinasikan dengan kehadiran fisik dan kehadiran virtual para angota DPR RI dengan tetap memenuhi ketentuan tata tertib persidangan.

Selain Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LHP LKPP) Tahun 2019, sejumlah agenda akan dibahas dalam rapat paripurna DPR hari ini antara lain:

1. Penyampaian Laporan Badan Anggaran DPR RI Atas Hasil Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan RAPBN 2021 dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2021.
2. Pembicaraan Tingkat II/ Pengambilan Keputusan terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Wali Kota Menjadi Undang-Undang.
3. Pembicaraan Tingkat II/ Pengambilan Keputusan terhadap Rancangan Undang-Undangan tentang Pengesahan Perjanjian Bantuan Hukum Timbal Balik Dalam Masalah Pidana antara Republik Indonesia dan Konfederasi Swiss (Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters Between The Republic of Indonesia and The Swiss Confederation).
4. Pembicaraan Tingkat II/ Pengambilan Keputusan terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Kabinet Menteri Ukraina tentang Kerja Sama dalam Bidang Pertahanan (Agreement between the Government of the Republik of Indonesia and the Cabinet of Ministers of Ukraine on Cooperation in the Field of Defence)”
5. Laporan Komisi XI Atas Hasil Uji Kepatutan dan Kelayakan Terhadap Calon Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) Periode 2020-2023.

Sesuai rencana, Rapat Paripurna hari ini akan dihadiri Menteri Keuangan, Ketua BPK dan Menteri Hukum dan HAM. DPR juga akan memasuki masa reses sehingga pada pekan ini rencananya juga akan digelar Rapat Paripurna DPR RI ke-19 untuk menutup masa persidangan IV Tahun Sidang 2019-2020.

Rusia Percaya Menutup Perbatasan Dan Isolasi Ketat Adalah Satu-Satunya Solusi Untuk Mencegah Penyebaran Virus Corona

Salah satu sudut kota Petersburg, Rusia (Ksenia/ THE EDITOR)
Salah satu sudut kota Petersburg, Rusia (Ksenia/ THE EDITOR)

PETERSBURG – Suasana di jalanan Kota Petersburg, Rusia masih sepi. Masyarakat kebanyakan masih menghabiskan waktu mereka di rumah megikuti aturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Dimana disebutkan bahwa hingga saat ini kawasan perbatasan negara di Rusia masih ditutup untuk umum karena pandemi corona. Tercatat hingga Juni 2020 kemarin 7106 masyarakat meninggal akibat Covid-19. Ini adalah angka kematian terbesar yang pernah terjadi di Rusia dalam 10 tahun terakhir.

Selain menutup perbatasan, Rusia ternyata hanya mengizinkan warganya yang tinggal di luar negeri masuk ke negara ini dengan penerbangan khusus yang disiapkan oleh pemerintah. Dan tentunya harus mengikuti standar aturan untuk ikut masa observasi saat tiba di Rusia dan mematuhi aturan isolasi di rumah

Di Petersburg dan Moskow misalnya, masyarakat mendapat aturan yang sangat ketat dari pemerintah. Mereka hanya diizinkan pergi keluar rumah dengan aturan tertentu, salah satunya adalah aturan berbelanja dan mengajak hewan peliharaan jalan-jalan di area yang jauhnya tak lebih dari 100 meter dari rumah tinggal. Bila harus bepergian, maka warga harus mengajukan surat izin kepada petugas setempat yang berlaku hanya beberapa jam saja. Dengan kata lain, aturan di negara ini memang dibuat karena banyaknya jumlah korban meninggal akibat corona.

Aturan diatas dikeluarkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin sejak awal April kemarin. Hanya saja banyak orang yang kurang menaati peraturan tersebut. Mereka justru memanfaatkan waktu luang bekerja di rumah atau istilah sekarang disebut work from home dengan berlibur. “Banyak orang yang tidak peduli pada pandemi dan ancaman virus ini. Orang pergi ke taman, piknik, dan beberapa bahkan terbang ke resor seperti Sochi dan Crimea,” ujar Tsvetkovaelen kepada The Editor, Selasa (14/7).

Acara lain yang harus dijadwal ulang selama pandemi virus ini di Rusia adalah Parade kemenangan yang telah diadakan selama 75 tahun untuk menghormati kemenangan dalam Perang Dunia ke-2 harus ditunda ke tanggal 24 Juni 2020 kemarin dari jadwal seharusnya 9 Mei 2020.

Selain menutup perbatasan, Rusia ternyata hanya mengizinkan warganya yang tinggal di luar negeri masuk ke negara ini dengan penerbangan khusus yang disiapkan oleh pemerintah. Dan tentunya harus mengikuti standar aturan untuk ikut masa observasi saat tiba di Rusia dan mematuhi aturan isolasi di rumah.

Peraturan ini diambil mengingat kondisi penyebaran pandemi corona yang makin tidak terkontrol. Sampai pada akhirnya pemerintah Rusia mengambil kesimpulan bahwa menutup perbatasan masuk ke negara ini satu-satunya jalan agar Covid-19 tidak lagi menyerang warganya dan menimbulkan kematian yang lebih banyak lagi.

Menurut pemerintah Rusia, mengendalikan pandemi corona agar tidak menyerang warganya hanya bisa dilakukan dengan memperketat akses masyarakatnya dengan aturan isolasi wajib di rumah. Masyarakat dikenakan denda yang sangat tinggi bila kedapatan melanggar aturan. Semua perusahaan katering dan pusat perbelanjaan ditutup, konser dan acara publik juga dibatalkan. Banyak perusahaan memindahkan waktu kerja karyawannya ke rumah dengan sistem online, sementara itu pihak universitas dan sekolah memberlakukan sistem pelatihan berlanjut jarak jauh.

3000 People And 23 Death In Tomsk. An Impressive Number Of Cases For A Small Siberian City

People gathering around The Hermitage General Staff, near Tha Palace Square Fotografer: Ksenia)

PETERSBURG – In mid June 2020, for family reasons, I was forced to fly to Tomsk. At this point, restrictions on movement between regions were removed and I did not need to observe two week self isolation and observation in special institutions.

People gathering around The Hermitage General Staff, near The Palace Square (The Editor/Ksenia)

Upon arrival, they measured the temperature and calmly let me go home. In Tomsk, things are different than in larger cities. The number of cases here is almost equal to 3000 people and 23 death. This is an impressive number of cases for a small Siberian city. Cafes and restaurants are still closed here, only food delivery and pick-up are provided.

Many stores provide customer service only with a mask and gloves. Recently, the police wrote a fine to my friends for riding in a taxi without a mask. But this is the exception rather than the rule. Most often, the police in the city turn a blind eye to non-compliance with quarantine measures that continue in the region until the 1st of August 2020 by order of the governor. They are able to fine a person who is walking alone the street without a mask, but they are not able to influence the crowd of people using a bus without personal protective equipment.

People use their position and argue with herd convictions: if I’m not the only one, then nothing will happen to me. However, they forget that, first of all, wearing a mask and gloves in public places is the preservation of their own health, as well as the health of their family and friends.

To summarize everything written above, I want to say that the situation in St. Petersburg and Tomsk is only a small part of what is happening in the country at the moment. However, these cases are very revealing, they well reflect the human attitude to it. Despite the fact that the country’s population is very large, we would have been able to reduce the time of “rehabilitation” from a pandemic if people showed even a “drop of understanding”.

I am not a supporter of various theories that the whole virus is a lie, that people around the world are intimidated by those who benefit from it. I live my life here and now and see good examples of how people get sick and, unfortunately, die.

I hope that in the future we will be able to overcome this terrible infection. People will return to their usual lives, the economy will regain its financial turnover, and small and medium-sized businesses will be able to return their “ before quarantine” income.

Until June 2020, Corona Kill 7106 People in St. Petersburg, Russia. It Is The Highest Mortality Rate Over The Past 10 Years

Latest situation in St. Petersburg, Russia (Fotografer: Ksenia)

RUSSIA – The length of the territory of Russia from north to south exceeds 4000 km, from west to east it approaches 10,000 km. As of January 1, 2020, the resident population of Russia is 146.74 million people. It is naive to believe that such a huge and immense country escapes with “little blood.”

Latest situation in St. Petersburg, Russia (The Editor/Ksenia)

According to official statistics, the number of cases in the country is 721 thousand people, 497 thousand have recovered, and a little more than 11 thousand have died. It should be borne in mind that these are only those who tested on covid-19 in hospitals or laboratories, because they had symptoms or had contact with patients. And how many more thousands of people remain not diagnosed for any reason?

It has long been known that a new coronovirus infection has 3 degrees of disease severity: asymptomatic, mild / moderate, severe with the development of complications in the form of unilateral or bilateral pneumonia with the need to connect the patient to an artificial lung ventilation device.

If a person discovers symptoms of a coronovirus infection, he must call an ambulance and cannot just turn to the clinic to his local doctor. After the call, an ambulance arrives and conducts a test for covid-19, and then you wait for the results and further instructions.

Most often, in the current situation, when places in hospitals are sorely lacking, people with mild to moderate illness are sent to be treated at home, under their own responsibility. Sometimes it happens that a newly discharged patient is brought back again, with an already more severe form of the disease.

How is this possible? The problem lies in the organization of medical care for patients. Often you can find on the Internet information about the treatment from people who have gone through this. And after that, it becomes even more frightening to be in the very center of events. Since medical facilities cannot cope with the load, the protocols and treatment algorithms are often not followed, people have nowhere to place. The situation is actually much worse than statistics and the media show us.

A little about how things are in St. Petersburg. Statistics is relevant on July 11th. The total number of infected is 27 thousand people, 1.5 thousand dead, 21 thousand have recovered. But do these numbers speak for something or not? The official easing of quarantine measures in St. Petersburg began on June 1. Now, the self-isolation regime for senior citizens over 65 is recommendatory in nature, it remains mandatory to wear personal protective equipment in public places, transport and shops, notarial and legal offices are open.

So, with small steps at intervals of 2 weeks, museums, swimming pools and fitness clubs, shops and hairdressers began to open, the usual work schedule of the subway and public transport is being restored. It seems that the city is slowly returning to ordinary life, but this is far from the reality. The city continues to have a difficult epidemiological situation. Hospitals are crowded, and doctors are working hard.

The highest mortality rate over the past 10 years was established in St. Petersburg, 7106 people died in June. Later, the Health Committee explained that this was due to the peak of the epidemic. Coronavirus became the root cause of death immediately in 1281 Petersburgers. Also, the infection was detected in 2419 people, but they died from severe chronic diseases and did not fall into official statistics.

2020, A Year Of Disappointments And Losses Because Coronavirus. The Borders still closed in Rusia

An empty street around St. Pettersburg, Russia (Fotografer: Ksenia)
An empty street around St. Pettersburg, Russia (The Editor/Ksenia)

MOSCOW – About the events that make 2020, a year of unfulfilled dreams and desires, a year of disappointments and losses. I am talking about the pandemic of the coronovirus or covid-19 infection, which began its development safely in December 2019 in China and by February already spread to most countries of the world.

While the Chinese people took tough measures to combat the epidemic, which included the introduction of strict self-isolation, the closure of all catering establishments and the cancellation of public events, the wearing of masks on the streets and in public places, people around the world continued to travel without emphasizing what’s happening.

What happened next? I think it is logical that the virus was introduced to other continents and countries and already there began to spread freely, affecting an increasing number of people.

In mid-March 2020, when the epidemic was already raging in the USA and Europe, Russia responsibly declared that everything was under control. Russians arriving from abroad are sent for observation to hospitals, each case of the disease in the country is recorded and all patients receive the necessary medical care. It all started naturally from Moscow, as it is the main transport hub connecting Russia and foreign cities and countries.

The Russian government chose a tactic that, in their opinion, made it possible to avoid panic among the country’s inhabitants, and also raised doubts among many citizens whether this pandemic really exists. That is why, when the recommendation mode of self-isolation and wearing personal protective equipment was introduced, most people ignored these recommendations and continued to live their normal lives, visiting cafes and restaurants, shopping centers and public events.

Further, it only got worse and the country’s leadership came to the conclusion that without strict restrictive measures, it was impossible to control the spread of the disease and introduced a strict access regime and mandatory self-isolation, violators of which had to pay a fine. All catering establishments and shopping centers were closed, concerts and public events were canceled, many companies transferred their employees to online- work and training at schools and universities continued remotely.

The victory parade, which has been held for 75 years in honor of the victory in the 2nd World War, also had to be canceled (rescheduled). And the most basic decision that was made by the country’s leadership is to close the borders with other countries for an indefinite period. Now those residents who were abroad during this period will be able to get home only with special charter flights organized by the government with further observation and home self-isolation.

These measures were applied in particular to Moscow, because the largest percentage of cases was in the capital, as well as in the region. In theory, people could now go only to the grocery store and go for a walk with the dog, no further than 100 meters from their own home. For all other movements, it was necessary to obtain a pass, which is valid for several hours and after which it should be obtained again.

Along with this, the president issues a decree that the first week of April will be considered a day off, with the preservation of wages, and people will only need to stay at home and observe self-isolation.

Sounds good. The only thing that was required of people was just to stay at home. But no! The people took this step as complete freedom of action and a week-long vacation. Everyone did not give a damn about the pandemic and the threat of the spread of the virus. People went to parks, picnics, and some even flew to resorts such as Sochi and Crimea.

What happened next?

I think it became obvious to everyone what consequences this week of vacations entailed, which later turned into a month. Yes exactly. “Presidential vacation” dragged on until April 30th. I remind, with the preservation of jobs and wages. Is this not a fairy tale? I will answer no. This is a nigtmare for entrepreneurs and business, because in spite of all the decrees, companies were forced to lay off employees and reduce salaries in order to survive.

Why was this done? It is difficult to answer this question with complete confidence. It is possible, in order to reduce the burden on medical institutions and medical staff, to give time to re-profile conventional medical centers and hospitals into infectious ones. This is the most logical of all possible explanations. And then there was May, the first half of which was also a national holiday, and the second flew by at the speed of light. Then June and now is July.

Honestly, at some point, I stopped following in the media what is happening in the country, watching statistics and listening to the president’s speeches. This whole situation is so exhausting, took all the moral strength. There was a desire to just run away, hide somewhere far in the forest and stay there alone, without a phone and the Internet, just in silence.

What’s happening now?

While many countries managed to open their borders and restore their infrastructure completely, Russia still “does not work”. Borders are closed, many companies, shops, shopping centers and restaurants too. Only delivery and pickup points are possible. If any resident of the country is asked to answer the question of what is happening, with a probability of 99{449fde34b18ca6505a303acf59cd2914251092e879039fa6b1605563bfad8ebc} he will say: I do not know. Therefore, the best description of the present times is status: awaiting. Good or bad, bright or foggy future, which will come sooner or later.

Benih Dan Tanah

VATIKAN – Dalam Minggu ke-15, kalender liturgi menghadirkan bacaan Injil yang menarik, sebuah perumpamaan tentang benih dan tanah yang subur.

Salah satu sudut Gereja Santa Maria Maggiore di Roma, Italia Fotografer: Elitha Evinora Tarigan)

Tanah adalah hati manusia, hati dilukai oleh pengalaman masa lalu, hati yang membawa keraguan dan ketakutan, tetapi juga harapan dan cita-cita. Setiap tanah, yaitu setiap hati dengan setiap jenisnya, menyambut benih dengan caranya sendiri. Tentu saja Injil ini tidak diperuntukkan bagi bidang yang tanpa cacat, tetapi untuk semua bidang. Inilah sebabnya mengapa Firman Tuhan jatuh di semua jenis medan tanah, untuk mengungkapkan apa yang ditemukan di dalamnya.

Benih bisa mengungkapkan tanah berbatu, yaitu, hati berbatu yang tidak memiliki akar dalam dirinya sendiri. Artinya, seseorang menyambut Firman dengan antusiasme sesaat, tetapi tidak mengakarnya. Sebaliknya, perlu diserap oleh Firman, untuk tetap di dalam Firman. Benih itu juga mengungkapkan tanah yang penuh dengan duri: kesenangan, kekayaan dan kekhawatiran dunia. Bahkan dalam hidup kita, sering kali kita membuang-buang anugerah untuk membuat cinta-Nya hidup berdampingan dengan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan itu. Dan di sini juga benih itu mati lemas.

Benih yang bisa mengungkapkan tanah yang baik, yaitu hati yang tahu bagaimana menyambut Firman Allah karena telah memahami bahwa Firmanlah yang menyelamatkan; hati yang mengerti bahwa Firman Tuhan lebih penting daripada makanan atau kesenangan sesaat; hati yang telah memahami bahwa tanpa Firman yang mewujud di dalam ruang dan waktu manusia, ia tetap gersang, steril dan tidak menghasilkan buah.

Benih adalah anugerah karena ia menunjukkan tanah pada dirinya sendiri, dan pada saat yang sama ia menempatkannya pada posisi untuk memberikan semua yang dapat diberikannya. Tanpa meminta lebih banyak dan tanpa meminta lebih sedikit. Inilah sisi keindahan dari kisah Sang Penabur.

Saudara-saudari terkasih,

Tuhan tidak menunggu untuk memverifikasi kesesuaian orang tersebut untuk memberikan Firman-Nya tanpa batas. Tuhan memberikan dirinya sendiri secara otomatis. Mereka yang menerimanya dan menyambutnya dalam kehidupan mereka akan melihat proses perubahan dan pertumbuhan baru bermunculan di dalam diri mereka. Semoga demikian.