20.4 C
Indonesia

Lewat Metode Baru Penelitian DNA, Ilmuwan Identifikasi Pengguna Liontin Gigi Rusa Berusia 20.000 Tahun

Must read

WASHINGTON – Di dalam gua Siberia yang telah menjadi harta karun arkeologi, para ilmuwan menemukan sesuatu yang menarik, yakni sebuah liontin dari gigi taring rusa.

Artefak yang dibuat sekitar 20.000 tahun yang lalu itu dibebaskan dari material di sekelilingnya secara hati-hati demi dijauhkan dari adanya kontaminasi.

Setelah diteliti, koleksi murni liontin dari Gua Denisova itu ternyata memberikan satu-dua pemahaman mengenai eksistensinya di masa lalu yang cukup menarik.

Mengutip Reuters, para ilmuwan pada Rabu (3/5) mengatakan metode baru dalam proses ekstraksi DNA kuno mengidentifikasi pemilik objek itu sebagai seorang wanita Zaman Batu.

Wanita itu disebutkan terkait erat dengan populasi pemburu-pengumpul yang diketahui tinggal di bagian Siberia di sebelah timur situs gua di kaki Pegunungan Altai di Rusia.

Adapun metode yang digunakan dapat mengisolasi DNA yang terdapat pada sel kulit, keringat, atau cairan tubuh lainnya dan diserap oleh jenis bahan berpori tertentu termasuk tulang, gigi, dan gading ketika dipegang oleh seseorang ribuan tahun yang lalu.

Di samping itu, objek-objek yang digunakan sebagai alat atau perhiasan pribadi–liontin, kalung, gelang, cincin dan sejenisnya–dapat menawarkan wawasan tentang perilaku dan budaya masa lalu.

Uniknya, hal itu tetap berlaku meskipun pemahaman kita dibatasi oleh ketidakmampuan untuk mengikat objek tertentu dengan orang tertentu.

“Saya menemukan benda-benda ini dibuat di masa lalu yang sangat menarik karena mereka memungkinkan kita untuk membuka jendela kecil untuk melakukan perjalanan kembali dan melihat kehidupan orang-orang ini,” kata ahli biologi molekuler Elena Essel.

Essel berasal dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Jerman dan berperan sebagai penulis utama studi ini, yang diterbitkan dalam jurnal Nature.

Para peneliti yang menemukan liontin itu, yang diperkirakan berusia 19.000-25.000 tahun, menggunakan sarung tangan dan masker saat menggali dan menanganinya, menghindarkannya dari kontaminasi dengan DNA modern.

Liontin itu pun menjadi artefak prasejarah pertama yang dihubungkan oleh detektif genetik dengan orang tertentu.

Akan tetapi, tidak diketahui dengan jelas apakah wanita itu membuat atau hanya memakainya.

Essel berkata saat memegang artefak seperti itu di tangannya, ia merasa “terbawa kembali ke masa lalu, membayangkan tangan manusia yang telah menciptakan dan menggunakannya ribuan tahun yang lalu.”

“Ketika saya melihat benda itu, banyak pertanyaan muncul di benak saya. Siapa orang yang membuatnya? Apakah alat ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari ibu ke anak perempuan atau dari ayah ke anak laki-laki? Bahwa kita dapat mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan ini menggunakan alat genetik masih sangat luar biasa bagi saya,” tambahnya.

Pembuat liontin mengebor sebuah lubang di gigi untuk memungkinkan semacam tali pengikat yang sekarang hilang.

Gigi itu juga bisa saja menjadi bagian dari ikat kepala atau gelang.

Spesies kita, Homo sapiens, pertama kali muncul lebih dari 300.000 tahun yang lalu di Afrika, kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Objek tertua yang diketahui digunakan sebagai perhiasan pribadi berasal dari sekitar 100.000 tahun yang lalu dari Afrika, menurut Marie Soressi dari University of Leiden, arkeolog senior studi tersebut.

Gua Denisova dahulu kala dihuni pada waktu yang berbeda oleh spesies manusia yang telah punah yang disebut Denisovans, Neanderthal, dan spesies kita.

Gua tersebut selama bertahun-tahun telah menghasilkan penemuan yang luar biasa, termasuk sisa-sisa Denisovans yang pertama kali diketahui dan berbagai alat serta artefak lainnya.

Teknik penelitian nondestruktif baru, yang digunakan di laboratorium “kamar bersih” di Leipzig, bekerja seperti mesin cuci.

Dalam hal ini, sebuah artefak direndam dalam cairan yang bekerja untuk melepaskan DNA darinya seperti mesin cuci mengangkat kotoran dari blus.

Dengan menghubungkan objek dengan orang-orang tertentu, teknik ini dapat menjelaskan peran sosial prasejarah dan pembagian kerja antara jenis kelamin atau mengklarifikasi apakah suatu objek dibuat oleh spesies kita atau tidak.

Beberapa artefak telah ditemukan di tempat-tempat yang diketahui pernah dihuni, misalnya oleh Homo sapiens dan Neanderthal secara bersamaan.

“Studi ini membuka peluang besar untuk merekonstruksi peran individu di masa lalu dengan lebih baik menurut jenis kelamin dan keturunan mereka,” kata Soressi.

 

Sumber: Reuters

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru