21.4 C
Indonesia

Selandia Baru Larang Penggunaan Plastik Tipis untuk Buah dan Sayur

Must read

SELANDIA BARU – Plastik tipis yang umum disediakan di supermarket untuk pelanggan membungkus buah dan sayuran yang mereka beli kini dilarang di Selandia Baru.

Larangan itu resmi diterapkan pada Sabtu (1/7), menjadikan negara kepulauan di barat daya Samudera Pasifik itu negara pertama di dunia yang menerapkannya.

Melansir ABC News, larangan ini adalah bentuk lanjutan dari upaya menyetop penggunaan plastik sekali pakai yang mulai digalakkan negara itu pada tahun 2019.

Saat itu, Selandia Baru melarang penggunaan plastik tebal yang biasa digunakan konsumen untuk membawa barang belanjaan mereka.

Nantinya, setelah larangan plastik tipis ini, upaya akan berlanjut ke pelarangan penggunaan alat makan dan sedotan berbahan plastik.

“Selandia Baru memproduksi sangat banyak sampah, sangat banyak sampah plastik,” kata Menteri Lingkungan Hidup Selandia Baru Rachel Brooking.

Seperti yang diketahui, plastik adalah bahan yang bisa dibuat menjadi apa saja, mulai dari tas belanja, wadah penyimpan makanan, hingga perabotan rumah tangga.

Di balik kegunaannya, plastik adalah bahan yang sulit terurai di alam. Oleh sebab itu, plastik sekali pakai menjadi masalah yang tak kunjung selesai dari tahun ke tahun.

Pejabat Selandia Baru memperkirakan bahwa setiap warganya mengirimkan rata-rata tiga perempat ton sampah, termasuk plastik, ke tempat pembuangan sampah setiap tahunnya.

Larangan yang diterapkan pada tahun 2019 lalu, kata Brooking, berhasil mencegah penggunaan satu miliar kantong plastik.

Sementara itu, larangan terbaru akan menambah pengurangan lebih lanjut sebesar 150 juta kantong plastik per tahun.

Meskipun begitu, kekhawatiran akan keefektifan larangan ini dalam membantu lingkungan tetap muncul di kalangan para pejabat.

Mereka kini tengah menginvestigasi kekhawatiran tentang konsumen yang akan sekadar berganti ke kantong kertas sekali pakai.

“Jawabannya tetap: ya, ini masih layak dilakukan, namun kami benar-benar ingin mengurangi kemasan sekali pakai apa pun,” kata Brooking.

“Jadi kami ingin orang-orang membawa tas mereka sendiri, dan supermarket menjual tas produksi yang dapat digunakan kembali,” tambahnya kemudian.

Lebih lanjut, ia mengatakan penekanannya adalah mendidik orang-orang dengan para pejabat dapat menjatuhkan hukuman pada bisnis yang memilih untuk melanggar aturan.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru