27.4 C
Indonesia

Puluhan Jurnalis Minta Israel dan Mesir Beri Akses Media ke Gaza

Must read

INGGRIS – Lebih dari 50 jurnalis mengirimkan surat terbuka yang menyeru Israel dan Mesir untuk memberikan “akses bebas dan tidak terbatas ke Gaza untuk semua media asing”.

Surat tersebut ditandatangani oleh sejumlah koresponden dan presenter lembaga penyiaran yang berbasis di Inggris, termasuk wartawan BBC Jeremy Bowen, Lyse Doucet, dan Mishal Husain.

Melansir BBC, surat itu menyatakan bahwa kebutuhan akan pelaporan lapangan yang komprehensif adalah hal yang “penting”.

Militer Israel mengatakan, pasukannya telah membawa wartawan dalam perjalanan dengan pengawalan di Gaza agar mereka dapat melaporkan dengan aman.

Jurnalis dan pekerja media Palestina telah melaporkan dari dalam Gaza sejak dimulainya perang antara Israel dan Hamas pada Oktober, namun puluhan orang telah terbunuh, terluka, atau hilang.

Dalam surat tersebut, ke-55 jurnalis menulis bahwa “wartawan asing masih ditolak aksesnya ke wilayah tersebut, di luar perjalanan yang jarang dilakukan dan dikawal oleh militer Israel”.

Perjalanan yang dikawal sangat terkontrol dan seringkali hanya untuk menunjukkan terowongan yang menurut militer digunakan oleh Hamas atau gudang senjata.

Hanya satu jurnalis asing yang diizinkan masuk ke Gaza melalui Mesir dengan pengawalan.

Clarissa Ward dari CNN – yang merupakan salah satu penandatangan surat tersebut – hanya dapat menghabiskan beberapa jam di lapangan di kota perbatasan selatan Rafah dengan tim medis Emirat pada Desembe lalu.

Surat tersebut menyerukan pemerintah Israel untuk “secara terbuka menyatakan izinnya bagi jurnalis internasional untuk beroperasi di Gaza”.

Mereka juga meminta pihak berwenang Mesir untuk mengizinkan pers asing mengakses penyeberangan Rafah antara Mesir dan Gaza.

Surat tersebut melanjutkan, “Sangat penting untuk menghormati keselamatan jurnalis lokal dan upaya mereka didukung oleh jurnalisme media internasional.

“Kebutuhan akan pemberitaan lapangan yang komprehensif mengenai konflik tersebut sangatlah penting.

“Risiko pelaporan konflik dipahami dengan baik oleh organisasi kami yang memiliki pengalaman puluhan tahun dalam melaporkan di zona perang di seluruh dunia dan dalam perang-perang sebelumnya di Gaza.”

Lembaga penyiaran yang diwakili dalam surat tersebut adalah BBC, ITV, Channel 4 dan Sky News dari Inggris, serta ABC, CBS, CNN dan NBC selaku outlet Amerika Serikat.

Sejumlah jurnalis yang menandatangani surat tersebut telah melaporkan dari Israel selama konflik.

Pada November, editor internasional BBC Jeremy Bowen melakukan perjalanan bersama pasukan Israel ke Gaza. Meskipun BBC mempunyai kendali editorial atas laporan tersebut, bagian mengenai pasukan Israel dilihat oleh mereka.

Ketika dimintai komentar mengenai surat tersebut, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan, “IDF saat ini sedang melakukan perang melawan organisasi teror Hamas.

“Agar jurnalis dapat melaporkan dengan aman, IDF mendampingi mereka saat berada di medan perang.”

Bulan lalu, Asosiasi Pers Asing (FPA) di Yerusalem menuduh Israel memberlakukan larangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap akses pers asing independen ke Gaza.

Tuduhan itu datang setelah Pengadilan Tinggi Israel menolak petisi dari organisasi tersebut dan memutuskan bahwa pembatasan masuknya dibenarkan demi alasan keamanan.

FPA mengatakan otoritas pertahanan telah mengatakan kepada pengadilan bahwa jurnalis di Gaza dapat menghadapi risiko di masa perang dan membahayakan tentara jika melaporkan posisi pasukan.

Mereka juga berpendapat bahwa terlalu berbahaya bagi personel Israel untuk berada di perbatasan Israel untuk memfasilitasi masuknya pers ke Gaza.

Putusan pengadilan juga mengutip otoritas pertahanan yang menyatakan bahwa penyeberangan Rafah “di bawah kendali dan kedaulatan” Mesir, dan bahwa “sepengetahuan mereka” pemerintah Mesir mengizinkan jurnalis asing memasuki Gaza.

Akan tetapi, pada akhir Oktober, seorang pejabat senior Mesir mengatakan bahwa militer Israel lah yang menghentikan masuknya jurnalis.

Hampir 30.000 orang tewas di Gaza selama perang antara Israel dan Hamas, kata kementerian kesehatan yang dikelola Hamas di wilayah tersebut.

Militer Israel melancarkan kampanye udara dan darat setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan 253 lainnya disandera.

Menurut Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), setidaknya 83 jurnalis dan pekerja media Palestina dan dua jurnalis Israel telah terbunuh sejak dimulainya perang.

SourceBBC
spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru