23.4 C
Indonesia

Persahabatan Wanita-Wanita Pecinta Seni Budaya Ini Berhasil Membawa Wayang Orang Ke Panggung Internasional

Must read

JAKARTA – Saat para perempuan pecinta seni budaya ini berbicara tentang budaya nusantara, maka anda harus hati-hati karena pengetahuan dan cinta yang ada dalam diri mereka tidak kalah dengan para budayawan yang selama ini ikut serta menjaga wasiat negeri yang telah diwariskan secara turun temurun.

Mereka lebih cocok disebut sebagai wanita-wanita modern yang tidak pernah melepaskan diri dari balutan otentik ala Indonesia dari jaman ke jaman. 

Siapa mereka ini?

Restoran Canton yang berada di lantai dua di Distrik 8 terlihat berbeda pada Sabtu (21/5) kemarin. 11 orang perempuan dengan balutan kebaya khas dari Bali dan satu orang pria terlihat sangat menikmati santapan di tempat itu.

Mereka bukan orang sembarangan karena mereka adalah para perempuan papan atas Indonesia yang tengah menggelar acara ‘temu kangen’ di sore itu.

The Editor mendapat kesempatan untuk duduk diantara mereka sembari berbincang tentang budaya Tanah Air yang pernah da tengah mereka kerjakan.

Dan ternyata, mereka sangat mengagumkan karena panggung-panggung internasional berhasil mereka tapaki untuk menggelar seni dan budaya Indonesia. Diantaranya Sydney Opera House di Australia , Carnegie Hall di New York dan gedung UNESCO di Paris, Prancis.


Aylawati Sarwono berharap agar di masa depan para wanita Indonesia mau memakai kebaya saat hendak bepergian baik ke mall ataupun cafe seperti di masa lalu. Seperti yang tengah ia lakukan yaitu duduk snaai di lobi mall sembari menanti Supir pribadinya datang untuk menjemput (Foto: Elitha Evinora Br Tarigan/ THE EDITOR)

Mereka adalah sosialita yang tidak pernah ada sebelumnya di Jakarta. Dana cukup besar mereka keluarkan untuk menggelar pertunjukan kesenian nusantara sehingga secara tidak langsung bisa menghidupi para seniman dan pemusik tradisional di Tanah Air. 

Salah satu yang jadi perhatian para wanita cantik ini adalah mempertahankan seni panggung Wayang Orang agar tidak habis tergilas masa.

“Karena kan wayang orang itu kan sebenarnya opera, kalau di luar negeri opera itu sangat dihargai. Seperti di Italia, negara-negara Eropa, broadway kalo di Amerika, kalo Rusia itu lebih ke ballet. Nah wayang orang itu nilainya nggak lebih rendah atau lebih tinggi dari itu. Kalau buat aku, jelas lebih tinggi. Kenapa? Coba liat opera barat, mereka itu nyanyi, tapi kadang mereka nggak nari. Kehebatan mereka ada di orkestranya. Kalo ballet, nari dan orkestranya. Kalo wayang orang, lengkap, nyanyi, nari, akrobat, ada humornya juga dan seluruh pertunjukan wayang orang itu diiringi dengan orkestra gamelan secara langsung ,” ujar Aylawati Sarwono selaku pendiri Jaya Suprana School of Performing Arts yang aktif menyelenggarakan pagelaran kesenian Wayang Orang yang dikemas dengan teknologi dan artistik modern, baik itu di dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam catatan Aylawati, popularitas Wayang Orang di Indonesia saat ini masuk dalam kategori yang memprihatinkan. Pasalnya banyak anak muda yang kurang memahami dan mengenal tentang budaya yang ini. 

Wayang orang merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional Jawa, khususnya Jawa Tengah.

Cerita yang dimainkan didasarkan pada kisah Mahabharata dan Ramayana yang mengandung pesan-pesan moral.

Selain bentuk pertunjukan teater tradisional, wayang orang juga diisi dengan sendratari. Usianya sudah ada sejak zaman Mataram Kuno dan tercatat di Prasasti Wimalasmara tahun 930 M dan Prasasti Balitung tahun 907 M (diambil dari situs indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/wayang-orang/).

“Sayangnya kita nggak memperhatikan, pemerintah kita masih memperhatikan hal-hal lain,” ungkapnya.

“Negara-negara lain mungkin udah selesai dengan hal-hal lainnya, jadi bisa memperhatikan kesenian mereka. Ballet yang dipromosiin gila-gilaan misalnya. Padahal unsur pertunjukan kita nggak kalah lengkap dari pertunjukan opera-opera barat. Kesenian di luar negeri itu sangat dihargai, sementara di sini dinilai kayak kesenian pinggiran, kampungan. Sangat disayangkan.” ungkap Aylawati yang terlihat memakai kebaya berwarna kuning dan kain berwarna cokelat .

Dan, Aylawati yang merupakan satu diantara para perempuan perkasa dipertemuan ini mengatakan bahwa pertemanan yang ia bina bersama dengan para perempuan pecinta seni Indonesia ini diharapkan bisa membuat seni pertunjukan wayang orang tetap lestari dan semakin dihargai oleh masyarakat 

Giok Hartono, Pemilik Djarum Grup mengatakan bila kondisi wayang orang di tengah dunia modern saat ini sangat memprihatinkan (Foto: Erik/ THE EDITOR)

Giok Hartono, Pemilik Djarum Grup yang juga hadir dalam pertemuan tersebut mengatakan bahwa persahabatannya dengan para wanita yang berbeda usia tersebut awalnya disatukan oleh kesamaan hobi yaitu menari.

Dan akhirnya, dalam setiap acara yang mereka adakan maka akan berimbas pada hidup orang banyak. 

“Kadang orang itu tidak sadar, kalau kegiatan menari atau teater, itu tidak hanya menghidupi artis melainkan juga banyak orang di belakangnya. Yang angkut-angkut barang, catering, yang bikin kostum. Dari budaya itu berkembang banyak di belakangnya. Jadi selain menghidupkan budaya, juga memberikan nafkah kepada orang lain,” ungkap Giok yang tampak manis dengan tampilan kebaya berwarna jingga, kain berwarna ungu kekuningan dan sematan bunga kamboja putih di telinga kirinya.

Giok Hartono sangat prihatin dengan gaji yang diterima para seniman Wayang Orang yang hanya mencapai Rp 25.000 dalam satu kali tampil. Padahal, butuh waktu yang sangat lama untuk mempersiapkan pementasan seni budaya ini dimulai dari riasan, kostum, pentas dan dialog.

Dan akhirnya, agar dapat menarik perhatian banyak orang, Giok Hartono dan teman-temannya ikut bermain dalam pementasan ini. 

Dengan demikian rekan bisnis yang berada dalam lingkup perusahaan tiap-tiap wanita yang tergabung dalam grup Sahabat Budaya tersebut dapat berpartisipasi dengan membeli tiket dan turut membantu menambah penghasilan  para seniman dan musisi yang mereka ajak berpartisipasi.

“Karena kita ikut main. Juga ada peragawati, ada para tokoh Nasional seperti pak Sutiyoso(mantan gubernur), para perwira TNI , para artis Ibu kota.. jadi masyaralat luas akan ikut tertarik untuk beli tiket dan nonton. Kita juga pakai pakaian yang kerlap-kerlip, yang lebih bagus dari pemain biasanya. Jadi orang-orang tertarik. Kami juga memperpendek durasi bermainnya, jadi orang-orang tidak jenuh menontonnya,” kata Giok dengan tersenyum.

Joeke Pamoedjo selaku pelestari tenun nusantara menyampaikan harapannya agar di masa depan setiap orang mau memakai kebaya sebagai pakaian casual saat jalan-jalan di mall (Foto: Erik/ THE EDITOR)

Lain lagi dengan pendapat Yoeke Pamoejo, Pelestari kain tenun nusantara, dan rutin mengoleksi serta menyelenggarakan pameran aneka kain tenun nusantara. 

Sembari tertawa, ia mengakui bahwa pertemanan mereka memang sangat berbeda dibanding yang ada pada umumnya.

“Dari kecil saya mengenal budaya Indonesia,” kata Joeke 

Kecintaannya pada budaya Indonesia khususnya dunia tari. Joeke sejak kecil telah berani mengenalkan budaya ke lingkungan sekitarnya.

Ia yang dulu tinggal di area pabrik gula selalu aktif menunjukkan berbagai macam tarian Jawa kepada setiap warga yang tinggal di sana. 

“Iya, benar. Kalo saya melihat yang muda, itu lingkungan. Jadi seperti mbak Yessy Sutiyoso dan mbak Sarah Arifin itu lingkungannya cinta budaya semua, jadi tumbuh cinta budaya. Kalau saya dan Bu Ayla, dari kecil sudah cinta budaya,” tambah Joeke lagi.

Grup Sahabat Budaya Berhasil Mendidik Generasi Muda Ikut Mencintai Budaya Asli Indonesia

Pertemanan lintas generasi ini ternyata berhasil membaurkan berbagai latar belakang manusia dalam satu wadah.

Bai Populo, Desainer Indonesia yang tinggal di Berlin adalah satu-satunya pria yang berhasil The Editor temukan dalam pertemuan istimewa tersebut.

Dan, sebagai anak muda, ia mengaku sangat senang bisa bersahabat dengan cara yang unik bersama dengan para anggota grup Sahabat Budaya ini.

“Buat saya, pertemanan ini, agak lintas generasi ya. Kita bersatu karena kita suka nari jawa, dan ternyata di luar itu kita juga cocok. Kita bener-bener jadi satu itu pas tampil di Sydney, di Paris. Dari sejak saat itu kita sering kumpul, kangen-kangenan. Semuanya punya misi yang sama, yaitu budaya,” kata pria yang mempopulerkan dan mempromosikan batik modern di luar negeri sebagai fashion yang siap dipakai ini.


Bai Populo dan Sarah Arifin ingin jadi anak muda yang berani melawan arus dengan mempopulerkan kebaya dan baju tradisional di kehidupan sehari-hari mereka (Foto: Erik/ THE EDITOR)

Setelah berteman puluhan tahun, lanjut Bai, pertemanan mereka akhirnya berhasil mengenalkan kebudayaan yang mereka perkenalkan seperti Tari Jawa kepada seluruh anggota keluarganya tanpa terkecuali. 

“Kalo dari orang tuanya tertarik pada budaya, dan mau mengajak, pasti anak-anaknya akan ngikut,” katanya lagi.

Dan, pada akhirnya berdampak pada komunitas, dimana segudang anak muda baik dari lingkungan sekitar maupun dari anggota keluarga langsung ingin mendaftar untuk jadi bagian grup penari yang khusus menarikan tarian Jawa.

“Kebetulan saya punya Sekar Puri, sanggar tari yang diikuti temen-temen sendiri. Khususnya ke nari Jawa Solo,” ujar Sarah Arifin, wanita muda yang saat ini tengah melanjutkan amanah eyangnya Bustanil Arifin dalam melestarikan pagelaran wayang orang klasik secara rutin di Indonesia.

Salah satu visi dan misi yang tengah mereka bawa adalah menjadikan kebaya dan sanggul sebagai gaya hidup sehari-hari masyarakat di perkotaan.

“Mengenalkan kebaya di mall, proudly wearing it,” ungkapnya sembari tertawa lepas.

Cerita unik juga datang dari Prasanti Andrini, penari sekaligus Co-founder Nur Sekar Kinanti Javanese dan salah satu founder Sahabat Pencinta Wayang Orang ini mengatakan bahwa ia memang sengaja menargetkan anak muda berusia di bawah 30 tahun untuk ikut dalam penyebarluasan budaya ini.

Prasanti Andrini mencari generasi berumur di bawah 30 tahun yang mau bergabung di sanggar Nur Sekar Kinanti. Wanita cantik ini berharap seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali bisa fasih berbahasa daerah mereka masing-masing (Foto: Erik Saputra/ THE EDITOR)

“Masing-masing dari kami punya komunitas sendiri. Seperti Mbak Yessy Setiyoso punya Matara Art Dance, saya sendiri bikin Sanggar Nur Sekar Kinanti. Visi misinya sama, menyebarluaskan budaya, regenerasi (saya membidik yang 30 tahun ke bawah),” katanya.

Baginya, pertemanan yang terjalin dalam grup Sahabat Budaya ini sangat berharga karena ia tidak ingin membuang-buang waktu melakukan kegiatan yang tidak ada gunanya.

Ia berharap kedepannya pemerintah mengeluarkan aturan yang mengharuskan warga negaranya memiliki kemampuan untuk bisa menarikan tarian daerah dan lagu daerahnya masing-masing.

“Mengingat usia yang tidak lagi muda, saya harus memilih pertemanan yang tidak membuang-buang waktu. Jadi saya cuma punya dua, pertemanan dalam hal agama (untuk akhirat) dan pertemanan dalam budaya,” ungkapnya.

Jaya Suprana Dan Aylawati Sarwono Membawa Wayang Orang Ke Panggung Internasional

Yessy Sutiyoso Founder Matara Art Center and a Kindergarten School (Foto: Erik Saputra/ THE EDITOR)

12 tahun pertemanan para anggota grup Sahabat Budaya ternyata membawa kenangan tersendiri bagi Yessy Sutiyoso, pendiri Sanggar Seni Matara Art center dan Sekolah TK yang kurikulumnya berpedoman pada budaya asli Indonesia.

“Saya pertama mengenal teman-teman di grup Sahabat Budaya itu tahun 2010, jadi kurang lebih udah 12 tahun. Kami awalnya mengenal karena memiliki kesamaan suka menonton dan menari wayang orang. Kemudian kita berlatih sama-sama, dengan peran masing-masing,” ungkapnya.

Lulusan jurusan Sosial Budaya dari Universitas Indonesia ini menuturkan bahwa Sydney Operas House di Australia adalah panggung pertama yang berhasil mereka jajar.

Dan, Jaya Suprana seorang musisi dan budayawan serta pemilik Jamu Jago dan istrinya Aylawati Sarwono adalah dua orang yang bekerja keras untuk membawa para perempuan tersebut ke panggung dunia.

Aylawati Sarwono memperagakan dengan hebat sosok seorang tokoh pewayangan bernama Gatot Kaca dari sudut pandang dirinya sebagai seorang seniman. Mata Aylawati terlihat berbinar saat memperagakan Gatot kaca yang menurutnya adalah maha karya seni asli Indonesia dan tak kalah dari Eropa (Foto: Erik Saputra/ THE EDITOR)

“Panggung pertama bersama di Sydney Opera House di Australia. Kebetulan Bu Ayla dan Pak Jaya Suprana punya kesempatan untuk membawa kami ke sana,” ungkapnya.

Sejauh ini, lanjutnya, memperbaiki taraf hidup para seniman dan penari yang terlibat dalam Wayang Orang adalah target utama grup ini.

Di masa pandemi corona seperti sekarang ini, memperkenalkan pagelaran seni dengan mengundang sanak saudara untuk membeli tiket adalah salah satu cara yang paling ampuh untuk menghidupkan seni pagelaran.

“Kadang kan kita melakukan pertunjukan-pertunjukan yang ditujukan untuk membantu komunitas-komunitas yang perlu dibantu, seperti Barata. Apalagi kan selama pandemi tidak ada pemasukan, nah kalau kita yang main kan tiketnya bisa cepat dijual, kita bawa keluarga sendiri aja udah banyak penontonnya, lalu temen-temen yang lain. Kebetulan sanggar seni saya tujuannya memperkenalkan budaya Nusantara dari usia dini, dari Sabang sampai Merauke. Jadi paling tidak anak-anak itu mengenal budaya tersebut,” tandasnya.

Anak Mulai Belajar Mengapresiasi Budaya Nusantara

Gendhis Soeharto, cucu Presiden Soeharto (Foto: Erik Saputra/ THE EDITOR)

Berteman dengan berbagai macam latar belakang perempuan dan dengan rentang usia yang jauh berbeda membuat anak muda seperti Gendhis Soeharto makin rajin belajar mengapresiasi budayanya sendiri.

Perempuan yang merupakan Ketua Yayasan GNOTA (gerakan nasional orang tua asuh ) ini mengaku dulu sempat hanya mengenal batik tanpa memahami arti dan filosofinya.

“Saya lebih belajar dan mengapresiasi budaya, karena mereka kan memang into budaya, jadi saya banyak belajar. Misalnya dulu cuma kenal batik, tapi nggak ngerti batik apa sih. Sekarang lebih kenal kalau macam batik itu ada banyak,” ungkapnya.

Ia ternyata diajak oleh Aylawati Sarwono untuk ikut serta mengisi acara pagelaran Wayang Orang di Istana Negara di tahun 2010 lalu.

Meski telah mengenal tarian daerah saat duduk di bangku sekolah dasar, namun ternyata bagi Gendhis, ia mampu lebih mengenal lagi budaya nusantara setelah sering bergaul dengan para anggota grup Sahabat Budaya.

“Waktu itu aku sama mbak sarah ikut sanggar mbak yessy. Terus 2010, aku diajak mbak ayla isi acara di istana, isi wayang orang. Aku sejak SD pun memang tertarik dengan tarian daerah, jadi sejak ketemu mereka menekuninya. Secara personal memang tertarik dengan budaya, namun mendalaminya ketika sering hang out dengan mereka,” katanya.

Setia Naik Ke Pentas Bersama Aylawati Sarwono

Top model era 1980-an, Enny Sukamto adalah satu dari sekian perempuan yang The Editor temui di restoran Canton.

Meski baru sembuh dari sakit, kecantikan Enny seolah tak lekang di makan waktu terutama saat mengungkapkan kegembiraannya dapat bertemu dengan sahabatnya dari grup Sahabat Budaya.

Top model di era 1980-an, enny Soekamto tampak cantik dan elegan seperti biasanya (Foto: Erik Saputra/ THE EDITOR)

“Saya seneng banget ya, dari pertemanan ini jadi akrab, karena satu grup, jadi kompak aja,” kata Enny yang terlihat memakai kebaya warna biru dan kain berwarna cokelat muda bermotif bunga.

Enny mengaku kebahagiannya tetap sama seperti sejak awal bergabung bersama dengan Aylawati Sarwono untuk membantu komunitas Wayang Orang agar kembali terkenal seperti sekarang ini.

Saat itu, kata Enny, Aylawati memangn sengaja mengundang orang-orang dari dunia fashion untuk mendongkrak popularitas pagelaran Wayang Orang.

“Iya, tadinya dari Ayla, dari komunitas wayang orang, Bu Ayla ngajak orang-orang fashion, ngajak untuk bantu komunitas wayang orang supaya jadi terkenal lagi. Yaudah, jadi saya ngikut di belakangnya Bu Ayla,” ungkapnya.

Aylawati membenarkan perkataan Enny. Ia mengatakan memang sengaja mengumpulkan orang-orang dengan latar belakang demikian untuk bisa mendorong seni Wayang Orang untuk tetap bertahan.

ERIK SAPUTRA/ THE EDITOR

Karena sejauh ini, Aylawati mengatakan bahwa pertemanan mereka mampu membantu menghidupi para seniman yang berada dibalik layar Wayang Orang besutannya.

“Nah dengan mengumpulkan ibu-ibu dan bapak-bapak yang peduli ini, mereka yang mau nari, mau mengeluarkan biaya, mau berlatih , mau main … tentunya para seniman wayang orang bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari setiap pertunjukan yang dibuat karena mereka bisa mendapat kesempatan melatih para pemain secara keseluruhan dan mendapat honor juga kareba mereka mendapat kesempatan tampil bersama,” tandasnya.

Nah, sekarang apakah anda sudah siap untuk memperkenalkan budaya anda juga seperti para wanita cantik ini? Ditunggu ya komentarnya di email redaksi The Editor.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru