THE EDITOR – Di saat sebagian besar pelaku usaha mikro bersusah payah mencari keunggulan kompetitif, sebuah anomali pasar yang sangat menguntungkan justru terjadi di sektor pangan Kalimantan Tengah (Kalteng). Komoditas telur ayam ras menjelma menjadi “tambang emas hijau” baru. Investigasi lapangan mengungkap bahwa minimnya populasi ayam petelur lokal berbanding terbalik dengan melonjaknya permintaan protein masyarakat, menciptakan celah keuntungan (margin) yang luar biasa tebal bagi para pelaku usaha logistik dan perdagangan.
Berikut adalah laporan investigasi mendalam The Editor mengenai anatomi bisnis telur di bumi Tambun Bungai, aliran modalnya, hingga rahasia mengapa bisnis ini tidak pernah sepi peminat.
Pertemuan DPRD Kalimantan Tengah yang dipimpin oleh Riska Agustin, Wakil Ketua I DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, didampingi Junaidi, Wakil Ketua III, beserta tim ke kantor Ditjen PKH Kementan pada Februari 2026 lalu menyoroti ketergantungan wilayah tersebut pada pasokan unggas dari Pulau Jawa, yang berdampak pada tingginya biaya logistik dan ketidakstabilan harga lokal.
Sebagai solusi, kunjungan kerja Riska Agustin berfokus pada penerapan sistem peternakan terintegrasi (integrated farming) untuk membangun kemandirian produksi dari hulu ke hilir. Model ini diharapkan dapat memangkas rantai pasok dan meningkatkan skala ekonomi peternak lokal.
Di balik luasnya daratan Kalimantan Tengah, tersimpan ironi ketergantungan pangan yang tinggi terhadap pasokan bahan baku dari Pulau Jawa. Kondisi ini justru dibaca oleh Riska Agustin sebagai peluang emas untuk memacu sektor peternakan ayam petelur dan pedaging lokal, yang kini dinilai sangat prospektif bagi investor dan peternak pemula demi memenuhi kebutuhan pasar daerah yang masih lowong.
ANOMALI PASAR: HARGA KONSUMEN TETAP TINGGI
Meskipun wilayah produsen utama di Pulau Jawa dan Kalsel sedang mengalami banjir stok (surplus) yang menyebabkan harga di tingkat peternak anjlok hingga Rp22.500 per kilogram, namun kondisi di pasar tradisional Kalimantan Tengah justru berbanding terbalik.
Berdasarkan data harian Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, rata-rata harga telur ayam ras di konsumen Kalimantan Tengah menyentuh Rp31.762 per kilogram.
CELAH PASAR: DEFISIT MASIF YANG MENJADI PELUANG

Hasil penelusuran The Editor dari dokumen data sektoral menunjukkan bahwa akar dari tingginya keuntungan bisnis ini adalah ketidakseimbangan pasokan yang ekstrem.
Setiap harinya, truk-truk besar dan kapal bermuatan penuh logistik merapat di gerbang-gerbang masuk Kalimantan Tengah. Di dalamnya, jutaan butir telur ayam tersusun rapi, menempuh perjalanan ratusan kilometer menyeberangi lautan. Fenomena ini bukan sekadar aktivitas bongkar muat biasa, melainkan cerminan dari ketergantungan akut pangan bumi Borneo. Di balik setiap butir telur yang dikonsumsi masyarakat Kalteng, tersimpan cerita tentang jurang defisit yang luar biasa besar dan perputaran uang triliunan rupiah yang justru dinikmati oleh pelaku usaha luar daerah.
Kebutuhan riil masyarakat Kalimantan Tengah terhadap komoditas ini nyatanya sangat masif. Setiap tahunnya, belasan ribu ton telur ayam ludes terserap pasar. Angka ini terus meroket seiring bertumbuhnya konsumsi rumah tangga, menjamurnya industri kuliner, hingga geliat sektor industri kreatif berbasis pangan di berbagai kabupaten dan kota. Telur telah menjadi kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar. Ironisnya, ledakan permintaan yang terjadi setiap hari ini tidak mampu diimbangi oleh fondasi peternakan di dalam daerah sendiri.
Data mutakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) membuka fakta pahit mengenai potret hulu peternakan lokal. Sepanjang tahun, seluruh peternak lokal yang tersebar di wilayah Kalimantan Tengah jika digabungkan hanya mampu menyumbang produksi sekitar 5.063 ton telur saja. Angka produksi yang sangat minim ini sekadar menjadi “setetes air di gurun pasir”, jauh dari kata cukup untuk memenuhi isi piring warga Kalteng. Ketimpangan ekstrem antara konsumsi riil dan kemampuan produksi ini menciptakan lubang defisit menganga yang wajib ditambal setiap harinya.
Celah kosong puluhan ribu ton inilah yang kemudian memicu lahirnya “gurita cuan” bagi para pemain besar dari luar daerah. Mengetahui peternak lokal tak berdaya memenuhi pasar, para distributor agresif mengambil alih kendali dengan mendatangkan pasokan masif dari Pulau Jawa dan Sulawesi. Mereka meraup untung melimpah dari tingginya ketergantungan pasar Kalteng yang terjebak dalam posisi tawar yang lemah. Selama investor dan peternak lokal belum berani turun tangan membangun ekosistem peternakan terintegrasi di tanah sendiri, maka selama itu pula perputaran uang miliaran rupiah dari isi dompet warga Kalteng akan terus mengalir keluar pulau.
