Gubernur Agustiar Manfaatkan Jutaan Transaksi Receh Hadapi Krisis APBD

Must read

THE EDITOR – Di tengah penurunan drastis APBD Kalimantan Tengah dari Rp10,2 triliun pada tahun 2025 menjadi hanya sekitar Rp5,4 triliun pada tahun 2026 akibat kebijakan efisiensi nasional, Gubernur Agustiar Sabran dipaksa memutar otak. Salah satu cara yang ia lakukan adalah dengan mengesekusi efisiensi anggaran birokrasi di hulu untuk kemudian dialihkan menjadi likuiditas program inklusif di hilir, dengan memanfaatkan perbankan daerah (Bank Kalteng) sebagai motor penggerak digitalnya.

Karena keberhasilan ini, di tahun 2026, Bank Kalteng mencapai puncak tertinggi prestasi di dunia perbankan yakni predikat Bintang 5 (Excellent) yang dilengkapi dengan penghargaan individu TOP CEO BUMD 2026 untuk Direktur Utama dalam ajang TOP BUMD Awards 2026, panggung penghargaan dan pembelajaran BUMD yang diadakan oleh Majalah Top Business yang bekerja sama dengan Institut Otonomi Daerah (i-OTDA).

Padahal, di tahun-tahun sebelumnya, Bank Kalteng hanya meraih titik tertentu saja dalam ajang serupa seperti: juara kategori BPD Bintang 4 di tahun 2025, TOP BUMD Awards 2024 di tahun 2024. 

Lalu, bagaimana cara Agustian agar mampu mengulang prestasi yang sama di tahun 2023 lalu di level Excellent di tengah himpitan efisiensi?

GUBERNUR AGUSTIAR MEMANFAATKAN UANG RECEH SEBAGAI PENDORONG EKONOMI

Sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP) Bank Kalteng, Gubernur melakukan penataan tata kelola total guna mengubah paradigma Bank Pembangunan Daerah (BPD) dari bank konvensional pasif menjadi penggerak ekonomi digital makro.

Salah satunya dengan meluncurkan dompet digital bernama EPOK atau dalam bahasa Dayak berarti dompet. Program ini dipakai untuk menyatukan sistem pembayaran lewat QRIS (Quick Responses Code Indonesian Standart) dengan memakai aplikasi mobile banking milik Bank Kalteng bernama Betang Mobile.

Dari investigasi The Editor diketahui bila program EPOK ini dipakai oleh Gubernur untuk memberi kemudahan bagi pelaku usaha UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dan pedagang tradisional untuk mendapatkan modal perbankan. Sebab dari laporan yang masuk ke meja Agustiar, ternyata pelaku ekonomi di atas sulit mengakses modal di bank karena tidak memiliki rekam jejak keuangan yang rapi.

Strategi memakai nama lokal sebagai aplikasi juga membuat masyarakat mudah menerima program ini. Jadi, perbankan tinggal melihat laporan penjualan harian, mingguan, dan bulanan mereka secara real time lewat ponsel.

Program ini dilakukan sejak awal tahun 2025 lalu. Petugas diturunkan langsung ke pasar-pasar tradisional untuk menarik minat pedagang sayur, ikan dan sembako. 

Prosedur rumit dan panjang dipangkas jadi singkat dan mudah. Potongan transaksi 0% dijadikan sebagai modal awal untuk menarik minat pelaku usaha. Sehingga pedagang menerima utuh uang sesuai dengan harga yang mereka jual.

Untuk pedagang yang tidak terbiasa dengan alat digital tersebut, Gubernur menempatkan agen-agen perbankan di kluster-kluster pasar untuk membantu mereka mengoperasikan aplikasi tersebut.

Jika sebuah UMKM menunjukkan aktivitas transaksi yang konsisten dan sehat selama minimal 3 hingga 6 bulan, sistem secara otomatis akan mengkategorikan merchant tersebut sebagai “Eligible” (layak menerima kredit).

Skema kredit tanpa agunan tambahan diberita dengan plafon dimulai dari Rp5 juta sampai Rp50 juta.

Berdasarkan hasil investasi The Editor, hingga tahun 2026, berikut adalah peta sebaran wilayah pasar dengan tingkat adopsi digital tertinggi:

1. Zona Kotawaringin (Kluster Perdagangan & Jasa): Tumbuh 12,45% (Tertinggi)

2. Zona Kapuas & Barito (Kluster Ketahanan Pangan): Tumbuh 9,82%

3. Zona Pusat (Kluster Pemerintahan & UMKM Kreatif): Tumbuh 7,15%

Jutaan transaksi receh dari pasar tradisional yang biasanya mengendap di bawah bantal kini masuk ke dalam sistem sirkulasi Bank Kalteng. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu utama melonjaknya Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Kalteng hingga menyentuh Rp13,8 triliun dan membawa bank ini meraih penghargaan Bintang 5.

Untuk meringankan beban pedagang agar tidak terasa berat membayar cicilan di akhir bulan, Bank Kalteng menerapkan opsi cicilan mikro harian atau mingguan yang langsung dipotong secara otomatis dari saldo pendapatan QRIS EPOK mereka.

Bagaimana pendapat anda tentang kebijakan di atas? Tulis di kolom komentar ya.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Baru