Menantang Sejarah? Israel Nekat Gelar Festival LGBT 2026 di Puing-Puing Kota Sodom dan Gomora

Must read

THE EDITOR – Israel mengadakan Festival Pride Land atau disebut juga Festival LGBT yang terbesar di dunia di kota bekas reruntuhan Sodom dan Gomora di Gurun Yudea pada Juni 2026 mendatang. Di kota tersebut, di masa lalu, segerombolan pria Gay pernah mendobrak rumah Lot, keponakan Abraham dan memaksa dua orang malaikat yang tengah bermalam di rumahnya untuk berhubungan seksual.

Sikap yang tidak terpuji ini membuat Kota Sodom dan Gomora dihukum dengan hujan api dan belerang yang membakar seluruh kota dan isinya. Peristiwa bersejarah ini tercatat dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru secara detail. Bagi Bangsa Israel dan seluruh Orang Kristen di seluruh dunia kejadian tersebut menjadi tanda peringatan keras agar manusia tidak berbuat cabul.

Akan tetapi, ada apa dengan Israel di jaman modern saat ini? Mengapa acara yang penuh dengan kontroversi ini diadakan di kota yang pernah dihancurkan oleh Tuhan yang tercatat dalam kitab-kitab sakral mereka?

Sebelum kita kembali pada masa di saat kota Sodom dan Gomora dihancurkan hingga jatuh ke dasar Laut Mati, maka baiknya kita ketahui dulu bersama bahwa Festival Pride Land ini rencananya akan menampilkan para seniman internasional serta aksi musik DJ dari komunitas LGBT Israel. 

The Jerusalem Post pada 19 April 2026 menyebutkan bila penyelenggara serta CEO dari acara tersebut Jonathan Gadol mengatakan bila festival pride land ditujukan untuk menyampaikan pesan kepada dunia tentang keterbukaan, penerimaan dan arti pentingnya membangun komunitas bagi LGBT. 

Selama 4 hari, acara tersebut akan dibuka selama 24 jam dengan menyewa 15 hotel berbintang, kawasan pantai dan arena pertunjukan pusat dan pesta tanpa henti. 

Tampaknya, tak sekedar kehidupan malam saja yang ingin ditunjukkan, sebab selama festival berlangsung, area ramah keluarga dengan kegiatan khusus untuk anak-anak, lokakarya ramah keluarga serta pemandangan khusus untuk bersantai akan dibuka. 

BEGINI CERITANYA

Kisah migrasi Abraham dan keponakannya, Lot, menjadi salah satu narasi besar yang tercatat dalam Kitab Kejadian pada Alkitab Perjanjian Lama. Abraham, yang dihormati sebagai leluhur bangsa Israel dan bapa segala bangsa, memilih menetap di Tanah Kanaan. Sementara itu, Lot memilih tinggal di Sodom, sebuah kota yang kelak dikenal karena kehancurannya. 

Lot merupakan anak dari Haran, saudara kandung Abraham. Setelah ayahnya wafat, ia diadopsi oleh Abraham dan Sara, lalu ikut mengembara menuju Kanaan.

Merujuk Kitab Kejadian 13 ayat 5, Lot membawa serta seluruh harta warisan ayahnya, termasuk domba, sapi, dan kemah, ke tempat Abraham berada. Setibanya di wilayah perkemahan antara kota Betel dan Ai, kekayaan kedua keluarga ini terus bertambah pesat. Hewan ternak mereka berkembang biak hingga padang rumput di Kanaan tidak lagi mampu menampung semuanya.

Keterbatasan lahan memicu perselisihan antara para penjaga ternak Abraham dan Lot. Padahal, Alkitab mencatat wilayah Kanaan yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham berkisar antara 20.000 hingga 25.000 kilometer persegi, membentang dari wilayah modern Lebanon, Suriah, Yordania, hingga Israel dan Palestina.

Guna menghindari konflik berkepanjangan, Abraham secara bijaksana mengusulkan agar mereka berpisah. Ia memberikan kesempatan pertama kepada Lot untuk memilih wilayah tinggalnya. Lot kemudian memilih Distrik Yordan bagian selatan, sebuah area subur yang kaya akan sumber air dan dekat dengan Sodom.

Alkitab menyebutkan bahwa Sodom berdekatan dengan kota Gomora, Adma, Zeboyim, dan Bela. Kota-kota ini dipimpin oleh raja-raja yang sempat menyerbu Sodom dan menjarah harta Lot. Namun, Abraham yang memimpin lebih dari 300 pekerja terlatih berhasil merebut kembali seluruh harta tersebut.

Dalam narasi Alkitab, Sodom digambarkan sebagai kota dengan tingkat moralitas yang runtuh karena penduduknya kerap menentang perintah Tuhan. Meski tinggal di sana, Lot dikisahkan tidak ikut arus dan merasa menderita akibat lingkungan sosialnya yang korup. Penentangan warga Sodom memicu murka Tuhan untuk memusnahkan kota tersebut, meski Abraham sempat bernegosiasi demi menyelamatkan keponakannya.

ORANG-ORANG SODOM INGIN MENIDURI MALAIKAT YANG DIUTUS OLEH TUHAN

Kata-kata di atas memang sangat provokatif tapi memang benar itulah adanya.

Catatan teologis dalam Kitab Kejadian mengenai runtuhnya Kota Sodom memuat sebuah peristiwa krusial yang mengawali datangnya hari penghakiman. Berdasarkan teks Alkitab Perjanjian Lama, peristiwa tersebut bermula ketika dua malaikat diutus untuk mendatangi kediaman Lot.

Merujuk pada Kitab Kejadian 13 dan 19, Lot menyambut kedatangan kedua utusan tersebut di gerbang kota pada sore hari. Ia kemudian bersujud sebagai bentuk penghormatan dan mendesak mereka untuk bermalam di rumahnya. Setelah sempat menolak, kedua utusan itu akhirnya menerima tawaran Lot.

Namun, situasi berubah mencekam saat malam tiba. Sebelum para penghuni rumah beristirahat, kediaman Lot dikepung oleh massa pria dari seluruh penjuru Kota Sodom, mulai dari kelompok usia muda hingga tua. Mereka berteriak dari luar dan menuntut agar Lot menyerahkan tamu-tamunya untuk memenuhi hasrat seksual warga Kota Sodom tersebut.

MESKI DIBUAT BUTA TAPI GEROMBOLAN GAY ITU TETAP TIDAK MENYERAH!

Teks Kitab Kejadian menceritakan bahwa kedua malaikat tersebut sempat membutakan mata warga Sodom yang memaksa masuk di depan pintu rumah Lot. Meski kehilangan penglihatan, massa dikisahkan tetap bersikeras mencari jalan masuk demi melampiaskan hasrat seksual mereka kepada kedua utusan itu.

Di tengah situasi yang semakin kacau, Lot berupaya menawarkan kedua anak perempuannya yang masih perawan sebagai bentuk negosiasi. Namun, tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh warga. Massa hanya menginginkan kedua utusan yang secara tradisional dalam narasi teologis Alkitab digambarkan sebagai sosok pria berpenampilan rupawan.

Kisah dari teks Alkitab ini dipercayai oleh pemeluk agama Kristen dan Yahudi di seluruh dunia sebagai peristiwa historis. Dalam ajaran teologi Kristen, kehancuran Sodom akibat perilaku maksiat penduduknya menjadi catatan penting mengenai konsekuensi hukuman berat atas tindakan amoral dan seks bebas. Di sisi lain, tradisi Yahudi arus utama juga menentang keras praktik homoseksualitas, yang kemudian melahirkan berbagai produk budaya populer, termasuk film, untuk menyuarakan penolakan tersebut.

KONTROVERSI PENYELENGGARAAN FESTIVAL LGBTQ+ DI ISRAEL

Meskipun memiliki akar teologis yang ketat, kebijakan modern Pemerintah Israel yang mengizinkan pergelaran festival Pride Land kini menuai sorotan tajam. Muncul pertanyaan dari berbagai pihak mengenai alasan negara tersebut membiarkan festival komunitas marjinal digelar secara terbuka selama empat hari berturut-turut tanpa pembatasan aktivitas.

Kritik tajam salah satunya datang dari Rita Wahyu Wulandari, seorang penulis, teolog, dan pengajar Alkitab Ibrani. Melalui akun Instagram pribadinya, @ritawahyu, ia menyoroti pemilihan lokasi acara yang dinilai provokatif. 

“Festival ini diadakan di atas puing Kota Sodom dan Gomora di Ein Bokek di Laut Mati, lokasi kuno Sodom dan Gomora. Dari sinilah kontroversi memuncak, memicu reaksi keras di berbagai kalangan Kristen. Apakah kefasikan hari ini terjadi di Israel modern yang juga disokong oleh Kristen Zionis yang ‘mabuk Israel’ dan membenarkan kegiatan represif apa pun yang mereka lakukan atas nama ‘ini adalah tanah wilayah kami’, sehingga gereja-gereja yang berumur ribuan tahun pun harus dihancurkan oleh mereka?” tulis Rita. 

Lebih lanjut, Rita menyayangkan keputusan Pemerintah Israel yang mendukung penuh Festival Pride Land tersebut. Menurutnya, penyelenggaraan acara mewah itu terasa memprihatinkan karena diadakan di tengah eskalasi konflik regional serta penderitaan yang dialami warga Muslim maupun Kristen di Jalur Gaza.

CATATAN SAINS DAN ARKEOLOGI MODERN

Kisah hancurnya kota kuno ini menarik perhatian para peneliti modern dari sudut pandang ilmiah. Jurnal ilmiah Scientific Reports (jaringan Nature) sempat mempublikasikan penelitian pada September 2021.

Laporan tersebut menyatakan bahwa sekitar tahun 1650 SM (sekitar 3.600 tahun lalu), sebuah ledakan kosmis berkekuatan besar menghancurkan Tall el-Hammam, sebuah kota Zaman Perunggu Pertengahan di Lembah Yordania Selatan, timur laut Laut Mati. Sejumlah peneliti berspekulasi bahwa Tall el-Hammam merupakan situs historis dari kota Sodom dan Gomora. Namun, artikel ilmiah ini kemudian ditarik kembali (retracted) oleh pihak jurnal pada tahun 2025 karena adanya sanggahan mengenai bukti geologisnya.

Di sisi lain, ensiklopedia sejarah Britannica mencatat teori berbeda. Berdasarkan pendekatan historis-geografis, Sodom dan Gomora diperkirakan hancur sekitar tahun 1900 SM akibat gempa bumi tektonik yang memicu pencairan tanah (liquefaction). Meskipun terdapat perbedaan penanggalan kronologis antara studi kosmis dan catatan sejarah, kedua sumber sepakat bahwa lokasi geografis kota-kota kuno yang hancur tersebut berada di kawasan sekitar Laut Mati saat ini.

More articles

1 COMMENT

  1. Israel Government is not Jewish. They are Zionist. Zionist rejects present of God. They believe with Dajal. As part of soldier of Dajal, they are waiting his coming. The LGBT party is believed can fastern coming of Dajal who will claim himself as God. That is why Israelis allow such as event.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Baru