Teroris Islam Picu Perang Terbuka di Nigeria, Masyarakat Kristen Diserukan Bersiap Siaga Hadapi Perang Besar

Must read

THE EDITOR – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Nigeria, Fom Dalyop Chollom mengatakan bila serangan para teroris Islam radikal terhadap sembilan anggota keluarga Pendeta Ezekiel Dachomo adalah sebuah pernyataan perang terhadap penduduk asli Kristen di negara tersebut.

Sebagaimana diketahui, sembilan nyawa melayang seketika saat para teroris masuk dengan paksa ke rumah Pendeta Ezekiel di Desa Kum, Wilayah Riyom, Negara Bagian Plateau, Nigeria pada Sabtu, 11 Juli 2026 lalu. 

Baca Juga: Seluruh Keluarganya Dibantai Dalam 1 Hari: Pendeta Ezekiel Memanggil Seluruh Umat Kristen Nigeria Melawan Islamisasi Paksa Lewat Gerakan Sipil

Dari sembilan orang, kebanyakan diantari korban adalah perempuan dan anak-anak, termasuk Jennifer Yohana, seorang bayi mungil yang baru berusia tiba bulan.

Mereka tewas seketika saat para teroris melepaskan tembakan membabi buta kepada korban yang tengah terlelap tidur. 

Para teroris ini marah karena tidak menemukan Ezekiel berada di antara mereka. 

“(Pembunuhan) ini adalah manifestasi nyata dari fakta bahwa orang-orang ini telah menyatakan perang terhadap penduduk asli Kristen,” ungkap Fom saat menghadiri pemakaman massal yang diadakan di Desa Kum pada Senin, 13 Juli 2026.

SURAT ANCAMAN PEMBUNUHAN DARI TERORIS ISLAM DI BALIK PINTU GEREJA

Ezekiel Dachomo dalam video penuh tangisan yang diunggah oleh @Didier.neza di akun Instagramnya mengungkapkan bila akan ada gerakan revolusioner yang akan dilakukan oleh pemuda Kristen di seluruh wilayah Nigeria bila pembunuhan semacam itu terus terjadi. Seruan ini menjadi titik baru perjuangan umat kristiani di tanah leluhur mereka sendiri di Nigeria (Foto: Instagram @Didier.neza).
Ezekiel Dachomo dalam video penuh tangisan yang diunggah oleh @Didier.neza di akun Instagramnya mengungkapkan bila akan ada gerakan revolusioner yang akan dilakukan oleh pemuda Kristen di seluruh wilayah Nigeria bila pembunuhan semacam itu terus terjadi. Seruan ini menjadi titik baru perjuangan umat kristiani di tanah leluhur mereka sendiri di Nigeria (Foto: Instagram @Didier.neza).

Hanya berselang dua hari setelah prosesi pemakaman massal yang memilukan pada Senin, 13 Juli 2026, teror baru kembali mengetuk pintu. Melalui sepucuk surat kaleng yang dikirimkan kepada salah satu jemaat gerejanya bernama Zakameko, kelompok militan tersebut melayangkan ancaman mati lanjutan.

Isinya singkat, namun berbau kematian: Ezekiel dan jemaatnya adalah target berikutnya. Mereka akan dihabisi dengan cara yang sama seperti keluarganya.

Namun, alih-alih melarikan diri atau mencari suaka ke luar negeri, meski sebelumnya ia sempat ditawari perlindungan di Australia dan Austria, tetapi, Pendeta Ezekiel memilih bertahan. Duka akibat kehilangan sembilan darah dagingnya tidak berujung pada ratapan keputusasaan; air matanya telah membeku menjadi keteguhan yang mengerikan.

Baginya, kedukaan ini bagai pisau yang dihujamkan berulang kali ke dadanya, sebab bukan kali pertama terjadi. Bertahun-tahun lalu, nenek tercintanya, Ngo Martha, dibunuh secara keji dengan jantung yang diambil. Pamannya, Dangai, dimutilasi dan lidahnya dipotong. 

Kini, hampir seluruh garis keturunannya musnah dalam satu malam. Para peneror tidak memberikan ruang bagi Ezekiel untuk meratap.

Melalui surat itu, teroris berupaya untuk mematikan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.

EZEKIEL TIDAK MAU DIAM!

Di hari yang sama, Ezekiel merekam kemarahan sekaligus keteguhannya yang luar biasa dan membaginya lewat sebuah video emosional yang diunggah oleh @Didier.neza di akun Instagram.

Meski singkat, tapi Sang Pendeta menolak tegas untuk tunduk pada ancaman teroris, meski beberapa jam sebelumnya sembilan anggota keluarganya dibunuh dengan brutal.

Dalam rekaman tersebut, Pendeta Ezekiel secara terbuka meluapkan kemarahannya atas ketidakmampuan pemerintahan Presiden Bola Tinubu dalam melindungi warga sipil. Ia menegaskan tidak akan lagi memohon pertolongan kepada negara yang menutup mata saat darah rakyatnya tumpah.

MENGAJAK KAUM MUDA KRISTEN NIGERIA BERSATU MELAWAN ISLAMISASI PAKSA

Ezekiel mengaku tidak pernah takut pada ancaman teroris Jihadis Islam atas dirinya, bahkan bila mereka ingin memporak-porandakan seluruh Afrika. 

Dengan lantang ia katakan agar negara segera menghentikan agenda islamisasi yang sedang terjadi di Nigeria. Ezekiel tidak takut bila ia ditangkap dengan pernyataannya itu.

“Saya mungkin akan lebih aman bila ditangkap oleh polisi dan tentara,” katanya dengan lugas.

Tangis pilu ratusan keluarga mengiringi jatuhnya gundukan tanah pertama yang menimbun deretan jasad kaku korban penembakan oleh kelompok bersenjata. Peristiwa tersebut terjadi di Desa Kawel, wilayah Bokkos, Jos, Nigeria, pada Senin (22/06/2026) pukul 02.00 dini hari waktu setempat (Foto: Instagram/ @masskeemz)
Tangis pilu ratusan keluarga mengiringi jatuhnya gundukan tanah pertama yang menimbun deretan jasad kaku korban penembakan oleh kelompok bersenjata. Peristiwa tersebut terjadi di Desa Kawel, wilayah Bokkos, Jos, Nigeria, pada Senin (22/06/2026) pukul 02.00 dini hari waktu setempat (Foto: Instagram/ @masskeemz)

Dengan suara yang berani, Ezekiel mengajak seluruh orang Kristen di seluruh dunia untuk bangkit melawan ancaman ini. Sebab, baginya, ancaman semacam itu sudah tidak berarti lagi.

Ezekiel siap menghadapi para teroris itu, dan bila ia harus mati maka akan ada revolusi massal hingga ke wilayah south-south Nigeria yang meliputi Kota Akwa Ibom, Bayelsa, Cross River, Delta, Edo, dan Rivers yang tercakup dalam enam negara bagian di pesisir area Delta Nigeria.

Wilayah tersebut merupakan wilayah dengan mayoritas umat Kristen, dan bila terjadi pembantaian di orang Kristen di Negara Bagian Plateau, maka akan memicu kemarahan bersenjata dari saudara seiman mereka.

Wilayah tersebut juga merupakan jantung ekonomi Nigeria karena menjadi pusat pertambangan minyak dan gas. Dan, wilayah tersebut terkenal dengan basis militan sipil yang kuat dan tangguh.

“Kami diam bukan karena kami takut pada teroris. Kami diam bukan karena takut pada tentara karena kami tahu sebagai dari mereka telah disusupi oleh (paham teroris) Boko Haram,” tegasnya.

SELURUH NEGARA BAGIAN KRISTEN DIMINTA BERSIAP UNTUK PERANG

Ezekiel mengumumkan bahwa setiap tempat di Nigeria harus bersiap-siap untuk perang sebab para teroris akan kembali datang membunuh orang Kristen.

Menurutnya, pemuda dan jemaat Kristen tidak bisa mengandalkan militer Nigeria yang telah disusupi oleh teroris. Sehingga, jawaban akhir untuk melawan teroris ini adalah dengan mengorganisir milisi sipil.

KRISTEN SIAP MEMBELA DIRI DI NIGERIA

Dengan menyerukan kesiapan perang dari Plateau State, suku Igbo, hingga wilayah South-South, Ezekiel menyatakan bahwa toleransi dan kesabaran umat Kristen telah habis. 

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa jika agenda pembersihan etnis dan Islamisasi paksa ini tidak dihentikan oleh pemerintah, komunitas minoritas siap menghadapi skenario terburuk, yaitu pecahnya perang saudara skala nasional demi mempertahankan eksistensi iman dan tanah leluhur mereka

NIGERIA TIDAK AMAN – 200 TEWAS TANPA ADA TINDAK LANJUT POLISI

Tangis anak perempuan itu pecah saat melihat ayah, ibu, dan adik-adiknya diangkut dengan mobil pikap menuju tempat pemakaman karena keluarganya tewas dalam serangan teroris di desanya pada Senin, 22 Juni 2026 (Foto: Instagram @masskeemz).

Tangis anak perempuan itu pecah saat melihat ayah, ibu, dan adik-adiknya diangkut dengan mobil pikap menuju tempat pemakaman karena keluarganya tewas dalam serangan teroris di desanya pada Senin, 22 Juni 2026 (Foto: Instagram @masskeemz).

Nigeria menjadi satu wilayah pembunuhan paling sadis di tahun 2026 ini sebab setidaknya 200 warga desa dibantai oleh teroris bersenjata lengkap di Yelwata, Guma, Negara Bagian Benue, Nigeria.

Media lokal Truth Nigeria mengungkapkan bila pembunuhan massal ini dilakukan oleh teroris Islam yang menggunakan bahasa Fulani untuk merebut wilayah tinggal warga setempat secara paksa.

Serangan dimulai sekitar pukul 10 malam pada Kamis malam. Menurut para saksi, lebih dari 40 pria bersenjata menyerbu desa menggunakan sepeda motor secara berpasangan. Mereka meneriakkan “Allahu Akbar”sambil melepaskan tembakan ke arah warga sipil, bergerak dari rumah ke rumah, membakar tempat tinggal, dan membunuh secara membabi buta.

“Mereka datang dari Rukubi di Doma, Keana, Obi, dan wilayah lainnya di Negara Bagian Nasarawa,” kata Mton Matthias, seorang pemimpin pemuda setempat. 

“Mereka mengepung Yelwata, berbicara dalam bahasa Hausa dan Fufulde, lalu mulai membantai orang-orang—sebagian besar adalah perempuan, anak-anak, dan keluarga pengungsi yang mengira mereka telah menemukan tempat aman di sini,”.

“Kami masih menemukan mayat-mayat di semak-semak,” tambahnya. “Jumlah korban tewas terus meningkat setiap jamnya.”

Hope Faith Ori, seorang petugas data dari Yayasan Keadilan, Perdamaian, dan Pengembangan (JPDF) Keuskupan Katolik Makurdi, mengonfirmasi bahwa setidaknya 150 jenazah telah dihitung sejauh ini, dengan 70 di antaranya sudah dikirim ke kamar jenazah. 

Banyak mayat masih berserakan di lahan pertanian; beberapa di antaranya hangus terbakar hingga tidak dapat dikenali.

“Kami memperkirakan jumlah korban tewas akhir akan melebihi 200 orang,” kata Ori.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Baru