THE EDITOR – Jakarta tahun 2026 bangga dengan status kota global modern, namun di balik dinding pencakar langit, jeritan warga yang haus akan air bersih justru semakin nyaring. Tim investigasi The Editor menembus gang-gang sempit ibukota dan menemukan kenyataan pahit: ribuan warga masih menggantungkan hidup pada deru roda gerobak air keliling.
Hasil penelusuran redaksi, ditemukan bila bahwa mayoritas warga yang terisolasi dari air bersih ini menumpuk di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Secara total, mereka yang belum tersentuh jalur pipa ini memang hanya tersisa 18% saja dari keseluruhan populasi Jakarta. Namun, plot twist terbesar ada pada nominal yang bergulir di balik layar: angka yang dikeluarkan untuk memasang pipa-pipa baru tersebut mencapai nilai fantastis Rp24 triliun.
BACA JUGA: SEJARAH SWASTANISASI JUAL BELI AIR DI JAKARTA
Pemerintah mengklaim biaya raksasa Rp24 triliun ini diperkirakan sengaja diguyur agar target 100 persen warga Jakarta mendapat akses air bersih di tahun 2030 nanti bisa tercapai.
Sebuah proyek megah dengan tenggat waktu tiga tahun dari tahun 2027 nanti. Namun, mengapa untuk mengalirkan hak dasar 18% warga saja harus menelan dana yang setara dengan proyek infrastruktur monster? Apakah angka Rp24 triliun ini benar-benar murni untuk pipa, atau ada pihak yang sengaja memperlambat proyek demi menjaga gurita bisnis air eceran tetap hidup?
“Biayanya sekitar 23 triliun lebih. Pastinya sekitar 24 triliun, dan akan dikerjakan dalam 3 tahun nanti sampai 2030 agar tercapai 100%,” ungkap Direktur Utama PT PAM Air Minum Jaya (Perseroda) saat ini dijabat oleh Arief Nasrudin kepada The Editor usai ditemui dalam acara bincang-bincang di Balaikota dengan judul Akselerasi Pembangunan Jakarta Menuju Kota Global pada Jumat kemarin.
Dalam rekam jejak e-procurement PAM Jaya yang dikeluarkan tahun 2025 lalu, diketahui bila PAM Jaya mewajibkan penggunaan material pipa jenis HDPE (High Density Polyethylene SDR11 PN16 dan pipa baja khusus untuk area transmisi utama. Kabarnya pipa jenis ini tahan terhadap tekanan udara dan anti karat hingga 50-100 tahun.

Jakarta’s roving water vendors navigate tight lanes, pushing jerry cans from house to house. Charging just IDR 3,000–5,000 per container, they provide local families with vital, instant access to clean water without the long wait. (Photo: Ahmad Darmansyah/https://djpk.kemenkeu.go.id).
Estimasi harganya juga dijabarkan tergantung dari besarnya diameter pipa tersebut. Dimana, akan ada 2 jenis ukuran yang akan dipakai yaitu: Pipa Retikulasi mentah yang akan dipakai di area lingkungan warga berukuran 100 mm sampai 200 mm seharga Rp 200.000 hingga Rp 700.000 per meter.
Sementara itu, untuk pipa transmisi utama dengan ukuran 500 mm ke atas akan mencapai harga Rp 2.500.000 – Rp 5.000.000 per meter. Pipa ini akan dipakai untuk mengalirkan air dari instalasi pengolahan iar di pusat.
PUSAT PERBELANJAAN MEWAH DI INDONESIA NYARIS SURPLUS AIR, BEDA DENGAN MALAYSIA
Perlu anda ketahui, pusat perbelanjaan sekelas Suria KLCC, Sunway Putra Mall, Bangsar Shopping Centre di Kuala Lumpur, Ibukota Malaysia di tahun 2024 lalu pernah mengalami krisis air karena berbagai macam alasan seperti pipa air utama yang pecah mendadak, mati lampu atau bahkan karena pencemaran.

Hal semacam ini nyaris tidak terjadi di Ibukota Jakarta dimana saat lampu mati maka warga ibukota akan berbondong-bondong datang ke mall untuk menikmati kenyamanan dan suasana yang nyaris tanpa mati lampu sekalipun.
Dirut PAM Jaya mengatakan sejauh ini mereka akan berusaha sebaik mungkin agar air dapat dinikmati oleh masyarakat di kawasan Jakarta Utara karena daerah tersebut paling banyak belum dialiri air bersih milik PAM.
Bayangkan, bagaimana rasanya bagi warga miskin di Jakarta Barat dan Utara, menunggu hingga tahun 2030 agar bisa menikmati fasilitas dasar semacam itu.
3 Tahun tentunya menjadi waktu yang teramat lama untuk sekadar menikmati air bersih tanpa bau karat. Sementara anggaran Rp24 triliun terus mengalir di atas kertas, warga harus terus merogoh kocek dalam-dalam setiap hari demi membeli air jeriken dari gerobak keliling.
PENGAMAT: AIR ADALAH HAK DASAR YANG TAK BISA DITAWAR
Jakarta sedang bersolek. Peringkatnya sebagai kota terbaik dunia perlahan merangkak naik, dari posisi 74 kini bertengger di nomor 71. Namun, jika Anda berjalan di balik bayang-bayang gedung pencakar langit Sudirman-Thamrin, sebuah realitas pahit langsung menyengat indra kita. Kota global sejati tidak diukur dari seberapa tinggi beton menembus awan, melainkan dari seberapa bersih air yang mengalir dari keran warganya.
Hal ini menjadi sorotan tajam dari pengamat kebijakan publik, Sugiyanto. Dalam sebuah analisis kritis, ia membongkar bahwa Jakarta masih terjebak pada fatamorgana pembangunan fisik, sementara urusan paling mendasar manusia—sanitasi dan air bersih—masih menjadi barang mewah yang diperdebatkan.
“Di semua negara, sanitasi air sudah seharusnya bersih. Di Indonesia, bahkan sudah ada Undang-Undang (UU)-nya. Ini tidak bisa ditawar. Sudah ada Perda-nya,” tegas Sugiyanto.
Sorotan investigasi kini tertuju pada ambisi raksasa PAM JAYA yang sedang berpacu dengan waktu menuju tenggat waktu. Angka investasi Rp24 triliun digelontorkan untuk menyusun sisa jaringan pipa di sisa waktu yang kian mencekik.
Namun, Sugiyanto mengingatkan bahwa ini bukan sekadar urusan korporasi pelat merah. “Target PAM JAYA ini jadi target Pemprov DKI Jakarta. Target MCK (Mandi, Cuci, Kakus) juga harusnya sudah ada,” ujarnya.
