THE EDITOR – Malam itu pecah pada Sabtu, 11 Juli 2026, ketika keheningan Komunitas Kum di Wilayah Riyom, Negara Bagian Plateau, Nigeria Tengah, robek oleh rentetan tembakan AK-47 dari sekelompok milisi radikal bersenjata yang diidentifikasi berbicara bahasa Fulfulde (suku Fulani) mendobrak pintu rumah pendeta sembari mengacungkan senjata senjata.
“Di mana Dara (ayah)?” tanya teroris itu seperti dikutip dari TruthNigeria.Com.
Yang mereka cari adalah Pendeta Ezekiel Dachomo, Regional Chairman dari Church of Christ in Nations (COCIN) sekaligus salah satu suara paling vokal di dunia melawan persekusi Kristen di Nigeria.
BACA JUGA: Isak Tangis Keluarga Iringi Penguburan Massal 22 Umat Kristen Korban Penembakan oleh Islam Radikal di Nigeria
Ketika mendapati Pendeta Ezekiel tidak ada di tempat, amarah para teroris itu tumpah tanpa batas. Mereka melepaskan tembakan membabi buta ke arah anggota keluarga besar sang pendeta yang tengah terlelap tidur.
Sembilan nyawa melayang seketika, didominasi oleh perempuan dan anak-anak, termasuk Jennifer Yohanna, seorang bayi mungil yang baru berusia tiga bulan.
Delapan orang lainnya menderita luka tembak kritis. Pembantaian ini bukanlah kriminalitas biasa, melainkan hukuman terencana bagi sang pendeta yang menolak untuk dibungkam.
Ezekiel dibungkam oleh teroris karena selalu vokal membongkar genosida terselubung dalam konflik perebutan lahan (land-grabbing) terhadap minoritas Kristen di wilayah tersebut, serta dianggap sering memanggil komunitas internasional ke Nigeria.
Padahal, Kekristenan sudah mengakar kuat jauh sebelum teroris itu datang ke Negara Bagian Plateau.
Perlu anda ketahui, para teroris Fulani Islam ini baru muncul di Nigeria pada tahun 1994. Karena penduduk asli di Negara Bagian Plateau adalah mayoritas beragama Kristen, bahkan sering disebut sebagai Yerusalemnya Nigeria.
Para teroris ini menggunakan dan mengeksploitasi identitas Suku Fulani karena mereka dianggap memberi keuntungan strategis besar bagi agenda mereka.
Fulani adalah salah satu etnis dan suku tertua, terbesar dan paling banyak tersebar di Benua Afrika, khususnya di Afrika Barat.
Para teroris ini merekrut pemuda dan menyebarkan propaganda tentang kesukuan mereka untuk menguasai tanah-tanah wilayah yang tidak pernah jadi milik mereka. Pola terorisme yang selalu terjadi di hampir seluruh wilayah Afrika dan dunia pada umumnya.
SIAPA SAJA KORBANNYA?
Korban dalam tragedi pembantaian di Komunitas Kum, Riyom, Negara Bagian Plateau (11-12 Juli 2026) adalah sembilan (9) orang anggota keluarga besar (extended family) dari Pendeta Ezekiel Dachomo. Berdasarkan data resmi dari proses pemakaman massal, seluruh korban tewas didominasi oleh perempuan, anak-anak, dan seorang bayi
Selain sembilan korban yang meninggal dunia, serangan brutal milisi Fulani menggunakan senjata api ini juga menyebabkan delapan (8) orang lainnya mengalami luka berat yang mengancam nyawa dan harus dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan intensif.
Pembunuhan seperti ini terhadap umat kristen bukan kali ini saja terjadi. Di bulan sebelumnya, seorang wanita yang tengah hamil 9 bulan juga dibunuh beserta suaminya oleh Jihad Islam di Nigeria.
Penguburan massal sering dilakukan karena kasus serupa. Tangisan yang sama mewarnai banyak media sosial.
SURAT ANCAMAN PEMBUNUHAN DARI TERORIS ISLAM DI BALIK PINTU GEREJA

Hanya berselang dua hari setelah prosesi pemakaman massal yang memilukan pada Senin, 13 Juli 2026, teror baru kembali mengetuk pintu. Melalui sepucuk surat kaleng yang dikirimkan kepada salah satu jemaat gerejanya bernama Zakameko, kelompok militan tersebut melayangkan ancaman mati lanjutan.
Isinya singkat, namun berbau kematian: Ezekiel dan jemaatnya adalah target berikutnya. Mereka akan dihabisi dengan cara yang sama seperti keluarganya.
Namun, alih-alih melarikan diri atau mencari suaka ke luar negeri, meski sebelumnya ia sempat ditawari perlindungan di Australia dan Austria, tetapi, Pendeta Ezekiel memilih bertahan. Duka akibat kehilangan sembilan darah dagingnya tidak berujung pada ratapan keputusasaan; air matanya telah membeku menjadi keteguhan yang mengerikan.
Baginya, kedukaan ini bagai pisau yang dihujamkan berulang kali ke dadanya, sebab bukan kali pertama terjadi. Bertahun-tahun lalu, nenek tercintanya, Ngo Martha, dibunuh secara keji dengan jantung yang diambil. Pamannya, Dangai, dimutilasi dan lidahnya dipotong.
Kini, hampir seluruh garis keturunannya musnah dalam satu malam. Para peneror tidak memberikan ruang bagi Ezekiel untuk meratap.
Melalui surat itu, teroris berupaya untuk mematikan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.
EZEKIEL TIDAK MAU DIAM !
Di hari yang sama, Ezekiel merekam kemarahan sekaligus keteguhannya yang luar biasa dan membaginya lewat sebuah video emosional yang diunggah oleh @Didier.neza di akun Instagram.
Meski singkat, tapi Sang Pendeta menolak tegas untuk tunduk pada ancaman teroris, meski beberapa jam sebelumnya sembilan anggota keluarganya dibunuh dengan brutal.
Dalam rekaman tersebut, Pendeta Ezekiel secara terbuka meluapkan kemarahannya atas ketidakmampuan pemerintahan Presiden Bola Tinubu dalam melindungi warga sipil. Ia menegaskan tidak akan lagi memohon pertolongan kepada negara yang menutup mata saat darah rakyatnya tumpah.
MENGAJAK KAUM MUDA KRISTEN NIGERIA BERSATU MELAWAN ISLAMISASI PAKSA
Ezekiel mengaku tidak pernah takut pada ancaman teroris Jihadis Islam atas dirinya, bahkan bila mereka ingin memporak-porandakan seluruh Afrika.
Dengan lantang ia katakan agar negara segera menghentikan agenda islamisasi yang sedang terjadi di Nigeria. Ezekiel tidak takut bila ia ditangkap dengan pernyataannya itu.
“Saya mungkin akan lebih aman bila ditangkap oleh polisi dan tentara,” katanya dengan lugas.
Dengan suara yang berani, Ezekiel mengajak seluruh orang Kristen di seluruh dunia untuk bangkit melawan ancaman ini. Sebab, baginya, ancaman semacam itu sudah tidak berarti lagi.

Tangis pilu ratusan keluarga mengiringi jatuhnya gundukan tanah pertama yang menimbun deretan jasad kaku korban penembakan oleh kelompok bersenjata. Peristiwa tersebut terjadi di Desa Kawel, wilayah Bokkos, Jos, Nigeria, pada Senin (22/06/2026) pukul 02.00 dini hari waktu setempat (Foto: Instagram/ @masskeemz)
Ezekiel siap menghadapi para teroris itu, dan bila ia harus mati maka akan ada revolusi massal hingga ke wilayah south-south Nigeria yang meliputi Kota Akwa Ibom, Bayelsa, Cross River, Delta, Edo, dan Rivers yang tercakup dalam enam negara bagian di pesisir area Delta Nigeria.
Wilayah tersebut merupakan wilayah dengan mayoritas umat Kristen, dan bila terjadi pembantaian di orang Kristen di Negara Bagian Plateau, maka akan memicu kemarahan bersenjata dari saudara seiman mereka.
Wilayah tersebut juga merupakan jantung ekonomi Nigeria karena menjadi pusat pertambangan minyak dan gas. Dan, wilayah tersebut terkenal dengan basis militan sipil yang kuat dan tangguh.
“Kami diam bukan karena kami takut pada teroris. Kami diam bukan karena takut pada tentara karena kami tahu sebagai dari mereka telah disusupi oleh (paham teroris) Boko Haram,” tegasnya.
SELURUH NEGARA BAGIAN KRISTEN DIMINTA BERSIAP UNTUK PERANG
Ezekiel mengumumkan bahwa setiap tempat di Nigeria harus bersiap-siap untuk perang sebab para teroris akan kembali datang membunuh orang Kristen.
Menurutnya, pemuda dan jemaat Kristen tidak bisa mengandalkan militer Nigeria yang telah disusupi oleh teroris. Sehingga, jawaban akhir untuk melawan teroris ini adalah dengan mengorganisir milisi sipil.
KRISTEN SIAP MEMBELA DIRI DI NIGERIA
Dengan menyerukan kesiapan perang dari Plateau State, suku Igbo, hingga wilayah South-South, Ezekiel menyatakan bahwa toleransi dan kesabaran umat Kristen telah habis.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa jika agenda pembersihan etnis dan Islamisasi paksa ini tidak dihentikan oleh pemerintah, komunitas minoritas siap menghadapi skenario terburuk, yaitu pecahnya perang saudara skala nasional demi mempertahankan eksistensi iman dan tanah leluhur mereka
