25.4 C
Indonesia

Tetty Sinuhaji, Pegiat Tenun Dan Batik Asal Tanah Karo Yang Jadi Favorit Para Pesohor Negeri

Must read

JAKARTA@njonjah_poenja, demikian nama yang berhasil menarik perhatian Redaksi The Editor saat berselancar di media sosial Instagram. Seorang perempuan dengan balutan kain tengah berpose disamping seekor kuda berwarna putih. Turban di kepalanya sangat khas, mengingatkan suasana khas Indonesia Bagian Timur.

Warna dan desain yang dipamerkan di akun tersebut juga sangat cantik. Dalam tiap-tiap gambar uang terunggah terlihat deretan pejabat memakai koleksi Njonjah Poenja. 

Diantaranya para Dewan Komisaris BUMN Pegadaian yang memakai koleksi Wastra Nusantara, Komisaris Bank Mega Aviliani, Ketua Umum Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Sruning Burhanuddin, Kapolda jawa Timur Nico Afinta Karo Sukapiring dan lain sebagainya.

Puluhan istri-istri pejabat Tanah Air dan pesohor negeri pun tak mau kalah memamerkan koleksi dari Njonjah Poenja.

Didera oleh rasa penasaran, redaksi langsung menghubungi akun yang dipegang oleh pemiliknya yang bernama Tetty Sinuhaji (57). Wanita berdarah Karo yang tinggal di kawasan Kemang ini pun langsung mengundang untuk hadir di rumahnya untuk berbincang.

Salah satu foto menawan yang diunggah Tetty Sinuhaji dalam akun instagramnya di @njonjah_poenja (Foto: THE EDITOR)

“Saya memulai bisnis ini di tahun 2012,” ujar Tetty mengawali pembicaraan saat berbincang dengan The Editor beberapa waktu lalu.

Kesukaannya mengenakan baju yang cantik dan baru sedari kecil membuat Tetty sangat senang menggeluti bisnisnya. 

Kata Tetty, agar tetap bisa menikmati kesukaannya memakai baju-baju yang cantik, maka saat bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, ia langsung memulai bisnis sampingan dengan berjualan baju.

“Aku jualan baju, jualan cendol, jualan makanan! Semua saya lakukan. Saya lakukan karena ya tekanan ekonomi. Kita lakukan karena untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” ujar Tetty mengingat kenangan masa lalunya.

Coat atau mantel adalah salah satu produk unggulan Tetty. Pujian ini tidak terlalu berlebihan karena memang coat yang ia desain tidak kalah dengan produk-produk buatan desainer luar negeri yang meramaikan pasar fashion Indonesia.

Mantel buatan Tetty memang sangat istimewa. Corak khas tenun dan batik Indonesia membuat setiap baju yang ia ciptakan seperti baju para raja. 

Keunikan ini juga berhasil membawa Tetty untuk membuka tokonya di Los Angeles. Jadi, untuk anda yang tinggal di Amerika Serikat bisa langsung mampir ke Store Hexi.

Berawal Dari Pintu Ke Pintu

Direktur MURI Aylawati Sarwono, Yanti Airlangga, Dyah Krisnawan, Nani Hadi Tjahjanto, Rahma Dudung Abdurachman hingga Iriana Widodo adalah sekian dari penggemar baju buatan Tetty.

Namun tahukah anda, sebelum terkenal seperti sekarang ini. Tetty pernah merasakan jatuh bangun dalam bisnisnya. 

Setiap hari, wanita yang namanya menjadi salah satu profil  dalam buku  berjudul ‘100 Karo Inspiratif’ ini ternyata pernah mendatangi satu per satu pintu rumah dan kantor untuk berjualan.

“Saya awalnya waktu itu bisnisnya dari rumah ke rumah dek. Kantor ke kantor. Dan itu saya lakukan jalan kaki. Dan itu saya lakukan jalan kaki dengan menenteng baju-baju di kiri dan kanan tangan masing-masing 10 kilo,” ungkap Tetty kepada Pemimpin Redaksi The Editor Elitha Evinora Br Tarigan.

Tak langsung mendapat respon positif, Tetty yang dulu berjualan dengan menenteng 20 kilogram baju di kedua tangannya ternyata harus berjuang menarik minat pembeli setiap hari. Tak semua calon pembeli ingin memakai pakaian yang ia desain. 

Tapi ia tak kehilangan akal. Tetty menawarkan untuk menjahit pakaian dengan model yang mereka inginkan, dan ternyata berhasil.

“Responnya saat itu masih sepi karena sepi pembeli saya menawarkan menjahit baju mereka supaya saya bisa mendapat penghasilan tambahan. Dan saat dibuat ternyata banyak yang suka,” ungkapnya.

Kata tetty koleksi pertama yang ia keluarkan di tahun 2012 dijual dengan harga Rp650.000. 

Perlahan tapi pasti, bisnis Tetty pun mulai ramai peminatnya. Melihat peluang makin terbuka lebar, ia memberanikan diri untuk meminjam uang sebesar Rp20.000.000 ke kantornya sebagai modal usaha.

Mantel koleksi Njonjah Poenja dalam ajang fashion show di Moscow beberapa waktu lalu (Foto: THE EDITOR)

Dengan uang itu Tetty bisa menyewa sebuah ruko di lantai dasar 1 Blok H-1 Thamrin City, Jakarta sebesar Rp5 juta dan sisanya dipakai untuk membeli bahan.

“Sampai akhirnya terpikir harus stay di satu tempat agar tidak terlalu capek. Pinjamlah uang di kampus Atmajaya sebesar 20 juta. Bukaklah di Thamrin City, 5 juta buat bayar sewa, sisanya nyicil selama 1 tahun, dan 15 juta belanja bahan,” katanya.

“Kalau 20 juta saja aku ngerasa berat lho karena aku harus bayar di koperasi dan potong dari gajiku. Kalau nggak salah sebulannya itu 500.000,” tambah Tetty lagi.

Cobaan belum juga usai. Toko Tetty sempat sepi karena kalah bersaing dengan toko lain yang menjual batik printing berharga murah.

Namun Tetty tidak putus asa. Ia tetap memegang teguh prinsipnya dengan menjual tenunan dan batik karya tangan manusia yang dibuat dan disusun satu per satu menjadi sebuah karya seni bernilai jual tinggi.

Berhasil Membuka 9 Cabang di Thamrin City, Dan Karyanya Disukai Oleh Istri Presiden Jokowi

Keberhasilan ternyata berbuah manis. Tetty yang tadinya hanya mampu menyicil satu unit ruko di Thamrin City kini berhasil membeli 9 unit ruko di tempat yang sama. 

Iriana Widodo, istri dari Presiden Joko Widodo adalah salah satu peminat dari Njonjah Poenja milik Tetty Sinuhaji.

Iriana Widodo tengah memilih Kain Sumba Timur saat berkunjung ke toko Njonjah Poenja (Foto: THE EDITOR)

“Semua (ruko) dari ngutang tapi sekarang sudah lunas,” ungkap lulusan Universitas Sumatera Utara ini.

Tetty bersama dengan anak-anaknya berharap suatu saat nanti brand Njonjah Poenja dapat mendirikan retail seperti brand Zara dan Mango.

“Saya ingin seperti brand-brand lain yang diakui dunia,” kata Tetty.

Di tengah kesibukannya, Tetty memendam harapan agar pemerintah mendukung UMKM (usaha mikro kecil menengah) dengan mendorong regulasi yang benar. 

Sehingga pebisnis asing yang ingin menggandeng pengusaha dalam negeri seperti dia mendapat kesempatan untuk berkolaborasi.

“Kami berharap regulasi dibenahi. Sehingga kalau kita punya rekanan dari luar, orang percaya dengan kita, gitu lho! sampai sekarang kan aku memang sudah ada kirim ke luar. Tapi itu kan masih personal au gitu lho. Walaupun personal perusahaan ke perusahaan, bukan lagi person ke person. Tapi untuk menjadi lebih besar harus ada campur tangan satu instansi, negara lah yang dibilang. Aku menilai saat ini, orang yang terjun di bidang itu di pemerintahan belum total,” ungkap Tetty.

“Kalau anggaran (yang berasal dari corporate social responsibility) sekedar sudah keluar saja maka selesai, tidak akan berkembang,” kata Tetty.

“Saya lihat Pak jokowi lakukan tapi tidak mungkin dalam 5 tahun. Orang kita itu masih cenderung mengulurkan tangan, dikasih dan tidak bertanggung jawab. Hal ini terjadi termasuk pada para pengrajin-pengrajin kita,” ungkap Tetty lagi.

Bangga Lahir Sebagai Orang Karo

Di tahun 2019 lalu, Tetty membawa kain asal tanah kelahirannya, Tanah Karo, Sumatera Utara dalam ajang fashion show di Amerika Serikat. 

Ia yang diundang secara khusus kesana membawa keunikan kain dari Suku Karo meski tidak mendapat keuntungan sama sekali.

Tetty memakai mini dress tenun tuban sebagai dalamannya dan coat os daun uis (kain) dari Tanah Karo sebagai luarannya (Foto: THE EDITOR)

“Saya diundang fashion show ke Amerika Serikat dan membawa kain Karo meski tidak mendapat margin dari situ. Tapi sebagai Orang Karo aku bangga,” kata Tetty.

Kata Tetty, keputusannya membawa kain asal Tanah Karo ke fashion dunia setelah mendapat desakan dari empat abangnya. 

Kain NTT Tiada Duanya

Tetty juga mengatakan bahwa desain kain dari Tanah Karo yang dominan menggunakan motif garis dan kain dari bahan emas sangat bagus, namun Tetty juga tidak bisa melepaskan pandangan matanya untuk melihat kain asal NTT.

“Tenun asal NTT sangat ekspresif, tapi kalau kita Karo semua melulu garis. Saat saya masuk ke pengrajin kita saya minta dibuat tanpa emas karena kalau (pakai) emas itu aku lebih berpikir itu dipakai dalam acara adat dan pakaian pesta resmi. Tapi untuk sehari-hari tidak. Dan sampai saat ini aku pegang Tenun Karo,” jelas Tetty.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru