Budaya Nountil Ala Suku Karo Bikin Tembakau Imun Krisis Industri dan Tetap Berdaulat di Pasar

Must read

THE EDITOR – Aroma khas tembakau yang manis langsung menyengat hidung begitu memasuki Desa Batu Karang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo. Di sepanjang selasar jalan, warna kuning keemasan membentang memanjakan mata. Itulah Sountil, lembaran tembakau kering yang menjadi teman setia kunyahan sirih warga lokal. Bagi masyarakat perkotaan, pemandangan jemuran tembakau di halaman rumah ini menjadi sebuah oase visual yang menenangkan.

Di Taneh Karo, Sumatera Utara, tembakau atau mbakau punya kasta tersendiri. Ia tidak digulung menjadi sebatang rokok, melainkan dijadikan sebagai Sountil yang dipadu dengan daun sirih bercampur sedikit kapur dan bubuk gamber.

Masyarakat setempat menyebut aktivitas kultural ini dengan istilah ‘Nountil’.

Nountil adalah pemandangan karib yang menembus batas gender. Tradisi mengunyah sirih dan tembakau ini dinikmati oleh semua kalangan, baik pria maupun wanita. Di kedai-kedai kopi, nountil menjadi teman mengobrol bagi para pria paruh baya selepas dari ladang. Sementara di pelataran rumah, ia menjadi medium bercengkerama bagi kaum ibu.

Secara fungsional, perpaduan rasa pahit tembakau, getirnya gambir, dan hangatnya kapur menghasilkan sensasi bertenaga yang dipercaya menjaga kesehatan gigi dan mengusir hawa dingin pegunungan. Namun secara sosial, nountil adalah simbol diplomasi dan kehangatan bertamu.

BATUKARANG, SATU DARI SEKIAN BANYAK DAPUR TEMBAKAU TANEH KARO

Bicara soal nountil, maka pandangan mata akan selalu tertuju pada Desa Batu Karang. Desa yang berdiri di bawah bayang-bayang Gunung Sinabung ini sejak lama diakui sebagai salah satu episentrum penghasil sountil (tembakau kunyah) terbaik di Taneh Karo.

Di desa itu, hamparan daun tembakau yang dijemur di pelataran rumah menjadi pemandangan karib sehari-hari.

Saat tim The Editor menyusuri lorong-lorong desa, sebuah kejutan budaya menyeruak di antara aroma pekat tembakau yang menyengat hidung Sebab, denyut pertanian di sini rupanya tidak hanya digerakkan oleh jemari suku asli Karo, tetapi juga oleh orang Jawa.

Di salah satu halaman, seorang perempuan paruh baya tengah sibuk membalik lembaran daun tembakau di bawah terik matahari.

Nanti tinggal diembunkan di rumah,” ujar perempuan yang akrab disapa Mamak Ferdi itu dengan ramah, sembari menyodorkan segenggam tembakau kering kepada kami.

Mamak Ferdi adalah potret hidup akulturasi di kaki Gunung Sinabung. Saat berbicara, logat Jawanya masih terdengar sangat kental dan kaku. Uniknya, di saat bersamaan, ia begitu fasih bertutur dalam bahasa Karo sehari-hari saat diajak berinteraksi. Ia dan beberapa warga keturunan Jawa lainnya telah lama melebur, menjadi bagian penting dari ekosistem penjaga tradisi nountil (menyirih) di desa ini.

KEBAL GEMPURAN INDUSTRI ROKOK MODERN

Tembakau Hijau khas desa Batu Karang yang sudah mencapai tahap akhir pengeringan dan akan segera dikemas dalam plastik. (Foto: Facebook @Mbako Ratah Batukarang).
Tembakau Hijau khas desa Batu Karang yang sudah mencapai tahap akhir pengeringan dan akan segera dikemas dalam plastik. (Foto: Facebook @Mbako Ratah Batukarang).

Keterlibatan warga lintas suku ini membuktikan bahwa mbakau (tembakau) di Batu Karang telah melampaui sekat-sekat etnis. Ia telah menjadi identitas bersama yang menyatukan mereka dalam satu mata pencaharian.

Menariknya, para petani tembakau di Desa Batu Karang memiliki tingkat ketahanan ekonomi yang unik. Di saat petani tembakau di daerah lain kerap cemas dengan fluktuasi industri rokok nasional, petani di Batu Karang justru bergeming.

Mereka sama sekali tidak terganggu sedikit pun bila harga rokok di pasaran turun atau cukai rokok meroket. Sebab, pasar mereka adalah pasar yang mandiri dan setia. Mbakau yang mereka tanam tidak ditujukan untuk pasokan pabrik rokok masal, melainkan untuk memenuhi kebutuhan Sountil yang menjadi pelengkap wajib bagi para pencinta daun sirih di seluruh Taneh Karo. Selama tradisi nountil masih dirawat oleh pria dan wanita Karo di kedai-kedai kopi dan teras rumah, selama itu pula dapur para petani tembakau Batu Karang akan terus mengepul.

Di atas para-para atau meja penjemuran Batu Karang, tembakau bukan lagi sekadar komoditas perkebunan. Ia adalah ruang temu budaya yang cair, sekaligus benteng ekonomi warga yang kokoh digenggam oleh tangan-tangan lintas suku.

TIGA KELAS TEMBAKAU 

Kualitas tembakau berbicara sendiri tanpa perlu promosi penawaran yang berisik. Angka-angka yang tertera di lapak menjadi hukum mutlak yang memisahkan selera dan isi dompet para penikmatnya.

Kasta tertinggi ditempati oleh tembakau kualitas terbaik. Daun rajangan berwarna cokelat keemasan ini dibanderol Rp300.000 per kilogram. Harga ini menjadi standar kemewahan bagi para pelinting tradisional yang mencari kehalusan rasa dan aroma premium tanpa kompromi.

Satu tingkat di bawahnya, bertengger tembakau kualitas Nomor 2 dengan harga Rp250.000 per kilogram. Varian ini menjadi titik temu yang adil. Ia menawarkan aroma yang kuat namun dengan harga yang lebih bersahabat bagi kantong masyarakat lokal.

Keunikan pasar ini justru terlihat pada kasta ketiga, yaitu tembakau hijau. Dijual dengan harga Rp200.000 per kilogram, tampilannya kontras di antara dominasi warna cokelat. Walau berada di ceruk harga paling ekonomis, warna hijaunya yang eksentrik tetap memikat daya tarik tersendiri bagi pencari rasa alternatif yang segar.

Di Pasar Kabanjahe, selembar daun kering telah bertransformasi menjadi komoditas bernilai tinggi. Ia terus menghidupkan asap perapian ekonomi di Taneh Karo.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Baru