THE EDITOR – Di atas meja makan Anda pagi ini, mungkin tersaji sepiring nasi putih pulen yang anda beli dengan harga mahal di swalayan sebab diberi label “Beras Super Premium”. Namun, di balik bulir-bulir putih yang tampak sempurna itu, tersimpan skandal perampasan hak publik terbesar dalam sejarah tata niaga pangan Indonesia.
Ini bukan sekadar cerita tentang pedagang pasar kecil yang mencurangi timbangan, akan tetapi ini adalah kisah tentang keserakahan pengusaha dan pejabat yang membuat Presiden Prabowo ikut geram karena keuntungan fantastis diperoleh oleh mafia-mafia beras dengan menipu masyarakat.
Baca Juga: Kembali Jadi Pemain Tunggal, Mampukah Amran Sulaiman Menyamai Rekor Menteri Pertanian AS James Wilson?
Grup-grup besar mafia beras, kata Presiden Prabowo, mampu meraup untung hingga 2 triliun per bulan. Pernyataan ini dibenarkan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melalui konferensi pers beberapa waktu yang lalu.
Bagaimana kejahatan subversi ekonomi berskala masif ini bisa terjadi langsung di depan mata kita? Berikut investigasi The Editor.
Semua bermula dari deru mesin di 1.056 unit penggilingan padi skala besar yang tersebar di sentra pangan nasional yang diungkapkan oleh Kementerian Pertanian.
Dengan kapasitas giling raksasa di atas 20 ton per jam, gurita bisnis ini dengan mudah mendikte pasar dan menginjak petani lewat harga gabah semurah mungkin dari tangan petani.
Namun, permainan kotor yang sesungguhnya baru dimulai ketika gerbang gudang-gudang raksasa itu tertutup rapat dari pandangan publik.
Beras kelas bawah yang harusnya murah, disulap menjadi komoditas elite komersial. Di rak-rak ritel modern, beras premium palsu ini dijual dengan harga selangit, menembus Rp17.000 hingga Rp42.000 per kilogram.
Ciri-ciri beras premium palsu ini sangat mudah dikenali, yaitu bulir patah-patah yang mendominasi saat dilihat dengan mata telanjang. Beras seperti ini semestinya hanya dihargai Rp 8.000 saja per kg, tapi ternyata ada yang bisa menjualnya hingga Rp 17.000 hingga Rp 45.000. Sungguh mengejutkan!
Tak hanya itu, ciri lain beras premium palsu itu adalah ketidakseragaman warna dalam satu kemasan. Seharusnya, beras premium itu memiliki warna putih alami, bersih, dan sedikit transparan dengan bentuk panjang seragam nan keras. Saat digenggam, anda dapat melihat buliran padi yang utuh, nyaris tanpa cacat patah.
SIAPA SAJA PENGUSAHA YANG DOYAN JUAL BERAS PALSU?
Satgas Pangan Polri bersama Dittipideksus Bareskrim Polri bergerak melancarkan operasi penindakan hukum secara riil. Sepanjang periode 2025 hingga 2026, negara membongkar paksa jaringan 4 korporasi raksasa beserta merek-merek populer mereka yang terbukti melakukan penipuan mutu dan takaran beras di pasaran:
1. PT Padi Indonesia Maju (Anak Usaha Wilmar Group)
Merek Beras yang dikeluarkan oleh Wilmar adalah Sania, Fortune, Sovia, dan Siip. Beras ini dijual kepada konsumen dalam kisaran Rp14.900 hingga Rp18.500 per kilogram (tergantung ukuran kemasan 5kg atau harian).
Pada 5 Agustus 2025, setelah melakukan uji sampel laboratorium secara maraton di berbagai daerah, Bareskrim Polri menggerebek fasilitas produksi mereka. Polisi resmi menetapkan tiga petinggi terasnya sebagai tersangka utama (S selaku Presdir, AI selaku Kepala Pabrik, dan DO selaku Kepala Quality Control).
Petugas di lapangan menyita sedikitnya 58,9 ton beras patah dan 13.740 karung beras siap edar yang terbukti dimanipulasi mutunya.
2. PT Food Station Tjipinang Jaya (BUMD DKI Jakarta)
Perusahaan plat merah ini mengeluarkan beras dengan merek: FS Setra Ramos, FS Setra Ramos Super, FS Beras Sego Pulen. Beras ini dipatok di rak minimarket dan jejaring swalayan modern seharga Rp13.900 hingga Rp17.500 per kilogram.
Mereka bahkan dipercaya sebagai pemasok utama beras kemasan ke ritel modern seperti Alfamart Setra Pulen dan Indomaret Beras Pulen Wangi.
Perusahaan ini menjadi klaster korporasi pertama yang diledakkan oleh Satgas Pangan Polri pada akhir Juli 2025. Berawal dari sidak distribusi pangan di Jakarta, penyidik menemukan dan menyita 132 ton beras premium oplosan yang memiliki kadar kerusakan fisik di luar ambang batas SNI di gudang mereka.
3. PT Belitang Panen Raya
Perusahaan ini mengeluarkan merek beras premium abal-abal dengan nama: Raja Platinum, Raja Ultima, Resik, dan Setra Wangi. Beras ini menembus harga Rp15.500 hingga Rp19.000 per kilogram karena diklaim sebagai beras premium asal daerah khusus Sumatra Selatan.
Memasuki akhir tahun 2025, Satgas Pangan melebarkan sayap ke wilayah Sumatra Selatan untuk mencari pemain lain yang suka menjual beras premium palsu.
Perusahaan ini digeledah dan menjadi target pemanggilan penyidikan intensif setelah polisi mendeteksi pemalsuan kualitas fisik beras secara masif yang diedarkan ke wilayah Sumatra dan Jawa.
4. PT Sentosa Utama Lestari (Japfa Group)
Bagi penikmat beras keluaran Jafta Group, maka anda harus hati-hati pada merek mereka seperti: Ayana. Beras ini dijual sebagai varietas beras premium eksklusif berharga Rp16.000 hingga Rp20.000 per kilogram.
Berkas perkaranya ditarik bersamaan dengan evaluasi tata niaga beras nasional. Sejak akhir 2025 hingga awal 2026, lini agribisnis ini masuk dalam daftar penyidikan atas dugaan berlapis mengenai manipulasi takaran berat bersih kemasan serta klasifikasi mutu yang merugikan konsumen skala besar.
LEDAKAN ANGKA KERUGIAN DAN TARGET BARU
Dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian pada Kamis, 30 Juli 2026 kemarin, Mentan Amran Sulaiman mengamuk dan membuka babak baru perlawanan negara.
Berdasarkan rilis analisis bertajuk “Darurat Mafia Beras”, Amran memaparkan temuan yang membuat bulu kuduk berdiri: total kerugian konsumen akibat manipulasi mutu beras premium palsu ini mencapai angka fantastis Rp98 triliun hingga hampir Rp100 triliun.
Tak berhenti di situ, Amran membongkar fokus mafia baru yang merajalela di tahun 2026, yakni Sindikat Beras Fortifikasi (Beras Bergizi/Vitamin)
Baca Juga: Rampok Dana Petani: Inilah 3 Skandal KUR Fiktif Paling Sadis di Sektor Binaan Kementerian Pertanian dan Perbankan Tahun Ini
Modusnya jauh lebih kejam karena pengawasan Badan Pangan Nasional menemukan bahwa dari 15 merek beras fortifikasi yang beredar di pasar, 12 merek di antaranya terbukti palsu dan gagal memenuhi standar gizi.
Penindakan hukum sepanjang periode ini kian agresif. Satgas Pangan Polri mencatat telah menangani 93 kasus mafia pangan dengan 77 tersangka. Khusus untuk perkara pidana beras, total 36 hingga 39 orang tersangka lapangan—mulai dari pemilik gudang ilegal, cukong wilayah, hingga 4 oknum pegawai internal birokrasi kementeria diklaim Kementan telah dijebloskan ke dalam sel tahanan.
TANDA HERAN; MENGAPA AMRAN MEMBISU SOAL NAMA PERUSAHAAN?
Namun, di tengah gemuruh kemarahan negara dan angka kerugian ratusan triliun yang dipaparkan dengan sangat mendetail, sebuah tanda tanya besar menyeruak di ruang konferensi pers kemarin.
Baca Juga: Rapor Merah Kementan dalam Pusaran Korupsi KUR
Mengapa Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tidak pernah mau menyebutkan satu pun nama perusahaan penggilingan padi kakap yang menjadi otak mafia beras Rp2 triliun tersebut?
Ketika dihujani pertanyaan oleh awak media, Amran justru berdalih dan meminta publik untuk tidak fokus pada nama subjek hukumnya.
”Jangan fokus pada hitungannya, fokus pada kejahatannya. Yang kami hitung itu penipuan, bukan keuntungan,” kilas Amran di depan mikrofon dalam video yang diunggah oleh Kementan melalui Youtube.
Sikap membisu sang menteri menimbun keheranan mendalam di benak publik. Mengapa untuk kasus beras fortifikasi Amran berani mengancam akan langsung mengumumkan daftar hitam dan mencabut izin usahanya, tetapi ketika berhadapan dengan gurita penggilingan raksasa beromzet ilegal Rp2 triliun, lidahnya mendadak kelu?
Apakah ada kekuatan politik dan modal yang begitu besar di balik tirai 1.056 korporasi giling tersebut sehingga nama mereka harus dilindungi demi alasan “stabilitas pasar”?
Ketiadaan transparansi ini menyisakan ironi pahit. Selama pemerintah menolak membeberkan siapa saja kelompok konglomerat penipu itu secara gamblang di ruang publik, masyarakat hari ini dipaksa bermain tebak-tebakan di depan rak supermarket, waswas apakah nasi yang mereka suap hari ini adalah produk jujur atau hasil perasan keringat petani yang dirampas oleh mafia yang namanya tak boleh disebut.
