Modus Botol Kencing dan Jaringan 26 Kg Ekstasi Pilot Malaysia

Must read

THE EDITOR – Petugas gabungan Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta dan Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri menangkap seorang kopilot asal Malaysia bernama Mohd Saufi bin Othman (39) di Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta. Tersangka kedapatan membawa 70.114 butir ekstasi (26 kg bruto) dan 4 gram sabu demi meraup upah 50.000 ringgit Malaysia (sekitar Rp220 juta) per pengiriman. Narkotika tersebut rencananya diserahkan kepada penerima di sebuah hotel di Jakarta.

Investigasi mendalam The Editor mengungkap modus canggih tersangka yang membekali diri dengan sebotol urine “bersih” cadangan untuk mengelabui pemeriksaan (Bea Cukai Bandara Soetta). Ironisnya, ia sendiri menerbangkan pesawat komersial bermuatan ratusan penumpang dari Kuala Lumpur ke Jakarta dalam kondisi teler berat di bawah pengaruh zat adiktif.

KRONOLOGI PENANGKAPAN DAN ALUR PERJALANAN

  • Rabu, 29 Juli 2026 (atau malam sebelumnya 28 Juli 2026)

Mohd Saufi tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta menggunakan penerbangan komersial rute Kuala Lumpur–Jakarta (Flight MH727).

  • Pemeriksaan X-ray

Petugas Bea Cukai menangkap sinyal visual yang mencurigakan saat koper dinas milik Saufi melewati mesin pemindai X-ray [Humas Bea Cukai Soetta]. Ia langsung digiring ke ruang pemeriksaan manual [Humas Bea Cukai Soetta].

  • Barang Bukti Ditemukan

Dalam koper di balik tumpukan pakaian, petugas mendapati 14 bungkus besar ekstasi seberat 25,1 kg (70.114 butir) serta 4 gram sabu. Polisi juga menemukan botol kecil berisi urine bersih yang disiapkan untuk mengecoh tes narkoba, sementara hasil tes urine Saufi sendiri justru positif mengandung MDMA, metamfetamin, dan kokain.

  • Pengakuan Operasi Gelap

Berdasarkan interogasi awal oleh aparat Indonesia, Saufi mengaku sudah tiga kali menjadi kurir narkoba lintas negara. Pengiriman pertama menyasar Sabah, pengiriman kedua membawa 7 kg sabu ke Jakarta, dan aksi ketiga inilah yang akhirnya kandas.

SIASAT BOTOL URINE KEMASAN

Poin paling mengejutkan dari penggeledahan tas tangan tersangka adalah penemuan satu botol kecil bekas kemasan pelembap bayi (baby oil) berwarna merah muda yang berisi cairan kuning (Humas Bea Cukai Soetta).

Sang pilot meletakkan urin dalam botol kemasan yang rencananya dipakai untuk mengelabui petugas (Foto: CCTV Bandara Bea Cukai)

Sang pilot meletakkan urin dalam botol kemasan yang rencananya dipakai untuk mengelabui petugas (Foto: CCTV Bandara Bea Cukai)

Kepala Kantor Bea Cukai Soekarno-Hatta, Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang, mengonfirmasi bahwa cairan tersebut adalah air kencing bebas narkoba milik tersangka sendiri. 

Saufi sengaja menampung urinenya sebelum memakai narkoba sebagai tameng taktis. Jika manajemen maskapai atau Civil Aviation Authority of Malaysia (CAAM) mengadakan tes urine dadakan sebelum atau sesudah penerbangan, ia berencana menukar sampel asli dengan isi botol kemasan tersebut.

Namun, manipulasi ini patah setelah tim Bareskrim Polri langsung melakukan tes laboratorium menggunakan sampel urine segar dari tubuh Saufi. Hasil uji forensik menyatakan sang pilot positif mengonsumsi tiga narkotik sekaligus saat menerbangkan pesawat: Metamfetamin (Sabu), MDMA (Ekstasi), dan Kokain.

SIAPA YANG MENGENDALIKAN?

Berdasarkan interogasi Dittipidnarkoba Bareskrim Polri di bawah pimpinan Brigjen Eko Hadi Santoso, Saufi dikendalikan oleh seseorang dari sebuah kartel besar yang berdomisili di Malaysia engan imbalan upah 50.000 ringgit atau setara Rp 220 juta.

Penyelidikan lanjutan melacak sumber pasokan diambil sendiri oleh Saufi dari sebuah apartemen di kawasan Ampang, Malaysia, sebelum ia terbang.

Polisi Malaysia (PDRM) melalui Direktur Departemen Investigasi Kejahatan Narkotika Bukit Aman, Hussein Omar Khan, mengonfirmasi telah mengantongi nomor telepon yang dihubungi dalam transaksi tersebut. Otoritas Malaysia juga menangkap seorang oknum petugas keamanan (30 tahun) di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) yang diduga meloloskan koper tersebut dari sistem skrining.

AKAN DIJUAL KE MANA NARKOBA TERSEBUT?

Berdasarkan skema pengendali, setibanya di Jakarta, Saufi tidak langsung menyerahkan barang di jalan, melainkan menunggu instruksi lanjutan.

Polisi mengungkapkan bahwa tersangka diarahkan untuk menunggu arahan dari jaringan yang berdomisili di Malaysia. Narkotika seberat puluhan kilogram itu dijadwalkan diambil oleh pihak pemesan/penerima lokal di sebuah hotel tempat Saufi menginap di Jakarta.

Dengan estimasi nilai ekonomi mencapai hampir Rp60 miliar hingga Rp207 miliar, puluhan ribu pil ekstasi ini diindikasikan kuat menyasar pasar hiburan malam kelas atas sindikat metropolitan di Indonesia. Kasus ini bahkan turut dibahas dalam rapat kabinet Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada 5 Agustus 2026 sebagai bentuk darurat pengawasan perbatasan.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Baru