20.9 C
Indonesia
Monday, March 16, 2026

Rasisme Dalam Film Dan Buku Teks Terhadap Papua

Peran orang tua menjadi penting dalam memutus cara pandang yang diskriminatif, rasis, dan tidak adil terhadap etnis Papua sejak dini. (Foto: www.pikist.com/ The conversation/ The Editor)
Peran orang tua menjadi penting dalam memutus cara pandang yang diskriminatif, rasis, dan tidak adil terhadap etnis Papua sejak dini. (Foto: www.pikist.com/ The conversation/ The Editor)

THE EDITOR – Film, tayangan televisi, dan buku sekolah merupakan merupakan instrumen penting dalam membangun kesadaran anak.

Wening Udasmoro, ahli bahasa dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, mengungkapkan bahwa anak adalah peniru ulung. Melalui pengalaman kesehariannya, mereka mengamati dan meniru hal-hal yang ditonton dan dibaca.

Keseharian anak yang dekat dengan media populer berpengaruh dalam membentuk kesadaran, tingkah laku, dan karakter mereka.

“Dari beberapa film tentang Papua yang tayang di televisi, saya menemukan masih cukup banyak film anak bertema Papua yang mengandung unsur diskriminatif dan rasis,” Mahasiswa Doktoral Ilmu Sosial FISIP, Universitas Airlangga Radius Setiyawan

Misalnya film Denias Senandung di Atas Awan yang merupakan salah satu contoh film anak yang bercerita tentang anak Papua. Menurut Radius, Film tersebut masih saja menggambarkan citra anak-anak Papua yang primitif, terbelakang, miskin, dan cenderung suka berkelahi.

Kata Radius, gambaran yang penuh stereotip juga akan mudah kita temui dalam beberapa film anak bertema Papua. Stereotip senada juga ditemukan dalam serial drama remaja Diam-Diam Suka di salah satu televisi swasta. Serial tersebut menggambarkan bahwa orang Papua itu bodoh, aneh, dan primitif.

“Tayangan lain yang sejenis bisa kita jumpai dalam tayangan komedi Keluarga Minus,” jelasnya.

“Dalam tayangan tersebut kita akan mengingat sosok Minus yang lucu dan terkadang berlaku konyol. Tayangan tersebut memberikan sesuatu hal yang relatif baru, yakni kemunculan wajah Papua dalam televisi. Tetapi kemunculan tersebut cenderung memposisikan Papua sebagai bahan olok-olok dan layak ditertawakan. Padahal secara tidak sadar hal tersebut akan melanggengkan stigma terhadap orang Papua, yakni stigma bodoh dan konyol,” tambah Radius lagi.

Rasisme dalam buku teks

Setelah era Reformasi, buku teks pelajaran anak berusaha menghadirkan lebih banyak keragaman Indonesia. Buku teks SD (Sekolah Dasar) yang dulu hanya didominasi oleh nama Budi dan Ani. “Kini juga menghadirkan tokoh Edo yang merepresentasikan Papua,” imbuhnya.

Tapi, menurut Radius, itu tidak cukup sebuah penelitian menjelaskan bahwa meski etnis Papua sudah sering hadir dalam buku teks SD, tetapi relasinya dengan figur yang lain tetap saja inferior. Ketika disandingkan dengan etnis lain, etnis Papua masih dianggap lebih rendah dan dianggap sebagai pelengkap saja.

Gambaran di atas menurutnya sebagai gambaran yang menegaskan betapa rasis dan diskriminatifnya tontonan dan bacaan tentang Papua yang disuguhkan untuk anak. Imajinasi Papua yang primitif, bodoh, miskin, dan hal-hal negatif lainnya sudah terinstitusionalisasi dalam film, tayangan televisi dan buku sekolah.

Sikap rasis dan diskriminatif tersebut dinilai muncul karena didorong oleh sikap superior pembuat dan pencipta teks media yang dilegitimasi oleh negara. Legitimasi tersebut menunjukkan kegagalan negara dalam memahami keinginan masyarakat Papua.

Negara sering kali absen dalam memperhatikan banyak aspek kehidupan orang Papua, baik soal pelayanan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan hal-hal penting penting lainnya.

“Negara seharusnya perlu memperhatikan representasi Papua yang adil dan humanis dalam bacaan maupun tontonan untuk anak,” katanya.

Representasi dalam bacaan maupun tontonan tentang Papua yang kerap kali muncul dalam buku, televisi, dan film bukan sesuatu hal remeh dan hanya dipandang sebatas hiburan. Kualitas bacaan dan tontonan tersebut mempunyai implikasi pada masa depan imajinasi anak-anak Indonesia.

Dari kacamata Radius, jika ingin memutus mata rantai diskriminasi dan rasis maka sejak dini negara harus memperhatikan kualitas bacaan dan tontonan anak-anak. Karena anak adalah masa depan peradaban, maka konstruksi sedari dini perlu dilakukan.

“Anak adalah peniru dari lingkungannya. Apa yang dilihat, baca dan tonton sangat mungkin mempengaruhi sikapnya,” jelasnya.

Yang harus dilakukan oleh orang tua menurut Radius adalah menumbuhkan sikap kritis terhadap kualitas bacaan maupun tontonan anak-anak. Bersikap kritis bukan hanya selektif tetapi berupaya memberi makna atau merekonstruksi sebuah narasi atau cerita yang dianggap bermuatan rasis dan diskriminatif.

Dalam hal ini, orang tua tidak hanya melarang bacaan atau tontonan yang yang rasis dan diskriminatif, tapi justru menggugah kesadaran anak agar lebih peka.

Orang tua juga diimbau untuk terbiasa membiasakan anak untuk hidup dalam perbedaan. Pembedaan agama, ras, suku dan hal lain penting untuk ditanamkan sejak dini. Dengan perbedaan, anak akan mampu bersikap terbuka dan akan terhindar dari pola pikir sempit yang akan berujung pada tindakan rasis, diskriminatif hingga kekerasan.

Selain itu, orang tua juga harus memastikan interaksi antaranggota keluarga yang ramah terhadap perbedaan karena hal tersebut akan banyak berdampak pada sikap anak. Tata keluarga yang demokratis dianggap sebagai miniatur negara, sehingga, yang terjadi pada keluarga akan punya dampak yang signifikan pada kehidupan kebangsaan yang beraneka ragam.

Di Jepang, Mandi Air Panas di Onsen Tidak Bisa Sembarangan

Takaragawa Onsen (Foto: Jrailpass/ THE EDITOR)
Takaragawa Onsen (Foto: Jrailpass/ THE EDITOR)

JEPANG – Sebelum masuk ke dalam onsen yang biasa tersedia di penginapan atau hotel, pengunjung akan diberi handuk besar dan handuk kecil. Pengunjung diminta untuk melepaskan semua pakainnya sebelum masuk ke dalam onsen. Hanya handuk kecil yang bisa menemani pengunjung bila ingin mandi di onsen.

Sebelum mandi di onsen, pengunjung harus terlebih dahulu mandi bersih. Hal ini berlaku diseluruh onsen yang berada di Jepang. Rata-rata penginapan di Jepang menggunakan produk sabun mahal untuk pengunjung. Tujuannya adalah agar onsen tetap bersih dipakai oleh pengunjung. Harus diingat bahwa mandi sebelum berendam ini menjadi aturan yang sangat wajib.

Perlu diingat bahwa kamar mandi yang disediakan untuk mandi adalah untuk umum. Kamar mandi ini terpisah untuk pria dan wanita. Pengunjung harus duduk di kursi kecil saat mandi agar shampo dan sabun tidak terpercik ke orang lain dan ke area pemandian.

Wanita dengan rambut panjang harus mengikat rambutnya sebelum masuk ke dalam onsen. Dan saat berada di dalam onsen, gunakanlah handuk kecil di kepaka atau bila tidak ingin maka letakkan handuk anda di pinggir onsen.

Setiap pengunjung dilarang merendam kepalanya di dalam air panas. Jadi duduklah dan selalu jaga agar kepala anda berada di atas air. Aturan ini berlaku bagi semua pengunjung tanpa terkecuali, bahkan ketika mereka sudah keramas.

Pengunjung dipersilahkan untuk menikmati waktu bercakap-cakap dengan keluarga dan teman. Namun harus diperhatikan volume suara agar tidak mengganggu pengunjung lainnya. Orang Jepang sangat menyukai ketenangan.

Kebanyakan orang biasanya berendam selama 10-15 menit saja karena suhu onsen yang sangat tinggi. Kecuali onsen yang dituju menawarkan air bersuhu hangat. Pengunjung tidak disarankan berendam dalam waktu lama.

Usai mandi, beberapa tradisi di Jepang biasanya membilas tubuhnya kembali. Namun, bila onsen dengan khasiat menyembuhkan sangat tidak disarankan untuk membilas lagi. Meski demikian harus diingat untuk selalu mengeringkan rambut sebelum masuk ke ruang ganti.

Pengunjung sangat diimbau untuk selalu menjaga tubuh agar tidak kekurangan air. Karena suhu onsen yang panas membuat pengunjung pingsan karena kekurangan cairan.

Onsen di Jepang rata-rata campuran, artinya pria dan wanita berendam di satu tempat yang sama. Meski demikian, jangan khawatir diintip karena pengunjung dilarang melihat langsung ke tubuh orang lain saat berada di onsen dan di kamar mandi. Aturan ini sangat ketat karena pengunjung yang kedapatan melirik dan menatap dengan tidak sopan akan mendapat sanksi.

Bila anda tidak nyaman mandi telanjang bersama pria dan wanita, maka anda diimbau untuk masuk ke onsen khusus untuk jenis kelamin tertentu atau onsen pribadi yang tersedia di dalam kamar. Karena beberapa onsen yang sangat kuno biasanya tidak menyediakan handuk untuk pria dan wanita. Jadi anda tinggal menyesuaikan budget dan selera saja.

Atlet Loncat Indah Ini Viral Karena Tertangkap Kamera Tengah Merajut Saat Nonton Tokyo Olympic 2020

Tom Daley tengah merajut saat Tokyo Olympic 2020 (Foto: @tokyo2020/ THE EDITOR)
Tom Daley tengah merajut saat Tokyo Olympic 2020 (Foto: @tokyo2020/ THE EDITOR)

JEPANG – Kemeriahan pekan olahraga Tokyo Olympic 2020 ternyata membawa banyak cerita menarik dan lucu dari para pesertanya yang dari seluruh dunia.

Salah satunya dari atlet dari cabang olahraga loncat indah bernama Tom Daley. Pria asal Inggris ini sangat menarik perhatian, bahkan oleh panitia pelaksana Tokyo Olympic 2020 karena hobinya.

Tom Daley ternyata memiliki hobi yang sangat menarik, yakni merajut. Dalam foto yang diunggah oleh akun resmi Tokyo Olympic 2020, terlihat Tom tengah serius melihat pertandingan dari kursi penonton di Tokyo Aquatica Centre. Mengenakan kaos putih dan masker, terlihat Tom membawa serta peralatan merajutnya ke lapangan.

Tom tertangkap kamera tengah merajut baju hangat dengan logo lingkaran Olympic yang penuh warna dan tulisan berwarna merah. Redaksi pun menelusuri akun Instagram Tom untuk mengetahui lebih jauh tentang hobinya ini.

Dari instagram story miliknya diketahui bila merajut ternyata tak sekedar hobi saja, namun juga bisnis sampingan Tom.

Berbagai macam model baju rajutan Ia pamerkan dalam akun @madewithlovebytomdaley. Tak hanya manusia, hewan kesayangan Anda seperti anjing dan kucing pun bisa dibelikan baju cantik khusus musim dingin buatan Tom.

Pola rajutan buatan Tom juga beragam, namun rata-rata baju rajutannya dipenuhi dengan corak warna cerah yang umumnya sulit untuk dibuat.

Selama perhelatan pekan olahraga Tokyo Olympic ini, Tom ternyata beberapa kali terlihat tengah merajut saat tengah duduk di kursi penonton. Pria ini memang memiliki segudang prestasi karena selama pertandingan ini Tom dan rekannya berhasil memenangkan medali emas untuk cabang olahraga loncat indah kategori sinkronisasi menara 10 meter.

Thomas ‘Robert’ Daley merupakan atlet loncat indah asal Britania Raya, yang memiliki skill dan prestasi yang luar biasa karena di umurnya 15 tahun, Ia telah berhasil memenangkan Kejuaran Dunia Federasi Renang Internasional tahun 2009.

Selain itu, pria kelaghiran 21 Mei 1994 ini telah mengikuti kejuaraan loncat indah internasional saat usianya masih 9 tahun. Dan pertama kali mewakili negaranya di ajang Olimpiade 2008 di Beijing, Tiongkok saat Ia berusia 14 tahun.

LSPR Berikan Beasiswa Kepada 10 Atlet Indonesia Yang Bertanding Dalam Tokyo Olimpic 2020

Atlet Indonesia yang mendapat beasiswa dari LSPR (Foto: THE EDITOR)
Atlet Indonesia yang mendapat beasiswa dari LSPR (Foto: THE EDITOR)

JAKARTA – LSPR Communication and Business Institute memberikan beasiswa untuk atlet Indonesia yang maju bertanding dalam Olimpiade Tokyo 2020 atau Tokyo Olympic 2020. Para patriot olahraga Indonesia telah mengharumkan nama negeri ini dengan berbagai capaian luar biasa yang didapatkan selama olimpiade berlangsung.

Siapa yang tak bangga, dalam pertandingan bergengsi yang ditunggu-tunggu ini, Indonesia berhasil membawa pulang berbagai medali. Olimpiade Tokyo 2020 yang digelar pada 23 Juli – 8 Agustus 2021 di Tokyo diikuti 200 negara peserta. Indonesia mengirimkan 28 atlet dari cabang olahraga bulu tangkis, atletik, panahan, menembak, rowing, surfing, angkat besi, dan renang.

LSPR Communication and Business Institute sebagai bentuk kepedulian dan rasa bangga terhadap patriot olahraga Indonesia telah menjalin kerjasama dengan Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI) Pusat pada Januari 2020 lalu.

Keterampilan komunikasi merupakan skill-set utama yang akan diberikan kepada para patriot olahraga Indonesia yang membanggakan ini. Beasiswa pelatihan di bidang komunikasi ini telah tercatat resmi pada 27 Januari 2020 lalu melalui Memorandum of Understanding (MoU) antara LSPR Institute dan KONI Pusat di Prof. Dr. Djajusman Auditorium & Performance Hall, LSPR Jakarta.

LSPR memberi dukungan beasiswa Strata Satu (S1) dan Strata Dua (S2) melalui Pendidikan Jarak Jauh untuk 75 atlet berprestasi di kancah Internasional, sehingga lebih fleksibel menyesuaikan dengan kepadatan aktivitas atlet khususnya pada saat Pelatihan Nasional (Pelatnas).

Seperti yang disampaikan sebelumnya oleh Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR selaku Founder and CEO LSPR Institute, bahwa program beasiswa ini diberikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan potensi akademis atlet Indonesia.

“Melalui beasiswa ini, diharapkan dapat juga menunjang karier para atlet Indonesia ke depannya nanti setelah melewati masa keemasannya. Saya juga turut bangga dan ingin ucapkan selamat kepada Greysia Polli dan Apriyani Rahayu yang meraih medali emas dalam Tokyo Olympic 2020 ini,” ujar Prita.

“Tidak dapat pungkiri bahwa ada beberapa Atlit berprestasi yang masa pensiunnya kurang mendapatkan perhatian dan kurang sejahtera. Oleh karenanya, KONI Pusat ingin mendukung para Atlit Patriot Olah Raga berprestasi tersebut melalui pendidikan yang berkualitas agar pilihan karier di masa pensiunnya menjadi lebih baik,” ujar Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman.

Sementara itu, Rektor LSPR Institute, Dr. Andre Ikhsano mengaku sangat senang dapat memberikan kontribusi akademik kepada atlet Indonesia yang membanggakan.

Ia berharap dukungan beasiswa ini dapat melengkapi prestasi atlet Indonesia tidak hanya di bidang olahraga, tapi juga di bidang pendidikan.

Adapun beberapa atlet Indonesia yang membanggakan dan sudah mulai menjalankan program beasiswa dari LSPR sejak Maret 2020 dan September 2020 adalah:

1. Prada Hanan Farmadini – Marketing Communication (Cabang Olahraga Renang)

2. Pancar Nur Widiastono – Marketing Communication (Cabang Olahraga Sepak Bola)

3. Khairul Imam Zakiri – Marketing Communication (Cabang Olahraga Sepak Bola)

4. Farrel Armandio Tangkas – Marketing Communication (Cabang Olahraga Renang)

5. Herlina Gitaningsih – Public Relations (Cabang Olahraga Judo)

6. Dennish Diaz Himawan – Public Relations (Cabang Olahraga Sepak Bola)

7. Raihan Abdul Hakim Hadi Rizki – Marketing Communication (Cabang Olahraga Sepak Bola)

8. Aulia Risma Widyaningsih – Public Relations (Cabang Olahraga Tennis)

9. Mahir Radja Satya Djamaoeddin – Public Relaitons (Cabang Olahraga Sepak Bola)

10. Mohammad Afganiladin – Marketing Communication (Cabang Olahraga Sepak Bola).

Menjelajah Kota New York Dengan Kapal Pesiar, Apa Saja Yang Disajikan? Simak Ulasannya

Patung Lady of Liberty tampak dari kejauhan (Foto: Dameria Hutabarat/ IndoGirlMovesAbroa/ THE EDITOR)
Patung Lady of Liberty tampak dari kejauhan (Foto: Dameria Hutabarat/ IndoGirlMovesAbroa/ THE EDITOR)

NEW YORK – Sebelum menjelajah jalanan di kota New York, ada baiknya Anda mengambil tur kapal pesiar melalui Circle Line. Dengan menaiki kapal Anda dapat melewati lima borough (distrik) dari kota New York yaitu Manhattan, Brooklyn, Queens, Bronx, dan Staten Island sambil memandang destinasi-destinasi ikonik dan jembatan-jembatan yang terkenal di kota New York.

Tur dimulai dari area Pier 83 yang berlokasi di Midtown, Manhattan. Kapal pesiar yang dinaiki terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dapat diduduki oleh pembeli tiket standard dan di lantai kedua, pembeli tiket premium dapat duduk di ruangan beratap sedangkan pemilik tiket standard dapat duduk di area tanpa atap.

Saat berlayar dari kejauhan terlihat gedung Empire State Building, bangunan pencakar langit bergaya art deco yang pada tanggal 1 Mei 2021 yang lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-90 tahun. Bangunan ini sarat dengan sejarah, kompetisi, dan romantisme.

Pada tahun 1969, Empire State Building menjadi garis finish untuk kompetisi Daily Mail Transatlantic Air Race yang diikuti oleh 360 pilot pembawa transportasi udara baik wanita dan pria mulai dari pesawat jet, pesawat baling-baling, hingga helikopter yang mengarungi lautan Atlantik dan memulai pertandingan dari Gedung Kantor Pos yang berlokasi di London.

Dimulai dari 15 Februari 1978, New York Runner Club setiap tahunnya mengadakan perlombaan lari bertajuk Empire State Building Run-Up (ESBRU), di mana para peserta berlari menaiki 1576 anak tangga dari lantai bawah hingga mencapai lantai 86 area Observation Deck. Tahun ini, ESBRU akan diadakan pada tanggal 26 Oktober 2021.

Pada tanggal 14 Februari 1994, ada 250 pasangan menikah secara massal di area Observation Deck dan hingga kini Empire State Building sering bekerjasama dengan berbagai perusahaan dan memberikan hadiah bagi pasangan yang beruntung untuk dapat melaksanakan resepsi pernikahan mereka di tempat tersebut.

Tak hanya dianggap sebagai tempat yang romantis, Empire State Building adalah destinasi utama bagi pengendara Uber di kota New York dan kantor berbagai perusahaan multinasional yang di antaranya adalah LinkedIn dan Shutterstock.

Bertolak dari pulau Manhattan, kapal pun bergerak menuju patung Lady of Liberty nan ikonik yang melambangkan kebebasan dan demokrasi. Patung ini merupakan hadiah dari Perancis kepada Amerika untuk memperingati persahabatan Amerika- Perancis dalam melawan penindasan monarki dan tirani saat Perang Revolusi terjadi.

Pulau Ellis (Foto: Dameria Hutabarat/ IndoGirlMovesAbroad/ THE EDITOR)

Di sebelah Lady of Liberty terlihat Ellis Island (Pulau Ellis) yang merupakan pintu masuk utama bagi para imigran pada tahun 1800-an.

Kebanyakan para imigran yang masuk ke Amerika Serikat datang melalui Pelabuhan kota New York dan mereka yang datang dengan tiket kelas nomor satu dan dua tidak harus melalui pemeriksaan lebih lanjut di Pulau Ellis karena dianggap cukup mampu secara finansial dan berpotensi lebih sedikit untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk urusan legal dan medikalnya.

Namun, ketika penumpang kelas satu dan dua datang dengan kondisi sakit, mereka pun harus ikut bersama pembeli tiket kapal kelas tiga melewati pemeriksaan medikal dan dokumentasi terlebih dahulu di Pulau Ellis sebelum memulai kehidupan baru mereka di Amerika Serikat.

Kota Bronx Tempat Lahir Musik Hip Hop

Setelah Perang Dunia Pertama, Amerika Serikat memiliki konsulat di berbagai negara yang menggantikan tugas dari Pulau Ellis dan pulau ini pun ditutup oleh pemerintah Amerika di bulan November 1954.

Kapal ini juga melewati berbagai bangunan ikonik lainnya seperti Yankee Stadium yang merupakan stadium untuk permainan bisbol dan merupakan markas dari tim Yankee yang merupakan tim kebanggaan bagi penduduk di area Bronx. Bagi Anda pecinta aliran musik Hip-Hop, Bronx adalah tempat lahirnya musik kesukaan Anda tersebut.

Jembatan Brooklyn (Foto: Dameria Hutabarat/ IndoGirlMovesAbroad/ THE EDITOR)

Bertolak ke Brooklyn, Anda dapat melihat High Line, sebuah taman yang melintang sepanjang 2,33 km yang merupakan taman umum yang menyatukan alam, seni, dan desain dan dibangun di atas jalur kereta barang yang tak terpakai lagi. Kapal pun melewati taman yang berlokasi di Williamsburg, Brooklyn bernama Domino Park yang diambil dari nama pabrik gula Domino yang dulunya adalah pemilik dari area tersebut.

Pada tahun 1856, pabrik gula Domino adalah penyetok utama gula di area New York yang kemudian ditutup pada tahun 2004. Brooklyn sering disebut-sebut sebagai area destinasi para hipster.

Tur ini juga melewati tiga jembatan yang terkenal yang menghubungkan area-area kota New York ke pulau Manhattan yaitu Brooklyn Bridge, Manhattan Bridge, dan George Washington Bridge. Anda juga bisa melihat area Westchester County di mana penyanyi R&B, Mary J. Blige, penyanyi rock, Steven Tyler dan almarhum rapper DMX berasal dan juga kota New Jersey yang merupakan kota asal dari almarhumah penyayi legendaris Whitney Houston, aktor dan artis kawakan Jack Nicholson dan Meryl Streep saat kapal menyusuri Sungai Hudson.

Sejarah Gelap Perbudakan Rasis di Tanah Medan, Sumatera Utara

Patung Cremer Kuli diresmikan pada 1928 di depan kantor Deli Planters Vereeniging, sekarang rumah sakit Militer Putri Hijau di Medan (Sumber Foto: Koleksi Kolonial Monumenten seperti dilansir The Conversation

JAKARTA – Medan terkenal sebagai kota perdagangan pada awal abad ke-20 yang pernah mendirikan dua monumen untuk memperingati kejayaan pedagang budak. Profesor Budiman Minasny seperti dilansir dari The Conversation, mengatakan bahwa di tahun 1915, monumen air mancur di depan Kantor Pos Medan didirikan untuk memperingati Jacob Nienhuys sebagai perintis perkebunan Deli.

Patung Cremer Kuli diresmikan pada 1928 di depan kantor Deli Planters Vereeniging, sekarang rumah sakit Militer Putri Hijau di Medan (Sumber Foto: Koleksi Kolonial Monumenten seperti dilansir The Conversation

Pada 1928, lanjutnya, patung Jacob Theodoor Cremer didirikan di depan gedung kantor Asosiasi Perkebunan Deli (sekarang rumah sakit militer Putri Hijau) dengan tulisan Cremer, 1847-1923. “Pendiri perkebunan tembakau Deli, pendiri perusahaan kereta api di Deli, pejuang yang tak kenal lelah untuk kepentingan negara perkebunan ini,” katanya.

“Kedua monumen ini sudah tidak ada lagi, tapi warisan kuli kontrak dari kedua tokoh kolonial ini masih dapat dirasakan sampai saat ini di Sumatera Utara,” jelas Profesor in Soil-Landscape Modelling, Universitas Sidney ini.

Awal kuli kontrak di Deli

Syahdan dan Jacob Nienhuys adalah pedagang tembakau Belanda yang datang ke Labuhan Deli di Sumatera Utara di tahun 1863. Berbeda dengan Jawa, pantai timur Sumatera yang dikuasai oleh Sultan Deli masih belum banyak disentuh oleh pemerintah kolonial Belanda.Labuhan juga masih berupa kampung kecil dekat Belawan yang hanya didiami 2000 penduduk Melayu dan sekitar 20 orang Cina dan 100 orang India.

“Kebijakan cultuurstelsel (tanam paksa) baru dihapuskan, dan pemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem ekonomi liberal di Hindia Belanda yang terbuka untuk perusahaan swasta,” katanya.

Sultan Deli, Sultan Ma’mun Al Rashid Perkasa Alam (1853-1924), berminat mengembangkan tanah di Deli sebagai daerah perkebunan. Ia memberi konsesi tanah kepada Nienhuys untuk menanam tembakau. Masalah pertama yang dihadapi adalah kurangnya tenaga kerja karena orang Melayu dan Batak tidak mau bekerja sebagai buruh perkebunan.

Nienhuys kemudian mencari tenaga kerja dengan mengimpor 120 kuli Cina dari Penang, Malaysia pada 1864. Setelah percobaan beberapa tahun, Nienhuys sukses mengembangkan tembakau Deli sebagai pembungkus cerutu berkualitas tinggi yang diminati perokok Eropa dan Amerika.

“Dengan bantuan modal dari investor di Rotterdam, Nienhuys mendirikan Deli Maatschappij dan mengembangkan perkebunan Deli secara besar-besaran,” katanya.

Dengan pesatnya perkembangan perkebunan, keperluan buruh kebun juga semakin banyak. Setiap tahun, ribuan buruh Cina didatangkan dari Penang dan Singapura. Selain itu buruh dari Jawa, Banjar dan India juga didatangkan.

Pada 1890 tercatat lebih dari 20.000 kuli Cina diangkut ke tanah Deli sebagai buruh kebun. Dengan upah kuli yang murah, usaha tembakau Deli sangat menguntungkan. Tahun 1896, tercatat penjualan 190.000 bal tembakau Deli di Amsterdam yang menghasilkan 32 juta guilder. Kalau dikonversi dengan uang sekarang sekitar US$350 juta atau Rp5 triliun.

Total penjualan tembakau Deli yang diraup pekebun kolonial dari 1864 sampai 1938 mencapai 277 miliar Guilder, atau konversi dengan uang sekarang sekitar US$300 triliun.

Rasisme kulit putih

Perlakuan perusahaan perkebunan Belanda terhadap kuli tidak lebih dari perbudakan. Rasisme adalah lazim, orang kulit putih adalah sang tuan dan penguasa mutlak. Sebuah surat tertanggal 28 Oktober 1876 oleh Frans Carl Valck, Asisten Residen di Sumatera Timur mencatat bahwa sebuah keajaiban kuli Cina bisa tertarik ke daerah perkulian untuk dipukuli hingga mati atau setidaknya diperlakukan dengan kejam sampai luka yang mendalam.

“Baru-baru ini saya mendengar cerita tentang seorang Eropa yang dengan bangga menceritakan bagaimana dia menggantung seorang kuli sampai mukanya menjadi biru,” demikian petikan akhir catatan tersebut.

Nienhuys penuh rasisme, Ia menulis bahwa orang Cina adalah penipu yang licik dan orang Jawa adalah malas, sementara itu baginya orang Batak adalah ras yang terbelakang.

Artikel di Sumatra Post edisi 30 Mei 1913 menuliskan bahwa sekitar tahun 1867-1868, Nienhuys dituduh mencambuk tujuh kuli Cina sampai mati. Walau kasus ini belum terbuktikan dan juga tak terbantahkan, Sultan Deli memerintahkan Nienhuys untuk meninggalkan tanah Deli dan tidak diizinkan kembali lagi.

Tahun 1869, JT Cremer menggantikan Nienhuys sebagai administrator perusahaan Deli. Untuk mengontrol ribuan buruh dari Cina dan Jawa, Cremer merancang Ordinansi (peraturan) Kuli yang disahkan pemerintah Hindia Belanda pada 1880. Peraturan tersebut menyebutkan bahwa para pengusaha kebun melakukan kontrak langsung ke sang kuli untuk bekerja penuh di kebun selama 3 tahun. Para pekerja dikontrak tiga tahun untuk membayar utang transportasi mereka ke tanah Deli.

“Kelihatannya peraturan tersebut menaruh perhatian terhadap kehidupan buruh, namun peraturan tersebut juga membenarkan para pekebun melaksanakan pidana sanksi atas buruh yang mengingkari persetujuan tersebut. Ordinansi tersebut memberikan kuasa kepada para pekebun untuk menghukum para kuli yang diperkirakan tidak patuh, malas atau melarikan diri,” katanya.

Monopoli dan brutal

Asosiasi Pekebun Tembakau Deli juga didirikan pada 1879 untuk memonopoli perkebunan tembakau di Deli. Cremer juga melobi pemerintah Belanda agar mendatangkan buruh langsung dari daratan Cina. Pada 1900, 6.900 buruh langsung didatangkan dari pelabuhan Swatow di Provinsi Guangdong dan Hong Kong. Dari tahun 1888-1930, lebih dari 200.000 buruh Cina telah “diimpor” ke tanah Deli.

Awal 1910, pekerja dari Jawa juga mulai secara besar besaran didatangkan untuk membuka lahan baru untuk perkebunan karet. Pada 1930 terdapat 26.000 orang Cina, 230.000 orang Jawa dan 1000 orang India yang bekerja di perkebunan Deli. “Para pekerja ini harus bekerja 10 jam per hari, 7 hari per minggu dan hanya mendapatkan liburan 1 hari per dua minggu saat gajian,” ungkap Budiman.

Pada 1902 Van der Brand, pengacara Belanda di Medan mengungkapkan kebrutalan para pengusaha kebun terhadap para buruh dalam pamflet yang berjudul “Jutawan dari Deli (De Millionen uit Deli)”. Publikasi Van der Brand ini dianggap sebagai Multatuli tanah Deli.

Pemerintah kolonial merasa wajib untuk merespons dan mengirim jaksa J.L.T. Rhemrev untuk menyelidiki kasus tersebut. Laporan Rhemrev pada 1904 menggambarkan perlakuan yang amat buruk terhadap kuli kontrak. Namun laporan itu hanya disimpan dalam berkas, dan hanya pada 1987 ditemukan oleh Jan Breman, peneliti Universitas Amsterdam.

Tan Malaka, yang setahun mengajar anak-anak kuli kontrak di Deli pada 1920-an, menggambarkan kehidupan di sana lewat puisi. Berikut petikannya:

“Deli memang tanah emas dan surga bagi kelas kaum kapitalis, namun hanya tanah untuk meneteskan keringat dan air mata, tanah kematian dan neraka bagi kaum buruh,”.

Menurut Breman para kuli melakukan kerja paksa karena mereka adalah budak. Para kuli juga membanting tulang dari dini hari sampai malam hari agar mendapat upah yang cukup buat pengisi perut dan penutup punggung, padahal mereka tinggal di bangsal seperti kambing dalam kandangnya, sewaktu-waktu dipukul dan dimaki godverdom.

Yang menyakitkan lagi, sewaktu-waktu mereka bisa kehilangan istri dan anak gadisnya yang dikehendaki ndoro tuan. Breman memperkirakan seperempat dari kuli kontrak tewas sebelum kontrak mereka berakhir.

Warisan buruk perkebunan kolonial

Setelah kemerdekaan Indonesia, kasus perbudakan ini sudah dilupakan, baik di Belanda maupun di Indonesia. Selain merusak kemanusian, perusahaan kolonial Belanda dan Eropa dalam mengembangkan perkebunan di Sumatera Utara telah membabat hutan secara besar-besaran. Karl Pelzer, akademisi dari Yale University memperkirakan lebih setengah lahan di Kabupaten Deli Serdang dan Langkat telah dibabat menjadi perkebunan saat zaman Belanda.

Daerah Sumatera Utara sekarang terkenal menjadi daerah perkebunan. Namun warisan sistem perkebunan zaman Belanda masih diterapkan. Setiap kebun memiliki administrator (ADM), asisten kebun, kerani, mandor dan buruh. “Walau sang buruh sekarang tidak lagi terikat dalam kontrak, namun upah buruh masih minimum,” tulis Budiman.

Romantisme tanah Deli

Belakangan ini, riwayat tanah Deli yang kaya banyak diromantisasi sebagai wisata warisan sejarah.Kota Medan yang telah modern pada awal abad ke-20, pernah dijuluki Parijs van Sumatra. Daerah Kesawan terkenal dengan restoran Tip Top, pusat perbelanjaan Warenhuis dan Seng Hap. Esplanade (Lapangan Merdeka) memiliki bangunan bersejarah (Harrison Crossfield – sekarang London Sumatera), balai kota, kantor pos, hotel de Boer (sekarang Grand Inna), jalur kereta api yang menghubungkan semua perkebunan di Sumatera Utara.

Bersamaan dengan roman yang indah ini, Nienhuys diceritakan sebagai pendiri kota Medan modern. Monumen Kolonial Belanda mengagungkan Cremer sebagai sang kolonial dengan cita-cita tertinggi yang membawa peradaban, kemakmuran, kedamaian, dan ketertiban. Nienhuys dan Cremer menjadi kaya raya dari hasil perkebunan Deli. Cremer bahkan menjabat sebagai menteri kolonial di pemerintah Belanda (1897–1901). Halaman Wikipedia Nienhuys dan Cremer mengangkat mereka sebagai pendiri perusahaan tembakau dan tidak mempersoalkan sistem perbudakan yang mereka tanamkan.

Romantisme sejarah Medan jangan sampai melupakan keringat dan darah ratusan ribu kuli kontrak yang diperbudak di perkebunan saat kolonial. Agar sejarah terhadap pekerja kebun tidak terulang lagi, pemerintah dan masyarakat mestinya memperhatikan pendidikan dan kesejahteraan mereka agar bisa keluar dari jeratan kemiskinan turunan. Jika generasi milenial tidak lagi berminat menjadi pekebun atau petani, akan berdampak terhadap kelanjutan pertanian di Indonesia.

Berkunjung Ke Fushimi Inari, Kuil Seribu Gerbang di Jepang

Gerbang berukuran kecil yang berada di salah satu bagian Kuil Fushimi Inari di Kyoto, Jepang (Foto: Ninis untuk The Editor)
Gerbang berukuran kecil yang berada di salah satu bagian Kuil Fushimi Inari di Kyoto, Jepang (Foto: Ninis/ THE EDITOR)

JEPANG – Kuil ini memang sangat terkenal dan merupakan salah satu tempat yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Kuil Fushimi Inari merupakan kuil seribu gerbang yang di dalamnya terdapat berbagai macam ukuran gerbang atau dalam bahasa Jepang disebut Tori.

Perlu Anda ketahui bahwa tiap gerbang di kuil ini memiliki harga yang sangat fantastis. Gerbang utama yang harganya paling mahal dan paling besar di tempat ini disumbangkan oleh salah satu pengusaha yang bergerak di bidang periklanan.

Sementara itu gerbang paling murah yang disumbangkan oleh masyarakat memiliki harga sekitar Rp15.000.000 per buah. Gerbang-gerbang berukuran kecil ini biasanya diletakkan di depan altar yang letaknya di tanah.

Warna gerbang yang cerah dan bentuknya yang unik membuat ratusan unit gerbang yang berjejer rapi di tiap sudut sangat cantik di pandang mata. Makin kecil ukurannya makin menarik juga tampilannya. Jadi tiap sudut kuil ini memang sangat menarik untuk dijadikan sebagai spot untuk berfoto.

Gerbang-gerbang di kuil ini semua terbuat dari kayu. Usia gerbang berukuran paling besar hanya 15 tahun. Setelah itu biasanya akan langsung diganti dengan gerbang yang baru.

Setiap orang atau perusahaan yang menyumbangkan gerbang di kuil ini diberi kesempatan menuliskan namanya di tiap tiang gerbang.

Perlu diketahui bahwa Kuil Inari ditujukan untuk menyembah Dewa Padi yang memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat Jepang.  Kuil ini buka 24 jam selama 7 hari dalam seminggu. Jadi Anda bisa berkunjung tiap waktu bila tengah berada di Kyoto, Jepang.

Beli Madu Sekaligus Icip-Icip Wine di Slovenia

Pemandangan dari salah satu jembatan di Kota Ljubljana, Slovenia. Foto dengan view gereja ini biasanya dijadikan sebagai kartu pos (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

SLOVENIA – Kenapa perlu mencoba madu saat anda berwisata ke Ljubljana, Slovenia?

Pemandangan dari salah satu jembatan di Kota Ljubljana, Slovenia. Foto dengan view gereja ini biasanya dijadikan sebagai kartu pos (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

Di kota ini setiap toko menjual madu dan wine dalam satu paket kemasan. Berbagai macam rasa madu bisa dicoba, seperti cemara perak, chesnut, melon dan berbagai macam bunga.

Tak hanya itu, madu juga dijual dalam kemasan botol kaca dengan ukuran paling kecil. Tujuannya agar bisa dijadikan sebagai souvenir. Ukuran yang tersedia adalah 50 gram dengan 2.20 euro hingga yang berukuran 700 gram dengan harga 14.55 gram.

Semuanya diolah secara tradisional, mengingat negara ini memang sengaja mendirikan asosiasi khusus untuk melindungi pengolahan madu tradisional yang telah bertahan ratusan tahun.

Selain madu, Ljubljana juga terkenal dengan produksi wine lokal mereka. Kalau anda tidak memiliki waktu untuk ikut kelas wine testing saya sarankan untuk mencoba di toko saja.

Wine disajikan dengan kemasan botol atraktif. Kebanyakan diantaranya berbentuk lonjong dengan harga yang tidak terlalu mahal.

Taliban Admits It Killed Afghan Comedian After Video Showing Capture And Murder Go Viral

A screengrab from the video that shows comic Nazar Mohammad, better known as Khasha Zwan getting thrashed by Taliban men(Picture: Screengrab/ Videio/ THE EDITOR)
A screengrab from the video that shows comic Nazar Mohammad, better known as Khasha Zwan getting thrashed by Taliban men(Picture: Screengrab/ Videio/ THE EDITOR)

AFGHANISTAN – The Independent reporting Taliban has admitted to the killing of a famous comic in the country’s southern region after a video emerged of him being slapped by two unidentified men in a car, raising concerns about rising atrocities by the insurgent group.

However, even during the abuse comedian Nazar Mohammad was facing at the hands of the Taliban in the video, he was heard making jokes about the insurgent group.

Taliban spokesperson Zabihullah Mujahid acknowledged that the two men in the video were Taliban. Last week, local media reports claimed Mohammad, better known as Khasha Zwan, was picked up by the Taliban from his home and shot dead.

However, initially, the insurgent group denied any involvement in the murder of the comic. But after a video, widely shared on social media, showed Khasha getting slapped and abused while he was held by two men in a car, the insurgent group admitted to the crime.

The men have been arrested and will be tried in a Taliban court, the spokesperson of the insurgent group said. He also accused that the comic was a member of the Afghan National Police and had been implicated in the torture and killing of Taliban men.

He added that the Taliban should have arrested the comic and brought him before their court, instead of killing him.

Khasha, a widely known comic for his crude jokes, funny songs and making fun of himself on the internet, also earlier served in the Kandahar police.

Artists and prominent personalities from Afghanistan have expressed their condolences for Khasha on the internet while also raising concerns about the future of Afghanistan with the Taliban’s activities intensifying in the recent months just after the US-led foreign forces began their final withdrawal.

Hundreds of people are reportedly being held by Taliban in areas they have overrun. Schools have been burned and reports have emerged of restrictions being imposed on women akin to those imposed when the insurgents last ruled Afghanistan. Back then, they had denied girls access to schools, and barred women from working.

A few weeks ago, Indian photojournalist Danish Siddiqui, embedded with Afghan forces, was killed in an attack by the Taliban.

KITRA Luwu Adakan Aksi Minta Dukungan Dari Rakyat

Aksi KITRA di Luwu pada Sabtu, 30 Juli 2021 (Foto: THE EDITOR)

LUWU – Aktivis gerakan KITRA Kabupaten Luwu gelar aksi sosialisasi tuntutan agar pemerintah menaikkan gaji TNI POLRI sebesar 50 juta per bulan. Gerakan ini dilakukan dengan membagikan selebaran kertas yang berisi tuntutan yang harus dipenuhi oleh pemerintah terkait gaji aparat kepolisian di Lapangan Opu Daeng Risadju, Luwu, Sabtu (30/7).

“Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian dan komitmen Gerakan KITRA memperjuangkan kesejahteraan TNI POLRI,” ujar Koordinator KITRA Luwu, Hasmin Sulaeman dalam keterangan yang diterima redaksi.

Kata Hasimin, dukungan dan kepedulian KITRA bersama masyarakat Luwu akan berpengaruh bagi terwujudnya kenaikan 50 juta gaji TNI POLRI di masa depan.

Menurutnya, sosialisasi ini dilakukan Kitra Luwu sebagai bagian untuk membangun solidaritas sesama anak bangsa. Karena selama ini pemerintah dianggap telah memiskinkan aparat kepolisian dan TNI.

“Pemiskinan yang melanda TNI POLRI jangan dianggap hanya urusan keluarga TNI POLRI tetapi harus menjadi keprihatinan kita semua,” tuturnya.

Bila tuntutan KITRA yang didasari niat dan kesadaran membangun negara ini tidak segera diwujudkan oleh pemerintah dan pihak terkait, lanjutnya, maka KITRA Luwu akan terus bergerak.

“Tuntutan ini adalah harga mati yang harus diwujudkan pemerintah, bangsa ini jangan sampai terkesan atau secara tidak sadar telah mempermainkan nasib keluarga TNI POLRI,” pungkasnya