26.1 C
Indonesia
Sunday, March 15, 2026

Is It Possible For Maaruf Amin Promoting Peace in Afghanistan

JAKARTA – Republic of Afghanistan is one of special country for Indonesia. It was said by The Chief Executive of the Islamic Republic of Afghanistan Abdullah Abdullah to Jakarta on his visiting to Jakarta last year.

Foto di tahun 2013 saat Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menggandeng Gubernur DKI Joko Widodo menuju ruang rapat paripurna DPRD DKI Jakarta The Editor/Elitha Evinora Tarigan)

As well as President Joko Widodo, both leader agree to promote peace and reconciliation in Afghanistan and Pakistan. Despite recent terror attack, Jokowi took a step In Afghanistan in January 2018.

“This atrocity will not fade away our spirits, but further strengthen our desire to create peace instead,” said Jokowi.

Moreover, on May 11, 2018 Indonesia hosted Trilateral Ulema Conference at Bogor Palace, which involves Indonesian, Afghan and Pakistani clerics.

The meeting according to Jokowi was also part of his commitment and efforts to prioritize the role of the ulemas.

“There are a lot of good will here and also a lot of intention and also a lot of respect and also looking up as accesible islamic country Indonesia seem which peaceful and tolerant. We are looking what we can do together in the future,” said Abdullah.

Regarding Taliban, Abdullah has different opinion. He promise to built peace between Taliban and government because people of Afghanistan longing for peace.

“There is no doubt that most people in Afghanistan want peace. Sadly, Taliban still continues hiding their existence, “He said.

As we knew before, at the end of February 2019 Afghan President Ashraf Ghani specifically involved Vice President Jusuf Kalla together with had small conversation in Jakarta.

That meeting was seen as the beginning of a new chapter towards peace in Afghanistan.

As the world largest moslem population, Indonesia took part in creating peace in Afghanistan.

Not only Abdullah, after Jokowi visiting Kabul in early 2018, representative of Taliban met with Jusuf Kalla at his official residence on July 2019.

So the question is, can we trust Maaruf Amin continue building strong relationship between two country?

As we know together He was part of moslem religion and party. But for the very first time there were chaos between moslem party in Indonesia.

And also don’t forget about the cold war between Maaruf Amin and former Jakarta governor Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

For your information, Maaruf Amin said He was forced to enforcing the law to putting Ahok into the jail at that time.

Strangely, when Ahok was jailed, Maaruf Amin join with Jokowi at the presidential election and betrayed 212 movement.

212 movement was built as the – anti Ahok. They refuse Ahok the governor of Jakarta just because his statement on public about Al-quran.

And Maaruf Amin himself is one of the mobilizer the organization. Can we trust him enough building peace in the country when He was also anty minority based on his choice when choosen as the leader at MUI and by human rights activist.

Terjadi Inflasi Sebesar 0,08 Persen di Periode April 2020 Akibat Kenaikan Harga Bahan Pokok

JAKARTA – Kenaikan harga berbagai komoditas di bulan April 2020 menyebabkan inflasi sebesar 0,08 persen di Indonesia.

Panen tomat di Desa Simpang Sinaman, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo (Fotografer : Liberty Ginting untuk The Editor)

Berdasarkan pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) di  90 kota diketahui bahwa terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,72 pada Maret 2020 naik menjadi 104,80 pada April 2020.

Dalam keterangan resmi BPS diketahui tingkat inflasi tahun kalender (Januari–April) 2020 sebesar 0,84 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (April 2020 terhadap April 2019) sebesar 2,67 persen.

BPS  juga menjelaskan bahwa inflasi terjadi karena adanya kenaikan indeks harga di kelompok pengeluaran yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik sebesar 0,09 persen.

Kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,04 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga naik sebesar 0,09 persen.

Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami kenaikan inflasi sebesar 0,09 persen.

Sementara itu kelompok kesehatan sebesar 0,23 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya naik sebesar 0,03 persen dan kelompok penyediaan makanan, minuman atau restoran naik sebesar 0,18 persen.

Terakhir adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga naik sebesar 1,20 persen.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada April 2020 antara lain: bawang merah, gula pasir, beras, daging sapi, pepaya, minyak goreng, rokok kretek filter, rokok putih, emas perhiasan dan bahan bakar rumah tangga.

Akibat kenaikan harga tersebut maka terjadi inflasi di kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,02 persen.

Sementara itu di kelompok penyedia makanan dan minuman di restoran inflasi naik sebesar 0,02 persen.

Kenaikan inflasi juga terjadi di kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,02 persen.

Di kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga terjadi inflasi sebesar 0,01 persen.

Untuk kelompok kesehatan kenaikan inflasi terjadi sebesar 0,01 persen dan terakhir di kelompok perawatan pribadi atau jasa lainnya inflasi naik sebesar 0,02 persen.

Sementara itu komoditas makanan yang mengalami deflasi di periode ini antara lain: cabai merah sebesar 0,08 persen, daging ayam ras sebesar 0,05 persen.

Deflasi juga terjadi di komoditi bawang putih sebesar 0,02 persen, ikan segar, telur ayam ras dan bawang bombay masing-masing sebesar 0,01 persen.

Kelompok informasi, komunikasi, jasa keuangan juga mengalami deflasi sebesar 0,34 persen dan kelompok transportasi deflasi sebesar 0,42 persen.

Semangat Baru dalam Dunia Baru

Tugu Obelisk di depan Basilika Santo Petrus, Roma, Vatican (Fotografer : Elitha Evinora Tarigan)
Tugu Obelisk di depan Basilika Santo Petrus, Roma, Vatican (Fotografer : Elitha Evinora Tarigan)

Oleh Pastor Keuskupan Agats Papua Martin Selitubun, Pr

Dalam semangat Hari Raya Pentakosta kita diundang untuk mengalami bagaimana hidup yang diperbaharui oleh Roh Allah. Dengan Roh ini, kita dipanggil untuk meninggalkan hal-hal lama dan membuka diri agar muka bumi ini dapat diperbaharui. Bagaimana mungkin membaharui wajah bumi jika wajah kita sendiri tidak dapat diperbaharui? Pembaharuan bukan pada hal yang kasat mata atau estetis belaka tetapi berawal dari hati.

Wajah hati ini mengidentifikasi kita sebagai manusia yang mampu menjadi alat baru untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain. Dewasa ini terlalu banyak “usia tua” beredar di antara kita baik dalam cara kita berpikir atau saat kita bertindak. Kita bahkan mudah membiarkan diri kita ikut-ikutan terjebak sehingga mudah menua. Kita menua karena terjebak dalam ideologi semu, lalu menikmatinya seakan-akan itulah kebenaran yang ultima (kebenaran yang secara universal valid). Kita lupa bahwa hidup bersama dengan Roh Allah adalah sebuah proses penciptaan terus-menerus.

Untuk itu sudah seharusnya kita menghapus kerutan di wajah dan hidup secara baru dalam bimbingan Tuhan.Jika tidak, maka kita akan terus mendengar tangisan duka dan kesedihan karena adanya degradasi moral dan spiritual dalam hidup kita atau komunitas kita. Jadi diperlukan kerjasama untuk kebaikan kita semua. Ketika kita hidup di dalam Roh Allah maka ketakutan dan kecemasan akan diganti dengan sukacita dan harapan. Roh Allah akan tetap ada dan tidak pernah berubah. Dia bisa memiliki kita ketika kita memutuskan untuk meminta dari Tuhan agar diberikan Roh yang sama yang turun atas para rasul pada saat mereka berkumpul dan berdoa. Inilah karunia besar bagi kita. Karunia ini sangat berharga terutama hari ini di banyak berita dan informasi yang beredar tetapi tidak berdasar.

Kita membutuhkan Roh Kebijaksanaan agar kita dapat berefleksi terbuka untuk diperbaharui dan disegarkan sehingga wajah kita dan dunia menjadi baru. Semoga Roh ini pula menguduskan setiap pribadi dan komunitas pencari hikmat Allah di seluruh muka bumi hingga akhir zaman. Amin.

Pastor Martin : Semoga The Editor Jadi Inspirasi Bagi Masyarakat Indonesia

PAPUA – Saya Martin Selitubun, Pastor dari Keuskupan Agats Papua. Saya diminta untuk menyumbang sedikit remah-remah refleksi kehidupan untuk The Editor edisi Hari Sabtu atau Minggu. Tulisan ini dibuat untuk edisi 1 Juni 2020. Terima Kasih sudah mengajak saya berpastisipasi. Semoga sukses dengan launching situs perdana ini, semoga menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia.

 

Semangat Baru dalam Dunia Baru

Satu Periode Sudah Berlalu, Sudahkah Indonesia Ramah Bagi Penyandang Disabilitas?

JAKARTA – Indonesia ramah difabel seharusnya dimulai dari mana? Jakarta atau kota besar lain di Tanah Air.

Foto : Setgab

Tidak lepas dari ingatan di masa lalu tatkala Joko Widodo mencalonkan diri sebagai calon presiden untuk pertama kali bersama Jusuf Kalla sebagai wakilnya.

Janji untuk membuat Indonesia lebih ramah untuk kaum difabel ternyata tercuat dari bibir mereka dan akhirnya jadilah mereka sebagai orang nomor satu di republik ini.

Tapi jauh sebelum itu, saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi juga pernah mengeluarkan aturan tegas.

Saat itu Jokowi mengimbau agar seluruh gedung perkantoran, mall, sekolah dan pembangunan fasilitas umum diatur agar ramah bagi penyandang cacat atau disabilitas.

Janji tersebut dikatakan karena menurut Jokowi kala itu ruang gerak kaum disabel di Jakarta sangat terbatas.

Pertanyaannya apakah Jakarta sudah jadi ibukota yang demikian?

Satu periode hampir berlalu, 2018 lalu Jokowi kembali mengungkapkan rencananya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih ramah lagi bagi penyandang difabel.

Ide tersebut Ia sampaikan di Gelora Bung Karno saat memeriksa kesiapan Asian Para Games.
Diakuinya saat itu bahwa kesiapan GBK saat itu suah mencapai 80 persen meski dibeberapa gelanggang ditemukan toilet yang kurang ramah untuk kursi roda.

Selain itu juga ditemukan akses pintu yang kurang lebar dan membuat kursi roda sulit masuk.

Selebihnya menurut Jokowi sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya karena mengacu pada trotoar yang sekarang dibangun lebih lebar.

Saat itu kritikan langsung Jokowi sampaikan kepada Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Sekretaris Negara Pratikno serta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Sampai akhirnya pada 2019 lalu Lembaga Bantuan Hukum Jakarta kembali menyuarakan agar Jokowi memenuhi hak masyarakat penyandang disabilitas sebagaimana yang pernah dijanjikan saat pilpres 2014 lalu.

Bahkan dengan tegas mereka meminta agar mantan Walikota Solo itu mengawal langsung berjalannya RUU Penyandang Disabilitas.

Beberapa permintaan lembaga bantuan hukum ini adalah agar Jokowi menugaskan semua Kementerian yang ada untuk bertanggung jawab atas kebijakan, perencanaan, alokasi anggaran dan pelaksanaan upaya pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas sesuai tupoksi masing-masing dan mengubah pasal 1 angka 18 RUU Penyandang Disabilitas mengenai Kementerian yang dimaksud dalam RUU tersebut.

Mengingatkan Jokowi bahwa persoalan disabilitas bukan ranag Kementerian Sosial saja dan bila memang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara ramah disabilitas maka Jokowi diminta untuk menetapkan mekanisme lintas kementerian, dinas, suku dinas di tingkat nasional dan daerah dalam pelaksanaan mandat UU Disabilitas secara efektif.

Selain itu, mereka juga mendesak Jokowi untuk bersedia mendengarkan, menerima dan mengakomodasi masukan-masukan lainnya dari penyandang disabilitas di Indonesia.

Dalam pembahasan RUU Penyandang Disabilitas sesuai janjinya untuk menjadi bagian dalam perjuangan untuk pengakuan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.

Terakhir, lembaga bantuan hukum juga meminta Jokowi agar tidak lupa dengan Piagam Suharso di Pemilu 2014 dimana Ia berjanji akan memperjuangkan hak masyarakat penyandang disabilitas.

Surat Untuk Presiden Jokowi dari Anak-Anak Desa Rumaat

Surat Dari Rosalina Selitubun untuk Presiden Joko Widodo
Surat Dari Rosalina Selitubun untuk Presiden Joko Widodo. Klik dua kali untuk memperbesar gambar.

RUMAAT – Surat untuk Presiden Joko Widodo dari Desa Rumaat, Maluku Tenggara.

Beberapa waktu lalu redaksi berkesempatan mengirimkan ratusan buku ke sebuah desa yang berada di pedalaman Maluku Tenggara yang dikelola oleh seorang pastor bernama Martin Silitubun. Ruang baca bernama BookMas ini diperuntukkan untuk anak-anak akses secara gratis dan menjadi ruang istirahat yang nyaman bagi siapapun yang ingin menambah pengetahuan.

Salah satu harapan redaksi adalah agar anak-anak di desa ini memiliki ruang untuk lebih dekat dengan presiden yang sangat mereka cintai. Dan inilah petikan surat dari Rosalina Silitubun, usia 9 tahun dan tinggal di Desa Rumaat. Berikut petikan suratnya:

“Saat ini saya sedang mengikuti pendidikan di SD Nasional Katolik (NASKAT) Rumaat. Sekalipun jauh dari ibukota, kami cukup mendapat informasi tentang perkembangan dunia, walaupun kadang terlambat.

Letak desaku di salah satu kecamatan yang ada di Maluku Tenggara yaitu Kecamatan Kei Kecil Timur. Jaraknya cukup jauh, perkembangan desaku cukup baik. Ada perhatian dan perkembangan di desa, kami juga memiliki salah satu rumah baca BookMas khusus untuk anak dan remaja. Walaupun gedungnya sederhana, kami gembira karena bisa bermain dan belajar disini. Bapak presiden yang terhormat! Kami juga senang karena melihat Indonesia Timur sudah berkembang cukup baik.

Banyak hal terjadi di kampung kami seperti jalan, air, bantuan rumah dll. Namun saya melihat masih kurang. Untuk itu sebagai anak Indonesia usul saya adalah rumah baca karena dengan membaca saya bisa mengenal budaya lain yang lebih maju. Bapak Presiden terima kasih. Kudoakan semoga bapak memimpin Indonesia lebih maju dari sebelumnya. Tuhan memberkati,”.

Anak-anak Desa Rumaat membaca di halaman ruang baca BookMas yang masih dalam tahap pembangunan di desa Rumaat

Menikmati Keindahan Candi Wat Phra Mahathat di Thailand

THAILAND – Salah satu patung Buddha di situs Candi Wat Phra Mahathat di Ayutthaya, Thailand.

Fotografer – Elitha Evinora Tarigan

Pengunjung diberi petunjuk yang minim tentang sejarah candi tersebut.

Namun tak ada salahnya bila anda ke Thailand tetap menyempatkan diri untuk datang ke situs ini untuk berwisata ke tempat ini.

Untuk diketahui, situs candi juga tidak dipugar modern artinya pengunjung diminta memiliki kesadaran tinggi untuk tidak menyentuh apapun.

Karena umumnya candi di kawasan situs budaya masih tetap digunakan sebagai tempat berdoa atau pemujaan.

Bila lelah anda juga bisa menikmati kelapa muda atau sekedar membeli souvenir yang harganya juga ramah di kantong.

Ke Thailand Melihat Patung Kepala Buddha Terlilit Pohon

THAILAND – 80 kilometer dari ibukota Thailand terdapat kawasan wisata yang menyimpan sebuah situs yang sangat penting dan terkenal di dunia yakni patung kepala Buddha terlilit batang pohon.

Patung kepala Buddha terlilit pohon di Thailand (Fotografer : Elitha Evinora Tarigan)

Situs tersebut tersimpan di Candi Wat Phra Mahathat yang berjarak tempuh sekitar 1,5 jam dari Bangkok.

Dibawah terik matahari, turis terlihat antri hanya untuk berfoto dengan patung itu.

Kepala Buddha tersebut terlihat sangat ramah dan lilitan batang pohon di bagian lehernya membuat seolah Buddha tengah menikmati kehangatan tidur sambil menyandarkan pipinya.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga tak ingin kalah. Mereka ikut antri hanya untuk mendapat kesempatan berfoto dengan patung tersebut.

Departemen Kesenian Thailand mencatat bahwa puluhan patung di Candi Wat Phra Mahathat hancur saat Myanmar menguasai Ayutthaya.

Dulunya seorang pencuri meletakkan patung kepala Buddha tersebut disana tapi tidak pernah kembali untuk mengambilnya. Harus diketahui bahwa masyarakat Thailand tidak terbiasa meletakkan patung di tanah.

Seiring waktu lilitan batang pohon tersebut menyesuaikan diri dengan bentuk dan ukuran patung tersebut.

Sedikit tidak masuk akal memang tapi seiring waktu ternyata pohon yang melubangi diri untuk menopang kepala Buddha agar tidak jatuh ke tanah itu memang sangat mempesona untuk dilihat.

Dari cerita yang berkembang patung tersebut berasal dari abad ke-18.

Di jamannya seluruh patung Buddha memiliki batangan emas yang disimpan di dalam lehernya.

Hal tersebut yang memicu pencurian dan penghancuran kepala Buddha diseluruh kawasan Asia khususnya Thailand dan negara sekitarnya.

Sementara itu bagi orang Eropa dan Amerika keberadaan patung Buddha justru berbeda. Kepala Buddha yang tidak dipakai diterbangkan ke negeri mereka untuk dijadikan sebagai hiasan.

Tak hanya patung kepala Buddha, situs lain khas kota Thailand juga bisa ditemukan di candi ini.

Batu bata yang jadi penopang bangunan candi terlihat hanya tinggal reruntuhan saja.

Yang tersisa dan masih utuh adalah sebuah patung Buddha berukuran raksasa yang tengah duduk sambil bermeditasi.

Pengunjung diberi petunjuk yang minim tentang sejarah candi tersebut.

Pemerintah Thailand untuk urusan pariwisata memang jempolan. Moda transportasi menuju daerah ini dipersiapkan dengan matang dengan harga yang cukup terjangkau apalagi untuk wisatawan Asia.

Situs candi juga tidak dipugar modern artinya pengunjung diminta memiliki kesadaran tinggi untuk tidak menyentuh.

Harus diingat bahwa umumnya candi di kawasan situs budaya masih digunakan sebagai tempat berdoa atau pemujaan.

Bila lelah anda juga bisa menikmati kelapa muda atau sekedar membeli souvenir yang harganya juga ramah di kantong.

Swasembada Beras Usai Era Andi Amran Sulaiman, Apa Masih Mungkin?

JAKARTA – Era pemerintah Jokowi – JK di periode lalu ditandai dengan keberhasilan Indonesia membawa Indonesia ke arah swasembada beras.

Gudang Beras Bulog (Sumber : Kementerian Pertanian RI)

Tahun 1984 adalah masa kejayaan Indonesia dalam menghasilkan beras berkualitas ekspor. Kebutuhan dalam negeri saat itu melimpah ruah dan tak pernah ada istilah impor di dalamnya.

Saat masa itu berlalu maka dimulailah era baru musim impor beras. Sejak saat itu juga hingga 32 tahun ke depan Indonesia akhirnya harus menikmati impor beras dari berbagai negara terutama Asia.

Cukup miris karena pemerintah terpaksa memenuhi kebutuhan 256 juta perut masyarakat. Coba hitung berapa APBN yang harus dikeluarkan untuk biaya itu.

Bandingkan dengan harga yang akan dikeluarkan seandainya petani tetap diminta untuk terus menanam padi.

Namun angin berbalik, terjadi sebuah perubahan yang mungkin dilupakan oleh masyarakat tapi tidak akan pernah dilupakan oleh dunia.

Untuk pertama kali di tahun 2016 Indonesia akhirnya mengalami surplus dan menghentikan impor beras dari berbagai manapun.

Tentu saja hal ini mengundang rasa tak nyaman negara tetangga penghasil beras seperti Vietnam dan Thailand.

Bahkan disebutkan pernah terjadi pertemuan antara duta besar negara-negara pengekspor beras ke Indonesia dengan Menteri Pertanian di era Jokowi JK yakni Andi Amran Sulaiman.

Dalam pertemuan tersebut tersirat ada permintaan khusus dari para duta besar agar izin impor beras asing tetap  dikeluarkan.

Keberhasilan Indonesia memproduksi beras saat itu diakui oleh FAO. Yang jadi pertanyaan adalah apakah Indonesia masih tetap konsisten dengan prestasi tersebut?

Untuk diketahui, selama empat tahun berturut-turut Indonesia mampu menghasilkan hal yang tidak pernah terjadi selama 32 tahun.

Andi Amran Sulaiman sendiri pernah mengatakan alasan klise seperti terbatasnya lahan untuk penanaman padi tidak masuk akal baginya.

Oleh karena itu Ia menggunakan seluruh daerah yang tidak pernah dilirik oleh pemerintah sebelumnya.

Seluruh wilayah perbatasan Indonesia jadi pilihan Andi Amran Sulaiman sebagai area penanaman padi. Hasilnya beras asal Tanah Air berhasil di ekspor ke berbagai negara.

Andi Amran Sulaiman sendiri berjanji tidak akan kendor memperhatikan kondisi perberasan nasional hingga akhir jabatannya berhenti.

Amran secara tegas mengkritisi bahwa selama ini petani hanya dijadikan sebagai komoditas diskusi, seminar, bahkan diperas keringatnya untuk bekerja.

Karena alasan tersebut Amran mengaku lebih memilih turun langsung ke lapangan dari pada hadir di acara diskusi yang jarang menemukan solusi apapun pada persoalan petani.

Menurutnya petani selaku produsen perlu mendapat jaminan harga dan margin keuntungan yang layak.

Ia akui upaya tersebut kerap diganggu oleh pihak-pihak tertentu, bahkan banyak diantaranya tetap ingin agar impor beras terus berlangsung.

Alasannya selalu sama yaitu stok yang minim dan harga sudah mulai mahal.

“Saya orang terdepan dalam urusan tidak mau impor. Kita sebenarnya mampu kok. Kita punya sumberdayanya. Petani dan lahan pertanian kita masih mampu memenuhi kebutuhan nasional. Kenapa juga kita selalu berpikir impor? Mari ubah mindset kita”, ujar Andi Amran Sulaiman di pertengahan 2019 lalu.

Sebenarnya keberhasilan Indonesia meningkatkan produksi komoditas strategis tertentu seperti beras menjadi bukti bahwa para petani adalah pahlawan untuk negara.

Sayangnya banyak pihak yang tidak rela karena khawatir kehilangan rente impor pangan strategis dan selalu ingin mencari keuntungan mempermainkan harga.

“Tidak ada pangan lagi bila petani sudah malas ke sawah bila kita hobi impor. Trus kita mau makan apa? Malu lah kita sama petani kalau berpikir sempit dan hanya suka berkomentar miring. Amran akan berdiri terdepan bersama petani untuk pangan negeri”, kata Amran.

Saat itu Amran berjanji akan terus mendorong produksi komoditas strategis nasional dengan konsep lumbung pangan dunia. Secara khusus Ia meminta masyarakat juga berperan aktif menjaga gairah petani untuk bertani.

Tapi masalahnya adalah bila era Andi Amran Sulaiman telah berlalu, apakah pemerintah masih bisa menjaga swasembada beras yang biasanya akan mempengaruhi inflasi?

Belum lagi hubungan antar lembaga terkait impor beras tidak pernah selesai padahal sudah bertahun-tahun menemukan masalah yang sama, ada apa sebenarnya dengan negeri ini?

Visit Petersburg, The City On The Water In Russia

RUSSIA – I cannot but mention that Petersburg is a city on the water and an integral part of traveling here is a walk along the rivers and canals on a small boat.

Fotografer : Ksenia for The Editor

The most suitable activity after walking on long distances is boating. Take care of
your legs, they will come in handy.

And of course, the main reason why millions of tourists come here from all over the
country and a whole world is The Building Bridges.

Everyone wants to see with their own eyes this picture from postcards sold in every souvenir shop.

In total, there are more than 400 bridges in St. Petersburg and 12 of them are bred from the end of April to November.

The bridges in Petersburg are one of the most beautiful sights for city guests.

Probably, I will not mention that The Hermitage and The Russian Museum, The Summer Garden, The Peter and Paul Fortress are obligatory for visiting, any guide will do this for me.

However, if you have free time, I recommend to go out of town and visit the parks in Pushkin
and Peterhof.

There are lots of places which I’m not mention certainly deserve attention.

It is probably a good challenge for people who wants to try this world with their own.

It is the reason to come back here and find something truly resonant inside.