24.4 C
Indonesia

Ilmuwan Ungkap Kemungkinan Punahnya Rafflesia

Must read

JAKARTA – Bunga dengan bau paling busuk di dunia, Rafflesia, yang baunya menyerupai bau daging busuk, dilaporkan bisa terancam punah.

Seperti yang diberitakan Sky News, para ilmuwan memperkirakan 60% dari 42 spesies Rafflesia berada pada “risiko parah” karena berbagai faktor, seperti penggundulan hutan serta kurangnya penyimpanan benih dan perbanyakan.

Mereka mengatakan, beberapa spesies baru mungkin telah musnah bahkan sebelum mereka diketahui ilmu pengetahuan.

Rafflesia arnoldii bisa mencapai diameter satu meter, mendorong Kew Gardens di London menyebutnya sebagai bunga tunggal terbesar di dunia.

Bunga itu mengeluarkan aroma yang menyengat untuk menarik lalat yang mengangkut serbuk sarinya.

Bunganya yang besar memiliki lima lobus, berwarna coklat kemerahan dengan bintik-bintik putih, dan muncul selama seminggu.

Rafflesia banyak ditemukan di wilayah Indonesia seperti Sumatera dan Jawa, serta sebagian pulau Kalimantan, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Bunganya juga berperan penting dalam masyarakat adat, dengan banyak digunakan untuk membuat minuman energi, meningkatkan kesuburan, serta sebagai obat demam dan sakit punggung.

Akan tetapi, para ahli yakin dua pertiga spesies tersebut saat ini berada di luar kawasan lindung, sehingga upaya konservasi menjadi sangat sulit.

“Pendekatan yang mendesak, terpadu, dan lintas wilayah” kini menjadi penting untuk menyelamatkan “bunga paling menakjubkan di dunia”, kata para ilmuwan dalam penelitian mereka yang dipublikasikan di jurnal Plants, People, Planet.

Para ahli mengajukan pendekatan “multi-cabang” untuk menyelamatkan bunga tersebut–dengan komunitas lokal memainkan peran penting.

Mereka menyarankan untuk adanya perluasan kawasan konservasi, perbanyakan di luar habitat aslinya, ekowisata, dan kampanye media sosial untuk menjadikannya sebagai “ikon” konservasi tumbuhan.

“Pendekatan gabungan mungkin bisa menyelamatkan beberapa bunga paling menakjubkan di dunia, yang sebagian besar kini berada di ambang kepunahan,” kata para penulis.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru