29.4 C
Indonesia

Berlatih Meredam Ego dengan Menari Bedhayan

Must read

YOGYAKARTA – Siapa bilang menari tidak punya manfaat dan hanya dilakukan untuk bersenang-senang?

Padahal, dengan menari bisa melatih fisik bahkan melatih diri untuk meredam ego pribadi yang terkadang menyakiti orang lain.

Hal itu diungkapkan langsung oleh seorang penari bedhaya yang ikut memeriahkan Festival Bedhayan ke-3 akhir pekan lalu.

Dalam wawancara dengan The Editor, penari tersebut, Ria Wulandari, mengatakan bahwa berlatih menari bedhaya bedhah Madiun sama dengan melatih diri untuk bisa meredam ego.

Alasannya, ada kekompakan yang harus benar-benar dijaga dalam menarikannya–yang membuat kesembilan penarinya dapat menyajikan tarian dengan indah dan menghanyutkan.

“Karena tarian ini kan harus seragam dari kepala sampai kaki. Dan bahwa dalam tarian kelompok seperti ini, kita harus bisa meredam ego dan keinginan pribadi, karena gak boleh ada yang menonjol sendiri,” jelas Ria, Senin (15/5).

Hal itu juga lah yang membuat tarian ini sulit dilakukan–selain gerakannya yang lembut dan rapi serta pola lantainya yang mengarahkan perpindahan posisi penari dengan teratur.

Diakui Ria, saking sulitnya tari bedhaya yang satu ini, kelompok Mitra Tari Hadiprana yang ia ikuti harus berlatih berbulan-bulan sebelum tampil di festival pada Minggu (14/5) kemarin.

“Kami latihan intensif kurang lebih 3 bulan, tetapi persiapannya sudah jauh lebih lama.  Kurang lebih 9 bulan,” katanya.

“Ini karena kami menarikan bedhaya klasik yang setiap gerakannya sangat lembut dan rapi,” sambungnya.

Persiapan yang matang itu kemudian menciptakan penampilan yang memukau.

Meskipun baru pertama kali membawakannya, Mitra Tari Hadiprana sukses membawakan tari bedhaya bedhah Madiun di hadapan penonton, tamu undangan, serta para pengamat.

Tari yang diciptakan oleh Mangkunegara VII dengan dibantu oleh permaisuri Kanjeng Ratu Timur dari Keraton Yogyakarta itu menceritakan sosok Panembahan Senopati.

Raja Mataram tersebut hendak memperluas jajahannya ke Kadipaten Madiun dan berhadapan dengan Retno Dumilah, Putri Adipati Madiun.

Saat bertemu, sang putri terlihat membawa keris Kyai Gumarang. Melihat hal itu, Panembahan Senopati pun menggunakan siasat bujuk-rayu dan akhirnya membuat Retno Dumilah luluh dan menjadi istrinya.

Ria berharap dapat bisa menyajikan tarian ini di lain kesempatan agar bisa memperkenalkannya ke lebih banyak orang.

“Agar mereka juga bisa kenal salah satu tarian adiluhung Indonesia,” tambahnya.

Ia juga berharap Festival Bedhayan dapat diselenggarakan secara rutin dan terus menghadirkan pengamat yang mumpuni sehingga bisa menjadi ajang prestisius untuk memperkenalkan salah satu hasil budaya Indonesia.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru