23.4 C
Indonesia

Astronot Tangkap Momen Bumi ‘Berdarah’, Apakah Berbahaya?

Must read

JAKARTA – Para astronot belum lama ini dibuat terkejut dengan pemandangan Bumi yang cukup mengejutkan dari atas sana.

Dari Stasiun Antariksa Internasional, yang merupakan proyek gabungan multinasional yang melibatkan lima badan antariksa–termasuk NASA, mereka melihat Bumi seperti sedang ‘berdarah’.

Foto-foto yang beredar juga menunjukkan salah satu titik di Bumi seolah berdarah dengan zat oranye-cokelat yang tampak mengalir–membuat kita yang berada di Bumi sedikit-banyak memahami keterkejutan para astronot.

Beruntungnya keterkejutan itu tidak dibiarkan berlarut-larut dan segera dijawab oleh NASA yang menekankan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Foto tersebut sama sekali tidak menunjukkan Bumi yang terluka dan berdarah selayaknya manusia, melainkan hanya Laguna Colorada di Bolivia.

Melansir UNILAD, foto tersebut diambil dengan kamera digital Nikon D5 pada 7 September lalu.

Laguna Colorada sendiri adalah danau garam dangkal di Cagar Nasional Fauna Andean Eduardo Avaroa.

Air di danau tersebut dilaporkan sangat asin dan telah menjadi media tumbuh-kembangnya alga merah dengan subur–yang kemudian memancarkan warna oranye-cokelat ketika dipotret dari luar angkasa.

Pemandangan tersebut sejatinya bukan yang pertama–atau bahkan terakhir, yang pernah ditemukan oleh para ilmuwan.

Sebelumnya, fenomena serupa terjadi di Great Salt Lake yang terkenal di dunia di Utah dan di Danau Aralsor di Kazakhstan.

Dalam semua kasus ini, pertumbuhan alga merah dipengaruhi oleh “kombinasi intensitas cahaya, kandungan garam, tingkat pH, dan suhu”.

Sementara itu, tiga pekan setelah penemuan tersebut, kru Ekspedisi 70 melihat genangan merah raksasa lainnya di lepas pantai Afrika timur.

Kali ini, para anggota kru menyadari bahwa mereka telah memotret Delta Sungai Betsiboka di Madagaskar.

Meskipun begitu, penyebab warnanya menjadi merah berbeda dari yang lain. Sungai itu menampilkan warna merah karena sedimen kaya zat besi di perairannya.

Hal ini dapat menyumbat saluran air di muara perairan dan–dalam beberapa kasus–bahkan dapat membentuk pulau-pulau baru.

Jenis sedimen ini juga mempengaruhi warna Sungai Jacui di Brasil bagian selatan.

Meskipun berwarna merah, para ilmuwan mengatakan bahwa perairan ini ideal untuk keanekaragaman hayati.

“Alga dan mikroorganisme lainnya berfungsi sebagai sumber makanan penting bagi spesies burung yang rentan, seperti flamingo Andean di Laguna Colorada,” kata Observatorium Bumi NASA.

“Di Delta Sungai Betisboka, muara menyediakan makanan, seperti lamun, bagi penyu hijau yang terancam punah dan dugong, atau sapi laut yang rentan,” lanjut mereka.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru