27.6 C
Indonesia
Sunday, March 15, 2026

Mantan Presiden Korea Selatan Ini Dituduh Korupsi Lho Karena Beri Pekerjaan ke Menantunya!

Mantan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dalam acara perayaan ke-7 Deklarasi Panmunjom di Gedung Nasional, Seoul, Korea Selatan pada Jumat, 25 April 2025 (FOTO: AP/Lee Jin-man)
Mantan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dalam acara perayaan ke-7 Deklarasi Panmunjom di Gedung Nasional, Seoul, Korea Selatan pada Jumat, 25 April 2025 (FOTO: AP/Lee Jin-man)

THE EDITOR  Moon Jae-in, bekas Presiden Korea Selatan saat ini didakwa korupsi karena mencarikan pekerjaan untuk menantunya di sebuah maskapai penerbangan yang berasal dari Thailand.

Kasus ini kembali hangat dibicarakan di publik karena dikabarkan bila bulan Maret 2026 mendatang pengadilan di Korea Selatan akan memutuskan apakah kasus korupsi presiden tersebut akan mengajak warga sipil sebagai juri atau tidak. 

Moon Jae-in dituduh memberikan perlakuan istimewa kepada mantan menantunya yang bermarga Seo Seo agar bisa diterima bekerja oleh maskapai Thai Eastar Jet.

BAGAIMANA KASUS INI BISA BERAKHIR JADI KORUPSI?

Media massa di Korea Selatan memberitakan bila kasus ini berawal dari kepentingan pribadi Moon Jae-in, menantunya bermarga dananggota parlemen dari Partai Demokrat yang saat itu berkuasa bernama Lee Sang-jik.

Lee Sang-jik adalah pendiri maskapai penerbangan bertarif rendah Thai Eastar Jet.

Moon Jae-in sebagai presiden dikabarkan mamang tidak menerima manfaat dari terpilihnya Sang Menantu sebagai Direktur Eksekutif di Thai Eastar Jet.

Akan tetapi, timbul kecurigaan yang akhirnya menyeret kasus ini ke pengadilan. Seo diketahui tidak memiliki pengalaman di industri penerbangan tetapi mendapat gaji bulanan sebesar 8 juta won atau hampir 2 kali lipat dari gaji para CEO maskapai tersebut.

Tak hanya itu, Seo dikabarkan juga sering bepergian dan meninggalkan posisinya sebagai Direktur Eksekutif di Thailand untuk kembali ke Korea Selatan.

Dengan kata lain, Jaksa melihat bila Seo menerima gaji lebih tinggi karena kedekatannya sebagai menantu presiden, namun tidak memiliki kontribusi apapun kepada perusahaan.

Kantor Kejaksaan Distrik Jeonju dalam konferensi persnya di pertengahan 2025 lalu juga mengungkapkan bila pengangkatan menantu presiden ini juga turut melibatkan Tim Urusan Sipil kanto kepresidenan Korea Selatan.

Tuduhan korupsi diarahkan ke mantan Presiden Korea Selatan ini karena Moon Jae-in mendapatkan manfaat pribadi karena tidak perlu lagi membiayai anaknya perempuannya Moon Da-hye yang menikah dengan Seo bila sudah bekerja di Thai Eastar Jet.

Meski anaknya telah bercerai tahun 2021 lalu, tetapi Jaksa tetap menyelidiki kasus ini secara rinci. 

Apakah di sekitar anda ada kasus serupa tengah terjadi? Share di komen yuk!

Di Mesir, Menteri Agama Sampaikan Bahwa Teknologi AI Harus Dibangun Dengan Bingkai Ketuhanan

THE EDITOR – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar berharap agar manusia berpartipasi dalam menjaga keseimbangan alam agar kerusakan lingkungan tidak terjadi sebagaimana yang disebutkan dalam Keislaman.

“Setiap profesi yang mengganggu keseimbangan tersebut sejatinya telah menyimpang dari tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban,” ungkapnya dalam konferensi internasional yang diinisiasi Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir, dan digelar di Universitas Al-Azhar Al-Syarif, Mesir dalam keterangan yang diterima oleh The Editor pada Selasa (20/01/2026).

Tak hanya bicara lingkungan, Nasaruddin juga berbicara tentang kemajuan teknologi seperti AI (Artificial Intelligence) harus dibangun bingkai nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan etika ekologis.

AI, menurutnya, tidak bisa menjauhkan manusia dari tanggung jawab moral, melainkan harus menjadi alat untuk memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga kehidupan dan keberlanjutan bumi.

Dalam paparannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengawali dengan menyampaikan salam hangat dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, serta apresiasi dan terima kasih kepada Presiden Republik Arab Mesir, Abdel Fattah El-Sisi, atas dukungan penuh terhadap terselenggaranya konferensi internasional tersebut.

Delegasi Indonesia turut diwakili Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Dr. H. Bunyamin M. Yapid, LC., MH. dan Dr. H. Muchlis Muhammad Hanafi, Lc., M.A., Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kemenag. Sementara itu, Rektor Universitas Al-Azhar diwakili oleh Dr. Salamah Daud, mewakili Grand Syekh Al-Azhar dan Dr. Hasan Al Shagir, Kepala Akademi Al Azhar untuk Pelatihan Imam dan Dai.

Konferensi ini menurut Nasaruddin menjadi sebagai ruang strategis untuk menyuarakan bahwa agama memiliki peran sentral dalam merespons tantangan global, termasuk krisis lingkungan dan disrupsi teknologi, dengan pendekatan yang berakar pada nilai spiritual dan kemanusiaan universal.

Tak hanya itu, lanjutnya, diseminasi ekoteologi di Al-Azhar Al-Syarif menjadi simbol bahwa program prioritas Kementerian Agama RI siap disuarakan ke seluruh penjuru global sebagai kontribusi Indonesia dalam membangun masa depan umat manusia yang berkeadaban, berkeadilan dan berkelanjutan.

After 10 Days of Losing Access to Internet, Here Is The Newest Story From Iranian Journalist in Teheran!

A woman gestures during a mass funeral held for over 100 members of the security forces whom authorities said were killed during recent nationwide protests, on January 14, 2026 outside Tehran University in Tehran, Iran (Stringer/Getty Images/The Al Jazeera)
A woman gestures during a mass funeral held for over 100 members of the security forces whom authorities said were killed during recent nationwide protests, on January 14, 2026 outside Tehran University in Tehran, Iran (Stringer/Getty Images/The Al Jazeera)
By Alireza Bahrami – THE AsiaN Editor

 

After more than 200 hours of losing all access to the international internet, I am writing to the audience of AsiaN and the Asian Journalists Association (AJA) at the first opportunity of limited connectivity. Why? For three reasons.

First, I have a moral obligation to AsiaN and AJA, and I must fulfill my duty as a journalist at all times.

Second, as a journalist, I have a responsibility to convey the most accurate account of the situation I am in to people around the world—even if doing so is dangerous for me.

Third, the last time I told the editor that I would send the article that night or the following morning, I lost access a few hours later and was unable to send any text. That situation lasted for 10 days. This could happen again. Therefore, I must use this opportunity immediately.

Experience has shown that writing an analytical article requires careful consideration of all aspects. That is why I initially asked the editor for 48 hours and later requested a few more. For this reason, what you are reading now is a more detailed analysis.

I am certain that the situation in Iran may appear more heated in your minds than it is in reality. This is often the case. Those who follow events from afar through media coverage tend to see a slightly exaggerated version of reality. In this instance, when all communication was cut off and the media sometimes published their own assumptions, the magnification was even greater.

That said, I personally experienced moments in my own city that I sincerely hope you will never have to face.

I will now try to present an almost accurate and complete narrative.

To do so, we must go back a little.

When Mohammad Khatami, the founder of the “Dialogue of Civilizations,” became president of Iran in 1997, Iran’s international position was improving. However, when Mahmoud Ahmadinejad, a right-wing politician, was elected president in 2005, conditions deteriorated.

When Barack Obama signed the JCPOA with Iran in 2015, the situation improved. However, when Republican Donald Trump was elected president of the United States, conditions worsened once again.

In 2024, Masoud Pezeshkian became president of Iran in an effort to prevent war. Nevertheless, in 2025, Israel ultimately attacked Iran.

Protesters gather as vehicles burn, amid evolving anti-government unrest, in Tehran, Iran, in this screen grab obtained from a social media video released on January 9, 2026. (PHOTO: Social Media/via REUTERS/The Jerusalem Post).
Protesters gather as vehicles burn, amid evolving anti-government unrest, in Tehran, Iran, in this screen grab obtained from a social media video released on January 9, 2026. (PHOTO: Social Media/via REUTERS/The Jerusalem Post).

Whenever Iran’s political relations in the international arena improved, the economic conditions and welfare of the Iranian people also improved. Conversely, whenever Iran’s global political situation became more confrontational, the economic conditions and welfare of the people declined. U.S. economic sanctions made governance more difficult for the Iranian state, but they placed the greatest burden on ordinary Iranians.

Throughout these years, freedom and individual rights have remained persistent points of tension between the government and the people. This gap has been particularly wide among younger and newer generations.

IRANIAN OIL: FOREIGN WOLVES AND DOMESTIC FOXES

In addition to its unique geopolitical position, Iran has been a site of struggle between Eastern and Western powers over access to wealth—especially oil—over the past 120 years. In the speeches of President Trump, who has portrayed himself as a supporter of Iranian protesters, the word “freedom” has never been mentioned. In his most recent speech on Iran, he said only that he wanted to be a good and useful president for his own country.

In a previous initiative—his attempt to arrest the president of Venezuela—Trump made it clear that his objective was Venezuelan oil for the United States. Beyond its vast oil and gas reserves, Iran also possesses extensive mineral resources.

But this is not the whole story.

AUTHENTICITY CHECK OF THE PROTESTS

It is not only that President Trump values Iran’s natural wealth more than freedom. In any illiberal economic environment, corruption inevitably becomes entrenched. Foreign sanctions alone do not explain the hardships faced by the Iranian people; domestic exploitation of these conditions further tightens the pressure on society.

Trust networks responsible for bypassing sanctions—secretly selling oil and covertly transferring money into Iran—have long been among the structural problems burdening ordinary citizens.

Despite the outage, images of the brutal violence against protesters have come out, triggering condemnation from the international community. MEK/The Media Express/SIPA/Shutterstock/The New York Post).

Despite the outage, images of the brutal violence against protesters have come out, triggering condemnation from the international community. MEK/The Media Express/SIPA/Shutterstock/The New York Post).

As noted earlier, this is still not the entire picture. In addition to foreign powers willing to initiate war to seize Iran’s natural resources, as in the case of Iraq, domestic power centers that benefit directly from economic sanctions share the same motivation.

In 2024, following the helicopter crash that killed Iran’s right-wing president, a left-leaning government came to power. It later announced plans to initiate currency reforms aimed at eliminating these trust structures from the national budget for the new fiscal year (the Persian year begins in early spring).

The launch of a new round of protests, coinciding with the parliamentary approval of this decision, created serious ambiguities. First came currency instability and a sharp devaluation of the national currency. Then, small protests erupted in parts of the marketplace. Iran’s religious clergy also expressed support for the protests through religious platforms and state television, over which they exert influence. This was unusual. However, the situation soon slipped beyond their control.

This does not mean ignoring the motives of the protesting people. Iranian society was a powder keg that needed only a spark. People are exhausted by recurring economic crises and have reached deep disagreements with the government. Some analysts describe this condition as an “erosion of political legitimacy.”

As a journalist, I have witnessed five periods of protest in Iran over the past 26 years. Each had its own characteristics. But this time is entirely different—differences that have created a distance between the protests and the intellectual class.

Compared with the protests of three years ago, this time the fire of unrest ignited in small and unfamiliar cities. Universities did not play a prominent role, and instead the bazaar emerged as the leader of the protests. Artists gave way to athletes. Women were present, but they did not play a dominant role. Slogans and demands were not centered on individual freedoms. This time, the bazaar—long the connective tissue between society and the country’s economic structure—became both the initiator and mediator of the protests, reminiscent of the period leading up to the 1979 revolution.

Meanwhile, over the past two decades, the Iranian government has steadily reduced the role and capacity of domestic media. In parallel, Persian-language media outlets were established outside Iran, with financial support from countries such as Saudi Arabia, the United States, and several European states.

Across several protest cycles, these foreign-based media outlets became key actors. Protesters sent videos to these networks, and their broadcast via satellite television and affiliated social media platforms encouraged others to join the demonstrations. This dynamic ultimately led to the abrupt disconnection of all Iranians from the global internet on the evening of Thursday, January 9—a shutdown that continues to this day.

The internet blackout, approved by the Supreme National Security Council, followed a call by the son of Iran’s former Shah urging people to take to the streets at 8 p.m. on Thursday and Friday, January 9 and 10. The large turnout initially demonstrated a peaceful protest on a massive scale. The Iranian government first acknowledged the protests as being rooted in economic and livelihood concerns. However, the demonstrations gradually turned violent.

At this point, a war of narratives began, with each side accusing the other of instigating violence. The crucial difference was that protesters had largely lost their media platforms, which were almost entirely controlled by government supporters. The government has yet to release official casualty figures, but protest-supporting and foreign media outlets have reported that several thousand people were killed during the violent street clashes. Whatever the precise number, the evidence suggests it was not small. The government has stated that around 100 police and military personnel were also killed.

DIFFERENCES IN THE PROTESTS

A huge fire at a mosque in Tehran's Saadatabad district, northwest of Tehran, on January 8, 2026 (Photo: Iran Internasional).
A huge fire at a mosque in Tehran’s Saadatabad district, northwest of Tehran, on January 8, 2026 (Photo: Iran Internasional).

In earlier protests, the pulse of the movement lay in the hands of students, young men, and young women. Through unconventional forms of protest, they attempted to bring the future into the present and lift the veil. In contrast, in this period—when protests began among importers of electronic goods—it was as if protesters were searching for, and hoping to construct, a future.

Believing they could not compete with the state in terms of resources, protesters looked toward foreign assistance. At one point, Donald Trump raised expectations among Iranian protesters when he said, “Keep going—help is on the way.” Yet he never concealed the fact that he was a businessman willing to negotiate with anyone. Reports suggested that regional Arab states, as well as the Israeli prime minister, urged Trump not to attack Iran or to delay any military action. Meanwhile, the Iranian government warned it would target U.S. military bases and Israel in the event of an attack.

Military and political analysts now believe that the likelihood of a U.S. military strike on Iran has gradually diminished. At the same time, the Iranian government has demonstrated that it will persist in its positions despite criticism. The most likely outcome, therefore, is a prolonged and exhausting war of attrition—one that threatens lives, deepens disillusionment, and accelerates the migration of young people abroad.

Still, everything can change, despite political, economic, military, and sociological logic.

Today, Iranians are collectively in a state of sorrow. The killing of thousands of people, most of them young, has cast a heavy shadow over society.

All of this means that Iranians, from every perspective, feel that, in the words of their poet Nima, “the weather in our home is cloudy.” Will there be a storm? From which direction? Is this a struggle among powers, or a reordering of the world in a new era? Above all, Iranians are concerned about their home. They want it to be peaceful and progressing. Who is capable of achieving this? History will decide.

Dukung Kejuaraan REV Mesir, KBRI Kairo dan Baraka Dapat Penghargaan dari Automobile & Touring Club Mesir

THE EDITOR – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo, Mesir dan agen tunggal produk Ban Gajah Tunggal Indonesia, Baraka menerima penghargaan dari Automobile dan Touring Club Mesir karena berhasil mendukung ajang Kejuaraan REV IT UP Speed Test dan REV IT UP Drifting Competition di Mesir Tahun 2025 yang diselenggarakan di Hotel Sonesta, Nasr City, Kairo.

KBRI di Mesir dan Baraka memberikan dukungan kepada REV IT UP Speed Test dan REV IT UP Drifting Competition di Mesir melalui sponsorship.

Dalam keterangan yang diterima oleh The Editor pada Senin (19/1/2026), pendiri dan Organizer Kompetisi REV IT UP, Automobile & Touring Club Mesir, Kapten Sameh Abdel Kawey mengatakan bila ajang ini telah berlangsung selama 5 tahun berturut-turut.

Pihaknya memang melakukan kerja sama dengan lembaga olahraga internasional agar kegiatan ini terlaksana, termasuk kegiatan ini sebagai bentuk wisata olahraga dan memberi edukasi kepada para pemuda terkait keselamatan berkendara dan upaya menaati rambu-rambu lalu lintas. 

Lebih lanjut Kapten Sameh mengapresiasi atas dukungan yang besar dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Mesir dan Baraka Company yang merupakan agen tunggal produk Ban Gajah Tunggal Indonesia di Mesir dalam terselenggaranya kegiatan Kejuaraan REV IT UP speed dan drifting ini.

Mayjen Khaled Hoda, Penasehat Presiden Mesir Bidang Pembangunan Daerah menerangkan, pihaknya mendapat arahan langsung dari Presiden Mesir, Abdel Fattah El Sisi untuk mengangkat Kejuaraan ini ke level kejuaraan skala internasional. Khaled mengharapkan agar Mesir dapat menjadi tuan rumah kejuaraan internasional speed dan drifting ini pada tahun 2027. 

DITERIMA OLEH KBRI MESIR

KBRI Mesir sendiri menerima penghargaan yang diwakilkan oleh Atase Perdagangan KBRI Kairo, Syahran Bhakti. 

Syahran mengatakan KBRI akan selalu mendukung kegiatan tersebut dan bersedia mendatangkan penyelenggara Kejuaraan drifting dan speed Indonesia ke Mesir, mengundang pihak penyelenggara Mesir ke Indonesia untuk membahas kerja sama kegiatan Kejuaraan drifting dan speed. 

Ia sendiri terlihat mengundang para peserta dan tamu undangan yang hadir untuk berkunjung ke Indonesia, karena Indonesia memiliki banyak sirkuit untuk kejuaraan balap mobil, diantaranya Sirkuit Internasional Sentul, Bogor dan Sirkuit Internasional Mandalika, NTB.

Pada kesempatan yang sama, CEO Baraka Trading & Contracting Abdurrahman Baraka selaku agen tunggal ban Gajah Tunggal (GT. Radial) di Mesir menuturkan, pihaknya bangga menjadi salah satu sponsor utama kejuaraan ini, dan perusahaannya juga selalu siap menjadi sponsor utama pada kejuaraan balap mobil pada kesempatan mendatang. 

Abdurrahman menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan dari KBRI Kairo, lebih khusus kepada Atase Perdagangan yang selama ini mendukung kegiatan impor produk ban Gajah Tunggal dari Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut juga terlihat Koordinator Fungsi Ekonomi, Abdul Gafur, Syamsu Alam Darwis, Staf Atase Perdagangan dan Amin Samad, Staf Protokol dan Konsuler KBRI Kairo.

The Iranian Holocaust! Mass Killings, Silence, and a Nation Cut Off from the World

A huge fire at a mosque in Tehran's Saadatabad district, northwest of Tehran, on January 8, 2026 (Photo: Iran Internasional).
A huge fire at a mosque in Tehran's Saadatabad district, northwest of Tehran, on January 8, 2026 (Photo: Iran Internasional).
By Mohsen Makhmalbaf – Iranian filmmaker and writer also awarded the Manhae Prize (Literature category) in 2014.

 

THE EDITOR – Iran is a wealthy country because of its oil, yet the tables of its people are empty. Iranian youth are educated and modern, but the illiterates rule the country.

Over the past years, the people of Iran have repeatedly launched nationwide political movements to overthrow the religiously fanatical government, but these movements have always been brutally suppressed.

In the recent Iranian uprising, the regime killed more than 12,000 people in the streets within just two days, injured tens of thousands, and blinded thousands with gunfire. Today, in every Iranian family, someone has been killed, injured, or imprisoned.

Many of the wounded dare not go to hospitals, fearing they will be kidnapped and imprisoned. The regime even demands that families pay for the bullets used to kill their loved ones in order to receive their bodies.

For days now, the internet has been completely cut off, allowing these crimes to continue out of the world’s sight. Telephone communication between Iranians and the outside world has been severed, and millions of Iranians living abroad have no information about the fate of their families. The Iranian government has adopted a North Korean-style policy, aiming to isolate the Iranian people from the world.

The Islamic regime has not only oppressed its own citizens but, alongside Bashar al-Assad, has massacred the people of Syria. It has destabilized the Middle East in Iraq, Afghanistan, Lebanon, and Yemen, and now, to suppress the Iranian people, it has brought in proxy forces from Iraq, Afghanistan, and Lebanon.

Thousands of Afghan militants under the name of the Fatemiyoun Brigade, five thousand Iraqi militants under the name of Hashd al-Shaabi, and thousands of Lebanese under Hezbollah are working with the Iranian government in the streets and homes of civilians, committing atrocities. Since 8 p.m., a form of martial law has been enforced in cities.

U.S. President Trump, in recent days, promised the Iranian people that he would stand with them and prevent their massacre. Yet, he did not fulfill this promise. Just as the German people could not defeat Hitler without the help of the world, we Iranians cannot overcome Khamenei and his fascist, heavily armed regime alone.

By raising awareness about Iran, now turned into a massive prison, help us make our voices heard by the world.

Mohsen Makhmalbaf is a world-renowned Iranian filmmaker and writer who led the golden age of Iranian cinema. Through films such as Gabbeh and Kandahar, he received major awards at leading international film festivals including Cannes and Venice, introducing Iran’s artistic achievements to the world.
Living in exile since 2005, he has never ceased resisting oppression through art. Today, he stands as one of the most powerful “voices of conscience,” representing the suffering of the Iranian people under repression. He has consistently raised issues of human rights, freedom, and censorship. He also has many admirers in Korea and was awarded the Manhae Prize (Literature category) in 2014.

Sultan Bachtiar Najamudin is Keen to Champion the Green Village Program

Sultan Bachtiar Najamudin (left) shakes hand with Minister Yandri Susanto (FOTO: DPD/THE EDITOR)
Sultan Bachtiar Najamudin (left) shakes hand with Minister Yandri Susanto (FOTO: DPD/THE EDITOR)

THE EDITOR – Sultan Bachtiar Najamudin is keen to champion the Green Village program.

He believes the eco-village initiatives require parallel execution to avoid impending ecological crises.

“Villages play a crucial role in advancing national development, particularly concerning food production and ecological balance. This is essential for securing and defending the future of villages from potential natural disasters and climate change,” he explained

He voiced this statement directly to the invited guests at the 2026 National Village event in Boyolali, Central Java, including Minister Yandri Susanto.

Furthermore, he also wants the government to recognize village officials who actively manage and safeguard forest and marine environments.

He intends to make this program implemented consistently, not merely once or twice.

1/2 Juta Umat Kristen Ortodox Etiopia Rayakan Natal Dengan Pakaian dan Tudung Kepala Putih. Mengapa? 

Umat dari Gereja Ortodox Etipia terlihat tengah merayakan Natal yang mereka sebut dengan nama Gena. Perayaan ini dilakukan setiap tanggal 7 Januari setiap tahun. (FOTO: Reuters)
Umat dari Gereja Ortodox Etipia terlihat tengah merayakan Natal yang mereka sebut dengan nama Gena. Perayaan ini dilakukan setiap tanggal 7 Januari setiap tahun. (FOTO: Reuters)

THE EDITOR – Lihatlah kemeriahan Natal di Etiopia ini, luar biasa bukan? 

7 Januari 2026 kemarin adalah perayaan hari Kelahiran Yesus Kristus oleh umat Katolik dari Gereja Orthodox. 44% masyarakat Etiopia di Afrika beragama Kristen dan perayaan yang diawali dengan puasa selama 43 hari di negara itu disebut Gena.

Natal bagi umat Kristen di Etiopia memang berbeda dengan negara barat yang umum merayakannya di tanggal 25 Desember. Mereka yang tergabung dalam gereja Ethiopian Othodox Tewahedo Church ini masih menggunakan kalender kuno gereja perdana, yaitu kalender yang menghitung waktu secara berbeda dengan Kalender Masehi dari Bangsa Eropa.

Perbedaan ini membuat perayaan Natal yang jatuh tanggal 25 Desember di Eropa jatuh tepat di tanggal 7 Januari bagi orang Etiopia. Hal ini terjadi sejak ribuan tahun yang lalu, dan tidak pernah berubah.

Etiopia sendiri adalah salah satu umat dengan gereja tertua di dunia, bahkan jauh sebelum nama Yesus, yang disebut Tuhan dalam Alkitab dikenal di Eropa.

1/2 juta orang umat dari Gereja Ortodox berkumpul di Lapangan Meskel di Ibukota Etiopia bernama Addis Ababa pada tanggal 7Januari 2026 untuk merayakan Natal (FOTO: Instagram @amanuel_sileshi)

1/2 juta orang umat dari Gereja Ortodox berkumpul di Lapangan Meskel di Ibukota Etiopia bernama Addis Ababa pada tanggal 7Januari 2026 untuk merayakan Natal (FOTO: Instagram @amanuel_sileshi)

The Editor sendiri melakukan penelusuran panjang di media sosial tentang Natal yang meriah ini. Hasilnya cukup mengesankan karena jutaan orang hadir di Lapangan Meskel di ibukota Etiopia, Addis Ababa pada Selasa lalu waktu setempat.

Sambil menyanyikan himne puji-pujian kepada Tuhan, umat Gereja Otodox ini membawa lilin di tangan mereka masing-masing. Dengan memakai pakaian tradisional, seluruh pria dan wanita berbagai umur terlihat memakai pakaian berwarna putih dengan topi putih bagi pria dan kerudung putih bagi wanita.

Mereka berdiri teratur dan rapi tanpa berdesakan sama sekali. Tidak ada kericuhan selama perayaan berlangsung. Dari video yang beredar, setiap umat baik yang duduk di depan gedung mimbar yang dibangun melingkar, maupun yang berdiri di atas bukit sembari berbaris dengan rapi. 

Ratusan ribu cahaya lilin menjadi penerang yang dominan di acara yang dilakukan pada sore hingga malam hari tersebut. Tanggal 7 Januari menjadi puncak peristiwa kelahiran Yesus Kristus yang mereka awali dengan puasa selama 43 hari sebelumnya. 

Suasana tenang dan penuh syahdu ini sangat membuat dunia berdecak kagum pada Etiopia karena di saat yang bersamaan banyak kota di negara tersebut tengah mengalami konflik bersenjata, seperti Amhara dan Oromia. 2 kota tersebut tengah mengalami krisis karena kericuhan terjadi terus-menerus.

(FOTO: Instagram @amanuel_sileshi)
(FOTO: Instagram @amanuel_sileshi)

Etiopia menjadi salah satu negara penganut Kristen Ortodox tertua di dunia. Dimana agama ini masuk kesana pada abad ke-4 Masehi, sementara Yesus Kristus sendiri lahir di abad 1 Masehi.

Perayaan ini merupakan simbol pemurnian diri karena umat Ortodox Etiopia lebih mengutamakan acara sederhana yang diikuti dengan sakral, puji-pujian kepada Tuhan serta kotbah dari Imam.

Lagu-lagu pujian memenuhi Lapangan Meskel yang mampu menampung hingga 1/2 juta orang. Dari berbagai sudut terlihat warna putih dengan pendar-pendar kekuningan dari cahaya lilin yang tertiup angin. Tidak ada acara hingar bingar, hanya khusyuk.

Perayaan spiritual suci ini tidak ada hubungannya dengan konsumerisme, pohon Natal, Santa putih, rusa, hadiah berlebihan dan budaya Barat sama sekali.

APA ARTI PENUTUP KEPALA UMAT KRITEN ORTODOX INI?

Imam atau pastor saat menebarkan asap dupa sebelum perayaan ibadah Natal dimulai di Lapangan Meskel (FOTO: Instagram @amanuel_sileshi)

Imam atau pastor saat menebarkan asap dupa sebelum perayaan ibadah Natal dimulai di Lapangan Meskel (FOTO: Instagram @amanuel_sileshi)

Dalam acara Natal tersebut, perempuan terlihat menutup kepala mereka dengan kain linen putih yang menandakan kesucian dan penghormatan terhadap daerah sakral/suci. Model pakaian tersebut merupakan tradisi budaya Etiopia yang disebut dengan Netela atau Shash. Simbol serupa juga dipakai oleh pria.

Berbagai alat musik pukul hingga petik dimainkan pada perayaan tersebut. Pria dan wanita menyanyi dan menari bersama dalam jarak yang rapat. Namun disediakan tempat duduk yang terpisah antar keduanya agar nyaman.

 

Ini Dia Daftar Makanan dari Berbagai Produk Termasuk Nestle Yang Dianggap Berbahaya dan Ilegal Oleh BPOM Desember 2025 Lalu

Berbagai macam makanan dari berbagai macam negara yang mugkin sering anda konsumsi dinyatakan ilegal dan sebagian berbahaya oleh BPOM (FOTO: Tangkapan Layar Youtube/ THE EDITOR)
Berbagai macam makanan dari berbagai macam negara yang mugkin sering anda konsumsi dinyatakan ilegal dan sebagian berbahaya oleh BPOM (FOTO: Tangkapan Layar Youtube/ THE EDITOR)

THE EDITOR – Jelang liburan Natal dan tahun Baru 2025 kemarin, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan puluhan makanan impor dari hasil olahan dari pabrik Nestle seperti Milo dinyatakan ilegal peredarannya di Indonesia.

Dari konferensi pers yang dilakukan tanggal 17 Desember 2025 kemarin memang cukup mengejutkan karena sederet makanan-makanan populer dan diminati oleh banyak orang dipamerkan melalui saluran Youtube pada Kamis (18/12/2025).

Apa saja makanan dan minuman yang dipamerkan saat itu?

1. Susu merek Milo produksi Nestle yang berasal dari Malaysia

2. Biskuit merek Apollo dari Malaysia

3. Kopi Jantan 

4. Permen Hamer ditemukan mengandung bahan kimia berbahaya.

5. Oriental Kopi Teh Tarik

6. Kopi O

7. Black Bean Soymilk

8. Rabea

9. Oriental Kopi White Coffee

10. Crispy Prawns with Cereal

11. Sarden merek Botan

12. Kit Kat

13. Durra – Falafel

14. Sugar Cracker

15. BOH

16. Ovaltine

17. Hacks

18. Old Town Coffee

19. Ali Cafe

Dalam konferensi pers tersebut, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan bila tidak hanya makanan, sejumlah produk lain dinyatakan ilegal dan berbahaya juga datang dari golongan minuman, makanan ringan, ikan dan hasil olahannya, cokelat dan hasil olahannya, bumbu dan bahan tambahan pangan, biskuit dan kue, susu dan olahannya serta kembang gula dan permen.

Taruna juga meminta agar masyarakat hati-hati dalam memilih produk-produk olahan yang akan dikonsumsi. Pasalnya, menjelang hari raya, sering kali makanan dan minuman dijual dengan harga murah agar menarik perhatian masyarakat.

Tapi, apa sebenarnya yang perlu dikhawatirkan dari makanan yang kadaluarsa, tidak memiliki izin edar, mengandung bahan berbahay dan rusak menurut versi BPOM?

1. Bila makanan diklaim mengandung bahan berbahaya tapi tidak memiliki izin edar dan kandungan dosis, maka besar kemungkinan akan menimbulkan sakit penyakit seperti gagal jantung bila di makan dalam dosis yang berlebihan. 

2. Bila kadaluarsa maka makanan dikhawatirkan menjadi sarana pertumbuhan bakteri. BPOM mengatakan bakteri salmonela paling sering ditemukan dalam makanan yang sudah kadaluarsa.

3. Kemasan rusak akan mengakibatkan mikro organisme asing tumbuh dan menyebabkan penyakit saat masuk ke dalam tubuh.

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Masyarakat diminta untuk teliti sebelum membeli makanan-makanan impor yang dijual murah saat hari raya. Salah satu cara yang perlu diperhatikan adalah tanggal kadaluarsa dan nomor izin edar.

Nomor izin edar dinilai BPOM sangat penting karena barang tersebut sudah mendapat jaminan kualitas, manfaat dan keamanannya oleh BPOM.

Untuk retail dan distributor nakal yang tetap menjual makanan dan minum serta produk olahan lain yang sudah kadaluarsa akan mendapat sanksi dari BPOM.

“Jangan tergiur karena mau dapat untung banyak akhirnya cuci gudang akhirnya dilakukan jualan besar-besaran, kan kasihan orang yang menerima. Yang jelas BPOM akan bertindak,” katanya.

HATI-HATI BELI BARANG ONLINE

BPOM juga mengimbau agar konsumen memeriksa barang yang dibeli melalui e-commerce. Saat ini, BPOM mengaku telah menerima 1.380.000 tautan laporan untuk produk yang tidak mengikuti standarisasi.

Dengan kata lain, konsumen diminta ikut serta melaporkan barang-barang yang dinilai mencurigakan atau yang dijual dengan harga murah tetapi sudah kadaluarsa.

HATI-HATI BELI PARCEL 

Tak hanya itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak membeli produk-produk kadaluarsa yang dijadikan Parcel saat hari raya.

Salah satu cara agar Parcel anda aman saat dikonsumsi dan bebas kadaluarsa adalah dengan memilih produk itu sendiri. 

Selamat mencoba!

Apa Mungkin Pemimpin Terpilih Meminta Tongkat Ilahi Seperti Musa?

Ilustrasi
Ilustrasi

“Tapi, jangan kita terlalu berharap ya semua bisa sekejap ya. Saya katakan berkali-kali, saya tidak punya tongkat Nabi Musa, tapi, semua bekerja keras,” demikian dikatakan oleh Presiden Prabowo Subianto usai meninjau posko pengungsian di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Langkat, Sumatera Utara, Sabtu (13/12/2025). 

Jawaban di atas diberikan oleh Presiden Prabowo terkait penanganan banjir bandang yang menelan korban lebih dari 1.130 jiwa di Sumatera. Secara langsung, Presiden Prabowo mengatakan bila banjir tersebut tidak dapat ditangani dengan cepat.

Tapi, mengapa pada akhirnya dikaitkan dengan ‘Tongkat Nabi Musa?’. 

Redaksi The Editor akan membahas sedikit tentang sejarah tongkat Nabi Musa dan siapa yang memberikan tongkat tersebut hingga dapat menjadi legenda di bumi ini.

Dalam Alkitab, tongkat memiliki arti yang sangat penting, yaitu sebuah wewenang ilahi yang diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa kepada seorang pemimpin untuk melakukan berbagai macam tugas-tugas yang luar biasa atau mukjizat.

Dengan kata lain, setiap pemimpin yang terpilih oleh Allah sudah pasti memiliki tongkat ini. Bahkan, karena hebatnya, cerita tentang Musa jadi inspirasi banyak film-film di dunia, termasuk Hollywood dengan versinya masing-masing. Mengagumkan!

APA HUBUNGAN TONGKAT DENGAN WEWENANG ILAHI?

Di akhir usainya yang ke-40, Musa yang sedang berada menggembalakan ternak milik bapak mertuanya di padang belantara kota Midian, tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah nyala api yang membakar semak-semak berduri di kaki Gunung Horeb. Gunung ini juga kerap disebut Sinai dan letaknya di Semenanjung Sinai, Mesir.

Sembari memperhatikan domba dengan tongkat kayu agar kawanan tidak terpisah, tiba-tiba Musa melihat ada cahaya seperti api dari semak-semak.

Musa heran.

Siapa yang tidak heran melihat semak yang terbakar namun tidak kunjung hangus?

Musa pun mulai mendekat ke arah api tersebut, matanya memperhatikan semak-semak yang tetap saja berdiri segar tanpa berubah warna sedikitpun.

Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya sembari berkata, “Musa! Jangan mendekat lagi. Lepaskan sandalmu karena kami berdiri di tanah yang suci,”.

Musa ketakutan dan menutup mukanya sebab yang berbicara adalah Allah yang datang melalui malaikat. 

Musa menutup mukanya karena tidak berani melihat Allah sebab dalam Alkitab dikatakan bila manusia fana tidak sanggup melihat kemuliaan Allah. Bila melihat Allah maka akan langsung mati. Musa takut.

Tapi, suara tersebut menenangkan Musa dan memintanya untuk menolong Orang Israel yang sudah begitu lama diperbudak oleh Mesir.

Alkitab menuliskan bila Musa sempat ragu dan tidak percaya diri dengan tugas besar tersebut. Rasa tidak percaya diri Musa tertuang jelas dalam bait-bait pertanyaan kepada Allah secara langsung. Salah satunya berbunyi seperti ini, “Aku bukan siapa-siapa. Mana bisa aku menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir,”.

Pertanyaan di atas kepada Tuhan menjadi sebuah bentuk pengakuan ketidakberdayaan Musa dalam menghadapi kepemimpinan Firaun.

Singkat cerita, dari semak yang terbakar tersebut, Tuhan berkata agar musa melemparkan tongkatnya ke tanah, dan tiba-tiba tongkat itu berubah jadi ular.

“Tangkap ular itu dan pegang ekornya,” perintah Tuhan lagi kepada Musa.

Maka, Musa menangkapnya, dan ular tersebut berubah menjadi sebuah tongkat di tangannya.

Tuhan ingin agar Musa menunjukkan keajaiban tersebut di depan Firaun sehingga setiap orang yang melihat per caya bahwa Allah dari leluhur mereka seperti Abraham, Ishak dan Yakub telah memilih Musa.

“Bawa tongkat itu dan pakailah untuk membuat mukjizat,” kata Tuhan kepada Musa.

TONGKAT MUSA ADALAH TONGKAT BIASA YANG DIBERKATI

Dari fakta sejarah di atas diketahui bila tongkat yang dipegang oleh Musa adalah kayu biasa yang Ia pakai untuk menggembalakan domba-domba milik mertuanya.

Kayu tersebut juga dipakai oleh para pejalan kaki untuk tetap kuat saat menempuh jarak jauh di masanya. Tongkat tersebut adalah kayu biasa yang tidak terbuat dari kayu super mahal dan tidak diukir sama sekali.

APA YANG MEMBUATNYA JADI ISTIMEWA?

Tongkat Musa menjadi istimewa karena ada berkat yang datang dari Sang Maha Pencipta. Tongkat tersebut sekaligus juga menjadi simbol bahwa Tuhan menyertai Musa dan memberi kuasa kepadanya.

Dengan kata lain, Tuhan memilih Musa untuk menjadi pemimpin bagi umat-nya.

Tuhan juga yang menjadikan tongkat kayu yang biasa tersebut menjadi istimewa.

Jadi, Tuhan dapat memakai orang yang merasa tidak mampu untuk melaksanakan tugas besar, dengan membuktikan bahwa iman dan kesediaan untuk dipimpin lebih penting daripada talenta alami.

PEMIMPIN JUGA BISA MEMINTA TONGKAT DAN KEMAMPUAN APAPUN SEPERTI MUSA

Sejak awal, Musa mengaku ketidakmampuannya untuk jadi seorang pemimpin bagi Bangsa Israel karena Ia masih muda. Namun dituliskan bila Allah menguatkan hatinya dengan memberikan dia bekal yang banyak untuk jadi seorang legenda di bumi ini.

Bekal itu berupa kemampuan istimewa dalam berbicara sebab Musa mengakui sejak lahir Ia tidak ahli dalam berbicara. Jadi, untuk menemaninya, ditunjuklah seorang juru bicara bernama Harun untuk menemani langkahnya kemanapun Ia pergi.

Dengan kata lain, untuk jadi seorang pemimpin, Musa memang mendapat kuasa untuk melakukan keajaiban melalui tongkat kayunya. Akan tetapi, sebagai pemimpin yang terpilih, Musa juga diberi kebebasan untuk meminta kemampuan apapun yang Ia perlukan.

Jadi, seorang pemimpin yang terpilih tentu harus sadar akan kekurangannya agar Ia dapat dipercaya dan didengarkan oleh rakyatnya.

Dari sejarah Alkitab tersebut diketahui bila seorang pemimpin juga bisa mendapatkan tongkat ilahi seperti Musa bila Ia memintanya.

Pertanyannya adalah apakah anda seorang pemimpin yang meminta tongkat ilahi seperti milik Musa?

Catatan Redaksi The Editor Kamis, 1 January 2026.

Mesir Pasar Ekspor Terbesar Pertama bagi Indonesia di Afrika

(Kiri-pakai topi hitam) Duta Besar Indonesia untuk Mesir Lutfi Rauf di salah satu acara pembukaan kedai kopi milik KBRI (Foto: Humas KBRI Mesir/THE EDITOR)
(Kiri-pakai topi hitam) Duta Besar Indonesia untuk Mesir Lutfi Rauf di salah satu acara pembukaan kedai kopi milik KBRI (Foto: Humas KBRI Mesir/THE EDITOR)

THE EDITOR – Nilai ekspor Indonesia ke Mesir di periode Januari – Desember 2025 mencapai USD 1,59 miliar. Angka ini berhasil membuat Mesir menjadi pasar ekspor terbesar bagi Indonesia. 

Duta Besar Indonesia untuk Mesir  Lutfi Rauf mengatakan bila tren pertumbuhan perdagangan ekspor dan important antara Indonesia dan Mesir memang meningkat di 5 tahun terakhir, terhitung dari tahun 2020 – 2024. 

“Dalam laporan BPS tren pertumbuhan perdagangan ekspor dan impor antara Indonesia – Mesir pada 5 (lima) tahun terakhir 2020 s.d. 2024 tercatat positif 5,77% dengan total perdagangan kedua negara periode Januari-Oktober 2025 sebesar USD 1,95 miliar atau meningkat 37,16% dibanding periode yang sama tahun 2024 sebesar USD 1,42 miliar,” ungkapnya dalam keterangan yang diterima oleh The Editor pada Senin (29/12/2025).

Sebagaimana diketahui, ekspor Indonesia ke Mesir mencapai USD 1,59 miliar pada periode Januari-Oktober 2025, ekspor terbesar pertama di Afrika dan ekspor terbesar ketiga di Timur Tengah setelah PEA dengan nilai USD 3,27 miliar dan Arab Saudi dengan nilai USD 2,46 miliar.

Ekspor Indonesia ke Mesir periode Januari – Oktober 2025 mencapai USD 1,59 miliar atau meningkat sebesar 25,20% dibanding periode yang sama di tahun 2024, yaitu sebesar USD 1,27 miliar, sedangkan ekspor Mesir ke Indonesia periode Januari-Oktober 2025 mencapai USD 357 juta atau naik sebesar 139% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD 149 juta. Dalam neraca perdagangan kedua negara, Indonesia surplus USD 1,23 miliar.

Di saat bersamaan, Atase Perdagangan KBRI Kairo Syahran Bhakti mengungkapkan dalam perdagangan ekspor impor Indonesia Mesir terlihat bahwa produk Indonesia yang meningkat ekspornya ke Mesir pada periode Januari-Oktober 2025 antara lain adalah minyak sawit dan turunannya, biji kopi, kelapa dan olahannya, benang, minyak nabati, kertas, bubuk kakao, alas kaki, besi baja, lemak kakao, dan rempah-rempah seperti biji pala dan cengkeh. Hingga saat ini terdapat 360 item produk Indonesia di Pasar Mesir. 

Syahran menambahkan, adapun produk Mesir yang meningkat ekspornya ke Indonesia pada periode Januari-Oktober 2025 antara lain adalah produk fosfat, kentang, molases, sayur kering, kurma, bahan aspal, citrus, pupuk mineral, biji-bijian dan peralatan perangkat telpon. Hingga saat ini terdapat 84 item produk Mesir di Pasar Indonesia.

Dubes RI dan Kantor Atase Perdagangan KBRI Kairo akan membantu mempromosikan produk hasil pertanian dan perkebunan yang dimiliki oleh Al-Shorouk dan juga pelaku usaha Mesir lainnya, sehingga ke depan hubungan dagang ini adalah hubungan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Selain itu, mengakhiri tugas sebagai Duta Besar Indonesia di Kairo, Dubes RI, Lutfi Rauf menyampaikan pamit dan secara khusus menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi tingginya atas segenap perhatian dan loyalitas para pelaku usaha Mesir dalam berbisnis dengan Indonesia.