28 C
Indonesia
Monday, March 16, 2026

Mengurangi Penyebaran Virus Corona Lewat Sirkulasi Udara Yang Baik

Pembersih udara Blueair (Foto: Randy/ THE EDITOR)
Pembersih udara Blueair (Foto: THE EDITOR)

JAKARTA – Salah satu cara mengurangi dampak tertular virus corona adalah dengan menyediakan rumah yang memiliki sirkulasi udara yang baik. Untuk memastikan kualitas udara dalam ruangan tertutup tetap terjaga, penting bagi kita untuk memiliki pembersih udara.

Direktur PT Higienis Indonesia Justi Salusiana mengatakan bahwa salah satu pembersih udara yang mampu menjaga laju suplai udara bersih atau clean air delivery rate (CADR) adalah Blueair. Dimana unit-unit pembersih mesin ini menggunakan teknologi high efficiency particulate air (HEPA) Silent TM yang menggabungkan filtrasi mekanik dari filter HEPA dengan proses ionisasi, atau pengisian partikel menggunakan ion.

Proses dalam unit pembersih udara Blueair memungkinkan partikel-partikel menempel pada filter, membuatnya lebih efektif dalam menyaring udara. Ionisasi juga terjadi di dalam unit pembersih udara, sehingga udara bersih yang keluar dari mesin terbebas dari ozon. Teknik filtrasi gabungan ini terbukti berhasil membunuh dan menghilangkan 99,9 persen virus dan bakteri di udara hanya dalam waktu 60 menit.

Health Protect, pembersih udara terbaru dari Blueair, adalah salah satu pembersih udara pertama yang
telah teruji berhasil menghilangkan 99,9 persen virus SARS-CoV-2 aktif di udara,” ujar Justi dalam keterangan yang diterima The Editor, Kamis (22/7) malam.

Berkat teknologi HEPASilentTM, lanjutnya, pembersih udara dari Blueair juga tidak terlalu bising, bahkan pada pengaturan paling kuatnya. Selain itu, pada kekuatan maksimum, unit pembersih udara Blueair hanya akan menggunakan daya sebesar 10-72 watt, membuatnya sangat hemat energi dan ramah lingkungan. Dalam pemakaian umum, pembersih udara ini hanya memerlukan daya 25-35 watt, setara dengan sebuah lampu LED.

Ia menjelaskan bahwa semua unit pembersih udara Blueair juga telah mendapatkan sertifikasi Energy Star dari Agensi Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat. Penularan covid-19 lewat udara menurutnya menjadi alasan logis untuk membeli alat ini untuk mengurangi konsentrasi virus di udara lewat ventilasi yang baik.

“Dengan tingginya laju penularan virus COVID-19 di Indonesia, sudah seharusnya kita melindungi diri dan keluarga dengan tetap menerapkan protokol kesehatan 5M dan menjaga kualitas udara di rumah, tempat kita paling banyak beraktivitas selama pandemi,” ungkapnya.

Nikmati Rumah Sehat Ala Skandinavia Selama Bekerja Dari Rumah

Rumah scandinavian tiga lantai (Foto: Synthesis Development/ THE EDITOR)
Rumah scandinavian tiga lantai (Foto: Synthesis Development/ THE EDITOR)

JAKARTA – Era new normal saat ini tidak hanya mendorong masyarakat untuk menjalankan pola hidup sehat tetapi juga memunculkan perubahan dalam kebutuhan sektor hunian.

Menyesuaikan dengan kondisi saat ini, Synthesis Development secara khusus menghadirkan sebuah residensial landed house terbaru yang mengusung konsep Biophilic Homes dengan balutan gaya Skandinavia.

Jeffrey Budiman, arsitek dan desainer interior Synthesis Huis mengatakan bahwa saat ini masyarakat memerlukan hunian yang minimalis, sederhana dengan konsep smart solution yang dapat menjaga kesehatan dan kenyamanan penghuninya.

Untuk itu, Ia meminta masyarakat dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan saat ingin membangun rumah atau saat hendak memilih hunian baru.

“Kita harus cermat dalam memilih hunian yang tepat, bukan hanya berada di area yang hijau saja melainkan hunian tersebut harus memenuhi berbagai kriteria seperti mudah dibersihkan, memiliki sirkulasi udara yang baik, terpapar sinar matahari dan memiliki sistem penyimpanan yang baik,” ungkap Jeffrey dala keterangan yang diterima The Editor, Kamis (22/7) sore.

Ia mengatakan saat ini Synthesis Huis tengah menciptakan hunian landed house berkonsep Biophilic Homes, dimana para penghuni dapat berinteraksi langsung dengan alam. Gaya Skandinavia menurutnya jadi pilihan tepat karena menampilkan keunikan bangunan, dan desain menawan yang timeless.

Menurut Jeffrey hal ini juga terlihat dari bentuk bangunan yang tidak terlalu banyak menampilkan detail lekuk dan ornamen, serta untuk menyesuaikan dengan iklim di Indonesia. Sebagai tambahan dibuat juga atap dan tritisan sebagai elemen peneduh dari panas, hujan dan debu.

Selain itu, penggunaan sejumlah jendela dan halaman terbuka di area belakang rumah memungkinkan cahaya alami masuk, juga cross ventilation yang akan melancarkan sirkulasi udara, serta indoor garden di unit dengan tipe tertentu.

“Dengan sentuhan tanaman dan unsur alam membuat suasana di dalam rumah menjadi berbeda. Sehingga kita dapat memiliki hunian yang sehat, menenangkan, mendukung hidup sehat di era new normal, serta membantu kita untuk tetap kreatif dan produktif di rumah,” jelasnya.

“Kita menjadikan Synthesis Huis sebagai rumah idaman yang mengedepankan unsur Compact Living yaitu memaksimalkan fungsi ruang yang ada namun tetap nyaman untuk digunakan bersama anggota keluarga. Untuk dekorasi bagian dalam rumah kami memberikan kesempatan bagi para penghuni untuk berkreasi sesuai dengan style mereka sehingga setiap anggota keluarga dapat terlibat dalam proses pembentukan rumah itu sendiri”, ujar Jeffrey.

Di saat bersamaan, General Manager Sales & Marketing Synthesis Development Imron Rosyadi juga mengatakan bahwa Synthesis Huis merupakan hunian landed house berbasis Transit Oriented Development (TOD) yang memiliki aksesibilitas baik yakni hanya 1 (satu) KM ke pintu tol yang terkoneksi ke 8 (delapan) ruas tol di Jakarta.

Berada dilokasi strategis dekat dengan Central Business District (CBD) Simatupang yang tengah berkembang pesat, serta didukung dengan berbagai kemudahan akses transportasi dan fasilitas umum lainnya, menjadikan Synthesis Huis sebagai pilihan tepat bagi kaum profesional menengah ke atas.

“Kami akan berikan Special Discount khusus untuk harga Early Bird dalam NUP (Nomor Urut Pemesanan) pada Senin 26 Juli 2021 mendatang. Anda bisa memiliki rumah 3 lantai dengan 4 kamar tidur dengan harga mulai Rp. 1,9 M. Penawaran ini sangat terbatas, segera kunjungi website kami www.synthesishuis.id atau Instagram kami @synthesishuisofficial untuk informasi lebih lanjut”, tutup
Imron.

Sudah Tidak Ada Turis Asing Naik Sepeda Berkeliling Tanah Karo

Desa Sukadame Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Foto: Vessylia Kelshy/ THE EDITOR)

Desa Sukadame Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Foto: Vessylia Kelshy/ THE EDITOR)

TANAH KARO – Minimnya kunjungan turis mancanegara berlibur di Tanah Karo mengubah gaya hidup masyarakat Suku Karo. Di tahun 1980 sampai 1990-an turis-turis asing masih sering terlihat menikmati waktu di kabupaten yang berada di Sumatera Utara ini dengan bersepeda. Rute yang mereka tempuh juga cukup jauh, dari Berastagi hingga ke Danau Toba atau bahkan lintas kabupaten seperti antar Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun.

Di masa-masa itu, turis yang datang ke Tanah Karo akan serta merta membawa berbagai peralatan sepeda mereka. Layaknya profesional, sepeda gunung degan roda super tipis, helm, baju dan celana ketat khas pembalap serta sepatu. Tampilan seperti ini tentu sangat menarik perhatian.

Salah satu desa yang biasa mereka lalui adalah Desa Sukadame Kecamatan Tigapanah Kabupaten Karo. Saat melintas, para turis ini biasa membawa serta rombongan tim sepeda. Jadi baik orang dewasa maupun anak-anak sangat menanti kehadiran mereka karena jadi pemandangan tersendiri.

Turis asing yang muncul hampir tiap hari ini membuat anak-anak desa ini juga sangat suka berolahraga. Sepeda menjadi salah satu alat olahraga yang paling populer setelah badminton saat itu. Orang tua membiarkan anak-anak mereka memiliki sepeda gunung untuk dipakai sehari-hari, dan pastinya sehat.

Gaya hidup ini juga berpengaruh pada perekonomian. Toko-toko penjual sepeda di kabupaten ini juga tak ingin ketinggalan meraup untung. Jejeran sepeda berbagai merek dan harga dipajang untuk memuaskan pelanggan. Berbagai variasi sepeda dijual meski tidak selengkap toko retail di Medan. Pelanggan puas penjual bahagia, setidaknya motto itu mereka pakai dalam berbisnis sehari-hari.

Sayangnya, pemandangan semacam itu tidak lagi terjadi. Jalan raya sepi dari turis-turis yang lalu lalang naik sepeda atau pun bus pariwisata. Turis-turis ini juga sudah tak bisa lagi ditemukan di kota-kota yang biasa mereka jadikan sebagai tempat menginap seperti Kota Berastagi.

Padahal, di tahun 1990-an rombongan bus pariwisata turis-turis asal Eropa dan Amerika setiap hari lalu lalang di sepanjang Jalan Kabanjahe – Merek. Tujuan utama mereka adalah Danau Toba. Saat melintas anak-anak di desa akan berteriak sambil melambaikan tangan pada mereka.

Turis asing yang diatas bus juga membalas lambaian tangan mereka dengan ramah sembari tersenyum. Pemandangan yang seharusnya masih ada di jaman modern ini ternyata hanya tinggal di memori anak-anak yang lahir di tahun 1990-an ke bawah. Sangat ironis.

Badan Pusat Statistik menunjukkan data kunjungan turis asing ke Tanah Karo yang tidak terlalu signifikan. Namun dibandingkan engan daerah lain kabupaten ini berada di nomor 5 besar sebagai salah satu kabupaten paling banyak diminati turis asing.

BPS melansir data dimana tahun 2004 lalu data tamu yang berkunjung ke Tanah Karo mencapai angka 12,54 persen. Sayangnya hingga tahun pun kenaikannya tidak terlalu signifikan, yakni hanya berkutat di angka 16,72 persen.

Salah satu faktor yang membuat kunjungan wisatawan mancanegara menurun menurut BPS adalah peristiwa bom Bali II pada bulan Oktober 2005 dan krisis ekonomi global pada bulan November tahun 2008.

Sejak Padi Tak Lagi Ditanam, Kunang-Kunang Mulai Hilang di Desa Lambar, Tanah Karo

Petani tidak membiarkan lahan mereka tidur dengan menanaminya dengan kol saat musim tanam padi berlalu (Foto: Erawati Br Ginting/ THE EDITOR)
Petani Desa Lambar kini lebih banyak menanam kopi dan jeruk (Foto: Erawati Br Ginting/ THE EDITOR)

LAMBAR – Setiap sore seharusnya kunang-kunang muncul di pinggir jalan desa ini. Sejak padi tak lagi ditanam dan aliran irigasi berhenti, hewan yang mengeluarkan berbagai warna cahaya dari tubuhnya ini tak lagi muncul. Kalaupun ada hanya sesekali saja.

Di Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara terdapat beberapa desa yang dulunya jadi habitat untuk kunang-kunang dan burung-burung pemakan padi. Kini binatang-binatang tersebut sudah jarang terlihat, pun kalau ada satu ekor kunang-kunang yang masuk ke rumah-rumah penduduk. Seperti yang masuk ke rumah mamak saya beberapa waktu lalu.

Desa Lambar adalah salah satu desa di Kecamatan Tigapanah yang jadi habitat kunang-kunang. Di awal tahun 2000-an kunang-kunang selalu muncul di sore hari. Kemunculan mereka tidak hanya di area persawahan, tapi juga hingga ke jalan raya dimana kendaraan roda dua dan roda empat lalu lalang.

Dulunya Desa Lambar adalah ladang untuk warga yang tinggal di Desa Suka, letaknya hanya 30 menit ditempuh dengan kendaraan. Lama kelamaan, satu per satu masyarakat yang tinggal di Desa Suka mulai tinggal di ladangnya masing-masing karena dibutuhkan waktu 1-2 jam berjalan kaki dari rumah ke ladang.

Letaknya yang berada di jalur utama jalan raya Merek-Pematang Siantar membuat perkembangan desa ini sangat cepat. Pendatang dari desa-desa lain juga tidak ingin ketinggalan untuk membuka lahan mereka di Desa Lambar. Aliran irigasi yang baik membuat lahan pertanian saat musim tanam padi tumbuh subur.

Kunang-kunang pun demikian, kemunculan hewan ini di sore hari membuat jalan raya indah bak dipenuhi cahaya lampu. Mereka hinggap di ilalang dan berbagai macam tumbuhan obat yang tumbuh subur di pinggir jalan Desa Lambar.

Sayangnya, seiring terganggunnya saluran irigasi sawah, alih fungsi sawah jadi area perumahan dan perubahan petani yang tidak lagi menanam padi membuat populasi kunang-kunang berkurang, bahkan mulai hilang.

Sesekali kunang-kunang akan muncul di rumah penduduk. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di rumah Ibu Nurdiana Br Ginting yang ada di Desa Sukadame yang letaknya bersebelahan dengan Desa Lambar. Satu ekor kunang-kunang masuk ke dalam rumahnya yang dipenuhi tumbuhan hijau.

Kenapa Kunang-Kunang Bercahaya?

Sari, M., Ratnawulan dan Gusnedi dalam bukunya yang dijadikan sebagai rujukan dalam situs resmi Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada mengungkapkan bahwa kunang-kunang adalah hewan nocturnal alias hewan yang aktif di malam hari. Fenomena pancaran cahaya dari kunang-kunang merupakan hasil dari reaksi kimia yang disebut dengan kemiluminesensi.

Kunang-kunang dapat mengeluarkan cahaya melalui suatu proses yang dikenal dengan Pada proses ini, zat luciferin di dalam abdomen bereaksi dengan enzim luciferase dan oksigen. Reaksi kimia ini mampu menghasilkan cahaya atau panas yang lemah yang kemudian dikenal dengan istilah cahaya dingin (cold light).bioluminescence.

Udara yang masuk ke dalam perut kunang-kunang mampu menciptakan pola denyut yang kemudian menciptakan cahaya berkedip dari kunang‐kunang tersebut. Cahaya yang dikeluarkan kunang-kunang memiliki beberapa fungsi untuk menarik lawan jenis, mempertahankan diri, kegiatan perburuan, dan sebagai penanda alam bebas polusi udara.

Kunang-kunang merupakan serangga unik, karena kemampuannya untuk menghasilkan cahaya. Spesies kunang-kunang termasuk dalam keluarga Lampyridae yang merupakan ordo dari Celeoptera. Dalam bahasa Inggris kunang-kunang disebut dengan istilah Firefly atau Lightning bug Atau Glowworms.

Kunang-kunang mempunyai tubuh memanjang, panjang berkisar 4.5-20 mm, tubuh lunak, pronotum meluas kearah depan di atas kepala, sehingga kepala nampak melebar dilihat dari atas, mata tersembunyi bila dilihat dari atas, beberapa abdomen terakhir tarsi 5-5-5.

Apa Saja Dosa-Dosa Favorit Anak-Anak Agats, Papua? Simak di Bawah Ini

Bocah Asmat (Foto: Martin Selitubun/ THE EDITOR)
Bocah Asmat (Foto: Martin Selitubun/ THE EDITOR)

AGATS, PAPUA – Ruang pengakuan itu terlihat sempit. Dari bagian luar bisa terlihat dengan Don Gilberto sedang mendengarkan pengakuan dosa dari Paolo, seorang anggota misdinar. Don adalah sebutan khusus untuk pastor diosesan dalam bahasa Italia. Anak-anak lain pun terlihat duduk di jejeran bangku depan, menantikan giliran mereka masing-masing. Tidak ada tawa khas anak-anak pada saat itu. Beberapa orang tua ikut menemani anak-anaknya di bangku bagian belakang.

Saya pun ikut duduk di belakang barisan orang tua. Ketenangan di dalam gereja San Francesco di Sulmona ini, membawa saya pada kenangan akan sebuah ruang pengakuan di sebuah kampung terpencil di Keuskupan Agats, Papua.

Di hari itu, saya dan anggota dewan pastoral paroki sedang mempersiapkan upacara penerimaan komuni pertama. Kami pun bersepakat bahwa Pak Rufus, seorang anggota dewan pastoral tertua di desa ini, untuk mempersiapkan program pendampingan katekse untuk anak-anak.

Ada sekitar tiga puluh anak dilatih dan dipersiapan secara khusus, termasuk menghafalkan doa-doa dasar, misalnya Tanda Salib, doa Salam Maria, doa Bapa Kami, doa Kemuliaan, dan beberapa doa penting lainnya.

Beberapa hari sebelum upacara penerimaan komuni pertama dilaksanakan, anak-anak dituntun untuk mensimulasi bagaimana dia menerima sakramen rekonsiliasi atau pengakuan dosa.

Tepat pada jam empat sore lonceng gereja dibunyikan hari itu. Gedung gereja yang kecil ini pun dipenuhi oleh anak-anak. Bahkan tidak sedikit orang tua yang berdiri di bagian belakang gereja, untuk menyaksikan dan mendukung perkembangan anaknya.

Tak lama kemudian acara pun di mulai. Satu per satu anak maju bagian depan, berdiri di depan panti imam, dan mulai berlatih melafalkan ritus sakramen ini. Anak yang pertama maju kedepan panti imam, dan mulai berkata:

“Pastor, berkatilah saya orang berdosa ini”, anak ini mulai berbicara.

“Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin”, pendamping terlihat mengajak si anak membuat tanda salib dan melanjutkan.

“Jadi anak-anak, jangan lupa, waktu pastor memberkati, buatlah juga tanda salib pada dirimu. Sudah mengerti?,” tanya Pak Rufus.

“Sudah”, sahut anak-anak serempak.

Kemudian, si anak yang pertama mulai melanjutkan pengakuannya,

“Ini pengakuan saya yang pertama. Dosa-dosa saya adalah saya malas ke sekolah, saya marah mama, saya curi sagu dan kelapa. Pastor, saya menyesal atas dosa-dosa saya, dan dengan hormat saya mohon ampun dan denda atas dosa-dosa saya,”.

“Anak-anak, setelah itu dengarkan nasihat dan denda dosa atau penitensi yang diberikan. Lalu, dilanjutkan dengan doa tobat. Sekarang, ucapkan doa tobat”, kata pak Rufus mengajak si anak untuk melafalkan doa tobat,”.

Isi doa tobat yang disampaikan adalah:

“Allah yang Maharahim
Aku menyesal atas dosa-dosaku
sebab patut aku Engkau hukum,
terutama sebab aku telah menghina Engkau
yang Mahamurah dan Mahabaik bagiku.
Aku benci atas segala dosaku
dan berjanji dengan pertolongan rahmatMu
hendak memperbaiki hidupku
dan tidak akan berbuat dosa lagi.
Allah ampunilah aku orang berdosa ini.
Amin,”.

Terdengar suara tepuk tangan yang meriah dari anak-anak yang mendukung temannya karena telah berhasil dalam latihannya. Anak yang berikutnya pun terlihat semangat dan berhasil. Saya pun senang dengan perkembangan dan semangat anak-anak ini.

Ketika anak keempat selesai berlatih, saya tersadar karena rumusan dosa dari keempat anak ini sama. Dosa-dosa saya adalah saya malas ke sekolah, saya marah mama, saya curi sagu dan kelapa. Awalnya saya kagum karena Pak Rufus telah mendampingi anak-anak dengan baik selama sebulan penuh.

Tetapi di penghujung pertemuan hari itu, saya merasa ada hal yang harus saya perbaiki dalam kegiatan ini. Hal yang dilupakan adalah bahwa dosa merupakan kesalahan yang menghancurkan hubungan dengan Tuhan, bukan hafalan.

Penulis adalah seorang pastor dari Keuskupan Agats Papua

Lapangan Merdeka, Saksi Bisu Perjuangan Panglima Djamin Ginting Kumpulkan Dana Untuk Membebaskan Irian Barat

Lapangan Merdeka di Medan dari pantauan udara. Tampak bangunan mengapit lapangan di seluruh bagian (Foto: @Ihsancode/ THE EDITOR)
Lapangan Merdeka di Medan dari pantauan udara. Tampak bangunan mengapit lapangan di seluruh bagian (Foto: @Ihsancode/ THE EDITOR)

MEDAN – Lapangan Merdeka memiliki nilai yang sangat penting tidak saja bagi sejarah kota Medan, tetapi juga sejarah berdirinya Pemerintahan Republik di Pulau Sumatera. Banyak sekali peristiwa sejarah pernah terjadi di Lapangan Merdeka sejak masa kolonial hingga masa reformasi.

Dr. Suprayitno, sejarawan dan dosen yang fokus pada penelitian situs di wilayah Sumatera mengatakan pada tanggal 11 Juli 1951 Walikota Medan, Djaidin Purba melalui Maklumat No.17 meresmikan dan mengesahkan tanah lapang yang terletak di muka Stasiun Kereta Api Medan dan dikelilingi oleh Djalan Kesenian, Djalan Balai Kota, Djalan Rumah Bola dan Djalan Stasiun yang dulu disebut Esplanade menjadi Tanah Lapang Merdeka.

Pada periode ini, lanjutnya, Lapangan Merdeka menjadi tempat untuk mensosialisasikan berbagai kegiatan nasional, seperti penggalangan dukungan bagi usaha menghancurkan gerakan PRRI, pembentukan Front Nasional Pembebasan Irian Barat, Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Upacara Hari Sumpah Pemuda, dan tentu saja Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI.

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 merupakan peristiwa politik nasional yang sangat penting. Bagi Presiden Soekarno dan Militer, kembalinya kita ke UUD 1945 adalah sebuah pencapaian politik penting yang harus diketahui oleh masyarakat Indonesia.

“Jamin Ginting sebagai Panglima Kodam II BB, memiliki tanggungjawab besar untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang peristiwa itu sehingga suasana kondusif dan aman tetap terjaga di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya,” ungkapnya.

Itulah sebabnya, lanjut Suprayitno, Jamin Ginting hadir dan memberikan pidato politik pada pawai raksasa menyambut kembalinya ke UUD 45 yang diselenggarakan tanggal 19 April 1959 di Lapangan Merdeka Medan. Setahun sebelumnya, tanggal 25 Juli 1958, Kasad Jendral Abdul Haris Nasution di Medan telah melantik anggota-anggota Front Pembebasan Irian Barat daerah Sumatera Utara.

Front Pembebasan Irian Barat diketuai langsung oleh Panglima T&T.I BB, Letkol Jamin Ginting dengan wakil ketuanya terdiri-dari Gubernur Sutan Kumala Pontas. Ketua DPRD-SU Adnan Nur Lubis dan sekretarisnya Mayor Noor Nasution serta anggota-anggotanya sebanyak 23 orang.

“Timbulnya hasrat untuk membentuk front ini karena pemerintah Indonesia telah berkali-kali gagal secara diplomatik di PBB. Oleh karena itu tiada jalan lain selain menghimpun tenaga menjadi satu. Sayangnya ketika hasrat rakyat itu sedang meluap-luap, timbul pula peristiwa-peristiwa pemberontakan di tanah air, sehingga pemerintah terpaksa mengalihkan perhatiannya pada penumpasan pemberontakan,” kata Suprayitno.

Suprayitno menlanjutkan, setelah penumpasan pemberontak mendekati penyelesaiannya kita kembali mengalihkan pandangan masyarakat kepada Irian Barat karena merupakan pekerjaan nasional. Akhirnya Kasad berharap agar FPIB TT I berjalan dengan baik dan sempurna.

Selanjutnya Panglima Jamin Ginting dalam kata sambutannya menyatakan pula bahwa sedapat mungkin FPIB TT I akan bekerja dengan baik sebagaimana yang diharapkan Kasad. Dan kerja yang telah dilanjutkan ialah mengambil alih perusahaan Belanda, dan hingga kini Belanda tidak punya kapital lagi di Sumatera Utara.

“Tapi kerja mengambilalih perusahaan Belanda jadi terhenti, karena adanya pemberontakan di daerah ini,” ungkap Suprayitno.

Malam peresmian itu dihadiri oleh para pembesar sipil dan militer di Sumatera Utara. Suprayitno mengungkapkan bahwa Harian Waspada pada 26 Juli 1958 menuliskan bahwa Jamin Ginting langsung memobilisasi dukungan masyarakat Sumatera Utara setelah ditunjuk sebagai Ketua Front Pembebasan Irian Barat untuk daerah Sumatera Utara.

Salah satunya dengan mengadakan acara Pasar Malam di Lapangan Merdeka Medan untuk menggalang dana bagi usaha membebaskan Irian Barat dari cengkeraman penjajah Belanda.

PNS Jadi Pegawai Swasta, Apa Mungkin? Simak Penuturan Direktur Keuangan Tiran Group Ini

Justan Riduan Siahaan saat ditemui di AAS Building, Makassar pada Sabtu 10 Juli 2021 (Foto: SMD/ THE EDITOR)
Justan Riduan Siahaan saat ditemui di AAS Building, Makassar pada Sabtu 10 Juli 2021 (Foto: SMD/ THE EDITOR)

MAKASSAR – Menjadi Aparatur Sipil Negara hingga memegang jabatan strategis rupanya belum membuatnya puas. Memiliki segudang pengalaman di dunia birokrasi pemerintahan adalah modal untuk terjun ke dunia bisnis.

Mantan Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) ini memilih pensiun di usianya 60 tahun setelah 32 tahun mengabdi di BPKP dan 5 tahun di Kementan sebagai Inspektorat. Justan memilih jalan dunia bisnis, walau petinggi Kementan gigih menahannya.

“Sebenarnya banyak yang menawarkan kepada saya untuk berbisnis di sektor lain. Tapi lebih memilih bersama Pak Amran untuk mengelola Tiran Group”, kata Justan saat berbincang dengan The Editor beberapa waktu lalu.

Bagi Justan ternyata dunia bisnis lebih menantang walaupun tidak sedikit kendalanya. Bedanya, saat di Kementan Ia memiliki banyak staf dan pejabat yang bisa melaksanakan tugas sesuai arahan, dan sering waktupun tak terlalu masalah, sementara di dunia bisnis sumber daya manusia (SDM) yang digunakan terbatas.

Di bisnis, lanjutnya, kunci utamanya adalah kecermatan dan kecepatan. Agak utopis memang, namun mengajak rekan bisnis to the point, clear and clean sangat mempercepat pengambilan keputusan. Sudah jamak pengalaman 12 bulan di bisnis ternyata jadi ahli dalam mengambil keputusan yang cepat dan efisiensi yang jauh melebihi target.

Ia menambahkan bahwa kecepatannya membuat keputusan disokong oleh karyawan yang tak dibatasi oleh struktur, waktu dan tempat. Di lingkup kerjanya yang sekarang terdapat karyawan yang hanya bekerja di kantor saja, di lapangan saja, bahkan pihak pendukung seperti lawyer atau konsultan siap saat informasi atau dokumen pengambilan keputusan dibutuhkan.

“Logis, bagi saya bekerja bukan hanya di kantor. Lanjut di rumah atau di warung adalah biasa. Berhenti dan bekerja di bawah pohon juga biasa,” ungkapnya.

Jadi, masih kata Justan, ternyata sebelum ada istilah work from home di masa pandemi, Ia telah lakukan cara ini sebelumnya. Terkadang baginya 24 jam terasa kurang, terutama saat pemilik Tiran Group tempat Ia bekerja adalah Andi Amran Sulaiman. Baginya, Amran adalah sosok pekerja keras, ulet dan memiliki visi nasional yang clear dan misi yang fokus, sebagai pemimpin perusahaan Ia pun harus siap dengan amanah tersebut.

“Setia terhadap amanah memang melekat ke nama Justan,” imbuhnya.

Seperti sekarang ini, Justan mengatakan bila Tiran Group sedang berkonsentrasi untuk membangun smelter nikel. Nilai investasinya yang mencapai triliunan menjadi harapannya agar gema pembangunan proyek ini menggelorakan semangat kebangkitan anak bangsa di sana.

“Kami sangat yakin, ungkapnya pun bersemangat, kontribusi Tiran Group kepada pembangunan negeri ini ke depannya akan besar dan semakin besar,” tandas Justan.

Saat ini, walau Justan menempati posisi Direktur Keuangan di Tiran Group, ia akan memimpin pembangunan proyek smelter nikel di Konawe Utara.

Di Depan Menteri Pertanian Dan Dirjen Kementan, Bupati Pangkep Dorong Porang Jadi Tanaman Unggulan Kabupaten Pangkep

Menanam porang di Desa Baleangin, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep pada Senin, 19 Juli 2021 (Foto: Istimewa/ THE EDITOR)
Menanam porang di Desa Baleangin, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep pada Senin, 19 Juli 2021 (Foto: Istimewa/ THE EDITOR)

PANGKEP – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bersama Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau hari ini, Senin (19/7) adakan tanam porang di Kelurahan Balleanging, Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Dalam kunjungannya, Syahrul berharap Bupati Pangkep mampu meningkatkan luas tanam porang dari sekarang jumlahnya hanya 200 hektar menjadi 1000 hektar. Pasalnya komoditi yang multi fungsi ini sangat penting dan mudah diolah baik secara tradiosional maupun modern, diantaranya beras, kosmetik, farmasi dan lainnya.

“Olehnya itu, hari ini saya bersama Bupati Pangkep telah mencanangkan 1000 hektar untuk penanaman porang secara bertahap,” ungkap Syahrul.

Saat menanam porang, lanjutnya, petani juga bisa menanam tanaman lain di lahan mereka masing-masing. Selain itu, porang juga bisa tumbuh di lahan-lahan yang marginal sehingga petani di berbagai lokasi akan dengan mudah mendapat keuntungan. Kecamatan BalocCi yang merupakan area pegunungan menurutnya sangat cocok dijadikan area penanaman porang.

“Kita berharap, porang ini dapat menjadi komoditi baru yang akan memperkuat ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan petani. Diharapkan juga, tahun ini porang dapat diolah menjadi beras, sebagai alternatif beras padi,” tambahnya lagi.

Perlu diketahui, porang sudah ada di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) sejak 2012 lalu. Bibitnya diperoleh petani dari hutan, dan dua tahun lalu baru dikembangkan untuk jadi tanaman budidaya.

Agar bisa meningkatkan hasil panen porang, pemerintah meningkatkan hasil panen porang dengan teknologi budidaya yang lebih baik seperti dengan pengolahan tanah dan pemupukan organik.

“Pendirian industri olahan porang untuk pembuatan tepung dan beras porang diharapkan kedepannya dapat mengurangi sampai menutup impor beras shirataki dari luar,” ungkapnya.

Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau mengatakan masyarakat sudah mendapat bimbingan teknis tentang cara penanaman porang. Ia berharap masyarakat dapat beralih dari metode penanaman tradisional menjadi modern sehingga komoditi ini dapat jadi tanaman andalan Kabupaten Pangkep.

“Untuk seluruh masyarakat saya berharap kita dapat meningkatkan perekonomian kita dengan pengembangan komoditas porang ini. Kalo bisa komoditi ini juga menjadi andalan kabupaten Pangkep,”kata Yusran.

Disaat yang bersamaan, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan pengembangan budidaya porang di Provinsi Sulawesi Selatan melalui fasilitasi bantuan pemerintah baru dimulai pada tahun 2020 lalu.

Area dilakukan diatas lahan seluas 577 hektar dengan meliputi bantuan seluas 13 hektar sebagai percontohan untuk menghasilkan bibit di Kabupaten Sidrap, Kabupaten Bantaeng dan di Universitas Hasanudin). Dimana 564 hektar bantuan pupuk dialokasikan ke 6 kabupaten.

“Tahun 2021 Provinsi Sulawesi Selatan mendapat alokasi kegiatan porang seluas 20 ha di 11 Kabupaten diantaranya Kabupaten Soppeng, Sidenreng Rappang, Wajo, Sinjai,Barru, Maros, Bantaeng, Takalar, Bulukumba dan Luwu Utara dengan bantuan full paket benih dan pupuk,” ucap Suwandi.

Kata Suwandi, meningkatnya penanaman porang dipicu oleh meningkatnya minat petani bercocok tanam porang. Tingkat keuntungan yang memadai, berkembangnya industri olahan berbahan baku serta didukung oleh kesesuaian lahan jadi alasan mengapa porang sangat disukai petani.

“Oleh karena itu saya harapkan kondisi seperti ini terus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan sehingga dimasa yang akan datang produksi porang nasional akan terus berkembang tentu tanpa mengganggu pengembangan komoditas pangan lainnya,” tukasnya.

Menteri pertanian Minta Petani Desa Panaikang Tanam Padi Tiga Kali Setahun

Memanen padi dengan alat modern di Desa Panaikang (Foto: Istimewa/ THE EDITOR)
Memanen padi dengan alat modern di Desa Panaikang (Foto: Istimewa/ THE EDITOR)

PANGKEP – Sehari menjelang perayaan Idul Adha, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sempatkan diri untuk menghadiri acara panen padi dan menanam porang di Kelurahan Balleangin, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan pada Senin (19/7) siang.

Tiba di lokasi di Desa Panaikang, Syahrul langsung menuju lokasi tanam padi yang tak jauh dari jalan raya utama. Ia terlihat ramah menyapa pejabat setempat yang sudah tiba sejak pagi. Tak langsung duduk, Syahrul langsung naik ke atas mesin pemotong padi yang tersedia di sawah.

Sembari tersenyum, Ia langsung menjalankan mesin pemotong padi tersebut dan langsung menyalakan mesin layaknya profesional. Setelah satu putaran memotong, Syahrul turun dan mulai memanggil Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangkep.

Syahrul meminta agar petani tidak membiarkan lahannya kosong usai panen padi. Bila memungkinkan, Syahrul berharap petani di Desa Pinaikang mau bertanam padi hingga tiga kali dalam setahun.

“Begini, kalau kau cuma dua kali tanam, berarti kau cuma pakai 12 bulan itu hanya enam bulan dalam setahun. Lalu setengahnya kau buang. Nah sekarang kita harus gunakan apa yang ada agar bisa kita tanam dulu sambil tunggu rentangan tanam lagi,” ujar Syahrul.

Kata Syahrul, ide menanam padi sebanyak tiga kali dalam satu tahun sangat memungkinkan karena saat ini telah tersedia bibit unggul. Dimana varietas unggul ini bisa mempercepat masa panen padi dan hasil produksinya juga tinggi.

Bila hanya menanam padi sebanyak dua kali selama satu tahun, lanjut Syahrul, maka lahan baiknya ditanam dengan komoditas tumbuhan lain seperti kedelai atau kacang hijau. Karena membiarkan lahan kosong selama enam bulan sangat sia-sia.

“Enam bulan sisanya harus kita intervensi. boleh jagung boleh. boleh kedelai boleh. Tanah itu di kepala saya tidak boleh nganggur selama lebih dari 20 hari. Sekarang bisa buat tiga kali tanam dan Pangkep itu bagus banget,” ungkapnya.

Syahrul berjanji akan memberikan bantuan kepada petani di Desa Panaikang beberapa alat mesin pertanian seperti Combain Harvester. Beberapa bibit tanaman seperti kedelai hitam juga akan diberikan kepada petani.

“Abis ini selesaikan pakai combain ya. Kalau mau pake kedelai hitam, ubi kayu dll juga bisa. Pak Dirjen tolong mainkan bibitnya. Pak Bupati saya titip Pangkep agar menjadi contoh pertanian modern,” katanya.

Dia menambahkan, semua kegiatan pertanian di Kabupaten Pangkep sudah dihitung matang, sehingga hasilnya bisa memenuhi kebutuhan lokal maupun nasional.

“Seperti halnya yang dikatakan Bapak Presiden bahwa pertanian itu jangan hanya lihat data, namun juga turun ke lapangan seperti apa kondisinya. Alhamdulillah produksinya bagus. Saya lihat sekarang para bupati dan para gubernur turun langsung ke lapangan. Ini yang terus kita dorong sehingga produktivitas kita meningkat,” tuturnya

Dalam kunjungan tersebut beberapa Dirjen juga turut hadir seperti Dirjen Tanaman Pangan Suwandi, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Ali Jamil dan Sekjen Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono.

Walikota Medan Dinyatakan Bersalah Karena Lakukan Alih Fungsi Lahan Atas Lapangan Merdeka

Lapangan Merdeka di Medan dari pantauan udara. Tampak bangunan mengapit lapangan di seluruh bagian (Foto: @Ihsancode/ THE EDITOR)
Lapangan Merdeka di Medan dari pantauan udara. Tampak bangunan mengapit lapangan di seluruh bagian (Foto: @Ihsancode/ THE EDITOR)

MEDAN – Walikota Medan Bobby Nasution dinyatakan bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan karena ingin mengubah desain utama Lapangan Merdeka pada Rabu (14/7) lalu. Koalisi Masyarakat Sipil Medan-Sumatera Utara (KMS M-SU) Peduli Lapangan Merdeka Medan, melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Humaniora mengungkapkan bahwa saat ini telah terjadi perubahan wilayah dan batas Lapangan Merdeka. Diantaranya dengan melakukan alih fungsi taman seluas 4,88 hektar ini yang awalnya tercatat sebagai ruang terbuka hijau.

Tuntutan yang diajukan oleh KMS adalah agar Walikota Medan menetapkan Lapangan Merdeka menjadi cagar budaya. Kondisi ini didorong KMS karena kondisi Lapangan Merdeka saat ini sangat memprihatinkan. Keaslian lapangan ini juga mulai hilang karena banyaknya bangunan yang menutupi lapangan sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman bagi warga.

Lapangan ini tidak lagi jadi ruang terbuka hijau, melainkan diperuntukkan untuk bangunan-bangunan untuk publik. Sehingga menghalangi pandangan mata pengunjung yang ingin menikmati kehijauan taman ini.

Sejarah Lapangan Merdeka

Dr. Suprayitno, sejarawan dan dosen yang fokus pada penelitian situs di wilayah Sumatera mengatakan bahwa Lapangan Merdeka memiliki nilai yang sangat penting tidak saja bagi sejarah kota Medan, tetapi juga sejarah berdirinya Pemerintahan Republik di Pulau Sumatera. Banyak sekali peristiwa sejarah pernah terjadi di Lapangan Merdeka sejak masa kolonial hingga masa reformasi.

“Di tempat yang dulu dikenal dengan Esplanade ini, selama 132 tahun mungkin sudah lebih ribuan kali dijadikan tempat berkumpulnya massa untuk berbagai kegiatan, baik politik, ekonomi, sosial dan budaya,” ungkap Suprayitno saat berbincang dengan The Editor, Minggu (18/7).

Lapangan Merdeka secara administratif, berada di Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Petisah. Sebagai alun-alun kota, Lapangan Merdeka dibangun pas di tengah-tengah kota Medan, dikitari oleh Jalan Bukit Barisan di sisi utara, Jalan Stasiun Kereta Api di sisi timur, Jalan Pulau Pinang di sebelah selatan, dan Jalan Balai Kota di sisi sebelah barat.

Ia bertutur bahwa ketika Deli Maatschapiij pada tahun 1871 memindahkan kantor perusahaan dari Labuhan ke Kampung Medan Puteri, maka sejak itulah aktivitas ekonomi mulai terpusat di Medan. Medan semakin lama menjadi ramai oleh adanya aktivitas ekonomi perkebunan. Akibatnya tahun 1879, Asisten Residen Deli dan semua pegawainya pindah dari Labuhan Deli ke Medan dan menempati rumah-rumah yang dipinjamkan oleh perusahaan Deli Maatschapiij.

Menyusul perpindahan kantor Asisten Residen Deli dan perkembangan kota Medan, lanjutnya, maka ibu kota residensi Sumatera Timur juga dipindahkan dari Bengkalis ke Medan pada tanggal 1 Maret 1887. Empat tahun kemudian, tepatnya tanggal 18 Mei 1891 Sultan Ma`mun Al-Rasyid Perkasa Alam secara resmi memindahkan ibukota Kerajaan Deli dari Labuhan Deli ke kota Medan.

“Pada periode yang sama para pedagang China yang bermukim di Labuhan juga ikut membangun perumahannya di Medan. Medan kemudian dibangun, ditata dengan asri sehingga pernah mendapat julukan sebagai Parijs van Soematra. Salah satu tempat yang ditata oleh pihak pengusaha perkebunan bersamaan dengan sarana dan prasarana lainnya adalah Lapangan Merdeka yang masa itu disebut dengan Esplanade,” jelasnya.

Kata Suprayitno, Esplanade dijadikan sebagai alun-alun kota Medan. Orang-orang Eropah kebanyakan membangun perumahan di sebelah barat Esplanade. Di selatan Esplanade disekitar Kesawan dibangun Chinatown. Kampung kampung orang Indonesia atau pribumi terdapat di sebelah selatan istana Maimoon. Deli Spoorweg Maatschapiij juga membangun kantor pusatnya di kota Medan dan membangun perumahan pegawainya di sebelah Timur Esplanade.

Sejak 1915, sebuah daerah Industri baru dibangun di Gloegoer sebelah utara kota. Pada tahun 1930-an, mulai dibangun perumahan untuk masyarakat di kawasan Medan Baru dan Polonia.

Suprayitno memaparkan bahwa, pada jaman dahulu, bagi para tuan kebun dan pelancong dari Eropah, Amerika dan lainnya mungkin akan menginap di hotel-hotel yang sudah mulai berdiri megah di Medan seperti Hotel De Boer, Medan Hotel, India Hotel dan hotel-hotel lainya atau rehat di Esplanade menikmati rindanganya pohon trembesi dan menyaksikan event-event budaya yang digelar di lapangan atau mengurus administrasi di Gedung Balai Kota Medan yang menjadi titik nol kota Medan itu

Mereka juga dengan berjalan kaki, naik sado atau rickshaw bisa mengirim atau menerima surat dari keluarga dan kolega bisnisnya di Eropa, di Kantor Pos Besar Kota Medan, berbelanja ke pusat bisnis di Kesawan, menonton pacuan kuda serta menonton film western yang diputar di bioskop-bioskop yang bediri di Medan seperti Orangye Bioskop, Imperial Theater, Deli Bioskop, Chong KunTat dan lain-lain.

Esplanade mulai dibangun bersamaan dengan pembangunan stasiun kereta api sekitar tahun 1885. Namun Esplanade yang sebelumnya merupakan ladang tembakau milik Deli Maatschappij, baru dipakai pada tahun 1880; dijadikan lapangan rumput dan menjadi pusat aktivitas masyarakat Eropah di Medan.

Pada awal abad ke-20, lapangan rumput itu kemudian diperindah ditanami beberapa pohon trembesi yang mengelilingi Esplanade dan beberapa tanaman bunga untuk menambah estetika lapangan yang berfungsi sebagai alun-alun kota tempat bermain dan berkumpul masyarakat yang tinggal di Medan.

Disebelah utara Esplanade dibangun patung Nienhuys (pelopor perkebunan tembakau Deli di Sumatera Timur) dengan air mancur, dan disekitarnya burung-burung berterbangan atau hinggap mencari makanan sehingga pada waktu itu Esplanade mendapat julukan juga sebagai Taman Burung.

Soekarno, Panglima Djamin Ginting dan Lapangan Merdeka

Suprayitno mengatakan pada tanggal 11 Juli 1951 Walikota Medan, Djaidin Purba melalui Maklumat No.17 meresmikan dan mengesahkan tanah lapang yang terletak di muka Stasiun Kereta Api Medan dan dikelilingi oleh Djalan Kesenian, Djalan Balai Kota, Djalan Rumah Bola dan Djalan Stasiun yang dulu disebut Esplanade menjadi Tanah Lapang Merdeka.

Pada periode ini, lanjutnya, Lapangan Merdeka menjadi tempat untuk mensosialisasikan berbagai kegiatan nasional, seperti penggalangan dukungan bagi usaha menghancurkan gerakan PRRI, pembentukan Front Nasional Pembebasan Irian Barat, Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Upacara Hari Sumpah Pemuda, dan tentu saja Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI.

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 merupakan peristiwa politik nasional yang sangat penting. Bagi Presiden Soekarno dan Militer, kembalinya kita ke UUD 1945 adalah sebuah pencapaian politik penting yang harus diketahui oleh masyarakat Indonesia.

“Jamin Ginting sebagai Panglima Kodam II BB, memiliki tanggungjawab besar untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang peristiwa itu sehingga suasana kondusif dan aman tetap terjaga di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya,” ungkapnya.

Itulah sebabnya, lanjut Suprayitno, Jamin Ginting hadir dan memberikan pidato politik pada pawai raksasa menyambut kembalinya ke UUD 45 yang diselenggarakan tanggal 19 April 1959 di Lapangan Merdeka Medan. Setahun sebelumnya, tanggal 25 Juli 1958, Kasad Jendral Abdul Haris Nasution di Medan telah melantik anggota-anggota Front Pembebasan Irian Barat daerah Sumatera Utara.

Front Pembebasan Irian Barat diketuai langsung oleh Panglima T&T.I BB, Letkol Jamin Ginting dengan wakil ketuanya terdiri-dari Gubernur Sutan Kumala Pontas. Ketua DPRD-SU Adnan Nur Lubis dan sekretarisnya Mayor Noor Nasution serta anggota-anggotanya sebanyak 23 orang.

“Timbulnya hasrat untuk membentuk front ini karena pemerintah Indonesia telah berkali-kali gagal secara diplomatik di PBB. Oleh karena itu tiada jalan lain selain menghimpun tenaga menjadi satu. Sayangnya ketika hasrat rakyat itu sedang meluap-luap, timbul pula peristiwa-peristiwa pemberontakan di tanah air, sehingga pemerintah terpaksa mengalihkan perhatiannya pada penumpasan pemberontakan,” kata Suprayitno.

Suprayitno menlanjutkan, setelah penumpasan pemberontak mendekati penyelesaiannya kita kembali mengalihkan pandangan masyarakat kepada Irian Barat karena merupakan pekerjaan nasional. Akhirnya Kasad berharap agar FPIB TT I berjalan dengan baik dan sempurna.

Selanjutnya Panglima Jamin Ginting dalam kata sambutannya menyatakan pula bahwa sedapat mungkin FPIB TT I akan bekerja dengan baik sebagaimana yang diharapkan Kasad. Dan kerja yang telah dilanjutkan ialah mengambil alih perusahaan Belanda, dan hingga kini Belanda tidak punya kapital lagi di Sumatera Utara.

“Tapi kerja mengambilalih perusahaan Belanda jadi terhenti, karena adanya pemberontakan di daerah ini,” ungkap Suprayitno.

Malam peresmian itu dihadiri oleh para pembesar sipil dan militer di Sumatera Utara. Suprayitno mengungkapkan bahwa Harian Waspada pada 26 Juli 1958 menuliskan bahwa Jamin Ginting langsung memobilisasi dukungan masyarakat Sumatera Utara setelah ditunjuk sebagai Ketua Front Pembebasan Irian Barat untuk daerah Sumatera Utara.

Salah satunya dengan mengadakan acara Pasar Malam di Lapangan Merdeka Medan untuk menggalang dana bagi usaha membebaskan Irian Barat dari cengkeraman penjajah Belanda.