24.4 C
Indonesia

Netijen Mengejek Sikap Israel Yang Menyita Cokelat Batangan Asal Palestina

Israel menyita cokelat batangan tersebut karena menduga uangnya akan dipakai untuk mendanai Hamas

Must read

PALESTINA – Netijen di media sosial mengejek keputusan pemerintah Israel yang menyita cokelat batangan asal Palestina. Sikap Israel tersebut membuat netijen memberikan julukan baru kepada Israel dengan nama “penjahat kartun mencuri permen’, karena pejabat Israel menghubungkan penjualan penganan dengan terorisme.

Seperti dilansir dalam Middle East Eyes, keputusan Israel menyita 23 ton cokelat batangan saat dalam perjalanan menuju Gaza dengan alasan akan digunakan untuk mendanai operasi militer Hamas telah memicu ejekan online.

Pejabat keamanan mencegat pengiriman permen saat arak-arakan pengiriman melintasi Mesir menuju ke Israel di persimpangan perbatasan Nitzana, menurut sebuah laporan pada hari Senin di Times of Israel.

Investigasi bersama oleh intelijen militer Israel, Biro Nasional untuk Pendanaan Penanggulangan Teror, dan Pusat Inspeksi Kargo Otoritas Pajak menyimpulkan bahwa produk tersebut akan dikirim menuju Gaza, dan konon akan dijual oleh Hamas untuk menghasilkan pendapatan.

Penyelidikan tersebut juga mengatakan bahwa cokelat batangan tersebut berkaitan dengan dua perusahaan di Gaza bernama the al-Mutahidun Currency Exchange dan Arab al-Sin. Keduanya telah ditetapkan Israel sebagai organisasi teror berdasarkan dugaan karena pernah membiayai Hamas.

Para pejabat Israel mengatakan kepada wartawan bahwa mereka dapat menyita cokelat batangan tersebut dengan mengantongi surat perintah penyitaan yang ditandatangani oleh Menteri Pertahanan Benny Gantz.

“Israel akan terus bertindak untuk mencegah pemberdayaan Hamas yang lebih memilih membangun kekuatan militer dari pada merawat orang-orang di Jalur (Gaza) yang runtuh karena beban ekonomi,” kata Gantz.

“Kami akan terus memburu jaringan yang mendanai teror, apa pun metode yang mereka pilih,” tambahnya lagi.

‘Penjahat kartun mencuri permen’

Banyak pengguna media sosial mengejek tuduhan bahwa Hamas didanai oleh penjualan cokelat.

“Ah ya, sumber pendanaan Hamas yang terkenal juga digunakan oleh klub sekolah menengah dan tim bisbol liga kecil,” canda seorang pengguna.

Pengguna lain bereaksi dengan memposting bendera Hamas dengan warna hijau dan putih, bersebelahan dengan logo resmi untuk anggota Pramuka Wanita Amerika Serikat, yang memang menggunakan warna yang sama.

James Zogby, pendiri Arab American Institute mengatakan bahwa penyitaan itu menunjukkan bahwa Israel mengendalikan Gaza seperti penjaga penjara yang mengendalikan penjara. Sikap semacam itu menurutnya bertentangan dengan klaim Israel bahwa mereka tidak menduduki daerah kantong tersebut.

“Israel menyita cokelat dengan dan mengatakan bila ckelat tersebut akan dipakai untuk pendanaan Hamas dan karena Hamas adalah kelompok teroris, mereka memiliki hak untuk memotong pendanaan,” tulisnya.

“Tetapi Israel juga bersalah atas kejahatan perang terhadap warga sipil Palestina – membunuh ribuan orang selama bertahun-tahun, dengan impunitas,” jelasnya.

“Israel meneriakkan pembunuhan berdarah terhadap antisemitisme ketika ada yang memboikot mereka dan Amerika Serikat memiliki undang-undang yang menghukum siapa pun yang melakukannya. Sementara itu, Israel memberlakukan segala macam sanksi dan boikot terhadap warga Palestina dan mereka mendapat imbalan miliaran dari Kongres. Apakah ada keadilan di sini?” tanya James.

Menurutnya, dua juta warga Palestina yang tinggal di Gaza telah menghadapi pengetatan pembatasan Israel pada masuknya barang ke daerah kantong yang terkepung dalam beberapa bulan terakhir. Kebijakan tersebut menyebabkan resesi ekonomi besar.

Pembatasan itu diduga terkait dengan upaya Israel untuk menekan Hamas agar membebaskan empat warga Israel, dimana dua di antaranya tewas, yang diyakini ditahan di Gaza.

Perlu diketahui, beberapa waktu lalu pemilik bisnis Palestina mengatakan kepada MEE bahwa mereka terpaksa memberhentikan pekerja agar tetap bertahan, menyusul kehancuran dari serangan Israel terbaru pada bulan Mei.

Sekitar 1.500 perusahaan ekonomi di Gaza diperkirakan telah hancur atau rusak selama kampanye pengeboman Israel. Pemerintah sendiri menaksir kerugian mencapai $ 479 juta.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru