29.4 C
Indonesia

Keraton Yogyakarta, Destinasi Wisata Yang Wajib Dikunjungi

Must read

YOGYAKARTA – Tidak lengkap rasanya jika mengunjungi Daerah Istimewa Yogyakarta tanpa pergi ke bangunan nomor satu di daerah tersebut, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Bangunan ini tidak lain adalah istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta yang berupa kompleks tempat tinggal raja beserta keluarganya, area untuk kegiatan kesultanan, sekaligus area wisata sejarah untuk masyarakat umum.

Dengan luas bangunan yang mencapai 14.000 meter persegi, kraton berlokasi di Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kecamatan Keraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berdasarkan informasi yang tertera di laman resmi keraton, kraton sejatinya lahir dari Perjanjian Giyanti atau Palihan Nagari.

Perjanjian tersebut membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua, Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Perjanjian ini ditandatangani pada tanggal 13 Februari 1755, atau dalam penanggalan Tahun Jawa (TJ), pada Kemis Kliwon, 12 Rabingulakir 1680 TJ.

Dibutuhkan Waktu 1 Tahun Untuk Membangun Keraton Yogya

Dibutuhkan waktu satu tahun untuk membangun kompleks keraton. Sri Sultan Hamengku Buwono I sendiri yang menjadi arsitek dalam pembangunan ini.

Selama masa pembangunan, ia dan keluarganya tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang. Baru pada tanggal 7 Oktober 1756, atau Kemis Pahing 13 Sura 1682 TJ, Sri Sultan Hamengku Buwono I beserta keluarga dan para pengikutnya memasuki keraton.

Meskipun merupakan area kerajaan, sebagian area di keraton terbuka untuk masyarakat umum yang ingin datang berkunjung. Baik masyarakat lokal, luar Yogyakarta, hingga mancanegara diterima dengan baik di sini.

Dilansir dari laman Indonesia Kaya, Bangsal Pagelaran atau Tragtat Rambat yang merupakan bangunan utama keraton terbuka untuk dikunjungi.

Bangunan ini dulunya adalah tempat bertemunya abdi keraton ketika ingin menghadap Sultan.

Namun sekarang, tempat ini difungsikan untuk kegiatan atau event-event pariwisata yang berkaitan dengan kesultanan Yogyakarta.

Di bangunan yang sama, terdapat ruangan Siti Honggil Ler yang merupakan tempat yang memajang foto-foto Sultan mulai dari kesultanan pertama hingga saat ini.

Tempat ini dahulu biasa dipergunakan ketika kesultanan mengadakan upacara. Sementara di ruangan lain, tersimpan berbagai benda peninggalan kesultanan keraton.

Mulai dari koleksi seragam abdi dalem hingga deorama upacara-upacara yang sering dilakukan oleh Kesultanan Yogyakarta.

Tiket Masuk Keraton Terjangkau

Mengunjungi keraton sama dengan menyelami sedikit demi sedikit sejarah Yogyakarta dari kacamata pemerintahannya.

Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai pertunjukan kesenian khas keraton yang diadakan pada waktu-waktu tertentu.

Seperti Uyon-Uyon yang ditampilkan setiap Selasa pukul 12.00–14.30 WIB, pertunjukan wayang golek setiap Rabu (10.00–13.00 WIB), wayang kulit setiap Kamis (10.00–13.00 WIB), macapat setiap Jumat (10.0014.30 WIB), dan wayang wong yang ditampilkan pada Sabtu dan Minggu setiap pukul 10.30–13.00 WIB.

Sejak 13 Januari 2020 lalu, keraton memang hanya buka untuk umum setiap hari Selasa hingga Minggu.

Untuk dapat masuk ke keraton, pengunjung harus membeli tiket terlebih dahulu. Akan tetapi, sebelum itu, lebih baik tentukan terlebih dahulu bagian kraton mana yang ingin dijelajahi.

Pasalnya, harga tiket untuk bagian depan dan bagian belakang keraton berbeda. Harga tiket masuk bagian depan kraton adalah Rp5.000,-/orang dengan tambahan Rp2.000,- jika pengunjung ingin memiliki izin memotret.

Harga tiket masuk bagian belakang keraton adalah Rp7.000,-/orang dengan tambahan Rp1.000,- untuk izin memotretnya. Sementara itu, harga tiket yang dikenakan kepada turis mancanegara adalah sebesar Rp15.000,-.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru