23.4 C
Indonesia

Inilah Pala Fakfak Yang Menjadi Alasan Mengapa Penjajah Sangat Ingin Menguasai Indonesia

Must read

JAKARTA – Kekayaan alam Indonesia memang tiada bandingnya. Tak heran bila di jaman penjajahan dahulu bangsa asing mendatangi Tanah Air hanya untuk mendapatkan berbagai macam rempah-rempah yang sangat penting dan mahal. 

Salah satunya adalah buah pala asal Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Bernama asli Myristica Argentea Warb, buah pala fakfak adalah buah asli dari Tanah Bumi Papua Barat. 

Bentuknya lonjong, dan ketika berusia tua berwarna kuning kecokelatan dengan bintik hitam di kulitnya. Daging buah pala fakfak ini juga tebal dan rasanya asam. Sementara itu bijinya berbentuk lonjong serta kulit biji berwarna yang cokelat mengkilat. 

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang buah yang sangat istimewa ini, Benediktus Hery Wijayanto, Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Tananaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Papua Barat mengajak Redaksi The Editor untuk hadir dalam acara Agro Food yang merupakan ajang pameran hasil perkebunan dan pertanian Indonesia di Jakarta Convention Center beberapa waktu lalu.

Dari penjelasannya diketahui bila saat ini pala fakfak tengah mengeliat menunjukkan taringnya ke dunia internasional dengan berbagai macam bentuk dan olahan modern.

“Pala fakfak ini jadi alasan bangsa asing menjajah Indonesia di jaman dulu. Sebagian tanaman ini juga tumbuh secara alami persis seperti hutan pala dan tidak pernah tersentuh pestisida dan pupuk,” ujar Hery.

Hery juga memperkenalkan redaksi dengan Abdul Jalil, Kepala Bidang Pengolahan Dan Pemasaran Perkebunan Provinsi Papua Barat. Dan dari dia juga diketahui bila pala asal fakfak sangat istimewa. 

Pasalnya, saat panen besar pala tiba maka masyarakat akan membuat ritual yang biasa disebut dengan Mery Totor dengan tujuan memberikan sesajen berupa kopi, sirih-pinang, dan tembakau pada induk pohon pala.

“Tapi palanya harus yang berbuah banyak meski berusia tua,” kata Abdul.

Abdul Jalil, Kepala Bidang Pengolahan Dan Pemasaran Perkebunan Provinsi Papua Barat saat ditemui dalam ajang pameran hasil perkebunan dan pertanian Indonesia di Jakarta Convention Center beberapa waktu lalu (Foto: Elitha Evinora br Tarigan/ THE EDITOR)

Ritual ini, lanjutnya, dilakukan sebagai bentuk ucapan syukur kepada pencipta dan para leluhur. 

Dan, untuk menyamakan waktu panen buah pala di seluruh kampung yang berada di Fakfak, masyarakat menggunakan sistem kera-kera atau sasi. 

Aturan ini akan mengenakan sanksi adat bagi siapapun yang mengambil buah pala yang belum tua.

“Karena akan terkena musibah bagi siapapun yang melanggarnya,” ungkapnya lagi.

Hery sendiri mengatakan bahwa pemerintah Kabupaten Fakfak bersama dengan masyarakat perlindungan indikasi geografis pada bulan november 2016 lalu telah menerima sertifikat indikasi geografis dengan nomor IDG 000000049 dari Kementerian Hukum dan HAM sebagai salah satu produk dengan nama Tomandin Fakfak.

Pemerintah Provinsi Papua Barat juga telah mengatur komoditi pala dalam Perda Nomor 6 Tahun 2016 Tentang Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian pala Fakfak. 

Dan, selama 4 tahun berturut-turut setelah melalui penelitian dan pengujian, maka di tahun 2017 pala fakfak resmi diakui sebaga varietas unggul melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 95 Tahun 2017.

Abdul mengatakan, tanaman pala fakfak dapat diperbanyak dengan beberapa cara. Dan yang umum dilakukan oleh masyarakat adalah dengan biji walaupun sulit membedakan antara yang jantan dan betina. 

“Saat ini selain perbanyakan dengan biji juga mulai dikembangkan pembibitan dengan teknik grafting yang mempermudah memperoleh pala betina,” ungkap Abdul.

Urutan panen dan pasca panen buah pala fakfak yang umum dilakukan adalah sebagai berikut: pertama masa panen. 

Umumnya masa panen dilakukan di tiga musim, yaitu Musim Barat (Oktober), Musim Timur (April), dan Musim Matahari (jeda antara musim barat dan musim timur).

Kedua adalah masa pemisahan daging dari biji. Masa ini biasanya dilakukan langsung usai buah selesai dipetik, dan bisa dilakukan dimanapun juga termasuk di bawah pohon indukan.

Ketiga adalah pengeringan biji dan fuli. Di masa ini biji akan dikeringkan dengan menggunakan dapur pengasapa. Sementara itu fuli akan di jemur di bawah sinar matahari langsung.

Keempat adalah pengetokan. Masa ini umumnya dipakai dengan memisahkan cangkang dari bijinya secara tradisional.

Kelima adalah sortasi. Masa sortasi dipakai untuk memisahkan biji pala kulit dan ketok sesuai dengan kriteria.

Keenam adalah masa pengemasan. Di masa ini biji pala akan dimasukkan ke dalam wadah karung plastik untuk kemudian di kirim.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru