Indonesia Emas 2045, Respon Dialogis UGM Untuk Masa Depan 

Must read

Oleh: Prof. Dr. Ir. Sahid Susanto, M.S.

Sebuah analisis yang masuk akal, yang dilengkapi dan data-data kuantitatif tahun-tahun terakhir. Konsep industrialisasi dijadikan area untuk mengangkat data-data dan melihat tren dari beberapa parameter yang dipakai. Kalau bisa menyajikan tren parameter itu sejak titik awal, dari titik 0 thn (1945 saat kemerdekaan) sampai 100 tahun, lebih bagus.  

Tidak semua negara mampu memanfaatkan momentum Bonus Demografi karena banyak faktor yang mempengaruhi. Dalam konteks pembangunan nasional, pemerintah, siapapun pemimpinnya pasti punya kontribusi dalam bentuk progress. Tentu sesuai dengan era dan jamannya. Oleh karena itu, buat lingkungan dunia akademisi, judulnya mungkin terlalu “ekstrem”.

Indonesia Emas dicanangkan oleh mantan Presiden Joko Widodo waktu itu. Basis pemikirannya adalah Pertanyaan: jelang 100 tahun apakah negeri ini sudah bisa menjadi negeri maju?

Sebuah pertanyaan besar yang wajar diajukan oleh seorang pemimpin tertinggi negeri. Kemudian dipakai untuk membangun strategi dan rencana implementasinya. Momentum Bonus Demografi dipakai sebagai acuan.

RENTANG WAKTU 100 TAHUN

Guru Besar di Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Sahid Susanto (Foto: Istimewa).

Guru Besar di Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Sahid Susanto (Foto: Istimewa).

Siapa sih pemimpin negeri yang tak ingin negerinya maju? Semua pemimpin negeri menginginkan. Untuk legacy kepemimpinannya

Angka 100 kadang memang dipakai sebagai basis waktu untuk mengukur apakah sebuah negeri akan mempunyai “titik balik” kemajuan.

Hal yang lebih tepat dan bisa menghasilkan data yang akurat dalam melakukan sebuah rencana strategis 100 tahun Indonesia emas adalah dengan menggunakan parameter kinerja dari waktu titik awal 0 tahun sampai 100 tahun yang akan datang

Dengan parameter yang sudah ditentukan, angka progresnya akan kelihatan.

INDUSTRIALISASI SEBAGAI PILIHAN

Bangsa dimanapun di dunia ini, masih beranggapan bahwa untuk membawa kemajuan suatu bangsa, satu-satu jalan adalah industrialisasi.

Industrialisasi merupakan sistem produksi massal dengan melandaskan pada prinsip efisiensi, efektifitas dan produktivitas. Pasarnya tentu besar dan lintas negara.

Untuk mencapai itu, penggunaan teknologi produksi massal merupakan sebuah keharusan dan perlu dilakukan  agar diperoleh produk yang seragam, kualitas tinggi dan tepat waktu.

Ideologi capitalisme terasa di sini, dimana yang akan jadi “korban” adalah masyarakat yang tingkat ekonomi dan literasinya masih rendah.

Secara konsep teori, pengembangan industri selalu berhadapan dengan faktor Constrain (Penghambat) dan Acceleration (Percepatan). Kedua faktor tersebut, ada yang predictable dan unpredictable, dan ada yang controllable dan uncontrollable, sangat berkelindan dengan waktu dan perkembangan teknologi, termasuk disruption technology. 

Adanya resesi ekonomi global, COVID-19, perang geopolitik, perkembangan IPTEK, phenomena borderless state, perkembangan tata ekonomi global, dan lain sebagainya adalah hal-hal yang tak bisa diprediksi.

Faktor penghambat bisa mencakup: keterbatasan modal dalam bentuk dana, SDM (sumber daya manusia) dan teknologi.

Faktor pemicu mencakup demand pasar yang lajunya tinggi yang berkelindan dengan kecepatan laju perkembangan penduduk, cepatnya perkembangan teknologi, menyatunya pasar lintas negara yang dipicu karena perkembangan teknologi informasi.

Sebagai pemimpin tertinggi negara, punya “mimpi”  jangka panjang adalah sebuah keharusan.

Adanya berbagai faktor yang unpredictable harus dihadapi dengan cara meminimalkan resiko.

Phenomena ketidaksesuaian kinerja antara “mimpi” dengan kenyataan harus dibaca lebih cermat memakai instrumen evaluasi, dengan parameter baku dan dalam rentang waktu lintas kepemimpinan.

TATA EKONOMI-POLITIK DUNIA

Yang tak bisa di pungkiri, dalam konteks tata ekonomi-politik dunia adalah bangsa yang telah maju duluan tak akan pernah mau memberi peluang kepada negara berkembang untuk maju.

Memposisikan negara berkembang selalu dijadikan objek pengerukan sumber daya alam dengan harga murah. Aroma DNA bangsa penjajah tak akan pernah hilang.

Lembaga-lembaga dunia dibentuk untuk mempertahankan hegemoni negara maju melalui sistem politik ekonomi global.

Menyatunya pasar global menjadikan lembaga-lembaga ini semakin menunjukkan taringnya untuk tetap menguasahi dunia. 

Dominasi militer telah bergeser ke ekonomi. Persaingan produk industri berbasis teknologi adalah kunci memenangkan persaingan ekonomi global.

Munculnya BRICS adalah sebuah respon terhadap tata ekonomi politik dunia yang tak adil.

Semoga pemimpin dan elit-elit yang sedang berkuasa saat ini bisa melihat dan merespon phenomena seperti ini dengan sikap Kenegarawanan.

Phenomena permainan politik kekuasaan dengan segala cara akhir-akhir ini hanya akan menjadikan mimpi 100 tahun jadi negara maju semakin jauh dari kenyataan.

Stay consistent!

Penulis adalah Guru Besar di Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Baru