23.4 C
Indonesia

Eksplorasi Identitas dan Estetika, Sinta Tantra Hadirkan Pameran Tunggal “Constellation of Being”

“Saya ingin terhubung dengan orang-orang pada tingkatan yang telah melampaui kata-kata dan budaya,” – Sinta Tantra.

Must read

JAKARTA – Akhir pekan ini, ISA Art & Design Gallery akan diramaikan dengan pameran seni tunggal dari Sinta Tantra, seorang seniman berdarah Bali yang berbasis di Inggris dan Indonesia.

Sebagai seorang seniman, Sinta terkenal akan kecintaannya terhadap warna, komposisi, dan ekspresinya yang kerap diterjemahkan dalam bentuk lukisan abstrak dan mural.

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama kurang lebih dua tahun mengantarkan Sinta pada berbagai riset mendalam khusus untuk pameran ini.

Pameran tunggal Sinta kali ini menyoroti cerita hidup serta sejarah keluarganya yang ia sebut sebagai “konstelasi”.

Disebutkan bahwa inspirasi utamanya berasal dari siluet dedaunan tropis berlatar bentuk-bentuk geometris abstrak dan linen.

Di sini, dapat terlihat kepiawaian Sinta dalam meramu pengaruh para pelukis Eropa seperti Henri Matisse dan Jean Arp dengan bentuk-bentuk simbolis khas seniman Bali, sebut saja Nyoman Lempad, serta menyampaikannya dengan indah melalui karya-karyanya yang luar biasa.

Untuk lebih menghidupkan itu semua, ia menggali memori kedua orang tuanya tentang momen-momen berkesan dalam hidup mereka.

Proses menengok masa lalu itu membuatnya berhasil melahirkan kumpulan lukisan cantik yang bercerita tentang masa lalu, meraba masa sekarang, dan meramal masa depan.

Hal lain yang tidak boleh dikesampingkan adalah cerminan hubungan antaranggota keluarga atau “konstelasi” antara ibu-ayah-anak dan kakek-sepupu-cucu.

“Saya ingin terhubung dengan orang-orang pada tingkatan yang telah melampaui kata-kata dan budaya,” ujar Sinta dalam pernyataan resminya.

“Saya memiliki perbendaharaan bentuk dan warna yang dapat saya pasang dan bongkar serta seperangkat aturan yang bisa saya ikuti atau saya langgar jika diperlukan.

“Saya tertarik untuk menciptakan semacam tekanan bagi penikmat karya saya dalam hal komposisi dan kombinasi; tempat di mana mereka dapat menemukan narasi mereka dan di mana saya dapat menemukan narasi saya,” imbuhnya.

Dalam menciptakan karya-karyanya, Sinta melukis dengan menggunakan bahan cat tempera di atas linen foto serta memakai bahan organik dan mineral–yang ia gambarkan sebagai proses “hidup dan bernapas”.

Akhir-akhir ini, ia juga melirik penggunaan material emas, yakni dengan cara menempelkan lembar demi lembar daun emas di lukisannya.

Meskipun komposisi visual untuk mayoritas lukisannya dibuat dengan bantuan perangkat digital, Sinta tetap menggunakan cara manual, yaitu melukis dengan tangan, yang dilakukannya di studio dengan melibatkan persiapan yang mumpuni untuk merampungkan lukisan aslinya.

Pameran yang dikurasi oleh Sadiah Boonstra dan dihidupkan dengan bantuan Seniman Suara Thibaut Vandamme dan Asisten Studio Puti Azalia Ichsan ini berlangsung dari 6 Agustus sampai 30 September 2022 nanti di ISA Art & Design Gallery, Wisma 46, Jakarta.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru