27.4 C
Indonesia

Berkenalan dengan Noriyuki Misawa, Perancang Sepatu Yang Memiliki Daftar Tunggu Pesanan Selama 18 Bulan

Must read

JEPANG – Anda mungkin mengenal sosok Christian Louboutin, perancang sepatu asal Prancis yang terkenal dengan ciri khas sol merah pada setiap karyanya.

Atau Salvatore Ferragamo, perancang sepatu asal Italia yang namanya telah dikenal banyak orang sejak tahun 1930-an.

Di Asia, tepatnya di Jepang, ada sosok Noriyuki Misawa yang kemampuannya dalam merancang sepatu agaknya dapat disandingkan dengan dua orang tersebut.

Karya-karyanya telah menghiasi kaki anggota keluarga Kekaisaran Jepang dan sederet bintang ternama, termasuk aktor Adrien Brody dan sutradara Spike Lee.

Mengutip Channel News Asia, hal yang membedakan Misawa dari banyak pembuat sepatu lainnya adalah pendekatannya untuk menanamkan desainnya dengan elemen seni yang sangat detail.

Beberapa contohnya adalah sepatu yang dibuat menggunakan daun emas di atas kulit, yang terinspirasi dari biola, dan sol yang dihiasi dengan 3.000 paku kuningan.

“Ketika saya pertama kali menemukan bahwa sepatu bisa dibuat (dengan tangan), itu adalah sesuatu yang baru bagi saya dan saya menjadi tertarik,” tuturnya.

“Yang menarik dari sepatu bagi saya adalah keindahan fungsionalnya serta keindahan bentuk dan wujudnya,” tambanya.

Pria itu pertama kali mulai belajar tentang pembuatan sepatu di Asakusa, sebuah lingkungan di Tokyo yang masih menjadi markas sebagian besar industri pembuat sepatu Jepang hingga saat ini.

Ibu Misawa adalah seorang pencinta seni. Darinya lah hasratnya akan seni terpantik untuk muncul sehingga setelah lulus dengan gelar sarjana sastra Inggris, ia justru memutuskan untuk menempa jalannya sendiri sebagai pembuat sepatu.

“Saya memilih jalan menjadi pengrajin ketika semua orang di sekitar saya sedang mencari pekerjaan. Tidak ada yang bisa mengerti saya dan tidak ada yang melakukan hal yang sama. Saya merasa sangat kesepian,” renungnya.

Ia menguasai ilmu membuat sepatu setelah mempelajarinya selama lebih dari satu dekade di Jepang. Akan tetapi, ia merasa ada sesuatu yang kurang.

“Itu tidak memiliki rasa orisinalitas dan saya sangat bermasalah dengan itu. Saya pikir karena dunia saya terlalu sempit, saya harus bepergian ke luar negeri,” katanya.

Maka Misawa yang berusia 28 tahun pindah ke Wina, Austria, untuk mengasah keahliannya dengan bekerja di bengkel pembuat sepatu tradisional.

Ia juga pernah bekerja dengan Simone Springer, seorang desainer sepatu untuk merek fashion.

“Itu adalah cara membuat sepatu yang benar-benar berbeda dari pembuatan sepatu tradisional yang biasa saya lakukan. Memikirkan bahwa ada seseorang yang mengambil tantangan membuat sepatu dengan sangat kreatif–saya sangat terinspirasi olehnya,” katanya.

“Saya berpikir, ‘Saya juga harus mulai membuat sepatu yang merupakan diri saya’.”

Tenggelam dalam warisan seni dan budaya Kota Wina juga mengilhami Misawa dalam pencariannya untuk menentukan gaya pembuatan sepatunya.

“Saat itulah saya pertama kali berpikir ingin melakukan sesuatu yang memadukan sepatu dengan seni,” imbuhnya kemudian.

Untuk itu, ia pun belajar seni dengan seorang guru selama empat tahun. Ia mempelajari teknik-teknik seperti mengaplikasikan daun emas pada kulit.

“Saya sangat terkejut dengan fakta bahwa teknik seperti itu ada. Saya langsung merasa bahwa mereka dapat digunakan dalam pembuatan sepatu,” katanya.

Misalnya, teknik ini digunakan dalam Musik, desainnya terinspirasi dari biola.

Ketika ia kembali dari Wina pada tahun 2011, ia meluncurkan studio pesanan di pinggiran Asakusa dan secara bertahap membangun nama untuk pendekatan uniknya dalam membuat sepatu.

Saat ini, ada daftar tunggu selama 18 bulan untuk sepatu yang dipesan lebih dahulu, dengan dirinya membutuhkan waktu enam bulan untuk menyelesaikan sepasang sepatu.

“Saya baru-baru ini mulai merasa bahwa saya sekarang dapat dengan terampil menambahkan rasa seni pada sepatu klasik,” kata Misawa.

“Saya akhirnya bisa memadukan pembuatan sepatu dan seni pada tingkat tinggi, atau setidaknya dengan cara yang menurut saya memuaskan secara pribadi,” tambahnya.

Selain sepatu yang dikenakan kliennya, ia juga dikenal karena menciptakan karya seni aktual dalam bentuk alas kaki pahatan.

Sayangnya, meskipun kreasi imajinatif ini mungkin terlihat seperti sepatu, karya tersebut mungkin tidak dapat dikenakan.

Sebut saja salah satu karyanya, Foot’s Nest, yakni patung yang terbuat dari lapisan kulit yang menampilkan siluet sepatu.

“Biasanya, bagian tumit sepatu terbuat dari lapisan kulit. Anda meletakkan beberapa lapisan kulit dan memolesnya pada akhirnya. Saya menggunakan teknik yang sama untuk membangun seni ini. Itu [membutuhkan] banyak pekerjaan,” katanya.

Misawa membutuhkan waktu dua bulan untuk menyelesaikan proyek tersebut. Kerja kerasnya pun dianugerahi Best Overall Winner dalam Global Footwear Awards 2022.

Baginya, upaya itu sangat berharga.

“Untuk hal-hal yang membutuhkan banyak waktu yang biasanya membuat orang jijik, malah membuat saya ingin mencobanya. Saya sangat agresif, sepertinya saya selalu kesal tentang sesuatu. Hal-hal seperti itu menjadi sumber energi bagi saya,” ungkapnya.

Sang maestro sepatu telah menciptakan lebih dari 20 karya seni yang terinspirasi dari sepatu dan telah mengadakan pameran di Tokyo, Sapporo, Cannes, New York, dan London.

Menurut akun Instagramnya, ia dijadwalkan menggelar pameran di Singapura tahun ini.

Beberapa pahatan sepatu garda depan termasuk Crust, sepatu yang didekonstruksi dan Mouse Attacks Shoe, sebuah karya seni yang menampilkan lubang besar seolah-olah seekor binatang telah menggigit bongkahan besar darinya.

“Membuat karya artistik hanyalah proyek pribadi saya. Saya tidak melakukannya untuk orang lain tetapi hanya untuk diri saya sendiri,” katanya.

Saat membutuhkan inspirasi, Misawa sering pergi ke National Museum of Western Art di Taman Ueno, Tokyo untuk menikmati keindahan beberapa karya seni paling berharga di dunia.

“Saya hanya menyukai suasana tenang di mana Anda dikelilingi oleh gambar-gambar terkenal,” tuturnya.

“Melihat karya-karya terkenal ini dan merasakan sejarah dari karya-karya seni ini, membantu saya memikirkan karya seni seperti apa yang harus saya buat.

“Tujuan hidup saya adalah menciptakan desain sepatu yang belum pernah dilihat sebelumnya yang akan meninggalkan jejaknya dalam sejarah,” pungkasnya.

 

Sumber: Channel News Asia

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru