28.4 C
Indonesia

Asri dan Tenang, Kampung Ini Hanya Dihuni Tujuh Keluarga Sejak Dulu

Must read

GUNUNG KIDUL – Di sekitar puncak gunung api purba Nglanggeran di Gunung Kidul, Yogyakarta, hidup sebuah kampung yang begitu sepi dan tenang.

Kampung itu luas dikenal sebagai Kampung Pitu. Tepatnya terletak di Pedukuhan Nglanggeran Wetan, Kalurahan Nglanggeran, Kapanewon Patuk.

Sesuai dengan namanya, pitu yang berarti tujuh dalam bahasa Jawa, Kampung Pitu hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga.

Meskipun nama itu baru digunakan pada tahun 2014, kampung itu sejatinya telah lama hanya memiliki tujuh keluarga sebagai penduduknya–kurang lebih ratusan tahun.

“Nama Kampung Pitu sebenarnya belum lama, itu baru 2014 kalau tidak 2015. Dulu itu namanya Kampung Gunung Wayang atau Telaga,” kata salah satu warga Kampung Pitu, Surono, dikutip dari detikJateng.

Mengenai asal usul sejarah Kampung Pitu, Surono menjelaskan bahwa eksistensinya berawal dari sayembara yang diadakan oleh pihak Keraton Jogja.

Sayembara itu mengharuskan pesertanya tinggal di wilayah yang saat ini menjadi Kampung Pitu untuk menjaga pohon kinah gadung wulung.

Hadiahnya? Tanah secukupnya di Kampung Pitu yang diberikan langsung oleh pihak keraton.

“Nah, dulu itu yang kuat hanya Mbah Iro Dikromo,” kata Surono, menyebut nama kakek buyutnya sendiri.

“Saat itu Mbah Iro Dikromo disuruh menjaga pohon kinah gadung wulung, setiap hari dibersihkan dan dirawat terus.

“Lalu tiba-tiba hilang, tidak tahu entah ke mana pohon itu karena di dalam pohon tersebut ada benda pusakanya,” paparnya.

Meskipun begitu, Mbah Iro Dikromo tetap disebut memenangkan sayembara dan berhak atas tanah di wilayah itu.

Ia pun tinggal di sana, memulai hidup baru, dan memiliki keturunan. Menurut Surono, para penduduk Kampung Pitu itu sendiri adalah keturunan dari Mbah Iro Dikromo.

Adapun kondisi kampung yang hanya dihuni tujuh keluarga sejatinya bukan lah suatu keharusan.

Akan tetapi, Surono mengaku dirinya hanya ingat kampungnya tidak pernah dihuni lebih dari tujuh keluarga.

Kalaupun ada keluarga baru yang memutuskan untuk tinggal di sana, mereka biasanya tidak akan betah dan pindah tak lama kemudian.

“Tapi cerita bapak dulu pernah ada delapam sampai sembilan KK, tapi pasti salah satu ada yang tidak betah tinggal di sini,” tuturnya.

“Dulu pernah ada dua kali kejadian, itu menurut sejarah dari bapak saya,” sambungnya.

Berada di dataran tinggi dengan jalan corblok, tumpukan bebatuan, dan banyaknya jalur yang menanjak, akses menuju Kampung Pitu terbilang cukup memakan waktu dan tenaga.

Meskipun begitu, pendatang akan dimanjakan dengan keasrian kampung yang masih asli dengan pepohonan, lahan sawah, hingga perkebunan di sana dan sini.

Tertarik untuk berkunjung?

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru