22.5 C
Indonesia
Monday, March 16, 2026

Listrik Sempat Mati Hingga 7 Jam Di Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan, Sulawesi Selatan

Area persawahan dengan latar belakang bukit batu di Desa Kabba, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Foto: Andaq Hidayat/ THE EDITOR)
Area persawahan dengan latar belakang bukit batu di Desa Kabba, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Foto: Andaq Hidayat/ THE EDITOR)

PANGKEP – Aliran listrik di sejumlah desa di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan padam hingga lebih dati 7 jam pada hari ini, Sabtu (10/7). Pemadaman yang terjadi sejak pukul 9.30 WITA tersebut berlangsung dalam dua tahap. Dan lampu dinyatakan benar-benar menyala saat pukul 17.00 sore.

Salah satu desa yang terkena dampak putusnya aliran listrik ini adalah Desa Kabba, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Khalijah (37) seorang ibu rumah tangga harus kelabakan saat hendak menidurkan bayinya yang baru berumur 7 bulan.

Ayunan bayi otomatis yang biasa Ia pakai tidak berfungsi, sementara Ia harus menjaga dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar sembari membantu tetangganya yang tengah tertimpa musibah kecelakaan lalu lintas beberapa hari sebelumnya.

“Kenapa lampu mati terus. Jadi susah beraktifitas kalau begini. Banyak yang harus dikerjakan sementara nomot kontak PLN Pangkep tidak bisa dihubungi,” ujar Khalijah yang sebelumnya sempat menghubungi kantor pusat PLN Pangkep di nomor (0410) 21066.

“Tapi kenapa saat saya telepon nomor itu tapi tidak aktif?” Tanya Khalijah lagi.

Di area tempat tinggal Khalijah listrik mati dalam dua tahap. Pertama dimulai dari pukul 9.30 WITA hingga pukul 13.30 WITA. Lampu kemudian menyala pada pukul 13.31 dan akhirnya mati kembali pada pukul 14.00 WITA. Sampai kemudian listrik kembali menyala sekitar pukul 15.15 WITA.

Listrik Mati Karena Dalam Proses Pemeliharaan

Pemadaman listrik terjadi karena PLN tengah melakukan pemeliharaan jaringan listrik berupa berupa pemangkasan pohon yang sudah dekat dengan jaringan listrik di daerah Kampung Limbua, Kampung Talaka, Arung Sabila dan sekitarnya yang alirannya masuk dari Jalur aliran listrik (penyulang) jurusan Minasatene.

Demikian dikatakan oleh Manager PLN ULP Pangkep Riri Fajriah saat dihubungi oleh The Editor pada Sabtu (10/7) sore.

“Pekerjaan tersebut dalam rangka mengantisipasi gangguan penyaluran listrik akibat sentuhan pohon termasuk mencegah pohon rebah dan tumbang menimpa jaringan listrik,” ungkap Riri yang dihubungi melalui saluran telepon.

Riri mengaku telah mengumumkan perihal pemadaman ini sehari sebelum pemeliharaan jaringan listrik dilakukan, tepatnya pada Jumat (9/7) kemarin lewat media sosial. Ia juga mengaku telah mencoba meminimalisir efek gangguan akibat pemeliharaan itu.

“Untuk meminimalisir jumlah pelanggan yang padam selama pekerjaan pemeliharaan tersebut, maka sebagian suplai listrik pelanggan dialihkan ke jalur aliran listrik (penyulang) jurusan kota Pangkep,” ungkapnya.

Berikut kronologis pemadaman dan pengalihan penyaluran tenaga listrik dari PLN Kabupaten Pangkep yang berhasil diterima oleh redaksi:

Pukul 09.43 WITA, Pemadaman untuk pemeliharaan penebangan dan pemangkasan pohon dimulai pada jalur aliran listrik (penyulang) jurusan Minasatene. Untuk meminimalisir daerah yang padam pada jalur aliran listrik tersebut, maka dilakukan pengalihan aliran suplai listrik, dimana sebagian suplai listrik pelanggan dialihkan ke jalur aliran listrik (penyulang) jurusan kota Pangkep.

Pukul 14.13 WITA, terjadi gangguan kabel putus di pangkal jalur aliran listrik (penyulang) jurusan Pangkep, sehingga menyebabkan padam di daerah jalur aliran listrik (penyulang) arah Pangkep dan sebagian wilayah dari jalur aliran listrik (penyulang) jurusan Minasatene yang dialihkan sebelumnya. Kondisi tersebut mengakibatkan padam yang dirasakan berlangsung lebih lama dari rencana pemadaman yang diinfokan sebelumnya.

Pukul 14.20 wita, pekerjaan pemeliharaan pemangkasan pohon pada jalur aliran listrik (penyulang) jurusan Minasatene sudah selesai, dan dilakukan proses penormalan kembali jalur aliran listrik (penyulang) arah Minasatene tersebut. Proses penormalan kembali jalur aliran listrik di lakukan secara bertahap.

Pukul 15.26 wita, Pembenahan gangguan kabel putus di pangkal jalur aliran listrik (penyulang) jurusan kota Pangkep sudah selesai selanjutnya dilakukan proses penormalan kembali jalur aliran listrik bertahap untuk arah kota Pangkep.

Tokoh Adat Dukung Gerakan KITRA TNI POLRI

SIDRAP – Gerakan Kitra di berbagai kota memperjuangkan kesejahteraan TNI POLRI mendapat dukungan moral dari tokoh adat kerajaan Sidenreng Rappang, Andi Sukri Baharman.

Tokoh Adat sekaligus pengatur kerajaan Sidenreng Rappang ini menyatakan dukungannya atas gerakan KITRA menaikkan 50 juta perbulan gaji TNI POLRI.

“Kami sangat mendukung Tuntutan Gerakan Kitra, sebab kesejahteraan keluarga TNI POLRI akan menghidupkan dan menjaga nilai-nilai luhur bangsa Indonesia” Tutur Andi, Sabtu (10/7).

Kata Andi, gerakan KITRA ini mengingatkannya kembali akan sejarah bergabungnya seluruh kerajaan nusantara kedalam NKRI. Saat itu, lanjutnya,
solidaritas, semangat dan cita cita mulia untuk menyejahterakan seluruh bangsa jadi pondasi utama.

“Raja-raja menyerahkan seluruh aset, kekayaan serta kekuasaan kerajaan karena keyakinan pada pemerintahaan Indonesia untuk wujudkan rakyat yang sejahtera dan bermartabat,” ungkapnya.

Untuk itu, masih kata Andi, gerakan Kitra yang berbasis fakta sejarah ini harus dimulai dengan menaikkan gaji TNI POLRI sebesar Rp50 juta per bulan. Ia juga setuju bila perbaikan nasib aparat akan memperbaiki nasib bangsa Indonesia di masa depan.

“Gerakan Kitra wujudkan kesejahteraan TNI Polri akan menghadirkan karakter mulia aparatur negara, sebaliknya pemiskinan TNI Polri akan menghancurkan nilai-nilai kebaikan, akibat dari himpitan ekonomi.

“jika aparat TNI Polri miskin maka dia akan jauh dari kebaikan, jangankan masyarakat, keluarga mereka pun ikut menjauh, sebab kemiskinan tidak pernah punya teman, kemiskinan hanya sumber kejahatan,” imbuhnya.

Terakhir, Andi berharap dukungan ini menjadi rujukan bagi seluruh tokoh adat dan kerajaan nusantara untuk tetap berperan aktif dalam mengawal komitmen dan cita-cita mulia para pendiri bangsa.

Tolak Narasi Jahat Atas Corona di Media Sosial

Paulus Bambang (Foto: Linkedin/ THE EDITOR)
Paulus Bambang (Foto: Linkedin/ THE EDITOR)

JAKARTA – Menolak narasi jahat atas situasi pandemi corona yang tengah menyerang Tanah Air sama halnya dengan memenangkan peperangan ats covid-19 di dunia nyata. Demikian dikatakan oleh CEO Cofounder Shift Transforming Lives Community, Paulus Bambang hari ini, Jumat (9/7) di akun Linkedinnya.

“Kali ini mari kita berdoa bagi bangsa kita yang sedang mengalami second wave pandemi ini. Kita tolak narasi jahat, kita tolak kutukan jahat dan kita lawan dengan berkat,” tulis Paulus.

Kata Paulus, menolak narasi jahat pandemi corona artinya mampu menahan diri berbicara bohong tentang situasi covid-19 di dunia virtual. Ia yakin dengan memenangkan narasi positif atas corona maka pemulihan dan kesembuhan yang nyata dari covid-29 akan terjadi di dunia nyata.

“Ini peperangan di alam virtual yang harus kita menangkan agar terjadi pemulihan di alam nyata,” ungkapnya.

Cara agar tidak terlibat dan ikut dalam narasi jahat corona adalah dengan berhenti mendengar orang yang suka mengutuk dan mencela. Bila mendengar hal demikian, lanjutnya, maka luangkan waktu untuk memberkati mereka yang memberi kutuk pada kita.

Dalam proses menahan diri dari narasi jahat tersebut, Paulus juga mengajak setiap elemen bangsa untuk tetap disiplin menjaga diri dengan rajin mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak dengan satu sama lain.

Terakhir, Paulus mengimbau dan meminta agar masyarakat mulai berdonasi untuk membantu korban yang terkena tenaga kesehatan yang berjuang membantu para korban covid-19. Dan di saat ini menurutnya masyarakat juga diminta untuk menahan diri agar tidak memamerkan barang-barang mewah.

“Lalu kita berbagi ayo buka dompet. Jangan buat beli barang untuk pamer tapi donasi buat Nakes kita khususnya dan bagi teman yang terdampak,” tukasnya.

Begini Cara Pastor Melayani Umat Nasrani di Pedalaman Asmat, Papua

Aktifitas umat di paroki Bayun Keuskupan Agats (Foto: Martin Selitubun/ THE EDITOR)
Aktifitas umat di paroki Bayun Keuskupan Agats (Foto: Martin Selitubun/ THE EDITOR)

ASMAT – Kata banyak orang, pedalaman adalah tempat pembuangan. Inilah salah satu rahasia umum yang sering kita dengar. Parahnya, hal ini bukan saja terjadi di kalangan pegawai pemerintahan, tetapi juga isu ini juga seringkali datang dari kalangan anggota gereja. Apakah benar ditempatkan di pedalaman karena dibuang atau karena dia mampu?

Suka Duka Berpastoral di Pedalaman

Menjadi petugas pastoral di pedalaman telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang berharga bagi saya. Pada awal ditempatkan di sana, Uskup saya mengatakan bahwa ini adalah penghargaan yang berharga bagi saya.

Pada awalnya saya merasa sedih karena harus berpisah dengan teman-teman, suasana kota, jaringan telepon, atau warung-warung makan yang dapat dengan mudah ditemui di sudut jalan di kota kami yang kecil. Saya selalu bertanya bagaimana keadaan disana, apakah disana akan ada kios, bagaimana kalau sakit nanti dan berjuta pertanyaan lainnya.

Lucunya, bahkan ada teman dari luar kota pernah bilang, aku gak bisa hidup tanpa tempe, bagaimana bisa bekerja kalau tidak ada tempe di sana? (pertanyaan-pertanyaan ini rasanya melelahkan ya … haha). Menjadi lebih menantang lagi karena, akan ada tanggungjawab besar yang harus saya pikul sebagai pastor paroki pada saat itu.

Terbayanglah sudah litani kesulitan yang akan saya hadapi. Banyak hal yang harus diurus di sana, mulai dari komunitas orang muda katolik, lahan yang luas, kios paroki, Ibu-ibu, dewan, stasi, balai pengobatan, lapangan terbang misi, bahkan sekolah. Semua harus terpadu di bawah koordinasi Pastor Paroki. Lupakan malaria atau ombak yang tinggi karena itu hal wajib di tempat kami. Sulit juga ya.

Tiba di Pedalaman

Hal sederhana pertama yang saya buat adalah berkunjung ke rumah umat. Mulai dari memperkenalkan diri, mendengarkan, dan sesekali membuat kegiatan kecil bersama para dewan. Hampir semua hal dibuat dengan pertimbangan beberapa anggota dewan gereja dan tokoh umat. Kalau ada tantangan, langsung cari teman-teman untuk sekedar sharing dan meminta pendapat mereka.

Kebetulan stasi tempat saya tinggal adalah tempat yang cukup subur untuk ukuran daerah Asmat yang berlumpur. Dikarenakan kondisi unik ini, maka bisa dipastikan hampir selalu ada sayuran di meja makan kami ! Percayalah, dedaunan yang bisa dimakan ini menjadi barang mewah di wilayah Asmat yang sembilan puluh persen berlumpur ini. Tak jarang teman pastor dari paroki tetangga mengirimkan nota SOS kepada saya, yang isinya:

“bro, tlg saya … sayur 3 ikat, kelapa 5 butir, cabe harga Rp. 20.000,-, ntar ktm sa bayar”, demikianlah isi tulisan ala sms-an di secarik kertas dari teman pastor, yang tinggal berjarak tiga sampai empat jam berjalan kaki.

Saya pun melakukan hal yang sama, dengan menuliskan nota SOS balasan yang isinya sederhana,

“bro, saya rindu masakan ayam kampungmu”, dan begitulah seterusnya dengan isi catatan yang selalu berbeda dan menyenangkan.

Oya, kami memang tinggal di pesisir pantai, tetapi saat musim ombak tiba, kami akan kesulitan mendapatkan ikan. Lebih parah lagi jika pada saat yang sama, kami kehabisan stok beras, mie instant, gula, atau minyak tanah dan bensin yang memang sangat mahal pada masa itu. Bekerja pun tidak bergairah karena perut tidak terisi dengan maksimal.

Di meja pastoran sudah bisa dipastikan ada singkong atau pisang rebus dan sedikit mie dengan seember kuah. Jika ada umat yang lewat di depan rumah, biasanya saya titipkan candaan pertanyaan kepada komunitas susteran tetanggaku.

“tadi saya pesan kue dari desa sebelah tetapi belum juga tiba di sini. Apakah mereka menitipkannya di susteran ?”.

Biasanya mujizat terjadi sejam kemudian. Para suster menuju pastoran dengan kue atau sepotong ikan asin sambil mentertawakan isi pesan saya. Bahkan mereka pun tidak segan-segan mengirimkan pesan balasan jika kehabisan bahan makanan enak.

Persaudaraan sangat kental terasa. Saling berkunjung dan menguatkan adalah salah satu syarat mutlak saat bekerja di pedalaman. Pintu rumah kita harus terbuka sebisa mungkin. Teras pastoran yang luas, menjadi tempat umat berkumpul, sekedar mampir atau berlindung saat panas dan hujan. Anak-anak sangat ramah, bahkan beberapa dari mereka akan meminta sesuatu dengan sopan kepada kita. Banyak anak muda pun akan meminta ijin jika ingin sekedar duduk di teras pastoran.

Kepada umat saya pun melakukan yang sama. Saya merasa bebas untuk mengatakan apa yang saya perlukan jika dibutuhkan. Jika saya ingin ikan, saya bisa ke pantai, bertemu ibu-ibu yang sedang menjaring dan hanya bilang, “mama, minta ikan sedikit ya..!”.

Kisah Unik di Gereja

Seribu hari lebih saya habiskan di tempat ini dan terukir pula ribuan kisah menarik di tempat ini dan tidak bisa hilang dari memoriku. Saya teringat kembali bahan persembahan di Gereja berupa sayuran, sagu bakar, bahkan singkong rebus. Bahan-bahan persembahan yang sudah dimasak biasanya kami makan bersama-sama setelah mengikuti perayaan Ekaristi.

Adapun bahan makanan yang mentah dijualkan ke para guru, susteran, perawat, atau pastoran. Memang harus dijualkan supaya memenuhi kebutuhan gereja lainnya misalnya lilin, minyak untuk membabat rumput, membeli sapu, permen untuk anak-anak sekolah minggu, dan lain-lain.

Pada suatu hari raya, seorang bapak yang rajin ke gereja membawa persembahan berupa ayam yang masih hidup. Ayam itu diikat di tiang lilin kecil di dekat altar, dan talinya terlepas. Alhasil, seisi gereja menjadi heboh karena ayam menjadi incaran manusia dan anjing di saat bersamaan.

Di saat-saat tertentu, saya juga rindu kepolosan beberapa orang tua yang berani tampil untuk membaca bacaan liturgi di Gereja sekalipun terbata-bata. Kalau diikuti, setiap hari selalu menarik.

Setiap Tempat Ada Cerita

Saya percaya bahwa semua tempat, entah di kota besar atau di pedalaman terpencil di manapun, memiliki tantangan yang unik dan berbeda. Misalnya ada teman saya yang berasal dari India, harus berhadapan dengan realitas kemiskinan atau isu-isu tentang kasta dan kesetaraan gender. Ada juga teman saya dari salah satu negara di Afrika yang pernah berceritera bahwa di tempatnya bekerja, dia harus berjalan kaki beberapa hari di padang pasir untuk mengunjungi umat yang ia layani.

Atau ada juga kisah lain dimana para pastor di beberapa keuskupan di Afrika hanya diberi uang saku sangat kecil, setara kurang dari dua puluh ribu rupiah dalam sebulan. Bahkan tantangan pun ada di antara para imam di gereja-gereja di benua Eropa atau di tempat lain. Puji Tuhan, bahwa di dalam keterbatasan seperti ini pun, mereka tetap setia dalam melayani Tuhan dan umat beriman dengan sukacita.

Tentu saja, tidak setiap hari kita dapat berjumpa dengan kegembiraan, dan tidak setiap saat pula kesulitan itu datang. Hal penting yang dapat kita lakukan adalah menyadari dengan penuh syukur bahwa kasih Tuhan itu ada di mana-mana. Akan tetapi dibutuhkan kerendahan hati untuk tetap teguh dalam menghadapi segala sesuatu dan tetap setia di tempat dimana kita diutus. Dengan cara ini, kita akan semakin membumi, menjadi saudara di tempat di mana kita layani.

Saya percaya inilah cara Allah memperkaya diri saya. Saya justru ‘disekolahkan’  oleh Tuhan di tengah umat yang polos dan sederhana, yang tinggal di pendalaman. Saya pun selalu bersyukur untuk pengalaman berharga ini. Jadi, jangan takut belajar dari pedalaman, bro dan sis, karena pedalaman bukan tempat pembuangan, tetapi tempat penuh rahmat!

Martin Selitubun
Pastor dari Keuskupan Agats Papua

Mahalnya Secangkir Teh Di Monaco

Kota Monaco (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)
Kota Monaco (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

MONACO – Pemandangan di sepanjang jalan mendekati negara mungil ini tidak main-main. Gunung, lembah curam, dan lautan birunya sangat mengesankan.

Gedung-gedung menjulang di cekungan terjal menambah keunikan negara kota ini. Pantas saja negara mungil dengan pemandangan yang menakjubkan ini, mampu menarik jutaan wisatawan.

Setelah bus tiba di area parkir yang terletak di bawah Museum Oceanographic, kami pun bergegas keluar untuk menikmati indahnya negeri para jutawan ini.

Negara di dalam negara

Aku dan teman-teman berjalan menyusuri kota yang indah ini. Setelah acara bersama, aku memilih menyendiri sejenak di sebuah cafe di sudut gang Rue du Palais, yang berseberangan dengan istana kerajaan Monaco.

Kuperbaiki posisi kacamataku sambil mencoba membaca baik-baik daftar harga di menu. Rasanya secangkir teh sudah cukup dan menjadi pilihan terbaik untuk menemaniku menggali informasi tentang negara kota ini. Mengapa harus secangkir teh hangat ?.

Sambil memegang secangkir teh, tatapan mataku berhenti pada Istana Principaut de Monaco. Istana merepresentasikan kejayaan kerajaan Monaco, yang adalah sebuah negara-kota dan negara terkecil kedua di dunia, setelah Vatikan, yang terletak di antara Laut Mediterania dan Perancis di sepanjang Pantai Biru (Cte d’Azur). Monaco juga adalah negara dengan kepadatan penduduk terbesar kedua di dunia.

Nama Monaco sendiri berasal dari sebuah koloni Yunani, Monoikos, yang didirikan pada abad ke-6 SM oleh bangsa Phokida (bahasa Inggris: Phocis). Negara mungil ini bersifat monarki, dipimpin oleh Dinasti Grimaldi. Grimaldi adalah nama keluarga bangsawan asal Genova, Francois Guelph Grimaldi, yang hidup di sekitar abad ke-10.

Grimaldi lalu menyeberang ke Monaco untuk merebutnya dari suku-suku barbar dan mulai membangun negara Monaco. Keturunan Grimaldi inilah yang memegang tampuk pemerintahan tertinggi di Monaco hingga saat ini.

Walaupun luasnya yang hanya 2,02 km persegi, Monaco juga dikenal sebagai negara yang makmur. Rupanya, tarif pajak penghasilan yang rendah membuat banyak orang kaya di dunia memilih tinggal disana. Selain memiliki pajak yang rendah, Monaco juga terkenal dengan tempat judinya di Monte Carlo, sejak tahun 1893.

Katedral Monaco {Foto. Wong Sandy/ Martin Selitubun/ THE EDITOR)

Indahnya Monaco

Kami jalan-jalan sejenak mengunjungi kawasan Monaco-Ville yang merupakan kawasan kota. Di sana terdapat Le Palais des Princes de Monaco atau Istana Pangeran Monaco yang sudah berdiri megah dari abad ke-12.

Monaco juga dilengkapi dengan taman-taman seperti punya taman-taman seperti Taman Jepang dan Jardin Exotique, yang dihiasi kaktus-kaktus raksasa dan pohon-pohon dari Afrika.

Kawasan La Condamine, tempat bersandarnya kapal yacht dan kapal pesiar, yang bisa dinikmati dari atas bukit terjal adalah pemandangan yang super indah. Kafe, restoran, galeri seni, dan toko cinderamata dapat dengan mudah ditemukan di dalam gang-gang di daerah ini. Beberapa dari kami pun menyempatkan diri untuk berbelanja di pertokoan souvenir.

Kami juga mengunjungi Gereja Katedral Monaco yang di dalamnya terdapat makam Dinasti Grimaldi dan Grace Kelly. Sayang sekali, kami tidak bisa mengitari bagian belakang altar dimana terdapat makam keluarga kerajaan dan Puteri Grace. Oh ya, Grace Kelly adalah artis terkenal asal Amerika yang dinikahi oleh Pangeran Rainer III dari Monaco.

Di gereja katedral inilah mereka mengikat janji suci perkawinan secara Katolik. Pada tanggal 13 September 1982, di gereja katedral St. Nicholas ini pula puteri yang bergelar Her Serene Highness The Princess of Monaco, dimakamkan pada usia yang ke-52. Setelah wafat pada tahun 2005, Pangeran Rainer, pun dimakamkan berdampingan dengan cinta sejatinya.

“Kita sekarang berada di jalur formula 1”, kata Wong.

Sandy dari Christour. Kami semua antusias merasakan mulusnya jalan F-1 ini. Jalan-jalan ini sendiri terlihat sempit, diapit perumahan penduduk dan pertokoan. Tikungan-tikungannya dan pemandangan indah menjadikan arena ini sebagai salah satu arena balap terunik di dunia.

Ciao Monaco

Setelah menikmati hidangan lokal, kami melanjutkan perjalanan ke kota Nice dan singgah sejenak di desa Eze. Desa ini kecil di negara Perancis ini sangat terkenal dengan ketenangan, keindahan, dan juga parfumnya.

Konon, beberapa tokoh terkenal memiliki villa di sana, seperti vokalis U2 Bono juga pasangan Pangeran Rainier dan Putri Grace Kelly asal Monaco yang memiliki vila di sana.

Wah, syukurlah kami bisa meninggalkan Monaco segera. “Uang bisa habis di sini segera karena mahalnya harga barang,” kata salah satu peserta sambil tertawa. Semoga sekali waktu bisa main ke sini lagi dan menikmati kembali secangkir teh seharga tujuh euro di lorong lain di kota yang indah ini.

Mengapa Di Kairin Tidak Ada SMP? Sepenggal Kisah Dari Anak Sekolah Di Asmat, Papua

Anggota Orang Muda Katolik di Paroki Roh Kudus Bayun, Keuskupan Agats (Foto: Martin Selitubun/ Kompasiana/ THE EDITOR)
Bocah Asmat (Foto: Martin Selitubun/ Kompasiana/ THE EDITOR)

ASMAT – Siang itu sungguh sangat terik! Tidak ada kisah tentang angin sepoi yang menggerakkan barisan nyiur di depan pastoran kecil kami. Air di kolam ikan kering dan dipenuhi rerumputan dan belalang. Beberapa ekor ayam milik kami dan pak guru di sebelah rumah memilih bernaung di bagian bawah pastoran.

Pastoran sendiri memiliki model rumah gantung berbahan kayu dan ada kolong rumahnya. Memang sudah tiga minggu ini tidak turun hujan. Di kejauhan tampak serombongan anak-anak sekolah berbaris riang pulang sekolah. Mereka terlihat berebutan menuju ke gedung pastoran tempat tinggalku.

“Pater, ada air minum ka?” teriak beberapa dari mereka.

“Ya..mari adik-adik!” kata saya mengajak mereka ke arah dapur untuk mengambil air di dapur.

Mereka segera berlarian di sisi pastoran menuju ke tempat yang telah ditunjuk. Keletihan di wajah itu seakan terhapus oleh beberapa gelas air yang melewati di tenggorokan. Rasa gembira dan sukacita masih memancar di wajah mereka. Tidak lupa saya bergegas mengambil beberapa buah permen dan membagikannya kepada mereka.

“Kalian mau pulang ke kampung?”, tanya saya.

“Iya, pater,”.

“Setiap hari jalan kaki seperti ini?” tanya saya lagi.

“Ya…kami setiap hari seperti ini. Memang jauh, tapi ramai. Banyak teman-teman.”, kata salah satu anak sekolah.

“Kira-kira berapa jam perjalanan?” tanyaku.

“Dua…pater. Pergi ke sekolah dua jam….pulang juga dua jam”, sambungnya santai.

Wah, jauh sekali. Kata saya dalam hati.

“oke,… selamat jalan lagi. Sampai ketemu besok. Nanti kalau besok-besok kalian bisa mampir minum air lagi di sini. Tidak apa-apa”, kata saya.

“Terima kasih. Selamat siang, Pater”, seru mereka riang dan berlalu.

Sore hari saya duduk memandang senja di pantai Bayun yang sedang berpasir putih saat itu. Pantai ini kadang-kadang pantainya dipenuhi pasir putih, dan di lain waktu bisa dipenuhi lumpur setinggi pangkal paha. Sekalipun sudah sore, udara panas tetap masih terasa.

Kepala saya pun masih dipenuhi kisah tentang anak-anak dari kampung Kairin yang setiap hari pergi ke Sekolah. Kampung itu memang terpencil. Satu-satunya tempat berkumpul anak-anak adalah di sekolah dasar dan halaman gereja. Kedua tempat ini ibarat surga, dimana mereka bisa menjadikannya sebagai tempat anak-anak dan bersenda gurau.

Kenyataan bahwa anak-anak dari desa Kairin yang mengejar pendidikan di desa lain dengan penuh semangat adalah sebuah kisah harapan. Kisah tentang masa depan yang harus digapai dengan penuh perjuangan. Perjalanan itu ditempuh selama dua jam setiap pagi. Kadang mereka harus keluar dari kampung saat subuh, menenteng buku di sisi kiri dan selembar daun pisang di tangan kanannya karena hujan.

Kalau sedang berpasir, maka ini kesempatan emas berjalan santai sambil tertawa dan berkejar-kejaran, karena dimanja diatas pasir halus. Kesempatan ini digunakan juga untuk menjaring ikan ketika pulang sekolah.

Sekolah Yang Penuh Dengan Perjuangan

Anggota Orang Muda Katolik di Paroki Roh Kudus Bayun, Keuskupan Agats (Foto: Martin Selitubun/ Kompasiana/ THE EDITOR)

Ketika musim lumpur tiba, mereka harus menyeberangi lumpur setinggi lutut yang berjarak ratusan meter dan diselingi semak berduri. Rasa lapar dan letih menjadi menu wajib bagi anak-anak ini. Mereka seakan tidak peduli pada kucuran keringat yang basah dan kering di badan karena terik matahari pantai. Hujan lebat dan ombak pantai pun tidak ada arti sama sekali jika hasrat ke sekolah ada di ubun-ubun anak-anak ini.

Terkadang saya berpikir, mengapa di Kairin tidak dibangun SMP saja? Supaya anak-anak ini tidak setiap kali harus pulang pergi? Atau, mengapa tidak dibangun asrama di dekat sekolah agar anak-anak bisa lebih terfokus dalam belajar? Selain mereka yang berjuang untuk sekolah, siapakah yang bisa merangkul mereka dalam tantangan ini. Apa yang bisa saya perbuat untuk membantu mereka?

Lepas dari semua hal ini, satu hal yang saya pelajari adalah niat mereka untuk sekolah mengalahkan rasa haus, lapar, dan letih dalam empat jam perjalanan pulang pergi ini. Inilah cara Allah membentuk mereka menjadi manusia Kairin yang sesungguhnya. Sekelompok manusia muda yang berani meraih harapan dengan kerja keras.

Tuhan memang telah memberikan banyak berkat bagi kita. Untuk mencapainya diperlukan tenaga ekstra untuk keluar dari zona nyaman. Seperti anak-anak ini, keluar dari kampungnya yang damai menuju sekolah yang ada di kampung tetangga.

Kisah anak-anak Kairin ini sungguh menginspirasi saya, bahwa hidup itu harus diperjuangkan. Perjuangan merupakan bagian terpenting demi mewujudkan hidup yang lebih baik di masa mendatang. Ketika perjuangan dan kerja keras menjadi kosakata abstrak di tengah dunia, maka anak-anak Kairin justru menampilkan realitas kerja dan perjuangan yang sesungguhnya.

Dewasa ini begitu banyak orang amat mudah mendapatkan sesuatu tanpa keringat sedikitpun. Dengan uang dan tanpa sekolah yang memadai, orang bisa meraih gelar sarjana. Dengan kolusi dan nepotisme pun, orang bisa mendapatkan posisi apapun yang disukainya dengan mudah. Tanpa kerja keras, seseorang bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Realitas ini menggambarkan sisi rapuhnya manusia. Hal ini hanya bisa berubah jika ada kesadaran dan keberanian untuk merombaknya.

Anak-anak Kairin, kalian adalah inspirasi bagi dunia. Bagi Gereja. Kami. Saya. Kalian mengajarkan saya untuk menghargai setiap titik perjuangan, karena masa depan sesungguhnya bukan terletak pada cita-citamu, tetapi hal itu ada pada setiap langkah kaki yang kau usahakan dengan keringatmu sendiri. Semoga Tuhan senantiasa mengiringi langkah kalian menggapai masa depan.

Martin Selitubun
Pastor dari Keuskupan Agats Papua

Gerakan Masyarakat Kendari Galang Dukungan Aparat

Aksi di Kendari (Foto: THE EDITOR)
Aksi di Kendari (Foto: THE EDITOR)

KENDARI – Sambut rencana aksi nasional Gerakan KITRA TNI POLRI, aktivis Kitra Kendari Sulawesi Tenggara intensifkan sosialisasi tuntutan kepada masyarakat Kendari guna perkuat dukungan gerakan kesejahteraan TNI POLRI.

Para aktivis KITRA Kendari ini menggelar spanduk berisi Tuntutan Naikkan 50 Juta per bulan untuk gaji TNI POLRI dilakukan di Simpang Tiga Jalan THR Kota Kendari pada Kamis (5/07).

‌Himawan Halim koordinator Daerah KITRA Kota Kendari menuturkan, kegiatan ini adalah bentuk sosialisasi menuntut pemerintah pusat wujudkan kenaikan 50 juta gaji TNI POLRI.

Kegiatan ini terus dilakukan sebagai bagian menggalang dukungan masyarakat sekaligus persiapan aksi nasional Gerakan KITRA,” kata Himawan.

“Sosialisasi ini sangat penting dipahami oleh masyarakat Kendari menghadapi sikap pemerintah yang enggan dan tidak peduli nasib Keluarga TNI POLRI,” imbuhnya lagi.

Ia melanjutkan, gerakan KITRA yang menuntut kesejahteraan bagi TNI POLRI merupakan kebijakan yang mendesak untuk dijalankan pemerintah.

“Kenaikan gaji TNI POLRI harus ditempuh pemerintah, dibandingkan mengulangi kesalahan Penggunaan APBN yang sudah berlangsung selama 75 tahun,” ungkapnya.

Ia meminta pemerintah tidak mengulangi kesalahan fatal yang membuat negara bangkrut dan terjebak dalam kemiskinan. Karena menurutnya negara memiliki pilihan jalan kesejahteraan dengan menaikkan Gaji TNI POLRI sebesar 50 Juta per bulan.

Kenaikan gaji ini diklaim Himawan akan menguatkan fundamental ekonomi negara dan roda ekonomi dia yakini juga akan melesat maju karena keluarga TNI POLRI sebagai lokomotifnya.

“Artinya, lanjut Himawan, kenaikan gaji ini akan menempatkan TNI POlRI bukan hanya sebagai institusi pertahanan dan keamanan tapi sekaligus menjadi kekuatan ekonomi yang sangat dahsyat,” tutupnya.

Kris Okon Pemahat Asal Asmat, Papua Yang Mendunia

Kris Okon (Foto: Martin Selitubun/ THE EDITOR)
Kris Okon (Foto: Martin Selitubun/ THE EDITOR)

PAPUA – Kris Okon, seorang pemahat asal Asmat, Papua terlihat serius mengerjakan sebuah ukiran papan nama yang dipesan oleh pelanggannya. Dengan mengenakan kaus dan celana pendek, pria yang telah mengikuti pameran hingga ke Amerika dan Eropa ini tetap melanjutkan pekerjaannya saat Martin Selitubun seorang Pastor yang tengah bertugas di Keuskupan Agats, Papua datang berkunjung ke tempat Ia bekerja.

Kris Okon bercerita bahwa talentanya dalam memahat telah membawanya ke banyak negara di dunia. Kunjungan pertamanya ke negara lain dimulai di tahun 1991. Kota pertama yang Ia kunjungi saat itu adalah Washington, dan kemudian diikuti oleh New York, New Orleans dan Chicago. Kunjungan persahabatan dalam rangka mengenalkan budaya Indonesia ini dilakukan Kris Okon bersama beberapa pemahat lain dari daerah di Indonesia.

Tak Pernah Lelah Melayani Di Gereja

Kris Okon sangat ramah, dalam kesehariannya Ia masih menyempatkan waktu untuk melayani di gereja Katolik Asmat. Karena kelihaiannya memahat, tahun 2013 kemarin pria ini juga berkunjung ke negara-negara di Eropa seperti Jerman dan Belgia.

“Mereka menonton orang-orang Asmat mengukir,” jelasnya.

Dalam perjalanan karirnya, Ia mengatakan bahwa bantuan dari para uskup, pastor dan suster yang melayani di Asmat, Papua maka kota tersebut akan jauh tertinggal dari kota-kota lain di Indonesia.

“Orang Asmat terima Injil tapi masih pegang panah itu sangat berbahaya itu,” ungkapnya.

Namun, lanjutnya, kami bersyukur karena ada orang Asmat yang berhasil menjadi pastor. Untuk saat ini terdapat dua orang warga Asmat yang berhasil menjadi seorang Imam di gereja Katolik.

Untuk menonton tayangan video ini silahkan klik di Ngobrol dengan Pengukir Asmat yang pernah ke Amerika dan Eropa.

Trem di Praha Merupakan Satu Yang Terbesar di Eropa

Suasana trem Kota Praha, Republik Ceko di malam hari (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)
Suasana trem Kota Praha, Republik Ceko di malam hari (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

PRAHA – Foto diatas adalah trem yang biasa beroperasi di Praha, Republik Ceko. Jumlah tempat duduknya tidak banyak karena penumpang memang dibiasakan untuk berdiri. Selain karena tidak ada kemacetan, jarak antara satu stasiun ke stasiun lainnya juga tidak begitu jauh jadi penumpang tidak akan lelah meski trem terisi penuh.

Jaringan transportasi trem di Praha merupakan satu yang terbesar di Eropa. Saat berada disana terlihat sekali seluruh jalan utama kota ini dipenuhi dengan jalur trem. Jadi sangat penting untuk berhati-hati saat menyeberang karena jalur trem juga digunakan sebagai jalur mobil dan taksi.

Jam operasional trem di Praha dimulai dari pukul 05.00 pagi hingga pukul 24.00 malam. Sementara itu untuk malam hari hanya trem bernomor 91-99 saja yang beroperasi dari pukul 00.00 sampai pukul 05.00 dengan jarak tunggu sekitar 30 menit. Sementara itu untuk siang hari jarak tunggu antar trem biasanya paling lambat sekitar 8 menit tapi di jalur tertentu yang sangat sibuk mendapat perlakukan khusus yakni hanya berjarak tunggu sekitar 4 menit.

Pemerintah Kota Praha menerbitkan jalur peta trem dengan sangat detail. Tahun 2017 lalu jalur ke-23 dibuka untuk melayani Zvonara hingga Kralovka. Untuk trem saja, terdapat 26 jalur yang beroperasi sehari-harinya di kota ini. Uniknya trem dikota ini sangat beragam dan berwarna. Trem yang telah beroperasi puluhan tahun tetap dipakai bersanding dengan model terbaru.

Trem di praha sudah terhubung ke seluruh terminal termasuk bandara. Selain trem anda juga bisa bepergian di Praha menggunakan metro, kereta dan bus. Biasanya untuk jalur dalam kota cukup menggunakan trem dan metro saja. Bila anda ingin pergi negara lain atau kota lain di luar Praha anda disarankan menggunakan kereta dan bus.

Satu yang harus diingat, trem di Praha tidak dilengkapi dengan kondektur. Anda diminta secara mandiri memindai tiket saat berada diatas trem. Letaknya berada di dekat pintu masuk dan berwarna hitam. Masukkan tiket anda ke dalam kotak kecil dan setelah beberapa saat tiket anda akan diberi tanda khusus atau di tab sebagai tanda sudah pernah digunakan. Jangan coba-coba naik trem tanpa tiket karena kalau diketahui oleh petugas maka Anda akan langsung dibawa ke kantor polisi.

Penumpang juga tidak diizinkan sembarangan membawa koper keatas trem. Bila ukurannya diatas 25 x 45 x 70 cm maka penumpang diwajibkan membayar 16 CZK atau 0.6 euro. Sama halnya dengan anjing, saat naik trem binatang yang satu ini harus dilengkapi dengan tali pengikat dan muzzle (penutup mulut khusus untuk anjing).

Belo Atau Daun Sirih Dari Tanah Karo Yang Harganya Lebih Mahal Dari Emas

Sekumpulan wanita Karo tengah bersantai sambil makan sirih di sebuah desa di Tanah Karo (Foto: Liberty Ginting/ THE EDITOR)
Sekumpulan wanita Karo tengah bersantai sambil makan sirih di sebuah desa di Tanah Karo (Foto: Liberty Ginting/ THE EDITOR)

TANAH KARO – Tidak banyak suku di Indonesia yang masih menjaga tradisi makan sirih. Salah satu suku yang hingga saat ini masih tetap menjaga tradisi makan daun sirih adalah Suku Karo yang bermukim di Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara. Tak seperti daerah lainnya, disini harga daun sirih justru lebih mahal dari emas.

Dalam Bahasa Karo, daun sirih disebut belo. Sehari-harinya, masyarakat ini memakan belo dengan kapur sirih, gambir atau dalam Bahasa Karo disebut gamber serta mbako atau tembakau. Empat item ini selalu dibawa dalam sebuah wadah yang disebut Kampil. Kampil ini berukuran 30 cm dengan tinggi 20 cm dan dianyam dari daun pandan.

Budaya makan belo di Tanah Karo sudah bertahan sejak dahulu kala. Tak hanya wanita, pria juga terbiasa makan daun yang satu ini. Mereka makan belo bukan karena sebatas sedang melakukan ritual adat tertentu, melainkan karena hobi. Belo adalah bagian sehari-hari masyarakat Suku Karo.

Jejeran penjual sirih bisa ditemukan di banyak tempat di Tanah Karo. Harganya mulai dari Rp40.000 – Rp100.000 per pedi, istilah untuk satu ikat belo. Satu pedi belo terdiri dari empat kepit, dimana satu kepit berisi sekitar 45 lembar belo. Dengan kata lain satu pedi belo terdiri dari 180 lembar belo. Harga tersebut belum termasuk untuk kapur sirih, tembakau dan gambir.

Satu pedi belo Tanah Karo (Foto: Liberty Ginting/ THE EDITOR)

Salah satu belo yang terkenal di Tanah Karo adalah yang berasal dari Desa Juhar dan Desa Jandi. Biasanya pembeli tinggal bertanya apakah Belo Jandi atau Belo Juhar ada atau tidak, namun umumnya kedua jenis belo ini gampang dikenali karena warna, ukuran dan bentuknya yang berbeda dari daun sirih lainnya. Tapi bila tidak bisa mengenalinya memang harus bertanya supaya tidak kaget saat daun sirih yang anda minta dihargai hingga Rp100.000 per pedi.

Ada yang menarik dari kebiasaan Suku Karo saat makan sirih. Mereka menyebut istilah ‘manis’ untuk daun sirih yang enak dimakan. Daun sirih jenis ini sudah pasti berkualitas bagus. Cara memakannya juga gampang-gampang susah karena takaran kapur sirih dan gambir yang tidak sesuai akan menyebabkan lidah atau dinding mulut melepuh.

Selain harus memperhatikan takaran saat meramu daun sirih, hal lain yang juga harus dilihat adalah tembakau atau dalam Bahasa Karo disebut Mbako. Mbako ini biasa jadikan sebagai Suntil, dan cara menggunakannya pun unik. Mbako disuntilkan atau digoyang ke bagian atas dan bawah bibir setelah sebelumnya campuran daun sirih dikunyah dan menghasilkan warna merah. Mbako memiliki efek memabukkan, umumnya mbako jenis ini berwarna cokelat gelap.

Mbako yang umum dikonsumsi masyarakat Karo berwarna kuning terang. Harganya juga cukup mahal, jadi mereka yang tidak mampu membeli mbako dengan kualitas ini biasanya akan mengkonsumsi mbako yang memiliki kadar memabukkan yang tinggi. Akibat budaya makan sirih ini, gigi dan mulut masyarakat Karo kebanyakan berwarna merah.