21.3 C
Indonesia
Sunday, March 15, 2026

Fatima Khalil, An Afghanistan Independent Human Rights Commission Was Killed By Sticky Mine Explosion

KABUL – A sticky mine explosion killed two employees of the Afghanistan Independent Human Rights Commission, Fatima Khalil, a donor liaison officer and her driver Jawid Folad on Saturday morning. The attack occurred in Butkhak square of PD 12th of capital Kabul.

The Afghanistan Independent Human Rights Commission, Fatima Khalil (Source: Afghanistan Times)

It has been widely condemned and avalanche of condolences were shared by the Afghan high profile leaders and as well as foreign diplomats and representatives of the international agencies.

The Afghanistan Times said social media is now turned to a great platform to condemn heart wrenching incidents. Sometimes it also uses to laud an achievement. It’s a mixture of both soreness and happiness.

The friends and colleagues of Fatima Khalil, a beautiful soul, seemingly not convince by merely condemnations only, attacking security agencies for its failure to protect the capital residents. They said, the nature of the incident is quite ambiguous as of now neither the attack was asserted by any group nor the perpetrators identified.

Fatima Khalil studied at Afghan Turk High School and knew five languages by age of 16 and had two degrees while she was at her 22. Her family was calling her as Natasha.

“When my (Natasha) was born we didn’t have 500 rupees to pay the midwife, so she left her to me along my mother. Poverty didn’t lead her to be a terrorist,” Lima Halima Ahmad, Fatima’s sister said, Saturday (28/6).

The attacks on civilian employees of the government and non government organizations had not been rare recently the type of the targeting killing has surged. Last week, a number of unknown armed men killed five employees of the Attorney General Office in Deh Sabz district of the capital Kabul. The attackers have not been identified yet. But the Afghan government has constantly blamed the Taliban for the assassination of civilians and some prominent figures.

Afghanistan Times explain that the increase of violence comes amid a fragile peace process launched by the US President Donald Trump’s administration, aiming to pull out all American troops and reach a political settlement with the Taliban before US Presidential Election. Despite disagreement by the Afghan sides, the US diplomats had pressed for a prisoner release and emphasized on early start of intra Afghan negotiations.

Lima Halima, Khalil’s sister, said that Afghan women’s rights were once at the core of the US strategic goals but they are now considered an intra Afghan issue which the US will not interfere with. She suggested the Afghan women were just a political tool that was once useful for the US but not anymore.

Back in their 1990st regime, she continue, the Taliban were opposing any type of rights for women and were treating women with less freedom. There are high risks of possible violation of women rights and freedom of speech with the re-engagement of the Taliban in the future formation of the government throughout the present fragile peace efforts.

The US and international communities have constantly reiterated support to persevere the achievements of the Afghan women and human rights gained during the past two decades, with the assistance of several international human rights organization.

AIHRC is an important human rights organization, monitoring human rights violation no matter by which group, including the Kabul administration. The agency has been working for the rights of all citizens, including the militants, without a single discrimination, and its employees working hard for justice.

It’s absolutely annoying to see Fatima being killed in the line of duty to make a justifiable environment for everyone living in this war torn country. Her target is beyond humanity and Islamic teachings and regulation.

Peneliti Menemukan Fakta Bahwa Beberapa Orang Kehilangan Kemampuan Untuk Mencium Bau Selama Pandemi Corona Menyerang

Langit terlihat bersih disekitar Pantai Padang, Sumatera Barat pada Selasa, 6 Februari 2018 sore hari (Fotografer: Elitha Evinora Tarigan)

INGGRIS – Dari pertama kali virus corona melanda Wuhan, Iran dan kemudian Italia, kita mengetahui bahwa banyak diantara masyarakat yang kehilangan indra penciumannya (anosmia) dan kerap disebut sebagai gejala awal terkena Covid-19. Sekarang, setelah berbulan-bulan berlalu, lewat laporan yang ketat dan klinis, beberapa peneliti menemukan bagaimana cara virus ini menghilangkan kemampuan hidung untuk mencium bau.

Langit terlihat bersih disekitar Pantai Padang, Sumatera Barat pada Selasa, 6 Februari 2018 sore hari (Fotografer: Elitha Evinora Tarigan)

Salah satu penyebab hilangnya bau yang paling umum adalah infeksi virus, seperti pilek, sinus atau infeksi saluran pernapasan atas lainnya. Virus korona yang tidak menyebabkan penyakit mematikan, seperti COVID-19, Sars dan Mers, adalah salah satu penyebab flu biasa dan telah diketahui menyebabkan hilangnya bau.

Simon Gane, Konsultan Rhinologist dan ahli bedah THT dari Universitas London dan Profesor Jane Parker, seorang ahli kimia dari Universitas Reading adalah dua peneliti yang mengidentifikasi penyakit ini. Lewat The Conversation mereka memberitahu bahwa indra penciuman kembali ketika gejalanya hilang sama sekali karena hilangnya bau hanyalah hasil dari hidung tersumbat yang mencegah molekul aroma mencapai reseptor penciuman di hidung. Dalam beberapa kasus, kehilangan bau dapat bertahan selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun.

“Untuk coronavirus novel (SARS-CoV-2), bagaimanapun, pola hilangnya bau berbeda. Banyak orang dengan COVID-19 melaporkan kehilangan indra penciuman yang tiba-tiba dan kemudian secara tiba-tiba dan penuh kembali ke indera penciuman yang normal.” dalam satu atau dua minggu, “saat mereka mempublikasikan pendapat mereka pada 19 Juni 2020.

Menariknya, mereka melanjutkan, banyak orang mengatakan hidung mereka bersih, sehingga kehilangan bau tidak dapat dikaitkan dengan hidung yang tersumbat. Bagi yang lain, kehilangan indra penciuman yang berkepanjangan dan tidak kembali beberapa minggu kemudian. Setiap teori anosmia dalam COVID-19 harus menjelaskan kedua pola ini.

Kembalinya indera penciuman yang tiba-tiba ini menunjukkan hilangnya bau obstruktif di mana molekul aroma tidak dapat mencapai reseptor di hidung. Orang yang kehilangan indra penciumannya setelah di CT scan dan diperiksa sinusnya maka akan terlihat bahwa bagian hidung yang bertugas untuk membaui ternyata tersumbat dengan jaringan lunak dan lendir yang bengkak yang dikenal sebagai sumbing sindroma.

“Kita tahu bahwa cara SARS-CoV-2 menginfeksi tubuh adalah dengan menempel pada reseptor ACE2 pada permukaan sel yang melapisi saluran pernapasan bagian atas. Suatu protein yang disebut TMPRSS2 kemudian membantu virus menyerang sel. Begitu masuk ke dalam sel, virus dapat bereplikasi, memicu respons peradangan sistem kekebalan. Ini adalah titik awal untuk kekacauan dan kehancuran yang disebabkan oleh virus ini sekali di dalam tubuh,”.

Awalnya, kedua peneliti tersebut berpikir bahwa virus itu mungkin menginfeksi dan menghancurkan neuron penciuman. Ini adalah sel-sel yang mengirimkan sinyal dari molekul aroma di hidung Anda ke area di otak di mana sinyal-sinyal ini diinterpretasikan sebagai bau.

Namun, hasil kerja sama internasional baru-baru ini menunjukkan bahwa protein ACE2 yang dibutuhkan virus untuk menyerang sel tidak ditemukan pada neuron penciuman. Tapi protein ini ditemukan pada sel-sel yang disebut “sel-sel berkelanjutan”, yang mendukung neuron penciuman.

Kedua peneliti ini menduga bahwa sel-sel pendukung inilah kemungkinan sel-sel yang dirusak oleh virus, dan respons imun yang menyebabkan pembengkakan area tersebut tidak merusak neuron penciuman.Ketika sistem kekebalan telah mengatasi virus, pembengkakan mereda, dan molekul aroma mampu mencapai reseptor yang tidak rusak dan indra penciuman kembali normal.

Tapi mengapa kemampuan mencium tidak pulih dalam beberapa kasus? Penjelasan untuk ini lebih teoretis tapi didasarkan dari apa yang kita ketahui tentang peradangan pada sistem lain. Peradangan adalah respons tubuh terhadap kerusakan dan menghasilkan pelepasan bahan kimia yang menghancurkan jaringan yang terlibat.

Ketika peradangan ini parah, sel-sel terdekat lainnya mulai rusak bahkan hancur oleh “percikan kerusakan” ini. Kami meyakini bahwa ini yang menyebabkan tahap kedua, yaitu ketika neuron penciuman rusak. Pemulihan kemampuan mencium jauh lebih lambat karena neuron penciuman membutuhkan waktu untuk regenerasi dari pasokan sel induk di dalam lapisan hidung.

Dalam masa pemulihan awal sering terjadi distorsi indra penciuman yang dikenal sebagai parosmia, yaitu bau-bau yang dicium tidak seperti bau-bau normal. Banyak penderita parosmia, misalnya, menggambarkan bahwa kopi jadi beraroma seperti benda terbakar, benda kimia, kotor dan seperti limbah.

Fisioterapi untuk hidung

Penciuman sering disebut indra Cinderella karena sering diabaikan dalam penelitian ilmiah. Tapi kini indra ini telah menjadi fokus penelitian terdepan saat pandemi. Harapannya adalah bahwa kita akan belajar banyak bagaimana virus terlibat dalam menghilangkan kemampuan mencium. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang kehilangan penciuman saat ini?

Berita baiknya, neuron penciuman dapat beregenerasi. Pada sebagian besar orang, neuron ini terus tumbuh kembali setiap saat. Kita dapat memanfaatkan regenerasi itu dan mengarahkannya dengan fisioterapis hidung: pelatihan penciuman.

Ada bukti kuat bahwa banyak pemulihan kemampuan mencium terbantu oleh paparan berulang yang dilakukan secara sadar terhadap serangkaian aroma yang sama setiap hari. Sangat ini mungkin cara ini akan berhasil untuk memulihkan kemampuan mencium yang hilang akibat COVID-19.

Scientists Uncover Why Some People Lose Their Sense Of Smell During Coronavirus Pandemic

Beautiful sunset in Sarajevo, Bosnia & Herzegovina (Fotografer: Elitha Evinora Tarigan)

ENGLAND – From the first reports coming out of Wuhan, Iran and later Italy, we knew that losing your sense of smell (anosmia) was a significant symptom of the disease. Now, after months of reports, both anecdotal and more rigorous clinical findings, we think we have a model for how this virus may cause smell loss.

Beautiful sunset in Sarajevo, Bosnia & Herzegovina (Fotografer: Elitha Evinora Tarigan)

One of the most common causes of smell loss is a viral infection, such as the common cold, sinus or other upper respiratory tract infections. Those coronaviruses that don’t cause deadly diseases, such as COVID-19, Sars and Mers, are one of the causes of the common cold and have been known to cause smell loss.

Simon Gane, Consultant Rhinologist and ENT surgeon, City, University of London and Jane Parker Associate Professor, Flavour Chemistry, University of Reading are two researcher who identified this disease. They release their knowledge through The Conversation to inform people that in most of these cases, sense of smell returns when symptoms clear, as smell loss is simply the result of a blocked nose, which prevents aroma molecules reaching olfactory receptors in the nose. In some cases, smell loss can persist for months and years.

“For the novel coronavirus (SARS-CoV-2), however, the pattern of smell loss is different. Many people with COVID-19 reported a sudden loss of sense of smell and then a sudden and full return to a normal sense of smell in a week or two,” as they publish their opinion on theconversation.com in June 19, 2020.

Interestingly, they continue, many of these people said their nose was clear, so smell loss cannot be attributed to a blocked nose. For others, smell loss was prolonged and several weeks later they still had no sense of smell. Any theory of anosmia in COVID-19 has to account for both of these patterns.

This sudden return of a normal sense of smell suggests an obstructive smell loss in which the aroma molecules cannot reach the receptors in the nose (the same type of loss one gets with a clothes peg on the nose).

Now that the CT scans of the noses and sinuses of people with COVID-19 smell loss, we can see that the part of the nose that does the smelling, the olfactory cleft, is blocked with swollen soft tissue and mucus – known as a cleft syndrome. The rest of the nose and sinuses look normal and patients have no problem breathing through their nose.

“We know that the way SARS-CoV-2 infects the body is by attaching to ACE2 receptors on the surface of cells that line the upper respiratory tract. A protein called TMPRSS2 then helps the virus invade the cell. Once inside the cell, the virus can replicate, triggering the immune system’s inflammatory response. This is the starting point for the havoc and destruction that this virus causes once in the body,”.

Initially, we thought that the virus might be infecting and destroying the olfactory neurons. These are the cells that transmit the signal from the aroma molecule in your nose to the area in the brain where these signals get interpreted as smell.

However, an international collaboration showed recently that the ACE2 proteins the virus needs to invade the cells were not found on the olfactory neurons. But they were found on cells called sustentacular cells, which support the olfactory neurons.

They both expect that these support cells are likely to be the ones that are damaged by the virus, and the immune response would cause swelling of the area but leave the olfactory neurons intact. When the immune system has dealt with the virus, the swelling subsides and the aroma molecules have a clear route to their undamaged receptors and the sense of smell returns to normal.

So why does smell not return in some cases? This is more theoretical but follows from what we know about inflammation in other systems. Inflammation is the body’s response to damage and results in the release of chemicals that destroy the tissues involved.

“When this inflammation is severe, other nearby cells start to be damaged or destroyed by this splash damage. We believe that accounts for the second stage, where the olfactory neurons are damaged,” they said.

Recovery of smell is much slower because the olfactory neurons need time to regenerate from the supply of stem cells within the lining of the nose. Initial recovery is often associated with distortion of the sense of smell known as parosmia, where things don’t smell like they used to. For many parosmics, for instance, the smell of coffee is often described as burnt, chemical, dirty and reminiscent of sewage.

Physiotherapy for the nose

Olfaction has been called the Cinderella of the senses because of its neglect by scientific research. But it has come to the forefront in this pandemic. The silver lining is that we will learn a lot about how viruses are involved in smell loss from this. But what hope is there for people with a loss of smell now?

The good news is that the olfactory neurons can regenerate. They’re regrowing in almost all of us, all of the time. We can harness that regeneration and guide it with “physiotherapy for the nose”: smell training.

There is solid evidence that many forms of smell loss are helped by this repeated, mindful exposure to a fixed set of odorants every day and no reason to think it won’t work in COVID-19 smell loss.

Presiden Jokowi Berharap ASEAN Jadi Satu Komunitas Yang Memikirkan Pengaturan Travel Corridor

Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pandangannya dalam forum sesi pleno KTT ke-36 ASEAN (Sumber Foto: Kementerian Sekretariat Negara)
Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pandangannya dalam forum sesi pleno KTT ke-36 ASEAN (Sumber Foto: Kementerian Sekretariat Negara)

JAKARTA – Pemulihan ekonomi kawasan ASEAN jadi topik utama Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pandangannya dalam forum sesi pleno KTT ke-36 ASEAN lewat telekonferensi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (27/6).

Ia menyampaikan bahwa dua hari yang lalu, Lembaga Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, dari -3{449fde34b18ca6505a303acf59cd2914251092e879039fa6b1605563bfad8ebc} menjadi -4,9{449fde34b18ca6505a303acf59cd2914251092e879039fa6b1605563bfad8ebc} di tahun 2020. Jokowi akui ini merupakan kontraksi ekonomi terburuk sejak great depression tahun 1930-an. Kondisi ini menyebabkan ekonomi dunia terpuruk dalam.

Untuk itu, Presiden Jokowi berpandangan bahwa seluruh negara ASEAN harus bekerja keras agar ekonomi ASEAN dapat tumbuh kembali lebih cepat. Menurutnya, konektivitas adalah kunci sehingga penting untuk mendorong ASEAN travel corridor.

Jokowi paham beberapa negara termasuk Indonesia telah memulai pembicaraan bilateral baik dengan sesama negara ASEAN maupun dengan negara di luar ASEAN mengenai travel corridor. Namun Ia berharap ASEAN menjadi sebagai satu komunitas yang memikirkan pengaturan ASEAN travel corridor.

“Pengaturan travel corridor tentunya harus dilakukan secara hati-hati, terukur dan bertahap dimulai dengan essential business travel dengan menjalankan protokol kesehatan secara ketat,” jelas Jokowi seperti yang dilansir oleh Kementerian Sekretariat Negara.

Suasana forum sesi pleno KTT ke-36 ASEAN lewat telekonferensi di Istana Kepresidenan Bogor yang dihadiri oleh beberapa menteri (Sumber: Kementerian Sekretaris Negara)

Presiden Jokowi menjelaskan bahwa ASEAN travel corridor, selain penting untuk percepatan pemulihan ekonomi, juga penting untuk menunjukkan arti strategis komunitas ASEAN di kawasan dan di mata dunia. “Kita tugaskan para Menteri untuk mulai membahas ASEAN travel corridor ini,” katanya.

Selain konektivitas fisik, Presiden Jokowi juga mendorong konektivitas digital khususnya fasilitasi e-commerce, e-health, dan e-learning. Akses dan kapasitas UMKM untuk masuk platform digital juga harus diperluas.

Masih dalam konteks upaya memperkuat kerja sama ekonomi kawasan, Presiden Jokowi juga menilai bahwa penandatanganan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) tahun ini memiliki makna strategis. “RCEP akan menjadi kekuatan baru harapan baru bagi pemulihan dan resiliensi ekonomi di kawasan pasca Covid-19,” kata Jokowi..

Tomks, Kota Kecil Di Siberia Yang Menjadi Bukti Kekuatan Uni Soviet Di Masa Lalu

SIBERIA – Tomks adalah sebuah kota kecil di Siberia dengan populasi sekitar 600 ribu orang. Kota yang telah berusia 400 tahun ini berdiri sejak tahun 1604.

Di awal abad ke-19, kota ini telah berkembang jadi status pusat administrasi regional. Dan di tahun 1804 kota ini berubah menjadi pusat provinsi yang sangat besar. Daerah yang diliputi oleh Kota Tomsk adalah Republik Altai, Kemerovo, Novosibirsk dan Regional Tomsk, Kazakhstan Timur, Khakassia Barat dan Krasnoyarsk.

Pada abad ke-19, pertumbuhan industri di Kota Tomsk mulai bangkit. Hal yang sama juga terjadi di industri peleburan logam dan perdagangan bulu hewan. Rute transportasi yang paling penting di masa itu melewati Traktat dari Kota Tomsk hingga Moscow. Di tahun 1914, Tomsk adalah salah satu dari 20 kota terbesar di dunia. Di tahun 1888 unversitas pertama diluar area pegunungan Ural dibangun disini.

Selama era Perang Dunia II, 30 perusahaan dari Eropa Rusia dipindahkan ke Tomsk, perpindahan ini jadi tonggak dasar industri di Kota Tomsk. Selama perang berlangsung volume industri meningkat tiga kali lipat di Tomsk. Hingga di tanggal 13 Agustus 1944 status administratif kota berubah. Wilayah Tomsk dibentuk dan berubah menjadi pusat regional.

Pada periode pasca perang, periode stagnasi, posisi strategis utama dan ilmiah dan pendidikan kompleks sedang berkembang di Tomsk. Beruntungnya industri minyak Wilayah Tomsk saat itu dibangun hampir dari awal. Hal itu yang menjadi daya tarik Kota Tomsk dan membuat proyek dari Kementerian Minyak Bumi Uni Soviet, khususnya, menjadi dasar pengembangan infrastruktur transportasi regional, termasuk pembangunan bandara modern.

Sejak saat itu, Kota Tomsk berubah menjadi Ibukota wilayah penghasil minyak bumi, industri pertahanan elektronik militer modern, ini terjadi di tahun 1960-an. Kota Tomsk juga menjadi bagian perusahaan proyek atom Soviet yang tujuan adalah untuk menyelesikan permasalahan warga Tomsk. Disekitar kota jaringan perusahaan pertanian dibangun untuk menjaga ketahanan pangan, perusahaan ini merupakan basis perusahaan industri dan konstruksi.Pada akhirnya Kota Tomsk menjadi sebuah kota yang kuat.

Untuk memeriahkan kota, pemerintah mengundang artis, penyair, tokoh film dan teater ke Kota Tomsk. Mereka berasal dari seluruh penjuru negeri dan bersatu dalam wadah teater film bernama Rodina. Sebuah stadion olahraga bernama the Sports Palace indoor ice stadium juga dibangun untuk menunjang aktivitas hiburan masyarakat. Kebanyakan dari transformasi sosio-ekonomi ini umumnya jadi ciri khas periode Uni Soviet tetapi banyak sejarawan dan politisi yang menyebutnya sebagai jasa dari Yegor Ligachev, sekretaris pertama yang menjabat sebagai Komite Regional Tomsk di CPSU dari 1965 hingga 1983.

Hari ini, berkat pekerjaan retorasi tersebut, sejumlah besar monumen arsitektur berbahan dasar kayu yang dibuat pada akhir abad ke-19 dilestarikan di Kota Tomsk. Namun, seiring waktu jumlah bangunan tersebut mulai berkurang. Terlepas dari kenyataan bahwa di kota-kota kecil bekas Soviet masih terdengar gema kehebatan Uni Soviet di masa lalu oleh jaman sekarang. Orang dari jaman ke jaman berusaha melepas diri dari aturan usang masa lalu, dan ternyata berhasil.

Baca artikel tentang Kota Tomsk dalam bahasa Inggris dengan cara mengklik https://theeditor.id/this-is-tomsk-a-small-town-in-siberia-near-kazakhstan/

Pertama Kali KTT ASEAN Dan The AIPA-ASEAN Leaders Interface Berlangsung Secara Virtual

Ketua DPR RI Puan Maharani mengikuti pertemuan ASEAN – AIPA Interface secara virtual dari ruang kerjanya di Gedung Nusantara III kompleks parlemen, Jakarta, Jumat (26/06) sore

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani menghadiri agenda tahunan the AIPA-ASEAN Leaders Interface. Pertemuan tatap muka antara Ketua Parlemen negara-negara anggota ASEAN dengan pemimpin negara-negara anggota ASEAN ini dilaksanakan di sela-sela KTT ke-36 ASEAN. Akibat pandemi Covid-19, untuk pertama kalinya KTT ASEAN dan the AIPA-ASEAN Leaders Interface berlangsung secara virtual.

Ketua DPR RI Puan Maharani mengikuti pertemuan ASEAN – AIPA Interface secara virtual dari ruang kerjanya di Gedung Nusantara III kompleks parlemen, Jakarta, Jumat (26/06) sore

Pertemuan tatap muka ini menegaskan kembali peran AIPA sebagai mitra ASEAN. AIPA yang merupakan Persatuan lembaga-lembaga legislatif se-ASEAN memiliki memiliki peran strategis dalam mencapai tujuan pembentukan Komunitas ASEAN. The ASEAN-AIPA Interface memberikan kesempatan kepada Kepala-kepala pemerintahan negara anggota ASEAN dan Ketua-Ketua Parlemen ASEAN untuk membahas berbagai isu di bawah tiga pilar ASEAN.

Tuan rumah Viet Nam memilih tema ASEAN Kohesif dan Responsif. Tema tersebut mewarnai keketuaan mereka di ASEAN tahun ini. Di tengah situasi tidak menentu yang diakibatkan pandemi global, tema ini memiliki kesesuaian dengan kebutuhan menghadirkan organisasi intra kawasan yang responsif dan tuntutan untuk memperkuat upaya regional dalam menangani pandemik Covid-19.

Acara ini merupakan rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-36 ASEAN yang dibuka Jumat (26/06) pagi. Presiden Joko Widodo mengikuti pembukaan KTT ke-36 Asean melalui telekonferensi dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Ketua DPR RI Puan Maharani mengikuti pertemuan ASEAN – AIPA Interface secara virtual dari ruang kerjanya di Gedung Nusantara III kompleks parlemen, Jakarta, Jumat (26/06) sore pada sesi ASEAN Leaders Interface with Representatif of AIPA commences. Pada sesi ini, Ketua DPR RI Puan Maharani memberikan pandangannya tentang Asean dalam Inggris, bergiliran dengan Presiden Philiphina , Perdana Menteri Malaysia serta Perdana Menteri Vietnam.

Pada kesempatan ini Ketua DPR RI mengingatkan kembali kepada ASEAN untuk meningkatkan sinergi sebagai satu Masyarakat ASEAN, dalam menghadapi Covid-19. Sebab negara-negara di kawasan saat ini tengah mengalami tekanan yang sama, yang telah berdampak pada aspek kesehatan dan juga telah melumpuhkan seluruh aktivitas masyarakat. Baik di bidang sosial, ekonomi, budaya, bahkan kegiatan bersama keagamaan.

Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional, Puan Maharani Soroti Peran Generasi Muda

Puan Maharani mengikuti peringatan Hari Narkoba langsung dari kediamannya (Sumber Foto: Dokumen Pribadi)

JAKARTA – Narkoba merupakan bentuk kejahatan trans-nasional dimana jalur distribusinya bersifat internasional dan saling terkait pelakunya meski berasal dari negara yang berbeda.

Puan Maharani mengikuti peringatan Hari Narkoba langsung dari kediamannya (Sumber Foto: Dokumen Pribadi)

Demikian dikatakan oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani saat mengikuti upacara peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Upacara yang dipimpin Wapres KH. Maruf Amin ini berlangsung secara virtual. Puan sendiri mengikuti upacara dari halaman rumah dinasnya di kawasan Jakarta Selatan.

“Bukan di Indonesia saja, tapi banyak negara menghadapi persoalan yang sama,” ungkap Puan usai upacara, Jumat (26/6).

Karena itu, di Hari Anti Narkotika Internasional tahun 2020, Puan mengajak semua negara terus memperkuat kerjasama global dalam memberantas narkoba. “Kita jangan pernah lengah melawan narkoba dan jangan pernah memberi ruang bagi peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Kita harus lindungi generasi muda dan masa depan bangsa Indonesia,” katanya.

Puan mengingatkan akan daya rusak narkoba bagi kelangsungan sebuah bangsa, terutama generasi muda. “Artinya jika generasi muda kita rusak karena narkoba, maka rusak pula masa depan bangsa,” ungkapnya.

Upacara HANI 2020 dipusatkan kantor BNN Pusat. Selain Wapres dan Ketua DPR RI, sejumlah pimpinan lembaga tinggi negara dan sejumlah menteri hadir secara virtual.

Ini Dia Cara Agar Pemerintah Mampu Lakukan Efisiensi Energi Hindari Pembangunan 50 Pembangkit Listrik Baru Di Indonesia

Trafo Interbus Transformer (IBT) unit 2 Gardu Induk (GI) Kiliranjao di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Foto: PLN)

AMERIKA SERIKAT – Permintaan listrik di Indonesia meningkat pesat akibat pertumbuhan ekonomi yang dibarengi oleh urbanisasi dan industrialisasi. Seperti yang dilansir The Conversation, diketahui bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan data statistik tentang penggunaan listrik di Tanah Air, dimana puncak kebutuhan listrik harian juga meningkat hingga dua kali lipat, menjadi lebih dari 160 gigawatts (GW) pada tahun 2030.

Trafo Interbus Transformer (IBT) unit 2 Gardu Induk (GI) Kiliranjao di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Foto: PLN)

Peralatan dan kebutuhan rumah tangga, seperti pendingin ruangan (AC), alat penerangan, lemari pendingin (kulkas), dan TV, meningkatkan permintaan energi di Indonesia pada tahun 2030, sebanyak 70{449fde34b18ca6505a303acf59cd2914251092e879039fa6b1605563bfad8ebc} dari kebutuhan saat waktu puncak, yaitu pukul 8 malam. Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang meningkat ini, Indonesia berencana untuk menambah 87GW – setara dengan membangun 175 pembangkit listrik dengan kapasitas 500 megawatt – pada tahun 2030.

“Namun, penelitian kami mengidentifikasi strategi untuk menghemat konsumsi listrik hingga 25GW pada tahun 2030, setara dengan 35{449fde34b18ca6505a303acf59cd2914251092e879039fa6b1605563bfad8ebc} dari konsumsi listrik puncak pada tahun yang sama,” ujar Peneliti Departemen Analisis Energi Internasional, Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley, Virginie Letschert dan Ilmuwan Riset Kebijakan Energi dan Lingkungan, Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley, Michael McNeil beberapa waktu lalu.

Keduanya menilai, menggunakan teknologi yang efisien energi akan mengurangi listrik pada lampu, AC, kulkas, dan peralatan lainnya. Dengan teknologi ini pula, Indonesia bisa menghindari pembangunan 50 pembangkit listrik yang baru pada tahun 2030. Teknologi efisiensi energi juga dianggap dapat mengurangi daya puncak pemodelan prediksi permintaan energi berdasarkan tipe peralatan. Selain itu juga menganalisa skenario penerapan teknologi yang berbeda untuk melihat dampak terhadap puncak daya listrik di masa depan.

Virginie dan Michael juga mmenemukan bahwa teknologi efisiensi energi menyediakan pelayanan yang sama bagi rumah tangga (penerangan, alat pendingin, dsb) dengan sedikit mengeluarkan energi. Ini membuat peralatan rumah tangga tersebut menjadi 50{449fde34b18ca6505a303acf59cd2914251092e879039fa6b1605563bfad8ebc} lebih murah bagi konsumen. Contoh teknologi efisiensi energi adalah lampu LEDs (light-emitting diodes) yang menghasilkan cahaya lebih terang dengan sedikit panas, AC dengan inverter (bekerja pada kecepatan rendah yang bervariasi), dan meningkatkan insulasi pada kulkas untuk mendinginkan lebih lama.

Meskipun beberapa masyarakat Indonesia sudah membeli barang-barang tersebut, lanjut mereka, jutaan produk rumah tangga yang boros energi tetap menjadi minat pada tahun-tahun kedepan. Oleh sebab itu, penting untuk memiliki kebijakan yang kuat untuk menghilangkan produk boros energi dari pasaran dan mendorong efisiensi energi ke pasar. Contohnya, penjualan AC tumbuh sebesar 7.5{449fde34b18ca6505a303acf59cd2914251092e879039fa6b1605563bfad8ebc} per tahun di Indonesia, kami menemukan potensi penghematan apabila bisa menerapkan teknologi efisiensi energi setengah dari jumlah tersebut.

“Penelitian lanjutan dari tim kami menunjukkan penggunaan teknologi inverter pada pendingin sudah tersedia di Indonesia dengan harga yang tidak jauh berbeda daripada yang boros energi,” katanya.

Dalam konteks dampak perubahan iklim, keduanya menemukan bahwa peralatan dan penerangan yang efisien bisa mencapai 27{449fde34b18ca6505a303acf59cd2914251092e879039fa6b1605563bfad8ebc} dari target penurunan emisi yang dibebankan kepada sektor energi. Ini berarti menurunkan 84,5 juta ton CO₂ pada tahun 2030. Teknologi ini dianggap menjadi alat penting dalam upaya penurunan emisi karbon (decarbonisation) Indonesia pada sektor energi, sekaligus menerapkan energi terbarukan.

Kementerian ESDM sendiri telah meluncurkan target sektoral nasional untuk konservasi energi ke dalam Rencana Umum Kelistrikan Nasional atau RUKN, untuk menurunkan konsumsi energi di tahun 2019. Rencana umum ini mewajibkan 37GW dari total 166GW permintaan energi di tahun 2030 dapat dicegah melalui konservasi energi selama sepuluh tahun ke depan.

“Konservasi energi merupakan upaya menghemat energi melalui teknologi efisiensi energi (yang merupakan fokus dari penelitian kami) dan perubahan gaya konsumsi masyarakat (contohnya mematikan lampu saat meninggalkan ruangan),” katanya.

Rekomendasi

Saat permintaan akan listrik meningkat di Indonesia bersamaan dengan upaya meningkatkan energi bersih, maka efisiensi energi merupakan alat penting bagi kelayakan finansial dan ketahanan energi. Efisiensi energi berarti menggunakan sedikit energi untuk melakukan kerja yang sama. Teknologi menawarkan kepada kita keuntungan dari efisiensi energi. Kebijakan efisiensi energi akan mendukung perkembangan teknologi ini.

“Kami merekomendasikan Indonesia untuk mempertimbangkan efisiensi energi sebagai modal untuk pemenuhan kebutuhan energi di masa depan,” ungkap Virginie dan Michael.

Dengan rendahnya harga batubara, masih kata mereka, efisiensi energi menjadi cara termurah untuk menyediakan listrik bagi masyarakat Indonesia.Secara umum, dua peneliti ini menemukan biaya untuk menghemat per satu unit listrik (kWh) sekitar 2-3 sen, dibandingkan dengan harga listrik rumah tangga sekitar 10-11 sen/kWh di Indonesia.

Efisiensi energi juga dianggap membantu pengintegrasian energi terbarukan, seperti panel surya, dengan menurunkan permintaan puncak pada sore hari dan kebutuhan untuk sistem penyimpanan energu atau pembangkit listrik yang mahal yang hanya beroperasi untuk kebutuhan tinggi, seperti “peaker” plants. Akibat lonjakan permintaan – tertinggi pada jam 8 malam – sistem akan membutuhkan kapasitas tambahan dengan beban dasar yang tidak bisa dipenuhi, contohnya batubara.

“Kami merekomendasikan Kementerian ESDM untuk beralih kepada target konservasi energi sebesar 37GW untuk mencapai target penurunan emisi sebesar 29{449fde34b18ca6505a303acf59cd2914251092e879039fa6b1605563bfad8ebc} pada tahun 2030,” jelasnya.

“Kami berharap penelitian kami bisa mendukung prioritas kebijakan dan melacak perkembangan menuju target iklim dan mencapai energi bersih,” ujar mereka lagi.

Menerapkan target-target ini akan mengurangi pengeluaran negara, sekaligus polusi lokal dan nasional, dan akhirnya mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen di Indonesia.

Menteri Keuangan: Daya Saing Indonesia Masih Lebih Rendah Dibandingkan Dengan Negara ASEAN Lainnya

Peringkat daya saing ekonomi Indonesia berada di posisi ke-50. Sumber: World Economic Forum

JAKARTA – Daya saing Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN khususnya Singapura.

Peringkat daya saing ekonomi Indonesia berada di posisi ke-50. Sumber: World Economic Forum

Pengakuan ini disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati lewat akun Instagramnya di @smindrawati terkait Global Competitiveness Index (CGI) yang dipublikasikan oleh World Economic Forum. Salah satu alasan yang ditekankan oleh Sri Mulyani terkait hasil perhitungan ini adalah terganggunya pembangunan ekonomi dan sosial dalam negeri akibat pandemi corona.

Sebagaimana diketahui, terdapat 10 negara yang masuk dalam kategori memiliki daya saing ekonomi paling tinggi di dunia, dimana Singapura menempati urutan pertama dan diikuiti oleh Amerika Serikat, Hong Kong SAR, Belanda, Swiss, Jepang, Jerman, Swedia, Inggris dan Denmark. Sementara itu Indonesia menduduki peringkat ke-50.

“Sebelum pandemi Covid-19 datang, pembangunan ekonomi dan sosial telah berada dalam jalur yang konsisten untuk merespon tantangan keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah atau middle income trap. Untuk menuju kepada negara berpenghasilan tinggi (high income country). Salah satu faktor penentunya adalah daya saing dalam negeri,” ujar Sri Mulyani hari ini Kamis (25/6).

Agar mampu meningkatkan GCI, lanjutnya, Indonesia harus memiliki daya saing ekonomi yang kuat terutama dalam kapasitas inovasi dan adaptasi teknologi. Indonesia dinilai memiliki daya saing ekonomi yang tinggi dan memiliki stabilitas makroekonomi. “Namun Indonesia juga tertinggal di kapasitas inovasi dan adaptasi teknologi,” katanya.

Selain itu, masih dalam usaha meningkatkan daya saing ekonomi, Sri Mulyani menilai bahwa daya saing tenaga kerja Indonesia masih kalah dari negara Asia lainnya, alasan utamanya karena faktor pendidikan dan kualifikasi. Salah satu cara untuk memperbaiki Sumber Daya Manusia (SDM) ini adalah dengan memperbaiki taraf pendidikan, kesehatan dan keterampilan.

“Perlu pendalaman pasar keuangan untuk memperkuat sektor keuangan dari guncangan serta memperbaiki fungsi intermediasi perbankan dalam pembiayaan pembangunan,”ungkap Sri Mulyani.

Terkait kebijakan fiskal 2021, Salah satu cara yang harus ditempuh menurutnya adalah dengan melakukan percepatan pemulihan ekonomi dan penguatan reformasi. Isu-isu yang mempengaruhi kebijakan di tahun 2021 adalah persiapan new normal. Beberapa cara yang telah dilakukan diantaranya optimalisasi teknologi informasi melalui digitalisasi layanan publik baik itu di bidang pendidikan, kesehatan dan perizinan; dukungan dunia usaha yang berbasis digital ekonomi; efisiensi birokrasi lewat program e-government, e-budgeting, work from home dan flexible working space; gaya hidup sehat.

Selain itu, isu lain yang mempengaruhi kebijakan 2021 masih menurut Menteri Keuangan adalah akselerasi pemulihan sosial dan kesehatan untuk pemulihan dan persiapan asuransi kesehatan. Selanjutnya adalah akselesari pemulihan maka perlu melanjutkan jaringan pengamanan sosial seperti penggunaan kartu sembako, program keluarga harapan dan pra kerja. Terakhir adalah menyiapkan program perlindungan sosial yang adaptif terhadap resesi dan bencana.

Terkait akselerasi pemulihan ekonomi, Sri Mulyani menilai isu strategis yang mempengaruhi bidang ini di tahun 2021 dapat diselesaikan dengan melanjutkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk mendukung sektor berdaya ungkit. Selain itu juga pemerintah harus fokus pada pembangunan sektoral seperti pertanian, energi, perdagangan, makanan dan konstruksi. Kemudian mendukung industri kreatif, UMKM dan pariwisata.

Masih kata Sri Mulyani, inovasi kebijakan yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan insentif fiskal agar tidak terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), padat karya dan hidup sehat. Inovasi lain adalah dengan membangun sistem perpajakan yang makin kompatibel dengan ekonomi digital, melakukan reformasi anggaran yang fokus pada efisiensi serta meredam ketidakpastian.

Dianggap Serius Benahi Pariwisata, Presiden Jokowi Bertolak Ke Banyuwangi

BANYUWANGI – Dinilai cukup serius membenahi sektor pariwisata, Presiden Joko Widodo bertolak ke Kabupaten Banyuwangi pada Kamis (25/6) siang. Hal ini Jokowi lakukan usai menginstruksikan cara penanganan Covid-19 di Jawa Timur. Disana, Jokowi meminta agar perawatan dan isolasi mandiri terhadap pasien tanpa keluhan juga tetap harus dilakukan ketat.

Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat berkunjung ke Pasar Tradisional Kecamatan Rogojampi, Kamis (25/6). (Foto: Sekretariat Negara)

“Sore hari ini saya akan melihat secara langsung persiapan prakondisi Banyuwangi dalam rangka menyiapkan menuju tatanan baru di sektor pariwisata,” ujar Jokowi.

Untuk diketahui, Jokowi berkunjung ke Villa So Long dan Pantai So Long untuk meninjau adaptasi new normal. Agar sektor pariwisata dapat bergerak, Ia berharap keamanan dan keselamatan pengunjung dapat jadi prioritas utama.

Banyuwangi sendiri memang menerapkan teknologi yang dapat mengatur kapasitas destinasi wisata mereka. Untuk mencapai tempat wisata di kota ini, wisatawan harus memesan tiket secara online. Bila destinasi telah dianggap telah mencapai batas kunjungan sesuai protokol maka tiket otomatis akan berhenti terjual.

Sertifikasi dan uji kompetensi protokol kesehatan juga dilakukan pemerintah setempat terhadap calon wisatawan. Para ahli dan tim kesehatan terlatih dilibatkan secara khusus untuk menangani hal ini.

Dalam kesempatan itu, Jokowi mengimbau Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas agar memberi ruang kepada masyarakat untuk mendukung sektor pariwisata lewat akomodasi. Misalnya, dengan memberikan kesempatan berinvestasi di bidang jasa perhotelan seperti hotel dari bintang tiga ke bawah, homestay atau rumah singgah.”Sementara itu bintang empat lima dan seterusnya diberikan kepada investor,” ujar Jokowi.

Prakondisi menyambut adaptasi new normal di bidang pariwisata seperti ini mendapat dukungan dari Jokowi. Ia berharap bila waktunya tepat maka tatanan hidup masyarakat dapat berjalan dengan normal.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi meluncurkan aplikasi Banyuwangi Tourism untuk melayani wisatawan di masa new normal pandemi corona. Aplikasi ini dapat digunakan untuk membeli tiket ke objek wisata yang hendak dituju. Dalam aplikasi tersebut wisatawan akan mengetahui jam operasional daerah tujuan wisata yang hendak dituju. Tiap destinasi juga diberi batasan untuk menerima pengunjung sebagaimana yang diatur dalam protokol Pemda.