THE EDITOR – Sektor pangan nasional kembali menghadapi kejutan politik yang tak terduga. Hubungan kerja dinamis antara Mentan Amran Sulaiman dan Wamentan Sudaryono di Kabinet Merah Putih resmi berakhir. Keputusan mendadak dari Istana memindahkan Sudaryono untuk menakhodai Badan Gizi Nasional (BGN). Hal ini memicu pertanyaan besar: Ada apa di Kementan, dan mengapa Amran diposisikan lagi sebagai penguasa tunggal tanpa pendamping?
The Editor mencatat bahwa ketika pertama kali ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pertanian di tahun 2014 lalu, Amran Sulaiman menakhodai posisi tersebut sendirian selama 5 tahun.
Pada masa itu, struktur kabinet sama sekali tidak mengalokasikan posisi Wakil Menteri Pertanian, dan Amran memegang kendali absolut atas kebijakan makro dan eksekusi mikro di lapangan secara langsung.
Pasca-runtuhnya kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo yang terjerat kasus korupsi, di tahun 2023 lalu, Amran dipanggil kembali ke medan perang pangan oleh Presiden Jokowi pada Oktober 2023.
Di awal masa kembalinya ini, ia diketahui memimpin Kementan sendirian. Situasi solo tersebut baru berakhir ketika Sudaryono dilantik menjadi Wamentan pada 18 Juli 2024.
Sekarang, akibat mundurnya Nanik Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada suatu pagi di tanggal 22 Juli 2026 kemarin, membuat Presiden Prabowo bergerak cepat melantik sosok baru di posisi strategis tersebut. Nama Sudaryono pun terpilih karena dianggap memiliki andil dalam mengonsepkan program Makan Gizi Gratis (MBG). Lagipula, Sudaryono itu adalah politisi Gerindra, dan otomatis dekat dengan Presiden.
Jadi, bisa disimpulkan bila Istana tampaknya ingin memilih sosok yang mampu bergerak taktis untuk menyelamatkan program megaproyek Presiden, yaitu MBG. Sebab, ketika Kepala BGN sebelumnya mundur karena alasan sakit jantung, maka Presiden sangat membutuhkan figur baru yang gesit, paham logistik, dan menguasai rantai pasok.
Sudaryono mungkin dipandang oleh Presiden Prabowo sebagai jembatan paling ideal sebab selama menjabat sebagai Wamentan, ia bertugas mengurusi produksi beras, susu, daging, dan komoditas pertanian.
Sehingga, memindahkan Sudaryono ke BGN dianggap Istana sebagai upaya untuk memotong jalur birokrasi dimana kementerian pertanian di bawah Amran Sulaiman akan mampu menggenjot produksi di hulu, sementara BGN di bawah Sudaryono diharapkan bisa mengamankan penyerapan hasil tani untuk program makan gratis di hilir.
Situasi ini mengingatkan kita kembali akan sejarah awal Amerika Serikat yang pernah memiliki satu menteri pertanian yang paling berhasil menjabat selama 16 tahun berturut-turut tanpa wakil sama sekali, yaitu dari tahun 1897-1913.
Nama pria itu adalah James Wilson. Selama berada di posisi itu, James tidak didampingi wakil menteri karena secara struktural jabatan Wakil Menteri Pertanian AS baru dibentuk oleh Kongres pada tahun 1977. Artinya, sebelum tahun tersebut, seluruh Menteri Pertanian AS mengomandoi institusinya secara tunggal.
The Editor menemukan fakta bila James Wilson merupakan menteri pertanian dengan masa jabatan terlama dalam sejarah AS, yaitu selama 16 tahun berturut-turut (1897–1913). Ia dikenal sebagai bapak modernisasi pertanian global dan dianggap sebagai salah satu Sekretaris Pertanian paling sukses yang pernah dimiliki Amerika Serikat.
Kehebatan manajerial James Wilson membuatnya terus dipertahankan tanpa pernah diganti melewati tiga era administrasi Presiden AS yang berbeda. Mulai dari era Presiden William McKinley (1897–1901), era Presiden Theodore Roosevelt (1901–1909), dan era Presiden William Howard Taft (1909–1913).
Meskipun memimpin USDA sendirian sebagai penguasa tunggal tanpa adanya lapis kedua wakil menteri politik, Wilson berhasil membawa pertanian AS masuk ke abad modern melalui serangkaian program revolusioner berikut:
1. Ekspansi Riset dan Modernisasi Agraris (Agricultural Modernization):
Wilson memelopori pengiriman para ilmuwan dan botani Amerika ke seluruh penjuru dunia untuk mencari varietas tanaman baru yang tangguh terhadap iklim ekstrim. Program ini berhasil memperkenalkan varietas gandum keras baru dari Rusia dan tanaman alfalfa dari Asia ke tanah Amerika, yang langsung melipatgandakan hasil panen nasional.
2. Pengesahan UU Keamanan Pangan Bersejarah (Pure Food and Drug Act 1906):
Di era kepemimpinannya bersama Presiden Theodore Roosevelt, Wilson mengeksekusi undang-undang federal pertama yang mengatur standarisasi makanan di AS. Ia merestrukturisasi sistem pengawasan penyembelihan hewan dan pengemasan daging, memastikan jutaan rakyat Amerika mengonsumsi makanan yang higienis dan bebas dari zat kimia berbahaya.
3. Program Pemetaan Tanah Skala Nasional (National Soil Survey):
Ia meluncurkan program pemetaan jenis tanah secara masif di seluruh negara bagian AS. Program sains ini berhasil mendidik para petani gurem lokal untuk memahami jenis pupuk dan tanaman apa yang paling cocok dengan tanah mereka, yang secara drastis menekan angka kegagalan panen.
4. Pembangunan Konektivitas Desa-Kota (Infrastructural Expansion):
Wilson menyadari bahwa hasil tani tidak akan berguna jika membusuk di jalan. Ia memimpin proyek perbaikan kualitas jalan-jalan tanah di pedesaan Amerika demi mempercepat laju logistik hasil pertanian dari lumbung desa menuju pasar-pasar besar di perkotaan.
MENGAPA IA BERHASIL TANPA WAKIL MENTERI?
Meskipun Kongres belum menciptakan jabatan Wakil Menteri kala itu, James Wilson menggunakan strategi manajemen desentralisasi ahli teknokrat.
Ia membagi USDA menjadi biro-biro khusus yang dipimpin oleh para ilmuwan dan ahli tanah murni yang bukan orang politik, seperti Biro Industri Tanaman dan Biro Kimia.
Langkah ini membuatnya bisa fokus pada kebijakan makro kabinet bersama Presiden, sementara urusan lapangan diselesaikan secara presisi oleh para kepala biro teknis di bawah komando langsungnya.
Lalu, apakah Amran Sulaiman akan mampu menyamai James Wilson di pertanian? Kita tunggu saja.
