30.4 C
Indonesia

Inggris Kembalikan Artefak Yang Dijarah dari Ghana lewat Metode Peminjaman

Must read

INGGRIS – Inggris mengembalikan lusinan artefak yang dijarah dari wilayah yang kini menjadi negara Ghana setelah 150 tahun berlalu sejak penjarahan itu terjadi.

Sekitar 32 benda emas dan perak telah dikirim dengan status pinjaman jangka panjang ke negara tersebut oleh Victoria & Albert Museum (V&A) dan British Museum.

Benda-benda itu dicuri dari istana raja Asante, yang dikenal sebagai Asantehene, selama konflik abad ke-19 antara Inggris dan orang-orang Asante yang berkuasa.

Benda-benda tersebut diperkirakan akan dikembalikan kepada raja saat ini pada Jumat (13/4).

Kepada BBC, kepala perundingnya, Ivor Agyeman-Duah, mengatakan bahwa benda-benda tersebut saat ini berada di “tangan yang aman” di Ghana sebelum diterima secara resmi.

Benda-benda tersebut akan dipajang bulan depan di Museum Istana Manhyia di Kumasi, ibu kota wilayah Ashanti, sebagai bagian dari perayaan peringatan perak Raja Asante saat ini Otumfuo Osei Tutu II.

Pada Januari, BBC melaporkan bahwa kesepakatan pinjaman jangka panjang untuk mengembalikan barang-barang tersebut telah disepakati.

Puluhan artefak yang dikembalikan tersebut antara lain pipa perdamaian emas, pedang negara, dan lencana emas yang dikenakan oleh pejabat yang bertugas membersihkan jiwa raja.

Artefak-artefak emas adalah simbol utama pemerintahan kerajaan Asante dan diyakini berisi roh para mantan raja Asante.

Nana Oforiatta Ayim, penasihat khusus menteri kebudayaan Ghana, sebelumnya mengatakan kepada BBC bahwa benda-benda tersebut adalah “bagian dari jiwa bangsa” dan merupakan “bagian dari diri kita yang kembali”.

Adapun peminjaman tersebut, yang dinegosiasikan dengan raja dan bukan dengan pemerintah Ghana, akan berlaku selama tiga tahun dengan opsi perpanjangan untuk tiga tahun berikutnya.

Victoria & Albert Museum (V&A) meminjamkan 17 artefak, sementara 15 artefak lainnya berasal dari British Museum.

Kedua museum mengatakan mereka senang bisa mengembalikan benda-benda tersebut dengan status pinjaman sebagai bagian dari kolaborasi budaya yang penting.

Diketahui, beberapa museum nasional di Inggris – termasuk V&A dan British Museum – dilarang oleh undang-undang untuk secara permanen mengembalikan barang-barang koleksi mereka yang diperebutkan, dan kesepakatan pinjaman seperti ini dipandang sebagai cara untuk mengizinkan benda-benda tersebut dikembalikan ke negara asalnya.

Pengembalian barang-barang Asante dilakukan sebulan sebelum perayaan perayaan perak Asantehene.

Orang-orang Asante membangun negara yang pernah menjadi salah satu negara paling kuat dan tangguh di Afrika barat – berdagang, antara lain, emas, tekstil, dan budak.

Kerajaan ini terkenal dengan kekuatan militer dan kekayaannya. Bahkan sekarang, ketika Asantehene berjabat tangan pada acara-acara resmi, ia begitu terbebani dengan gelang-gelang emas yang berat sehingga terkadang ia memiliki seorang ajudan yang bertugas menopang lengannya.

Orang-orang Eropa tertarik dengan tempat yang kemudian mereka namakan Gold Coast ini, karena kisah kekayaan Afrika dan Inggris berulang kali berperang melawan Asante pada abad ke-19.

Pada tahun 1874 setelah serangan Asante, pasukan Inggris melancarkan “ekspedisi hukuman”, dalam bahasa kolonial saat itu, menggeledah Kumasi dan merampas banyak harta istana.

Sebagian besar barang yang dikembalikan oleh V&A dibeli dalam lelang pada tanggal 18 April 1874 di Garrards, toko perhiasan London yang memelihara Permata Mahkota Inggris, sementara beberapa barang yang dipinjamkan oleh British Museum dijarah selama konflik berikutnya pada tahun 1895–1896.

Pengembalian artefak tersebut terjadi di tengah perdebatan yang terus berlanjut mengenai apa yang harus dilakukan dengan barang-barang lain yang diekspor dari tanah asal mereka – termasuk Perunggu Benin dan Pualam Elgin, yang juga dikenal sebagai Patung Parthenon.

Beberapa negara yang mengajukan klaim atas artefak yang disengketakan khawatir bahwa pinjaman tersebut dapat digunakan untuk menyiratkan bahwa mereka menerima kepemilikan Inggris.

Akan tetapi, pihak lain memandang perjanjian semacam ini sebagai cara bagi Inggris untuk menghadapi warisan budaya masa lalu kolonialnya sekaligus membangun hubungan yang lebih baik untuk masa depan.

SourceBBC
spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru