29.4 C
Indonesia

Apa itu Asyura Dan Bagaimana Muslim Syiah dan Sunni Mengamatinya?

Must read

TIMUR TENGAH – Hari Asyura adalah peristiwa penting dalam kalender Islam yang membawa makna spiritual dan historis bagi Muslim Sunni dan Syiah.

Bagi mayoritas Sunni, hari itu ditandai dengan puasa dan shalat khusus di masjid-masjid. Bagi Muslim Syiah, perayaan ini menandai peringatan pembunuhan cucu Nabi Muhammad, bernama Hussein selama Pertempuran Karbala, dan karena alasan itu disebut sebagai hari berkabung.

Middle East Eyes mengatakan bahwa ritual Syiah ditandai dengan semaraknya warna warni yang disamakan dengan peristiwa pertempuran yang dilakukan oeh Hussein dan pengikutnya saat menghadapi pasukan Umayyah yang setia pada Khalifah Yazid I. Para umat yang mengimani ajaran ini akan menggunakan warna-warna yang sama baik di pakaian maupun aksesoris seperti Hussein.

Pertempuran itu terjadi pada 680 M. Perang ini disebut menjadi salah satu penyebab pecahnya antara Muslim Syiah dan Sunni. Pecahnya dua agama ini terjadi jauh sebelum perbedaan agama antara faksi Sunni dan Syiah mengkristal.

Sunni yang berpihak pada Khalifah Yazid I disebut banyak juga yang menghormati Hussein karena pemimpin mereka Yazid I tidak saleh.

Sementara beberapa Muslim Sunni mengambil bagian dalam upacara berkabung untuk Hussein, terutama pengikut tradisi Sufi, peristiwa tersebut kurang intens dibandingkan dengan rekan-rekan Syiah mereka.

Salah satu aspek kontroversial dari perkabungan Syiah atas Hussein adalah praktik kekerasan di dalamnya, seperti mencambuk diri sendiri atau tatbir. Banyak ahli hukum Islam Syiah terkemuka, termasuk mendiang pemimpin Iran Ayatollah Khomeini, telah mengutuk tindakan tersebut dengan berpendapat bahwa tindakan itu berlebihan di era modern sekarang ini.

Tetapi sebagian kecil tokoh agama terus menekankan pentingnya tindakan tersebut, dengan syarat tidak ada kerugian yang terjadi selama ritual pencambukan dilakukan, termasuk bagi mereka yang ikut dalam ritual tersebut.

Middle East Eye melihat lebih dekat dengan Hari Asyura dan bagaimana perayaan tersebut ditandai oleh umat Islam

Apa itu Asyura?

Umat Islam Syiah di Irak memerankan kembali Pertempuran Karbala selama bulan Islam Muharram (Foto: AFP/ THE EDITOR)

Bagi umat Islam, Asyura menandai hari disaat Tuhan membebaskan bangsa Israel yang dipimpin oleh Nabi Musa dari tangan Firaun di Mesir. Salah satu keajaiban yang dilakukan Tuhan adalah dengan membelah Laut Merah, sehingga memungkinkan bangsa Israel untuk menyeberang dengan aman ke Tanah Perjanjian, Kanaan.

Untuk memperingati hari tersebut, komunitas Sunni mengadakan puasa keagamaan dan kotbah yang diikuti juga dengan makan bersama.

Bagi Muslim Syiah, hari pembebasan bangsa Israel dari Mesir ini juga menjadi sangat penting karena bertepatan dengan kematian cucu Nabi Muhammad, bernama Hussein yang dihormati sebagai Imam atau pemimpi sah komunitas Muslim.

Dua belas Syiah, seperti namanya, mengakui 12 penerus Nabi Muhammad yang diturunkan darinya melalui putrinya Fatima dan sepupu serta menantunya Ali, yang merupakan Imam pertama.

Hussein adalah penerus ketiga, dan Pertempuran Karbala menandai klimaks dari usahanya untuk mendapatkan kepemimpinan komunitas Muslim dari Bani Umayyah yang berada di bawah pimpinan Yazid.

Dalam konfrontasi berdarah di dekat sungai Efrat di tempat yang sekarang disebut Irak, Hussein dan sebagian besar pengikutnya tewas.

Bagi Syiah, kesyahidan Husein mewakili pembayaran harga tertinggi dalam mengejar keadilan dan kebenaran, dan karena itu dia berkabung sampai hari ini di kuilnya di Karbala, serta dalam upacara berkabung di seluruh dunia Muslim.

Garis keturunan Imam akan berlanjut melalui putra Hussein yang masih hidup, yang juga diberi nama Ali. 12 Imam, dimana yang terakhir adalah Muhammad al-Mahdi, yang dalam tradisi Syiah disebut menghilang ke dalam kegaiban dan akan kembali untuk mempercepat Hari Pembalasan.

Kapan Perayaan Asyura Diadakan?

Asyura ditandai pada hari kesepuluh Muharram, bulan pertama dalam kalender lunar Islam yang secara luas dianggap sebagai salah satu bulan paling suci dalam Islam.

Asyura jatuh pada tanggal 17 dan 18 Agustus dalam kalender Gregorian, tergantung pada metode penampakan bulan yang digunakan untuk menentukan awal Muharram.

Mengapa disebut Asyura?

“Asyura” berasal dari kata Arab untuk angka sepuluh, dan kata Muharram berasal dari kata Arab haram, yang berarti terlarang.

Menurut tradisi Islam, bulan Muharram adalah salah satu bulan paling suci dalam kalender, di mana peperangan dilarang untuk diadakan

Apa makna religiusnya?

Umat muslim yang berpuasa pada hari Asyura percaya bahwa Tuhan akan mengampuni dosa-dosa mereka dari tahun sebelumnya.

Menurut Al-Qur’an, Allah kemudian memerintahkan Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya, menyebabkan laut terbelah.

Musa kemudian mulai berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk ibadah dan rasa syukur kepada Tuhan karena telah menyelamatkan dirinya dan pengikutnya.

Nabi Muhammad mendorong umat Islam untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram serta tanggal 10, untuk membedakan Muslim dari agama lain. Sementara puasa adalah opsional, banyak Muslim memilih untuk menjalankannya.

Bagaimana hari Asyura itu ditandai oleh Muslim Syiah?

Pengkhotbah Syiah akan menyampaikan khotbah dan menceritakan sejarah Pertempuran Karbala. Beberapa juga akan membacakan puisi yang berkaitan dengan kehidupan Husain, menyoroti kebajikannya.

Di banyak bagian Irak dan Iran, drama publik besar, pawai dan prosesi diadakan di depan ribuan orang yang berkumpul untuk berkabung dan memperingati acara tersebut.

The passion play dimaksudkan untuk menyoroti pentingnya pengorbanan Hussein dan membangkitkan semangat emosional yang dibutuhkan untuk mengejar keadilan.

Beberapa pengikutnya akan mengambil bagian dalam tatbir (mencambuk diri sendiri) yang dilarang di beberapa negara tetapi masih berlangsung selama perayaan Asyura berlangsung.

Penggunaan pisau, rantai, dan benda lain untuk memukul diri sendiri melambangkan pengorbanan dan perjuangan.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, praktik ini tidak disukai oleh banyak ulama dan banyak jemaah memilih untuk berkabung dengan cara alternatif, seperti dengan mendonorkan darah.

Selama periode Muharram, jamaah Syiah akan sering memakai pakaian hitam sebagai simbol berkabung dan kesedihan. Banyak yang akan mengambil waktu ini sebagai kesempatan untuk mengambil pelajaran dari kehidupan Hussein.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru