THE EDITOR – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur Bank Indonesia per Juli 2026 menyisakan rapor merah bagi stabilitas moneter nasional. Memulai debutnya pada Mei 2018 sebagai anak emas” pilihan Presiden Joko Widodo, Perry mewarisi nilai tukar yang kokoh di kisaran Rp14.000 per dolar AS. Namun, sewindu berselang, saat ia mengemas barang-barangnya dari ruang kerja Jalan MH Thamrin, rupiah berada dalam kondisi sekarat—terdepresiasi parah hingga menjebol level psikologis terburuk sepanjang sejarah di angka Rp18.000 per dolar AS.
Perry pertama kali resmi menduduki jabatan tertinggi bank sentral ini setelah mengucapkan sumpah jabatan pada hari Kamis, 24 Mei 2018. Prosesi pelantikan yang khidmat tersebut digelar langsung di hadapan Ketua Mahkamah Agung (MA) kala itu, Hatta Ali, bertempat di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta.
Investigasi The Editor akan mengungkap perjalanan panjang kekuatan dolar AS yang perlahan meruntuhkan rupiah yang terjadi dalam tiga fase guncangan besar, yaitu:
1. Hantaman Pandemi dan Arus Keluar Modal (2018–2020)
Pada awal menjabat, Perry dihadapkan pada pengetatan moneter agresif dari Bank Sentral AS (The Fed). Rupiah sempat merosot ke Rp15.200 sebelum membalas bertenaga hingga menyentuh level terbaiknya di Rp13.600 pada akhir 2019. Namun, benteng itu runtuh seketika saat pandemi Covid-19 merebak pada awal 2020. Kepanikan global memaksa investor asing mencabut modalnya secara massal (capital outflow), menjatuhkan rupiah ke level Rp16.500 dalam hitungan minggu.
Perlu diketahui juga bila rupiah pertama kali ambruk menembus level psikologis Rp15.200 per dolar AS pada hari Kamis, 11 Oktober 2018. Level ini dicapai hanya dalam waktu 140 hari setelah Perry Warjiyo resmi mengangkat sumpah jabatan pada 24 Mei 2018. Pada hari pelantikannya (24 May 2018), nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada di level Rp14.205 per dolar AS berdasarkan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia.
2. Perang Tarif Impor Energi dan Efek Kebijakan Trump (2024–2025)
Memasuki tahun 2024, kekuatan indeks dolar AS kian tak terbendung pasca-terpilihnya kembali Donald Trump. Rencana tarif impor baru yang proteksionis dari AS memukul sentimen investor di pasar negara berkembang. Di dalam negeri, struktur ekonomi Indonesia kian rapuh akibat pembengkakan impor energi demi menutup defisit minyak mentah domestik yang melebihi 1,5 juta barel per hari. Kebutuhan dolar yang masif di pasar lokal terus menguras cadangan devisa nasional.
3. Puncak Guncangan Geopolitik dan Isu Independensi (2026)
Tahun ini menjadi babak akhir yang kelam bagi rupiah. Eskalasi militer terbuka antara Amerika Serikat dan Iran mengacaukan jalur logistik krusial di Selat Hormuz. Lonjakan harga minyak dunia langsung memicu inflasi global, memaksa The Fed menahan suku bunga tinggi lebih lama. Guna menahan kejatuhan rupiah yang bebas murni (freefall), BI menggelar rapat darurat non-jadwal untuk mengatrol suku bunga acuan (BI Rate) hingga menyentuh level 5,75% pada Juni 2026. Namun, pasar ramai membahas tentang khilangnya kepercayaan pasar akibat sentimen negatif terkait isu intervensi politik pasca-masuknya Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo ke jajaran deputi gubernur, rupiah kehilangan pijakan sepenuhnya hingga terseret ke level Rp18.175 per dolar AS.
DOLAR NAIK TAJAM HARI INI
Nilai tukar dolar AS pertama kali resmi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada hari Kamis, 4 Juni 2026. Tekanan berlanjut hingga mata uang rupiah terseret ke titik paling terpuruk sepanjang sejarahnya di level Rp18.141,94 per dolar AS pada perdagangan 13 Juli 2026. melonjak naik dan menjebol level Rp18.000 lagi pada perdagangan siang hari ini. Sentimen pembalikan ini dipicu oleh kepanikan investor menyusul pengumuman resmi mengenai pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo secara mendadak.
