21.3 C
Indonesia
Sunday, March 15, 2026

Hong Kong Arrests 13 on Suspicion of Manslaughter Over Apartment Fires

People leave flowers as Hongkongers mourn the fire victims. (Photo: Eugene Lee/ South China Morning Post/The Editor)
People leave flowers as Hongkongers mourn the fire victims. (Photo: Eugene Lee/ South China Morning Post/The Editor)

THE EDITOR – Authorities in Hong Kong have arrested 13 people on suspicion of manslaughter in relation to last week’s devastating fire, as they face growing criticism from residents over the arrests under national security laws of at least two civilians calling for accountability.

The Guardian on Monday (1/12/2025) said that emergency services continued to search through the seven towers of the Wang Fuk Court estate in Tai Po on Monday, days after the city’s deadliest fire in 75 years. The death toll rose to 151 and is expected to rise further as the search continues. About 40 people are still missing.

The estate, home to almost 5,000 people, had been undergoing extensive renovations that have been linked to the fire’s cause. In the aftermath, anger has grown over alleged past safety violations by the construction company working at the site and lax enforcement of standards, fuelled by revelations that residents had been complaining about the renovations for a year.

On Monday afternoon, officials said anti-corruption authorities had arrested 13 people over the disaster so far, including the directors and an engineering consultant of a construction company, and had “immediately begun comprehensive investigation along the lines of manslaughter”.

Hong Kong’s chief secretary, Eric Chan, said seven of 20 tested samples of the mesh netting used in scaffolding around the towers did not meet fire-retardant standards. Initial testing found samples were up to code, but Chan said the cheaper, noncompliant netting had been put in areas difficult to access in order to evade detection, describing it as a “shameful act”.

“They just wanted to make money at the expense of people’s lives,” he said.

As allegations of safety violations grow, alongside revelations that government authorities had issued multiple apparently unenforced warnings, residents have asked why no officials have yet faced consequences. Instead, two civilians were reportedly arrested by national security police.

Miles Kwan, a Hong Kong student, was arrested on Saturday over an online petition that made “four demands” for guaranteed support of the victims and accountability for those at fault, including any corrupt or culpable government officials.

Local media said Kwan was arrested for “seditious intention”. Police did not confirm the arrest, saying only that they “will take actions according to actual circumstances and in accordance with the law”.

Kwan was seen leaving a police station on Monday afternoon, Agence France-Presse reported.

Local media also reported the arrest of Kenneth Cheung, a former district councillor, on Sunday evening.

Asked on Monday about the arrests, the secretary of security, Chris Tang, said only there had been “inaccurate comments online” that were intended to threaten national security. “Therefore, we must take appropriate measures, including law enforcement measures,” Tang told the press conference. “Operational details cannot be disclosed as they involve national security.”

On Hong Kong social media, people criticised the arrests of civilians. “National security must be prioritised even if the dead are still buried in the building,” said one.

Thick smoke and flames rise as a major fire engulfs several apartment blocks at the Wang Fuk Court residential estate in Hong Kong's Tai Po district on Wednesday. Dozens of people were killed or were missing in the blaze. (Foto: Yan Zhao/AFP via Getty Images/NPR/The Editor).

Thick smoke and flames rise as a major fire engulfs several apartment blocks at the Wang Fuk Court residential estate in Hong Kong’s Tai Po district on Wednesday. Dozens of people were killed or were missing in the blaze. (Foto: Yan Zhao/AFP via Getty Images/NPR/The Editor).

Some commenters drew comparisons to mainland China. “The mainland calls these crimes ‘picking quarrels and provoking trouble’,” said one commenter. “It’s usually punished with heavy sentences. Stability trumps everything.”

Another said: “Now that we are aligning with mainland China’s approach, by dealing with the person who raises the question, no one will dare to ask questions, and thus Hong Kong’s governance will have no problems.”

The arrests followed warnings by national security authorities that they would crack down on anyone deemed to be using the incident to incite “anti-China” sentiment.

Before the arrests, authorities had already begun showing heightened sensitivity to the community response in Tai Po. Since the 2019 protests were quelled, civilian gatherings have been tightly controlled or prevented in Hong Kong. On Thursday and Friday the Guardian witnessed the rapid establishment of volunteer supporters using skills not seen at this scale since the protests, with hundreds of people using cars and public transport to bring in mountains of clothes, food and other essentials for the victims. The Guardian did not see any sign of political activism.

However, by evening, armed police were patrolling the area, and government officials soon took over from volunteer organisers.

The petition over which Kwan was allegedly arrested was launched late on Friday. Its “four demands” echoed the language of the protest movement’s “five demands” for democratic progress, but did not call for political change.

Kwan told media on Friday that he was only “proposing very basic demands”.

“If these ideas are deemed seditious or ’crossing the line’, then I feel I can’t predict the consequences of anything any more, and I can only do what I truly believe,” he said.

Bendungan Lau Simeme Senilai 1,76 Triliun Sudah Diresmikan Presiden Jokowi, Tapi Mengapa Kota Medan Masih Kebanjiran?

Area Bendungan Lau Simeme di Deli Serdang, Sumatera (Foto: Elitha Evinora br Tarigan/The Editor)
Area Bendungan Lau Simeme di Deli Serdang, Sumatera (Foto: Elitha Evinora br Tarigan/The Editor)

THE EDITOR – Presiden Joko Widodo meresmikan bendungan Lau Simeme yang berada di Deli Serdang, Sumatera Utara pada tanggal 16 Oktober 2024 lalu. Namun, hingga hari ini, area penampung air seluas 140 hektar tersebut belum juga diaktifkan. Padahal keberadaan Bendungan Lau Simeme dikatakan akan mampu mengurangi kemungkinan banjir di Kota Medan hingga 40%.

The Editor berkesempatan untuk berkunjung ke Bendungan Lau Simeme di awal Februari 2025 lalu untuk melihat perkembangan terakhir waduk tersebut. Hasilnya ternyata nihil, sebab saat tiba di pintu masuk bendungan, puluhan warga tengah adakan aksi protes sebab pemerintah belum membayar tanah mereka yang terdampak pembangunan waduk ini.

Cukup miris, padahal anggaran pusat yang digelontorkan untuk pembangunan waduk ini tidak sedikit, yakni sebesar Rp 1,76 triliun. Hingga sekarang, sejak mulai dibangun tahun 2018 lalu, Bendungan Lau Simeme belum juga bisa dioperasikan karena ternyata belum selesai pembangunannya.

APA FUNGSI BENDUNGAN LAU SIMEME BAGI MEDAN?

Desain awal mengapa Bendungan Lau Simeme dibangun adalah untuk menampung luapan Sungai Deli dan Sungai Sei Sikambing yang dikatakan sebagai dalang penyebab banjir di kota Medan.

Puluhan warga yang terdampak akibat pembangunan Bendungan Lau Simeme mengadakan aksi protes dengan menduduki area pintu masuk bendungan untuk meminta hak mereka atas harga tanah yang dianggap terlalu murah dan tidak adil antar satu area dengan yang lainnya. Foto diambil pada tanggal 12 Februari 2025. (Foto: Elitha Evinora br Tarigan /The Editor)

Puluhan warga yang terdampak akibat pembangunan Bendungan Lau Simeme mengadakan aksi protes dengan menduduki area pintu masuk bendungan untuk meminta hak mereka atas harga tanah yang dianggap terlalu murah dan tidak adil antar satu area dengan yang lainnya. Foto diambil pada tanggal 12 Februari 2025. (Foto: Elitha Evinora br Tarigan /The Editor)

Detik Sumut pada Rabu (16/10/2025) menyebutkan bila Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Bob Arthur Lombogia usai peresmian Lau Simeme bersama rombongan Presiden Joko Widodo mengatakan bila dengan keberadaan bendungan ini maka Kanal Banjir Deli Percut akan difungsikan kembali. Tujuannya adalah untuk mengurangi debit air yang masuk ke Sungai Deli dan Sei Sikambing.

“Dengan adanya Bendungan Lau Simeme, maka floddway (kanal banjir) Deli Percut akan kami fungsikan. Demikian juga tahun ini kami membangun floodway Sikambing menuju Belawan, sehingga air yang di Sungai Deli kita akan kurangi lewat floodway menuju ke Percut, lewat floodways menuju Belawan. Sehingga daerah di Kota Medan yang sering mengalami banjir ini akan segera kita atasi,” ungkap Bob.

Presiden Joko Widodo sendiri dalam peresmian mengatakan dalam pidatonya bahwa Bendungan Lau Simeme juga akan dipakai untuk mengairi area persawahan yang ada di sekitar waduk. 

Meski demikian, bagaimana fakta di lapangan?

The Editor menemukan fakta bila hingga hari ini, Selasa (2/12/2025) Bendungan Lau Simeme belum juga bisa digunakan, padahal sudah 1 tahun bendungan diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Penyebab bendungan belum selesai dibangun ternyata cukup unik. DS, salah satu penduduk yang tinggal di bantaran bendungan mengatakan bila peresmian Bendungan Lau Simeme sangat dipaksakan dan hanya digunakan untuk kepentingan penguasa sebab masih banyak bagian bendungan yang belum selesai dibangun.

Apa saja bagian bendungan yang belum selesai dibangun?

Ini adalah kondisi Bendungan Lau Simeme hingga per tanggal 12 Februari 2026 lalu (Foto: Elitha Evinora br Tarigan/The Editor)
Ini adalah kondisi Bendungan Lau Simeme hingga per tanggal 12 Februari 2026 lalu (Foto: Elitha Evinora br Tarigan/The Editor)

Dari penelusuran The Editor, sejumlah bagian penting bendungan hingga berita ini diturunkan ternyata belum selesai dibangun. Diantaranya: AS Bendungan yang berfungsi untuk membendung air, pintu air inlet dan outlet yang harusnya menjadi area keluar masuk air, menara intake (menara pandang), land clearing (lahan yang akan digenangi air), short cut air untuk jalan potong air, jalan lingkar bendungan, penghijauan, relokasi makam milik warga setempat yang baru dikerjakan beberapa waktu belakangan ini dan fasilitas sosial.

“Sekarang yang saya tahu pembangunan jalan short cut air, jembatan di area short cut, pembangunan post security serta pembangunan drainase yang sedang berjalan,” ungkap DS.

Jadi, mengapa harus diresmikan?

APA PENYEBAB BANJIR DI KOTA MEDAN SAAT INI?

Katadata pada Kamis (27/11/2025) melaporkan bila hujan lebat sejak Rabu malam menyebabkan banjir di Kota Medan. Salah satu penyebab utama banjir adalah meluapnya Sungai Deli, Sungai Belawan dan Sungai Babura yang membelah kota tersebut.

Akibatnya, 21 kecamatan terendam banjir, rumah warga dan ruas jalan utama di medan lumpuh total. Ratusan kendaraan terjebak di jalanan dan aktivitas warga berhenti begitu saja.

Lima kecamatan di pusat Kota Medan juga dinyatakan terendam banjir, seperti Medan Sunggal, Medan Maimun, Medan Labuhan, Medan Marelan dan Medan Tuntungan.

Ministry Of Transportation Searches Sumber Kayu Carried By Sumatra Floods, Including Alleged Illegal Logging

Residents look at flood damage in Padang on Sunday (Photo: Reuters/BBC).
Residents look at flood damage in Padang on Sunday (Photo: Reuters/BBC).

THE EDITOR – The Ministry of Forestry (Kemenhut) is tracing the sources of wood carried by floods in Sumatra, including the potential for logging and other illegal practices, considering that previously a number of cases of illegal timber trafficking were revealed in affected areas.

The Director General of Law Enforcement (Gakkum) of the Ministry of Law and Forestry, Dwi Januanto Nugroho, said that the wood carried by floods in Sumatra could come from various sources ranging from weathered trees, fallen trees, river material, former legal logging areas, to misuse of land rights holders (PHAT) and illegal logging (illegal logging).

The focus of the Directorate General of Law and Human Rights, he said, is to investigate professionally every indication of violations and process evidence of forestry crimes through applicable legal mechanisms.

“Regarding the growing news, I need to emphasize that our explanation is never intended to deny the possibility of illegal practices behind the wood that were carried away by the flood, but to clarify the wood sources that we are currently investigating and ensure that every illegal logging element is still processed according to the provisions,” he said in Voice of Indonesia (VOI) in Sunday (31/11/2025).

This is because throughout 2025 alone, the Ministry of Law and Human Rights has handled a number of cases related to illegal timber laundering around flood-affected areas in Sumatra. Including Central Aceh in June 2025 when investigators uncovered illegal felling of trees outside the PHAT area and forest areas by PHAT owners with evidence of about 86.60 cubic meters of illegal wood.

People try to clean up their shop after severe flooding in Denpasar, Bali, in September. (Photo: Anadolu/Getty/The Guardian/The Editor)
People try to clean up their shop after severe flooding in Denpasar, Bali, in September. (Photo: Anadolu/Getty/The Guardian/The Editor)

Not only that, in Solok, West Sumatra in August 2025, tree felling activities were successfully uncovered in forest areas outside the PHAT which were transported using PHAT documents with 152 logs/log evidence, 2 excavator units, and 1 bulldozer unit.

In the Mentawai and Gresik Islands in October 2025), the Directorate General of Gakkumhut and the Forest Area Control Task Force (PKH) confiscated 4,610.16 cubic meters of roundwood from the Sipora Forest whose expenses also involved problematic PHAT documents.

Meanwhile in Siringok, South Tapanuli in October 2025, 4 units of trucks loaded with round wood were secured 44.25 cubic meters with wood documents sourced from the frozen PHAT.

” Forestry crimes no longer work simply. Wood from forest areas can be dragged into a legal scheme by utilizing PHAT documents that are falsified, duplicated, or borrowed by names. Therefore, we are not only cracking down on illegal logging in the field, but also tracing documents, goods flow, and the flow of funds behind it,” he said.

For this reason, the Ministry of Law and Human Rights is currently conducting a moratorium on Forest Products Entrepreneurship Information System (SIPuHH) services for wood administration in PHAT in other areas of use (APL) as part of preventing the use of the scheme to circulate illegal timber resulting from illegal logging.

Kontroversi Pernyataan Kemenhut soal Asal Muasal Gelondongan Kayu Besar Terbawa Arus Banjir di Sumatera

Sejumlah warga berjalan di antara potongan kayu gelondongan yang bertumpuk di pantai Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Jumat (28/11/2025). Sampah kayu gelondongan itu menumpuk di sepanjang pantai Padang pasca banjir bandang beberapa hari terakhir. (Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/YU/Kompas)
Sejumlah warga berjalan di antara potongan kayu gelondongan yang bertumpuk di pantai Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Jumat (28/11/2025). Sampah kayu gelondongan itu menumpuk di sepanjang pantai Padang pasca banjir bandang beberapa hari terakhir. (Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/YU/Kompas)

THE EDITOR – Pernyataan Dirjen Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Kehutanan Dwi Januanto yang menyebut kayu itu berasal dari pohon tumbang alami menimbulkan kontroversi di media sosial. Pengguna media sosial mengkritik pernyataannya dengan memberikan gambaran bahwa kayu-kayu itu terpotong rapi.

Media sosial diwarnai video viral kayu gelondongan besar hanyut terseret banjir di Sumatera. Kementerian Kehutanan angkat bicara. Rekaman video yang diunggah di media sosial diduga berasal dari Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah di Sumatera Utara memperlihatkan kayu-kayu gelondongan yang ikut terbawa banjir.

Sejumlah warganet mengaitkan kayu-kayu tersebut dengan fenomena deforestasi di wilayah Sumatera yang yang terdampak banjir dan longsor dalam beberapa waktu terakhir.

Akhir pekan lalu, Dirjen Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut Dwi Januanto Nugroho memberikan penjelasan mengenai asal muasal kayu tersebut.

Dugaan sementara, kayu-kayu itu bekas tebangan yang sudah lapuk dan kemudian terseret banjir. Pemeriksaan secara menyeluruh masih perlu dilakukan oleh tim Gakkum Kemenhut mengingat kejadian banjir masih terjadi sampai saat ini.

Dia menyebut kayu itu kemungkinan besar berasal dari Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) yang berada di areal penggunaan lain (APL).

“Kita deteksi bahwa itu dari PHAT di APL. PHAT adalah Pemegang Hak Atas Tanah. Di area penebangan yang kita deteksi dari PHAT itu di APL, memang secara mekanisme untuk kayu-kayu yang tumbuh alami itu mengikuti regulasi kehutanan dalam hal ini adalah SIPU, Sistem Informasi Penataan Hasil Hutan,” kata Dwi seperti dilaporkan oleh Liputan6.com pada Jumat (28/11/2025).

Ditanya apakah terdapat kemungkinan kayu-kayu tersebut merupakan hasil pencucian kayu ilegal lewat skema PHAT, Dwi Januanto menyebut tidak mengesampingkan terdapat potensi kayu-kayu itu berasal dari modus yang serupa.

“Kawan-kawan masih ngecek, ya tapi kita sinyalir ke situ,” ucapnya.

Pernyataan Dwi Januanto yang menyebut kayu itu berasal dari pohon tumbang alami menimbulkan kontroversi di media sosial. Pengguna media sosial mengkritik pernyataannya dengan memberikan gambaran bahwa kayu-kayu itu terpotong rapi.

Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan meminta pemerintah mengusut kayu-kayu gelondongan yang hanyut saat banjir melanda Aceh, Sumatera Utara, maupun Sumatera Barat.

“Kami mendorong agar pemerintah segera membentuk tim investigasi untuk menelusuri dari mana kayu itu, kenapa bisa hanyut di dalam bencana? Apakah ada pelanggaran? Apakah ada illegal logging (penebangan liar, red.)? Dan siapa pelakunya?” kata Daniel kepada Antara, Sabtu (29/11/2025).

Menurut dia, pembentukan tim investigasi diperlukan dan dapat berdampak secara positif kepada publik maupun pemerintah.

“Tentu ini akan melegakan hati masyarakat, dan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah,” ujar anggota DPR yang bermitra dengan Kementerian Kehutanan tersebut.

Sumber Kayu Gelondongan yang Terbawa Arus Banjir versi Kemenhut

Direktur Jenderal Gakkum Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho memberikan klarifikasi atas pernyataan sebelumnya yang menuai kontroversi di media sosial. Dia menuturkan, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) sudah menelusuri sumber-sumber gelondongan kayu yang terbawa banjir di Sumatera. Termasuk potensi berasal dari pembalakan dan praktik ilegal lainnya.

Liputan6.com mengutip jawaban Dwi secara berkala yang salah satunya mengatakan bahwa kayu-kayu yang terbawa banjir di Sumatera dapat berasal dari beragam sumber. Mulai dari pohon lapuk, pohon tumbang, material bawaan sungai, area bekas penebangan legal, hingga penyalahgunaan Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) dan pembalakan liar (illegal logging).

“Terkait pemberitaan yang berkembang, saya perlu menegaskan bahwa penjelasan kami tidak pernah dimaksudkan untuk menafikan kemungkinan adanya praktik ilegal di balik kayu-kayu yang terbawa banjir, melainkan untuk memperjelas sumber-sumber kayu yang sedang kami telusuri dan memastikan setiap unsur illegal logging tetap diproses sesuai ketentuan,” jelasnya, Minggu (30/11/2025).

Sepanjang 2025 saja, Gakkum Kemenhut sudah menangani sejumlah kasus terkait pencucian kayu ilegal di sekitar wilayah terdampak banjir di Sumatera. Termasuk di Aceh Tengah pada Juni 2025 saat penyidik mengungkap penebangan pohon secara tidak sah di luar areal PHAT dan kawasan hutan oleh pemilik PHAT dengan barang bukti sekitar 86,60 meter kubik kayu ilegal.

Tidak hanya itu, di Solok, Sumatera Barat pada Agustus 2025 berhasil diungkap kegiatan penebangan pohon di kawasan hutan di luar PHAT yang diangkut menggunakan dokumen PHAT dengan barang bukti 152 batang kayu/log, 2 unit ekskavator, dan 1 unit bulldozer.

Di Kepulauan Mentawai dan Gresik pada Oktober 2025), Ditjen Gakkumhut dan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) menyita 4.610,16 meter kubik kayu bulat asal Hutan Sipora yang pengeluarannya turut melibatkan dokumen PHAT bermasalah.

Sementara di Sipirok, Tapanuli Selatan pada Oktober 2025, diamankan 4 unit truk bermuatan kayu bulat sebanyak 44,25 meter kubik dengan dokumen kayu yang bersumber dari PHAT yang telah dibekukan.

“Kejahatan kehutanan tidak lagi bekerja secara sederhana. Kayu dari kawasan hutan bisa diseret masuk ke skema legal dengan memanfaatkan dokumen PHAT yang dipalsukan, digandakan, atau dipinjam namanya. Karena itu, kami tidak hanya menindak penebangan liar di lapangan, tetapi juga menelusuri dokumen, alur barang, dan alur dana di belakangnya,” tuturnya.

Respons Menhut soal Pembalakan Liar Penyebab Banjir

Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, akhirnya buka suara soal bencana banjir besar dan longsor terjadi di tiga provinsi di Pulau Sumatera. Tiga provinsi terdampak yakni Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Dia menyampaikan duku cita mendalam. Katanya, peristiwa bencana alam parah di Sumatera sedianya menjadi titik balik untuk memperbaiki tata kelola hutan dan lingkungan hidup di Indonesia.

Dia menilai perhatian publik yang kini tertuju pada kejadian bencana tersebut merupakan momentum penting untuk melakukan introspeksi. Menurutnya, kejadian ini memperlihatkan adanya kesalahan mendasar dalam pengelolaan lingkungan.

“Kita mendapatkan momentum yang baik justru karena semua mata melihat, semua telinga mendengar, semua kita merasakan apa yang terjadi. Mudah-mudahan tidak melebar ke wilayah lain,” kata Raja Antoni. Dikutip dari Antara, Sabtu (29/11/2025).

Menurutnya, hal itu sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait penebangan hutan liar yang tidak terkontrol berkontribusi besar terhadap bencana.

“Satu sisi kami mengatakan duka yang mendalam, tapi ini juga momentum yang baik kita melakukan evaluasi kebijakan, karena pendulumnya ekonomi dan ekologi ini cenderungnya ke ekonomi, harus ditarik ke tengah lagi, buktinya nyata kan untuk saudara-saudara kita. Itu fakta yang kita rasakan,” tambahnya.

Saya Seorang Koki Tetapi Makanan Favorit Saya Mungkin Akan Membuat Sebagian Orang Ngeri!

Miguel menjadi terkenal di Inggris karena memasak makanan murah. (Foto: Justin Griffiths-Williams/Metro/The Editor)
Miguel menjadi terkenal di Inggris karena memasak makanan murah. (Foto: Justin Griffiths-Williams/Metro/The Editor)

THE EDITOR – Selama bertahun-tahun, Miguel Barclay, seorang koki terkenal di Inggris yang disukai karena mampu membuat makanan seharga £1 di negara Inggris yang mahal dan meskipun sayangnya tidak banyak yang bisa anda buat dengan harga tersebut saat ini (karena biaya hidup sangat tinggi), tapi ia masih berkomitmen penuh untuk membuat hidangan lezat untuk seluruh keluarga, dengan anggaran terbatas.

Karena itu, lemari es, lemari pakaian, dan freezer-nya penuh dengan bahan-bahan yang harganya terjangkau, dan makanan ‘mewah’ bukanlah sesuatu yang menarik baginya.

Kepada Metro.uk.co pada Minggu (30/11/2025), Ia mengatakan bila di ia suka sekali kue pistachio dari Marks & Spencer.

“Saya suka sekali memakannya. Saya harus melewati M&S setiap hari, dan kalau saya lapar sedikit saja, saya akan mampir dan membelinya. Saya tidak tahu apa isinya, mungkin tidak terlalu sehat, tapi bikin ketagihan. Ada sedikit rasa asin untuk menyeimbangkan rasa manisnya, dan rasanya pas untuk saya,” ungkapnya.

Tak hanya itu, kulkas Miguel juga selalu diisi dengan potongan daging asap tebal yang bergaris-garis. Menurutnya daging seperti itu adalah bahan yang bagus karena sedikit saja sudah cukup dan meningkatkan cita rasa hidangan serta membuatnya terasa sedikit lebih mewah.

Miguel sangat suka menambahkan bacon ke dalam masakannya (Foto: Justin Griffiths-Williams/Metro/The Editor)

Miguel sangat suka menambahkan bacon ke dalam masakannya (Foto: Justin Griffiths-Williams/Metro/The Editor)

Risoto adalah makanan wajib yang direkomendasikan oleh Miguel untuk dimiliki oleh setiap orang karena kedengarannya mewah, tetapi sebenarnya itu adalah hidangan yang sangat murah untuk dibuat.

“Inilah mengapa nasi risotto menjadi salah satu bahan terpenting di dapur saya karena Anda bisa menikmatinya dengan harga yang sangat terjangkau dan menghasilkan hidangan yang lezat. Saya sudah mulai membuat risotto dengan keju cheddar,” katanya.

“Saya memasak nasi dan melelehkan kejunya, lalu menambahkan sesuatu seperti asparagus atau udang di atasnya. Rasanya memang berbeda, tapi saya jamin hasilnya memuaskan! Untuk hasil terbaik, saya suka menggunakan keju cheddar yang sangat matang,” tambahnya lagi.

Apa Isi Kulkas Miguel Sang Koki Terkenal Ini di Rumah?

Miguel mengatakan bila ia selalu menyimpan sekantong kacang polong beku dan itu cara yang bagus untuk menambahkan sayuran ekstra ke makanan anak-anak karena tidak pernah basi.

“Saya juga menggunakannya untuk nasi goreng dan carbonara. Cukup masukkan segenggam ke dalam air mendidih di panci pasta, sekitar satu menit sebelum akhir,” ungkapnya.

“Orang Italia pasti akan membenci saya karena itu, dan mereka pasti akan sangat terkejut karena saya juga menambahkan bawang bombai dan jamur. Hidangan ini memang lebih mirip carbonara daripada hidangan tradisional , tapi ini favorit saya, tutupnya.

Jika Somalia Berbahaya, Mengapa Pariwisatanya Meningkat Tajam?

Pasar ikan Mogadishu (Foto: Ed Ram/Getty Images/CNN/The Editor)
Pasar ikan Mogadishu (Foto: Ed Ram/Getty Images/CNN/The Editor)

THE EDITOR – Selama beberapa dekade, nama Somalia selalu identik dengan negara konflik, pembajakan dan berbahaya. Sejak perang saudara muncul yang dimulai pada tahun 1990-an, negara ini relatif jarang dikunjungi wisatawan Barat. Namun, di luar dugaan, negara Afrika Timur ini kini mengalami peningkatan jumlah wisatawan mancanegara secara perlahan.

Sekitar 10.000 wisatawan mengunjungi Somalia pada tahun 2024, menurut Departemen Pariwisata negara tersebut — meningkat 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini terjadi meskipun sebagian besar pemerintah Barat masih menyarankan untuk tidak melakukan perjalanan.

James Willcox, pendiri perusahaan wisata petualangan Untamed Borders, mengatakan kepada CNN Travel pada Senin (17/11/2025) bahwa permintaan meningkat pesat. Perusahaannya menyelenggarakan rekor 13 perjalanan rombongan ke Mogadishu tahun ini, dibandingkan dengan hanya dua pada tahun 2023.

Pada 1 September 2025, Somalia meluncurkan sistem e-Visa baru yang bertujuan menyederhanakan prosedur masuk dan meningkatkan jumlah pengunjung. Namun, optimisme seputar program ini telah dirusak oleh perpecahan internal negara tersebut. 

Daerah otonom Somaliland dan Puntland menyatakan tidak akan mengakui visa baru tersebut — menggarisbawahi keterbatasan otoritas pusat Somalia, meskipun negara itu berusaha menunjukkan stabilitas.

“Mogadishu berbahaya. Anda langsung merasakannya begitu mendarat,” kata Karin Sinniger, seorang wisatawan Swiss yang berkunjung pada tahun 2020. 

“Anda harus tidur di dalam perimeter aman atau ‘Zona Hijau’. Bahkan di sana pun, pengeboman masih terjadi.” Katanya lagi.

Meski demikian, katanya kepada CNN Travel , saat bepergian dalam konvoi bersenjata dengan perlindungan polisi dan militer, namun tetap saja berjalan di pantai terasa aman,” katanya.

‘Ancaman Penculikan’

Somalia terkenal dengan reputasinya sebagai salah satu negara paling berbahaya di dunia. 

Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris sendiri memperingatkan turis bahwa di negara tersebut ancaman penculikan selalu tinggi.

Somalia experienced a 50% increase in tourists between 2023 and 2024, according to its government. (Photo: Heimo Liendl/Untamed Borders/CNN/The Editor)

Somalia experienced a 50% increase in tourists between 2023 and 2024, according to its government. (Photo: Heimo Liendl/Untamed Borders/CNN/The Editor)

Departemen Luar Negeri AS bahkan mengklasifikasikan Somalia sebagai negara berbahaya Level 4. Artinya, warga Amerika dilarang Bepergian kesana karena angka kejahatan, terorisme, kerusuhan sipil, kesehatan, penculikan, pembajakan sangat tinggi dan kurangnya ketersediaan layanan konsuler rutin.

Peringatan-peringatan tersebut jauh dari sekadar teori. Militan Al Shabab terus beroperasi di seluruh Somalia, termasuk di Mogadishu, tempat kelompok tersebut melancarkan beberapa serangan mematikan pada awal 2025.

Jadi Mengapa Ada Orang Yang Ingin Bepergian Kesana?

Bagi Sinniger, perjalanan ini merupakan bagian dari tantangan pribadi dan upaya untuk mengunjungi seluruh 193 negara yang diakui PBB dan menyelami di masing-masing negara tersebut. 

Ketika perlengkapan Sinniger hilang dalam perjalanan di Somalia, seorang penyelam lobster lokal di Pantai Lido, Mogadishu, meminjamkannya “sistem hookah” darurat—sejenis selang panjang yang terhubung ke kompresor udara—agar ia dapat menyelesaikan penyelamannya.

Willcox mengatakan banyak kliennya juga sedang menjalankan misi “country counting” atau pelancong yang mencari destinasi ekstrem. 

“Mogadishu adalah destinasi berisiko tinggi di mana Untamed Borders beroperasi,” ujarnya.

Sinniger mengaku telah memandu dan mengatur tur ke Mogadishu selama lebih dari satu dekade tanpa insiden. 

“Risiko serangan itu nyata. Semua tempat terbatas yang bisa ditinggali tamu internasional merupakan target potensial. Anda tidak bisa luput dari radar di Mogadishu,” katanya.

Namun, tambahnya, pertempuran sengit yang terjadi pada beberapa dekade sebelumnya telah menurun drastis. Di antara mereka yang memanfaatkan stabilitas relatif tersebut adalah Peter Bullock, pensiunan insinyur pengolahan limbah dari Inggris yang mengunjungi Somalia pada November 2024 bersama Untamed Borders sebagai bagian dari rencana pribadinya untuk mengunjungi seluruh 52 negara Afrika.

‘Pengalaman Yang Menyenangkan’

Ditemani oleh penjaga bersenjata, Bullock menjelajahi pasar ikan, kawasan tepi laut, dan reruntuhan katedral di kota itu. “Harus saya akui, itu adalah pengalaman perjalanan yang benar-benar berbeda dari apa pun yang pernah saya alami sebelumnya,” ujarnya kepada CNN. 

“Namun, karena saya menikmati perjalanan ke destinasi-destinasi yang berada di ambang kehancuran, saya tidak pernah merasa tidak aman,” tambahnya. 

“Keamanan bandara saat meninggalkan negara itu sangat mengesankan. Semuanya berjalan lancar. Pengalaman yang jauh lebih menyenangkan daripada melalui Bandara Heathrow London.”

Tantangan kemanusiaan di negara ini masih sangat berat. Menurut Badan Pengungsi PBB (UNHCR), konflik, ketegangan politik, dan bencana terkait iklim telah menyebabkan lebih dari 550.000 orang mengungsi di seluruh Somalia pada tahun 2024, menambah hampir 3 juta orang yang telah mengungsi di dalam negeri. Meskipun pembajakan telah berkurang, pembajakan masih dianggap sebagai ancaman di Teluk Aden dan Samudra Hindia.

“Beberapa wilayah Somalia sangat berbahaya. Ada tempat-tempat yang akan sangat bodoh jika dikunjungi oleh orang internasional,” kata Willcox

Di sebelah barat laut, Republik Somaliland yang mendeklarasikan diri sendiri—beroperasi secara otonom sejak 1991—menawarkan pengalaman yang sangat berbeda. 

Dengan angkatan bersenjatanya sendiri, pemerintahan yang dipilih secara demokratis, dan mata uangnya sendiri, negara ini telah lama dianggap sebagai cara teraman untuk mengunjungi wilayah Somalia Raya.

“Banyak orang salah paham tentang Somaliland, karena negara itu sering disalahartikan sebagai Somalia,” kata Deke Hassan Abdi, salah satu pemandu wisata perempuan pertama di Somaliland. 

Ia ingin para pengunjung memahami bahwa negaranya sangat berbeda dengan Somalia. Beberapa orang menganggapnya tidak aman, padahal menurutnya tidak benar. 

“Jadi pariwisata adalah cara yang ampuh untuk membedakan keduanya,” ungkapnya.

Ia ingin Somaliland mendapatkan pengakuan internasional dan yakin pariwisata dapat membantu memperkenalkan wilayah tersebut di peta dunia. 

“Somaliland menawarkan pengalaman yang berharga bagi wisatawan yang mencari sesuatu yang berbeda,” ujarnya. 

Seni cadas kuno, budaya nomaden, dan pantai-pantai yang masih asli adalah beberapa tempat yang ia rekomendasikan. Tempat favorit saya untuk mengajak wisatawan adalah pasar lokal di pusat kota Hargeisa. Saya senang berinteraksi dengan penduduk lokal. Mereka melihat betapa ramahnya penduduk setempat, dan betapa amannya berjalan-jalan di kota, di mana Anda tidak perlu penjaga,” tandasnya.

Rome’s Oldest Coffee House Was An Ornate Treasure. A Bitter Legal Dispute Has Turned It Into An Empty Eyesore

The Antico Caffe Greco has been serving customers on Via dei Condotti in Rome since the 18th century. (Photo: Ronald Roberson/Moment Editorial/Getty Images/CNN/The Editor)
The Antico Caffe Greco has been serving customers on Via dei Condotti in Rome since the 18th century. (Photo: Ronald Roberson/Moment Editorial/Getty Images/CNN/The Editor)

THE EDITOR – For more than two centuries, the Antico Caffè Greco has been part of the cultural landscape of Rome. Authors and artists, movie stars and princesses — even cowboys — have all made the pilgrimage to Via dei Condotti, at the foot of the Spanish Steps, to soak up the storied atmosphere of the Italian capital’s oldest coffee house.

CNN Travel on 19 November 2025 report that all the stories changed all of sudden only in a month. The cafe, a favorite for Romans and tourists, shut its doors. Portraits of former clientele — including Wild West sharpshooter Buffalo Bill — were stripped from its walls; plush red velvet chairs, seating booths and bar stools removed; gilded porcelain tableware carried away.

The venue, as popular among Rome’s 19th-century bourgeoisie as it was with the 1960s “La Dolce Vita” in-crowd, became an empty shell.

Antico Caffè Greco’s sudden demise was the result of a long-running rent dispute between its proprietors, Carlo Pellegrini and Flavia Iozzi, and their landlord, the Israelite Hospital of Rome. The hospital is a private institution that also provides healthcare to patients through Italy’s national health service.

It began in September 2017 when an 80-year lease expired and the Israelite Hospital raised the monthly rent from 17,000 euros to 120,000 euros — a leap from about $20,000 to $140,000. The move, it said, was in line with other properties on the street, which is home to stores that include Gucci, Versace and Dior.

High commercial rents have pushed many small businesses out of the center of Rome in recent years, especially since the Covid pandemic when lockdowns fueled the rise of home delivery and online shopping.

“We would be ready to pay more rent to keep the café open but not six times the amount we’re paying now,” Pellegrini said when the Antico lease expired eight years ago. “I feel very angry, but we will fight this.”

Casanova’s café ‘tryst’

That fight was dealt a decisive blow in 2024, when the hospital finally won a court battle to remove the café’s occupants. It’s aim is to reopen the venue with a new tenant.

Until last month, portraits on the walls reflected the café’s past, including the day in 1890 when Buffalo Bill took his morning coffee there with some fellow cowboys. It was a favorite haunt of Charles Dickens, Henry James and John Keats in the 19th century. Later, Orson Welles, Audrey Hepburn and Sophia Loren all spent time there.

Notorious 18th-century seducer Giacomo Casanova even mentioned a “tryst” at the café in his memoir. The sofa in the back where it was said to have taken place became popular with lovers over the centuries since.

The walls of the cafe are covered in artwork and portraits of some of its famous clientele. (Photo: Raimund Kutter/imageBROKER/Shutterstock/CNN/The Editor)

The walls of the cafe are covered in artwork and portraits of some of its famous clientele. (Photo: Raimund Kutter/imageBROKER/Shutterstock/CNN/The Editor)

Despite above-average prices, customers always seemed to think sipping a cappuccino or hot chocolate from the same cups as Pablo Picasso or Princess Diana was worth paying extra.

Pellegrini and Iozzi were formally evicted in October after losing five appeals and retrials.

The café was shuttered with the help of the military police. The locks were changed and the heavy wooden doors closed for the last time. Lawyers for the hospital removed a temporary “closed for vacation” sign that had been taped to the doors since September.

The court stipulated that the hospital must preserve the historical integrity of the property, but departing staff told CNN through their lawyer that they removed the café’s artwork in September, which included portraits, sculptures and memorabilia said to be worth around 8 million euros, fearing damage from a leaking pipe.

Antonio Maria Leozappa, special commissioner for the Israelite Hospital, told CNN the removed works and furnishings have since been seized by authorities and are now being protected by Italy’s Culture Ministry until new tenants can be found. It is unclear whether the hospital will seek backpayment from Pellegrini for an annual 100,000 euros rent shortfall since the legal battle began eight years ago.

“The Israelite Hospital is a public health asset, and the revenue generated by its properties has always been and will always be used by the Israelite Hospital, an institution affiliated with the National Health System, for the sole purpose of improving healthcare,” the hospital said in a statement in 2023 after having won one of many court battles. It said the rent increase was an attempt to improve healthcare “for the benefit of all citizens.”

‘A tragedy’

Leozappa said the café will open again once work is done in the building. “It is a historic café, it is one of the first in Italy, it dates back to the late 18th century,” he told CNN.

The Antico Caffè Greco will “continue to enjoy a long history, respecting tradition and the established regulations, and the historic character of the place will be preserved,” the hospital said in a statement. ”The city, Romans, and tourists will continue to enjoy their coffee at the Antico Caffè Greco for centuries to come.”

Pellegrini isn’t ready to give up the battle just yet. “The matter cannot be closed like this,” his lawyer, Alessandro Ciciarelli, said when the locks were changed.

Whatever happens next, the once-grand space is now an eyesore on one of the most prestigious streets in the city center — one of many empty storefronts, some of which sit vacant for years, that have appeared as a result of soaring commercial and residential prices.

The Antico Caffe Greco’s wooden outdoor terrace now has signs that its empty planters are not garbage bins.” Curious tourists peer through the windows into the empty space. Inside, the lights are on, but no one is making coffee.

“I came here every day for almost 15 years,” Manuel Capponi, an elderly local who lives at the top of the Spanish Steps, told CNN. “It is a tragedy that it had to close this way, the fights, the anger. But this café — and this city — have weathered worse storms. There will be another café and I’m sure the prices will reflect the higher rent.”

Apa Saja Yang Ditemukan Arkeolog di Kota Ziklag Kuno Dalam Alkitab Tempat Raja Daud Berlindung?

Yosef Garfinkel, profesor di Universitas Ibrani, memamerkan bejana tembikar yang ditemukan di lokasi tersebut (Foto: AFP/Metro/The Editor)
Yosef Garfinkel, profesor di Universitas Ibrani, memamerkan bejana tembikar yang ditemukan di lokasi tersebut (Foto: AFP/Metro/The Editor)

THE EDITOR – Sebuah tim arkeolog telah menemukan kota hilang berusia 3.200 tahun yang dulunya merupakan tempat perlindungan Raja David dalam Alkitab.

Disadur dari Metro.uk.co, dikatakan bila situs yang digali terletak di Khirbet a Rai di kaki bukit Yudea di Israel tengah dan diyakini sebagai sisa-sisa kota Ziklag di Filistin.

Dalam Alkitab sendiri, Daud mencari perlindungan di Ziklag setelah melarikan diri dari Kerajaan Israel dan pemerintahan Raja Saul. Kemudian, setelah kematian Saul, Daud menjadi raja di Hebron dan diberi kekuasaan atas Ziklag.

Dalam Kitab Yosua dan Kitab Samuel, Ziklag digambarkan sebagai wilayah kekuasaan bangsa Filistin, sekelompok orang yang diyakini berasal dari Mediterania. Mereka menguasai sebagian besar wilayah Israel tengah dan selatan saat ini.

Prof. Yosef Garfinkel (kanan) dan Dr. Katia Cytryn-Silverman (kiri) dari Universitas Ibrani memeriksa artefak yang ditemukan di situs Khirbet a Rai di kaki bukit Yudea, antara Kiryat Gat dan Lakhis. (Foto: Nir Alon/ZUMA Wire/REX/Metro/The Editor)

Prof. Yosef Garfinkel (kanan) dan Dr. Katia Cytryn-Silverman (kiri) dari Universitas Ibrani memeriksa artefak yang ditemukan di situs Khirbet a Rai di kaki bukit Yudea, antara Kiryat Gat dan Lakhis. (Foto: Nir Alon/ZUMA Wire/REX/Metro/The Editor)

Penggalian situs tersebut dimulai pada tahun 2015 dan telah menghasilkan banyak peninggalan arkeologi dari masa kota tersebut dihuni, termasuk mangkuk dan pot.

Relawan Australia dan Korea Selatan diarahkan oleh Prof. Yosef Garfinkel, dari Universitas Hebrew dan Prof. Kyle Keimer dari Universitas Macquarie di Sydney, Australia.

“Nama Ziklag tidak lazim dalam leksikon nama-nama di Tanah Israel, karena bukan merupakan nama Kanaan-Semit lokal,” ujar Profesor Garfinkel dalam siaran pers. 

“Nama itu berasal dari Filistin, yang diberikan kepada kota itu oleh penduduk pendatang dari Laut Aegea,” tambahnya.

Menurut Alkitab, Ziklag dijarah dan dibakar oleh sekelompok pengembara gurun yang disebut orang Amalek.

Para arkeolog mengambil bagian dalam penggalian di situs yang diklaim sebagai kota Ziklag dalam Alkitab di dekat kota Kiryat Gat di Israel selatan. (Foto: AFP/Metro/The Editor)

Para arkeolog mengambil bagian dalam penggalian di situs yang diklaim sebagai kota Ziklag dalam Alkitab di dekat kota Kiryat Gat di Israel selatan. (Foto: AFP/Metro/The Editor)

Sebanyak 12 situs kota kuno sebelumnya telah diusulkan sebagai sisa-sisa Ziklag, tetapi tidak ada satu pun di antaranya yang menunjukkan bukti adanya pemukiman berkelanjutan.

“Berbagai macam bejana lengkap merupakan bukti kehidupan sehari-hari yang menarik selama pemerintahan Raja David,” kata juru bicara Otoritas Purbakala Israel (IAA).

‘Sejumlah besar guci penyimpanan ditemukan selama penggalian — berukuran sedang dan besar — yang digunakan untuk menyimpan minyak dan anggur.’

Here Is The Reason Why Somalia Is Not For Faint Hearted Travelers

Somalia experienced a 50% increase in tourists between 2023 and 2024, according to its government. (Photo: Heimo Liendl/Untamed Borders/CNN/The Editor)
Somalia experienced a 50% increase in tourists between 2023 and 2024, according to its government. (Photo: Heimo Liendl/Untamed Borders/CNN/The Editor)

THE EDITOR – Somalia retains its reputation as one of the world’s most dangerous destinations. The UK’s Foreign, Commonwealth and Development Office warns of a “high threat of kidnap.” The US Department of State classifies Somalia as “Level 4: Do Not Travel,” citing “crime, terrorism, civil unrest, health, kidnapping, piracy and lack of availability of routine consular services.”

Those warnings are far from theoretical. Al Shabab militants continue to operate across Somalia, including in Mogadishu, where the group carried out several deadly attacks in early 2025.

So why does anyone want to travel there?

Karin Sinniger, a Swiss traveler who visited in 2020 told CNN Travel that the trip was part of a personal challenge: an attempt to visit all 193 UN-recognized countries and scuba dive in each one. When her gear was lost in transit, a local lobster diver on Mogadishu’s Lido Beach lent her a makeshift “hookah system” — a long hose attached to an air compressor — so she could complete her dive.

Willcox said many of his clients are also on “country counting” missions or are travelers seeking extreme destinations. “Mogadishu is the most high-risk destination Untamed Borders operates in,” he said, adding that he’s guided and organized tours to Mogadishu for over a decade without incidents. “The risk of attacks is real. All of the limited places where international guests can stay are potential targets. You can’t go off radar in Mogadishu.”

Still, he added, the fierce fighting of previous decades has drastically declined. Among those taking advantage of that relative stability was Peter Bullock, a retired sewage engineer from the United Kingdom who visited Somalia in November 2024 with Untamed Borders as part of a personal quest to visit all 52 African countries.

‘Pleasant experience’

Mogadishu's Lido Beach is a stop on Somalia's nascent tourist trail. (Photo: Abdishukri Haybe/iStock Editorial/Getty Images/CNN/The Editor)
Mogadishu’s Lido Beach is a stop on Somalia’s nascent tourist trail. (Photo: Abdishukri Haybe/iStock Editorial/Getty Images/CNN/The Editor)

Outside of Hargeisa, Somaliland’s capital, tourists need an armed police escort and the region’s “borders” with Somalia are typically listed as no-go zones by Western governments. But for Dylan Harris, founder of Lupine Travel, who has operated here since 2013, Somaliland is always a safer bet than Somalia.

“For Somaliland, the big highlight is the 5,000-year-old cave paintings at Laas Geel,” Harris said. “But people are also interested in the abandoned ships at the old port city of Berbera.

“There are less people interested in Somalia, likely because of the fact Somaliland is currently a lot safer to visit and most of the region is possible to travel around.”

Claire Makin, who enjoys travelling to hard-to-reach destinations and visited both regions with Untamed Borders, agreed. “Somaliland will get on the tourist map long before Somalia,” she said. In Mogadishu, she felt too restricted by security to talk to locals. “In Somaliland, the people were welcoming and could not believe we had chosen to visit their country. Somalia, though, is not for the faint hearted.”

In November 2025, Untamed Borders and Lupine Travel were running several trips to Mogadishu timed to coincide with the Most Traveled People’s Summit, an annual gathering of extreme travelers taking place in November 2025 in neighboring Ethiopia. For many summit participants, a short side trip to Somalia will be a hot ticket.

But Somalia is likely to remain a niche destination for the foreseeable future. Even with its new eVisa, the country’s tourism landscape remains fragmented. The central government’s system currently applies only to Mogadishu arrivals; Somaliland and Puntland, another semi-autonomous region, have rejected it, maintaining their own entry requirements.

Still, Willcox said his first guests have used the new eVisa system successfully. And the very fact that Somalia has launched an eVisa could prove a significant step forward for the nation’s fledgling tourist industry.

“I’ve seen a lot of eVisa systems go into place over the years, in countries like Pakistan and Tajikistan where we work,” he said. “So far, I’d say this Somali one has been the best. No one’s done a better implementation.”

If Somalia Is Dangerous, Why Is It Experiencing A Surge In Tourism?

Mogadishu's Lido Beach is a stop on Somalia's nascent tourist trail. (Photo: Abdishukri Haybe/iStock Editorial/Getty Images/CNN/The Editor)
Mogadishu's Lido Beach is a stop on Somalia's nascent tourist trail. (Photo: Abdishukri Haybe/iStock Editorial/Getty Images/CNN/The Editor)

THE EDITOR – For decades, Somalia’s name has been shorthand for conflict, piracy and danger. Since the country’s civil war began in the 1990s, the country has had relatively few Western visitors. Yet, against the odds, the East African nation is now seeing a quiet rise in foreign tourists.

About 10,000 tourists visited Somalia in 2024, according to the country’s Department of Tourism — a 50% increase on the previous year. That’s despite most Western governments still advising against all travel.

James Willcox, founder of the adventure tour company Untamed Borders, told CNN Travel on Monday (17/11/2025) that demand is growing fast. His company organized a record 13 group trips to Mogadishu this year, compared with just two in 2023.

On September 1, 2025, Somalia launched a new eVisa system aimed at simplifying entry procedures and boosting visitor numbers. But optimism around the program has been undercut by the country’s internal divisions. The autonomous regions of Somaliland and Puntland have both said they won’t recognize the new visas — underscoring the limits of Somalia’s central authority even as it tries to project stability.

“Mogadishu is dangerous. You feel it as soon as you land,” said Karin Sinniger, a Swiss traveler who visited in 2020. “You have to sleep within the secure perimeter or ‘Green Zone.’ Even there, there’s been bombings.”

Leaving that area, she told CNN Travel, means traveling in armed convoys with police and military protection. “Still,” she added, “walking on the beach felt safe.”

‘Threat of kidnap’

Somalia retains its reputation as one of the world’s most dangerous destinations. The UK’s Foreign, Commonwealth and Development Office warns of a “high threat of kidnap.” The US Department of State classifies Somalia as “Level 4: Do Not Travel,” citing “crime, terrorism, civil unrest, health, kidnapping, piracy and lack of availability of routine consular services.”

Those warnings are far from theoretical. Al Shabab militants continue to operate across Somalia, including in Mogadishu, where the group carried out several deadly attacks in early 2025.

So why does anyone want to travel there?

For Sinniger, the trip was part of a personal challenge: an attempt to visit all 193 UN-recognized countries and scuba dive in each one. When her gear was lost in transit, a local lobster diver on Mogadishu’s Lido Beach lent her a makeshift “hookah system” — a long hose attached to an air compressor — so she could complete her dive.

Willcox said many of his clients are also on “country counting” missions or are travelers seeking extreme destinations. “Mogadishu is the most high-risk destination Untamed Borders operates in,” he said, adding that he’s guided and organized tours to Mogadishu for over a decade without incidents. “The risk of attacks is real. All of the limited places where international guests can stay are potential targets. You can’t go off radar in Mogadishu.”

Still, he added, the fierce fighting of previous decades has drastically declined. Among those taking advantage of that relative stability was Peter Bullock, a retired sewage engineer from the United Kingdom who visited Somalia in November 2024 with Untamed Borders as part of a personal quest to visit all 52 African countries.

‘Pleasant experience’

Accompanied by armed guards, Bullock toured the city’s fish market, waterfront, and ruined cathedral. “I must admit, it was a totally different travel experience from anything I had previously experienced,” he told CNN. “But as I enjoy travelling to destinations on the edge, I never at any time felt unsafe,” he added. “Airport security on leaving the country was impressive. It flowed smoothly. A much more pleasant experience than going through London Heathrow.”

The country’s humanitarian challenges remain stark. According to the UN Refugee Agency (UNHCR), conflict, political tension and climate-related disasters displaced more than 550,000 people across Somalia in 2024, adding to nearly 3 million already internally displaced. Piracy, while reduced, is still considered a threat in the Gulf of Aden and the Indian Ocean.

“Some parts of Somalia are incredibly dangerous,” said Willcox. “There are places where it would be incredibly foolish for an international person to go.”

To the northwest, the self-declared republic of Somaliland — functioning autonomously since 1991 — offers a very different experience. With its own armed forces, democratically elected government and currency, it’s long been viewed as the “safest” way to visit the greater Somalia region.

“People have a lot of misconceptions about Somaliland, because the country gets mistaken for Somalia,” said Deke Hassan Abdi, one of Somaliland’s first female tour guides. She wants visitors to understand that her “country” is very different from Somalia. “Some people think it is not safe, which isn’t true, so tourism is a great way to help distinguish between the two.”

She wants Somaliland to gain international recognition, and believes tourism can help put the region on the map. “Somaliland offers a rewarding experience for travelers seeking something different,” she said. Ancient rock art, nomadic culture and pristine beaches are among her recommended highlights. “My favourite place to take tourists is the local downtown market in Hargeisa. I love engaging them with local people. They see how welcoming my people are, and how safe it is to walk around the city, where you don’t need a guard.”