19.9 C
Indonesia
Saturday, January 31, 2026

Apa Yang Dibangun Israel Saat Jadi Budak di Mesir?

Must read

THE EDITOR – Banyak orang yang bertanya-tanya, apa yang dibangun oleh Bangsa Israel saat menjadi budak di Israel. Pasalnya, perbudakan tersebut terjadi secara tidak adil dan menimbulkan luka yang mendalam di hati Israel yang telah berhasil membawa Mesir pada puncak kejayaannya.

Ada yang mengasumsikan Israel yang membangun Piramida, namun nyatanya tidak karena  Piramida dibangun 100 tahun setelah itu.

Sejarah perbudakan Israel di Mesir dimulai saat Yusuf meninggal dunia dan peralihan kekuasaan dari Firaun sebelumnya ke Firaun selanjutnya terjadi.

Alkitab mencatat di buku berjudul “Keluaran”, perbudakan atas Bangsa Israel dimulai beberapa generasi setelah mereka mendapat hak istimewa untuk menetap. 

Perubahan ini dimulai dengan kemunculan Firaun baru yang tidak mengenal Yusuf dan takut pada jumlah pendudukan Israel yang terus menerus bertambah.

Akhirnya, untuk mengurangi jumlah populasi Israel dan mengekang kekuasaan mereka, Firaun tag baru menindas mereka dan memaksa seluruhnya menjadi budak. 

Lukisan pembuatan batu bata di makam Rekhmire. Rekhmire adalah seorang bangsawan dan pejabat Mesir kuno dari dinasti ke-18 yang menjabat sebagai "Gubernur Kota" (Thebes) dan Wazir selama pemerintahan Thutmosis III dan Amenhotep II. Sebuah relief di makamnya menunjukkan budak-budak Semit dan Nubia sedang membuat batu bata. Pengawas Mesir memantau mereka saat mereka mengumpulkan lumpur dan air, mencampur bahan-bahan tersebut, membentuk batu bata lumpur, membawa batu bata kering, dan mengukur dinding batu bata lumpur (FOTO: adefenceofthebible.com)
Lukisan pembuatan batu bata di makam Rekhmire. Rekhmire adalah seorang bangsawan dan pejabat Mesir kuno dari dinasti ke-18 yang menjabat sebagai “Gubernur Kota” (Thebes) dan Wazir selama pemerintahan Thutmosis III dan Amenhotep II. Sebuah relief di makamnya menunjukkan budak-budak Semit dan Nubia sedang membuat batu bata. Pengawas Mesir memantau mereka saat mereka mengumpulkan lumpur dan air, mencampur bahan-bahan tersebut, membentuk batu bata lumpur, membawa batu bata kering, dan mengukur dinding batu bata lumpur (FOTO: adefenceofthebible.com)

Bangsa Israel diminta untuk membangun kota-kota persediaan atau gudang penyimpanan bernama Pithom dan Rameses (tercatat dalam Alkitab) di masa pemerintahan Rameses II yang memerintah sekitar tahun 1290-1224 Sebelum Masehi (Israel Biblical Studies).

Situasi ini bertolak belakang dengan apa yang dikerjakan Yusuf yang berhasil mengisi seluruh gudang Mesir dengan perbekalan untuk menyambut bencana kelaparan.

Penanggalan pada akhir abad ke-13 ini dikuatkan oleh Prasasti Merneptah yang dibuat sekitar tahun 1208 Sebelum Masehi dimana tergambar dengan jelas situasi Bangsa Israel yang berstatus Semi Nomaden dari Kanaan pada tahun-tahun setelah pemerintahan Rameses II. 

Gudang penyimpanan bernama Pithom dan Rameses ini terletak di sisi Timur Delta Nil. Gudang tersebut besarnya seperti kota-kota besar yang disebut Heliopolis yang berarti ‘Rumah Matahari’ dalam Bahasa Yunani disebut sebagai situs suci penting dalam agama Mesir kuno.

Firaun memerintahkan agar Bangsa Israel menyediakan semen dan batu bata dari bahan lumpur yang dicampur jerami untuk membangun kota-kota penyimpanan tersebut.

Batu bata ini dibuat dengan menggunakan campuran lumpur Sungai Nil dan jerami yang dicincang, diolah dengan cangkul atau dengan cara diinjak-injak; campuran tersebut kemudian dibawa ke pembuat batu bata yang membentuk batu bata menggunakan cetakan kayu, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari hingga kering.

BUKTI PENINGGALAN YANG ADA HINGGA SEKARANG

Bukti peninggalan sejarah yang masih ada hingga sekarang adalah sisa-sisa bangunan di kota Kuno Pithom yang dibangun pada masa perbudakan Bangsa Israel oleh Mesir.

Untuk menguji keakuratan Alkitab, seorang peneliti ahli bahasa, sejarah dan benda purba khususnya dari Yunani dan Mesir bernama Professor Robert Littman dan rekan-rekannya pergi ke Timai di wilayah delta Nil tempat sisa-sisa beberapa bangunan batu bata kuno masih ada, mempelajari prosesnya dari beberapa penduduk setempat dan memulai pekerjaan.

Sejarah perbudakan ini dilukis di makam Rekhmire dan Papirus Anastasia VI.

Rekhmire adalah seorang bangsawan dan pejabat Mesir kuno dari dinasti ke-18 yang menjabat sebagai “Gubernur Kota” (Thebes) dan Wazir selama pemerintahan Thutmosis III dan Amenhotep II.

Papirus Anastasi VI (sering dikatalogkan sebagai British Museum EA 10245) adalah manuskrip Mesir kuno yang penting dari Kerajaan Baru (khususnya Dinasti ke-19, yang berasal dari sekitar tahun 1205 SM, tahun ke-8 pemerintahan Firaun Merneptah).

BAGAIMANA SEJARAH PERSAHABATAN BANGSA ISRAEL DAN MESIR?

Reruntuhan bangunan di kota kuno Pithom, yang dibangun pada masa Israel dipaksa menjadi budak di Mesir (FOTO: https://bibleistrue.com/qna/pqna55.htm)

Reruntuhan bangunan di kota kuno Pithom, yang dibangun pada masa Israel dipaksa menjadi budak di Mesir (FOTO: https://bibleistrue.com/qna/pqna55.htm)

Persahabatan keduanya dimulai saat Yusuf, cicit dari Abraham yang menjadi tokoh sangat penting dalam Alkitab Kekristenan dan juga bagi bangsa Yahudi berhasil membawa Mesir lolos dari bencana kelaparan.

Yusuf memiliki kemampuan untuk menterjemahkan mimpi Firaun yang saat itu dipegang oleh Merneferre Ay (penelitian Armstrong Institute dan Academia.edu).

Di masa itu, Raja Merneferre Ay mendapat mimpi buruk berupa 7 sapi bagus dn gemuk keluar dari Sungai Nil dan mereka memakan rumput di sana. Kemudian, 7 ekor sapi kurus dan jelek lain datang dari Sungai Nil dan memakan sapi-sapi tersebut sampai habis (Dituliskan dalam Kitab Kejadian 41).

Mimpi serupa dan mirip juga terjadi di hari berikutnya, namun tidak memakai sarana sapi, melainkan 7 bulir gandum padat dan bagus yang ditelan oleh tujuh bulir gandum yang kurus.

Yusuf dengan cepat menjelaskan tentang mimpi Firaun tersebut dengan mengatakan bahwa bencana kelaparan akan menaungi Mesir selama 7 tahun. Dan di saat bersamaan, Yusuf menjelaskan cara untuk terhindar dari bencana tersebut secara detail kepada Firaun.

Sisa-sisa batu bata lumpur dalam jumlah besar di Tell el-Maskhuta (Succoth) di kota kuno Pithom, yang dibuat oleh Israel saat dipaksa menjadi budak di Mesir (FOTO: https://bibleistrue.com/qna/pqna55.htm)
Sisa-sisa batu bata lumpur dalam jumlah besar di Tell el-Maskhuta (Succoth) di kota kuno Pithom, yang dibuat oleh Israel saat dipaksa menjadi budak di Mesir (FOTO: https://bibleistrue.com/qna/pqna55.htm)

Terkesan dengan kecerdasan Yusuf membuat Firaun jatuh hati dan memilihnya sebagai orang kepercayaan dengan kekuasaan nomor 2 di bawah raja. 

Dengan kuasa itu, Yusuf mempersiapkan kerajaan Mesir untuk menghadapi 7 tahun bencana di seluruh Mesir. Sehingga, di musim 7 tahun kelimpahan, Ia mengisi lumbung-lumbung Mesir hingga jumlahnya tidak terkira banyaknya.

Saat musim kelaparan datang, rakyat Mesir meminta makanan kepada Firaun dan lewat tangan Yusuf dijual kepada mereka satu per satu. Jumlah makanan yang tak terkira banyaknya membuat Mesir mampu melayani pembeli makanan hingga dari seluruh penjuru bumi seperti Gosyen dan Kanaan.

Yusuf dinyatakan berhasil membawa Mesir ke masa kejayaan yang sulit dipikirkan oleh bangsa lain di jamannya, bahkan hingga sekarang. Sebab, sistem ketahanan pangan yang dilakukan oleh Yusuf mampu menjaga stabilitas pemerintahan dan pusat kekuasaan langsung berada di tangan pimpinan tertinggi.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Baru