THE EDITOR -Aksi protes yang dilakukan oleh ribuan warga Iran di kota Teheran sepertinya tidak bisa ditutupi oleh dunia. Banyak yang bertanya mengapa ada protes bila klaim bahwa seluruh warga Iran mendukung pemerintahan mendiang Ayatullah Ruhollah Khomeini.
Apa yang terjadi dengan warga Iran sebenarnya? Mengapa ada banyak informasi yang mengatakan bila aksi protes warga diredam dengan peluru tajam yang diarahkan ke apartemen warga Iran yang terdengar seolah bersorak saat rezim jatuh?
Untuk mengetahui lebih jauh, The Editor akan menulis seputar informasi yang dirangkum dari pertemuan langsung warga Iran dan beberapa sosial media yang berhasil ditemukan oleh redaksi.
Sangat sulit mendapat informasi ini namun, tak sedikit warga Iran yang berhasil melarikan diri dari serangan rezim menyuarakan dirinya secara terbuka di publik.
Suara-suara yang kuat ini cukup menarik untuk diketahui karena ternyata selama ini tidak ada yang tahu tentang situasi yang terjadi di Iran kecuali oleh mereka-mereka yang pernah bertemu langsung dengan warga negara Iran yang asli.
Saya sendiri pernah bertemu langsung dengan salah satu jurnalis televisi asal Iran dalam Konferensi Jurnalis Dunia di Seoul, Korea Selatan tahun 2016 lalu. Gaya berpakaiannya yang modis dan trendi membuat saya langsung bertanya kepada wanita separuh baya tersebut.
“Seperti apakah Iran yang sekarang? Aku terkejut mendapati jurnalis yang berpakaian seperti orang Eropa tanpa jilbab. Anda sangat membuat saya terkesan,” kataku padanya setelah memperkenalkan bahwa aku dari Indonesia.
Jawabannya yang singkat dan padat serta hangat membuatku sangat terkejut. Katanya begini, “Iran sangat terbuka pada dunia. Ada banyak pantai yang indah di Iran, khususnya Teheran karena saya tinggal di Teheran. Dan, kami diizinkan memakai pakaian bebas, bahkan bikini,” katanya sembari menunjukkan fotonya yang tengah berada di pantai.
“Bisa berbikini? Anda tidak ditangkap oleh pasukan Islam yang menguasai negara anda?” tanyaku.
“Tidak. Mereka orang terbelakang,” katanya sembari tertawa.
Aku dulu berpikir bahwa perbincangan secara langsung ini hanya kebetulan karena dia adalah seorang jurnalis yang pemberani. Nyatanya, Iran memang sedang mengalami perubahan.
Pada Minggu (1/3/2026) seorang aktivis, mantan politisi dan pegiat hak asasi manusia asal Iran bernama Golden Ghamari melalui akun Instagramnya di @gghamari secara terbuka mengatakan bila Ia sangat senang dan mengucapkan terima kasih karena Israel masih mengingat hubungan baik yang telah terjalin antara Israel dan Iran selama ribuan tahun.
Ghamari mengucapkan terima kasih kepada pasukan Israel karena telah membebaskan Bangsa Iran dari perbudakan yang dilakukan oleh Ayatullah Ruhollah Khomeini.
“Terima kasih karena mau mengorbankan diri anda untuk keamanan kami (Iran),” katanya sembari menahan air mata.
“Bersama, kita akan berdansa di jalanan kota Teheran. Terima kasih banyak. Selamat hari Minggu dan Umat Israel tetap hidup,” katanya sembari menggunakan dua bahasa Ibrani modern dalam kalimat terakhirnya.
Tak hanya Instagram, media sosial X juga dihebohkan dengan cuitan yang dilancarkan oleh @Begaei beberapa waktu lalu yang langsung menagih janji Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu melalui akun X di @netanyahu.
Akun @Begaei bertanya mengapa warga Iran di Teheran tidak melihat dukungan Israel sebagaimana yang telah dijanjikan. Akibatnya, banyak sekali anak muda yang terbunuh di jalanan karena yakin akan ditolong oleh pasukan Israel.
“Apakah anda (Benyamin Netanyahu) telah lupa pada kami (Iran)? Kami menanti pertolongan dari anda,” tulis akun tersebut.
Tak hanya itu, jurnalis berdarah Iran, Rita Panahi yang melarikan diri bersama orang tuanya saat anak-anak ke Australia dalam acara editorial yang disiarkan oleh televisi Sky News Australia dengan berani menyebut bila Ayatullah Ruhollah Khomeini adalah seorang diktator.
“Aku tak menyangka akan mengumumkan momen seperti ini dalam hidupku. Dan, saya ingin menyampaikan pesan kepada mendiang Mantan Pimpinan Tertinggi Iran, ‘terbakarlah di neraka’,” ucapnya. Sebagian kata-kata Rita harus disensor oleh redaksi The Editor. Namun, sindiran terakhir tersebut disampaikan oleh Rita Panahi dalam bahasa Persia yang Ia terjemahkan langsung di akun media sosial Instagramnya.
