Berkurban dan berhaji, dua hal yang menandai semangat Iduladha. Intinya, pada hari besar keagamaan ini, umat Muslim diuji untuk menunjukkan ketakwaannya.
Melalui berkurban, seorang Muslim rela menyisihkan hartanya untuk berbagi daging hewan terbaik pilihannya dengan lingkungan sekitar.
Tak hanya berhenti dengan membeli hewan di peternak, mereka yang berkurban pun berkontribusi memberikan pengalaman berupa memotong hewan dan menyediakan daging yang aman dikonsumsi.
Di sisi lain, masyarakat sekitarnya bisa mendapatkan pengalaman berkumpul dengan keluarga sambil mengolah daging kurban.
Kemudian, melalui berhaji, selain proses mendaftar untuk melakukan perjalanan ke Tanah Suci, seorang muslim menyisihkan hartanya melalui proses panjang. Panjangnya proses itu bisa bertahun-tahun bahkan melewati berbagai fase kehidupan hingga tua sebelum masanya tiba.

Pengalaman unik yang terasa dari cerita mereka yang sederhana, hidup secara sederhana, tapi memiliki keinginan luar biasa: beribadah langsung di Rumah Allah.
Bagi lingkungan sekitar, pengalaman itu muncul berupa harapan dan doa, tak hanya untuk keselamatan calon haji, melainkan turut menjadi bagian dari ritual tahunan sakral, meskipun waktu masihlah misteri.
Sebelum sampai ke ujian ketakwaan, semangat Iduladha sebenarnya relevan dengan berbagai hal di kehidupan kita.
Untuk berkurban, umat Islam mempersembahkan hewan-hewan ternak, bukan anaknya seperti kisah Nabi Ibrahim AS. Bukan untuk menurunkan nilainya, tapi untuk mengundang dan membuat umat Islam merasa pantas menjalankan ibadah tersebut.
Kemudahan pun bertambah karena biaya berkurban hari ini bisa lebih terjangkau dengan penyedia layanan urun dana sehingga kurban bisa dilakukan secara kolektif.
Begitu juga dengan berhaji, salah satu ibadah wajib bagi seluruh Muslim.
Meskipun diperlukan dana setidaknya Rp54,19 juta per orang, mengacu pada biaya perjalanan haji yang ditetapkan Kementerian Agama pada 2026, yang paling dasar adalah apakah umat Muslim merasa pantas berhaji.
Biaya tersebut memang tidak murah, tapi masa tunggu 26 tahun sebenarnya membawa peluang. Secara praktis, seorang Muslim yang ingin berhaji bisa menyisihkan Rp173.685 per bulan atau Rp5.789 per hari, lebih murah dari dua bungkus Indomie seharga Rp3.200 untuk tiap bungkusnya.
Jika punya kemampuan lebih, ada pilihan haji khusus senilai Rp165 juta hingga Rp270 juta dengan masa tunggu lebih singkat, yakni 5-7 tahun.
Praktisnya, perlu dana sekitar Rp1,96 juta hingga Rp3,21 juta per bulan. Solusi terbuka saat kita tahu bahwa ada banyak cara untuk memenuhi dana tersebut selain menaruh dana tabungan haji di bank.
Instrumen investasi keuangan berbasis syariah, seperti reksa dana syariah, surat utang syariah atau sukuk, dan saham syariah bisa digunakan untuk memenuhi dana haji karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dari suku bunga Bank Indonesia (BI).
Terlepas dari kurban dan haji, gambaran itu memberikan kita keyakinan bahwa masih ada kesempatan. Memang ada banyak kebutuhan dana besar, mulai dari dana darurat, dana pendidikan, hingga dana pensiun.
Namun, nilai di balik dana yang besar itu, yakni menyiapkan amunisi bertahan di situasi tak pasti, memberikan masa depan terbaik bagi anak, hingga memberikan kehidupan laik di usia senja akhirnya mendorong kita berupaya memecah keraguan dan mencari kesempatan.
Dorongan itu pun datang dari pertanyaan sederhana, yakni apakah kita merasa pantas mendapatkan pilihan yang lebih baik?
Penulis: Duwi Setiya, Perencana Keuangan dari Certified Islamic Money Manager (CIMM) dan Anggota International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia
