20.7 C
Indonesia
Monday, December 1, 2025

Jika Somalia Berbahaya, Mengapa Pariwisatanya Meningkat Tajam?

Must read

THE EDITOR – Selama beberapa dekade, nama Somalia selalu identik dengan negara konflik, pembajakan dan berbahaya. Sejak perang saudara muncul yang dimulai pada tahun 1990-an, negara ini relatif jarang dikunjungi wisatawan Barat. Namun, di luar dugaan, negara Afrika Timur ini kini mengalami peningkatan jumlah wisatawan mancanegara secara perlahan.

Sekitar 10.000 wisatawan mengunjungi Somalia pada tahun 2024, menurut Departemen Pariwisata negara tersebut — meningkat 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini terjadi meskipun sebagian besar pemerintah Barat masih menyarankan untuk tidak melakukan perjalanan.

James Willcox, pendiri perusahaan wisata petualangan Untamed Borders, mengatakan kepada CNN Travel pada Senin (17/11/2025) bahwa permintaan meningkat pesat. Perusahaannya menyelenggarakan rekor 13 perjalanan rombongan ke Mogadishu tahun ini, dibandingkan dengan hanya dua pada tahun 2023.

Pada 1 September 2025, Somalia meluncurkan sistem e-Visa baru yang bertujuan menyederhanakan prosedur masuk dan meningkatkan jumlah pengunjung. Namun, optimisme seputar program ini telah dirusak oleh perpecahan internal negara tersebut. 

Daerah otonom Somaliland dan Puntland menyatakan tidak akan mengakui visa baru tersebut — menggarisbawahi keterbatasan otoritas pusat Somalia, meskipun negara itu berusaha menunjukkan stabilitas.

“Mogadishu berbahaya. Anda langsung merasakannya begitu mendarat,” kata Karin Sinniger, seorang wisatawan Swiss yang berkunjung pada tahun 2020. 

“Anda harus tidur di dalam perimeter aman atau ‘Zona Hijau’. Bahkan di sana pun, pengeboman masih terjadi.” Katanya lagi.

Meski demikian, katanya kepada CNN Travel , saat bepergian dalam konvoi bersenjata dengan perlindungan polisi dan militer, namun tetap saja berjalan di pantai terasa aman,” katanya.

‘Ancaman Penculikan’

Somalia terkenal dengan reputasinya sebagai salah satu negara paling berbahaya di dunia. 

Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris sendiri memperingatkan turis bahwa di negara tersebut ancaman penculikan selalu tinggi.

Somalia experienced a 50% increase in tourists between 2023 and 2024, according to its government. (Photo: Heimo Liendl/Untamed Borders/CNN/The Editor)

Somalia experienced a 50% increase in tourists between 2023 and 2024, according to its government. (Photo: Heimo Liendl/Untamed Borders/CNN/The Editor)

Departemen Luar Negeri AS bahkan mengklasifikasikan Somalia sebagai negara berbahaya Level 4. Artinya, warga Amerika dilarang Bepergian kesana karena angka kejahatan, terorisme, kerusuhan sipil, kesehatan, penculikan, pembajakan sangat tinggi dan kurangnya ketersediaan layanan konsuler rutin.

Peringatan-peringatan tersebut jauh dari sekadar teori. Militan Al Shabab terus beroperasi di seluruh Somalia, termasuk di Mogadishu, tempat kelompok tersebut melancarkan beberapa serangan mematikan pada awal 2025.

Jadi Mengapa Ada Orang Yang Ingin Bepergian Kesana?

Bagi Sinniger, perjalanan ini merupakan bagian dari tantangan pribadi dan upaya untuk mengunjungi seluruh 193 negara yang diakui PBB dan menyelami di masing-masing negara tersebut. 

Ketika perlengkapan Sinniger hilang dalam perjalanan di Somalia, seorang penyelam lobster lokal di Pantai Lido, Mogadishu, meminjamkannya “sistem hookah” darurat—sejenis selang panjang yang terhubung ke kompresor udara—agar ia dapat menyelesaikan penyelamannya.

Willcox mengatakan banyak kliennya juga sedang menjalankan misi “country counting” atau pelancong yang mencari destinasi ekstrem. 

“Mogadishu adalah destinasi berisiko tinggi di mana Untamed Borders beroperasi,” ujarnya.

Sinniger mengaku telah memandu dan mengatur tur ke Mogadishu selama lebih dari satu dekade tanpa insiden. 

“Risiko serangan itu nyata. Semua tempat terbatas yang bisa ditinggali tamu internasional merupakan target potensial. Anda tidak bisa luput dari radar di Mogadishu,” katanya.

Namun, tambahnya, pertempuran sengit yang terjadi pada beberapa dekade sebelumnya telah menurun drastis. Di antara mereka yang memanfaatkan stabilitas relatif tersebut adalah Peter Bullock, pensiunan insinyur pengolahan limbah dari Inggris yang mengunjungi Somalia pada November 2024 bersama Untamed Borders sebagai bagian dari rencana pribadinya untuk mengunjungi seluruh 52 negara Afrika.

‘Pengalaman Yang Menyenangkan’

Ditemani oleh penjaga bersenjata, Bullock menjelajahi pasar ikan, kawasan tepi laut, dan reruntuhan katedral di kota itu. “Harus saya akui, itu adalah pengalaman perjalanan yang benar-benar berbeda dari apa pun yang pernah saya alami sebelumnya,” ujarnya kepada CNN. 

“Namun, karena saya menikmati perjalanan ke destinasi-destinasi yang berada di ambang kehancuran, saya tidak pernah merasa tidak aman,” tambahnya. 

“Keamanan bandara saat meninggalkan negara itu sangat mengesankan. Semuanya berjalan lancar. Pengalaman yang jauh lebih menyenangkan daripada melalui Bandara Heathrow London.”

Tantangan kemanusiaan di negara ini masih sangat berat. Menurut Badan Pengungsi PBB (UNHCR), konflik, ketegangan politik, dan bencana terkait iklim telah menyebabkan lebih dari 550.000 orang mengungsi di seluruh Somalia pada tahun 2024, menambah hampir 3 juta orang yang telah mengungsi di dalam negeri. Meskipun pembajakan telah berkurang, pembajakan masih dianggap sebagai ancaman di Teluk Aden dan Samudra Hindia.

“Beberapa wilayah Somalia sangat berbahaya. Ada tempat-tempat yang akan sangat bodoh jika dikunjungi oleh orang internasional,” kata Willcox

Di sebelah barat laut, Republik Somaliland yang mendeklarasikan diri sendiri—beroperasi secara otonom sejak 1991—menawarkan pengalaman yang sangat berbeda. 

Dengan angkatan bersenjatanya sendiri, pemerintahan yang dipilih secara demokratis, dan mata uangnya sendiri, negara ini telah lama dianggap sebagai cara teraman untuk mengunjungi wilayah Somalia Raya.

“Banyak orang salah paham tentang Somaliland, karena negara itu sering disalahartikan sebagai Somalia,” kata Deke Hassan Abdi, salah satu pemandu wisata perempuan pertama di Somaliland. 

Ia ingin para pengunjung memahami bahwa negaranya sangat berbeda dengan Somalia. Beberapa orang menganggapnya tidak aman, padahal menurutnya tidak benar. 

“Jadi pariwisata adalah cara yang ampuh untuk membedakan keduanya,” ungkapnya.

Ia ingin Somaliland mendapatkan pengakuan internasional dan yakin pariwisata dapat membantu memperkenalkan wilayah tersebut di peta dunia. 

“Somaliland menawarkan pengalaman yang berharga bagi wisatawan yang mencari sesuatu yang berbeda,” ujarnya. 

Seni cadas kuno, budaya nomaden, dan pantai-pantai yang masih asli adalah beberapa tempat yang ia rekomendasikan. Tempat favorit saya untuk mengajak wisatawan adalah pasar lokal di pusat kota Hargeisa. Saya senang berinteraksi dengan penduduk lokal. Mereka melihat betapa ramahnya penduduk setempat, dan betapa amannya berjalan-jalan di kota, di mana Anda tidak perlu penjaga,” tandasnya.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Baru