THE EDITOR — Lebih dari 22 umat Kristen di Nigeria, Afrika Barat, dibantai oleh teroris pada Senin (22/6/2026) di Desa Kawel yang letaknya hanya 1,6 kilometer dari pos tentara. Berdasarkan keterangan tokoh masyarakat dan para saksi, serangan tersebut terjadi pada pukul 02.00 dini hari waktu setempat.
Media setempat, Truth Nigeria (TruthNigeria.com), melaporkan bahwa penembakan sadis tersebut terjadi di Desa Kawel yang terletak di Wilayah Bokkos, Jos, Nigeria, Afrika Barat. Wilayah ini dikenal memiliki mayoritas penduduk pemeluk agama Kristen. Namun, konflik semacam ini sangat sering terjadi padahal hanya 55% dari jumlah populasi Nigeria yang beragama Islam, sedangkan 45% lainnya beragama Kristen dan Katolik.

Perlu diketahui, pada tahun 2025 lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengungkapkan kemarahannya dengan menyatakan bahwa ia akan melancarkan serangan udara ke Nigeria jika pembantaian terhadap umat Kristen terus berlanjut. Ancaman ini muncul setelah teroris dari Islam radikal mmenembaki umat Kristen yang sedang merayakan Natal di Kota Sokoto, Nigeria Utara, pada tahun 2025 lalu. Serangan tersebut mendapat banyak atensi dari media internasional, termasuk The New York Times.
Dari laporan dan investigasi The Editor, hingga pertengahan tahun 2026 ini, pembunuhan massal masih sering terjadi di banyak wilayah Nigeria. Seorang penginjil bernama Comfort Benjamin Bawa Arima membagikan sebuah video penguburan massal 20 umat Kristen yang ditembak mati oleh teroris di Desa Kawel pada Senin lalu.
Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, @caci_afrika, ia memberikan penjelasan lengkap tentang lokasi Desa Kawel yang terletak di Distrik Mushere, Wilayah Pemerintah Daerah Bokkos, Negara Bagian Plateau, Nigeria.
Tak hanya itu, pendeta tersebut juga mengatakan bahwa pembunuhan serupa makin sering terjadi di Nigeria dalam beberapa waktu belakangan ini.
“Ada begitu banyak pembunuhan dalam beberapa minggu terakhir di Kota Kaduna dan Kota Jos. Namun, dalam situasi ini, rakyat Nigeria harus bersatu, bukan di Nigeria Utara saja. Setiap orang yang percaya kepada Tuhan harus bangkit bersama-sama,” tulis pendeta tersebut.
Perlu diketahui, dalam video asli yang diunggah oleh wartawan Truth Nigeria di akun Instagram pribadinya, @masskeemz, terlihat bahwa puluhan korban penembakan oleh teroris tersebut dikuburkan tanpa menggunakan peti mati.
Dua puluh tubuh itu dibaringkan menjadi dua baris sejajar. Sepuluh di kiri dan sepuluh di kanan, dengan posisi kaki yang saling berhadapan. Sebelum ditimbun dengan tanah, lapisan daun diletakkan di atas deretan jenazah tersebut.
Tangis pilu ratusan keluarga mengiringi jatuhnya tanah pertama yang menimbun deretan jasad kaku korban penembakan tersebut. Tragis!
Para Teroris Sempat Berteriak ‘Allahu Akbar’ dalam Bahasa Fulani
Berdasarkan laporan TruthNigeria.com, para korban sempat mendengar para teroris datang menggunakan sepeda motor trail dan menembakkan senjata AK-74 sambil meneriakkan takbir, “Allahu Akbar“.

Tangis anak perempuan itu pecah saat melihat ayah, ibu, dan adik-adiknya diangkut dengan mobil pikap menuju tempat pemakaman karena keluarganya tewas dalam serangan teroris di desanya pada Senin, 22 Juni 2026 (Foto: Instagram @masskeemz).
Para teroris tersebut diketahui berbicara dalam bahasa Fulani, bahasa yang paling banyak digunakan di Nigeria serta memiliki kelompok milisi yang terkenal dengan nama Militan Fulani.
Dari hasil investigasi The Editor, Militan Fulani pada 6 Mei 2026 lalu juga menyerang 500 warga Desa Nding Sesut yang terletak 20 km di selatan Kota Jos. Mereka datang dengan meneriakkan takbir sembari melepaskan tembakan membabi buta ke arah prosesi pemakaman massal waktu itu.
Serangan tersebut terjadi saat warga tengah berkumpul memakamkan 7 korban yang tewas akibat serangan teroris pada malam sebelumnya (5 Mei 2026). Kehadiran konvoi sepeda motor pria bersenjata dengan pakaian hitam tersebut terjadi sangat cepat.
Tentara Lamban Menanggapi Peristiwa Penembakan
Christian Daily International melalui christiandaily.com melaporkan bahwa saat peristiwa berlangsung pada pukul 02.00 dini hari waktu setempat, warga langsung melapor ke personel keamanan Nigeria yang jaraknya hanya 1,6 kilometer dari desa. Akibat kelambatan penanganan, lebih dari 20 orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
“Akan tetapi, tentara lamban menanggapi dan baru tiba saat matahari sudah terang. Akibatnya, saat tiba, mereka hanya fokus mengevakuasi korban yang telah dibunuh oleh teroris,” ungkap Christian Daily International-Morning Star News.
“Otoritas Nigeria gagal melindungi nyawa dan harta benda umat Kristen di saat yang paling krusial. Namun, sekarang mereka tampak lebih tertarik pada yang sudah mati daripada yang masih hidup,” tambahnya lagi.
Hal serupa juga dilaporkan oleh Truth Nigeria. Tentara yang tergabung dalam Operation Enduring Peace—yang posisinya hanya berjarak 1,6 km dari Desa Kawel—baru tiba pukul 06.00 pagi, atau dua jam setelah serangan berakhir.
Setidaknya, 10 korban tewas dengan luka di kepala akibat tembakan peluru kaliber 7.62 x 39 mm. Peluru jenis itu umum digunakan untuk senapan serbu jenis AK. Korban lainnya diketahui mengalami luka tembak di leher dan dada. Dikabarkan, dalam peristiwa ini para teroris tidak membakar ataupun menghancurkan rumah warga.
Aksi Teroris Yang Mirip Tentara

Masih dari laporan yang sama, pakar perdamaian dan keamanan Nigeria, Joseph Lengmang dari Universitas Jos, menggambarkan bahwa aksi teroris kali ini mirip dengan tentara inkonvensional, yakni teratur, terencana, dan sangat terarah.
“Kita sedang menghadapi situasi yang berbahaya di sini. Mereka bukan pasukan kelas teri. Mereka berpendidikan, cerdas, dan canggih—jauh lebih taktis daripada apa yang dipikirkan orang-orang. Mereka beroperasi layaknya tentara inkonvensional yang teratur, terencana, dan sangat terarah,” ungkapnya.
Menurut analisis Joseph, saat ini Pemerintah Nigeria telah kehilangan hak monopoli atas penegakan hukum penggunaan senjata. Ia mengimbau agar pemerintah setempat segera bertindak sebab saat ini tengah terjadi transisi teroris dari kelompok milisi menuju gaya operasi pemberontak.
