THE EDITOR – Mata wanita berumur 102 tahun itu masih sangat tajam, setajam senjata yang Ia pakai di masa muda untuk mengusir pemerintahan Belanda saat perang di tahun 1947 – 1949.
Namanya adalah Mbaru br Ginting Rumah Pengulun dari Desa Suka, Kecamatan Tigapanah, Taneh Karo, seorang prajurit elite yang berada di garis depan bersama Djamin Ginting, yang telah mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo di tahun 2014 lalu.
Namun, nasib tidak memihak Mbaru br Ginting hingga saat ini. Bahkan, sepupunya Djamin Ginting Suka mendapatkan gelar kehormatan setelah hampir 70 tahun Indonesia merdeka.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Kepada The Editor, Mbaru yang saat ini tinggal di Desa Salit, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo bercerita bila Ia dan Djamin Ginting masih dekat dan berasal dari desa yang sama. Keluarga mengizinkan Mbaru bergabung sebagai tentara elite Jepang saat itu karena sebagian kakak dan sepupunya bergabung bersama Jamin Ginting untuk bergerilya.
Titing adalah panggilan akrab perempuan dari Marga Ginting (dipanggil ‘Beru’ untuk perempuan dalam silsilah Suku Karo) yang sudah lansia ini.
Meski sudah berusia 102 tahun tapi langkahnya tetap tegap dan lincah. Tak sedikitpun Ia lupa memori tentang perjuangannya melawan Agresi Militer Belanda II untuk mempertahankan Kutambaru dan Sarinembah di Kabupaten Karo yang berlangsung antara tahun 1947 hingga 1949.
Mbaru adalah 1 dari 16 prajurit elite dengan kemampuan tinggi yang berhasil dididik oleh Jamin Ginting yang ditugaskan di garda depan wilayah Kabupaten Karo seperti Kutambaru, Sarinembah, Manuk Mulia dan Regaji. Wanita ini berjasa melumpuhkan pasukan Belanda di daerah tersebut sebab Mbaru dan 16 wanita lainnya diberi senjata dan alat peledak saat membuka jalur utama bagi tentara Indonesia.
Saat itu, sebutan sebagai agen rahasia bagi wanita belum begitu lumrah di telinga para tentara. Padahal, tugas tersebut diemban oleh Mbaru yang kala itu masih berusia remaja.
“Kalau ditarik sumbunya maka langsung keluar apinya. Jadi kalau ditahan berbahaya karena (kalau tidak dilemparkan) akan membuat kita mati karena meledak di tangan kita sendiri,” katanya.
Usai bertugas membuka jalur bagi tentara, biasanya Mbaru dan 16 rekannya yang lain akan diberi tugas untuk menjaga perbekalan sembari mengobati tentara yang terluka.
Di tenda perbekalan, Mbaru bekerja bersama abang kandungnya yang bertugas sebagai dokter saat itu.
Mbaru adalah tentara wanita yang tidak pernah dibayar untuk maju ke Medan perang.
Seluruh pemuda dan pemudi di desa tempat Ia lahir, yakni Desa Lambar, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo ikut maju berperang karena banyak tentara yang sudah tewas.
Baru setelah menikah, Ia pindah ke Desa Salit bersama suaminya.
DILUPAKAN SEJARAH

Djamin Gintings bersama istrinya (Likas Tarigan) dengan busana adat Karo, Sumatera Utara pada suatu masa (FOTO: http://civitasbook.com/singo)
Setelah tinggal selama 3 tahun dari hutan ke hutan di Tanah Karo, akhirnya tahun 1949 Jamin Ginting berhasil mengalahkan Belanda.
Jadi, tugas Mbaru juga selesai dengan tugas akhirnya adalah mempertahankan Desa Manuk Mulia, Sarinembah dan Kutambaru dari tangan musuh.
Namun, usai kemerdekaan, ternyata gulatan politik mulai terasa sangat mengganggu kehidupan pribadi para pejuang termasuk Mbaru. Pergulatan politik ini nyaris terjadi di semua tempat di Indonesia.
Gulat politik pasca-1949 ditandai dengan transisi dari negara federasi (RIS) kembali ke NKRI pada 1950, diikuti era Demokrasi Parlementer yang tidak stabil (1950-1959) dengan kabinet yang sering berganti.
Konflik utama ini melibatkan pertarungan ideologi antara nasionalis, Islam, dan komunis, pemberontakan separatis (DI/TII, APRA, RMS, PRRI/Permesta), hingga berakhir pada Demokrasi Terpimpin.
“Kalau ingat saya langsung bersedih, bahkan sampai sekarang kalau diingat. Kami berperang tanpa meminta bayaran satu sen pun,” ungkapnya.
Pertengkaran politik yang rusak dan hanya untuk kepentingan pribadi ini membuat para pejuang ikut menanggung akibatnya, padahal mereka tidak ingin apapun selain bebas dari penjajah.
Penghargaan kepada para pejuang (Veteran) yang aktif bertempur antara tahun 1945 – 1949 yang didirikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 2 Januari 1957 justru menjadi tiang gantungan bagi Mbaru dan rekan-rekannya.
Pasalnya, nama Mbaru dan 16 wanita lain serta rekan seperjuangannya dinyatakan tidak masuk dalam daftar Veteran.
Nama mereka diganti oleh nama baru yang sama sekali tidak berada di area peperangan di kurun waktu tahun 1945 – 1949.
“Satupun tidak, semua sudah meninggal sekarang. Dan yang paling aneh adalah yang diberi gelar veteran justru anak muda yang tidak tahu apa-apa soal kemerdekaan. Banyak gadis muda yang tidak tahu apa-apa soal peperangan waktu itu mendapat penghargaan padahal tidak tahu apa-apa. Jadi saya cukup sedih sebenarnya,” katanya lirih.
Hingga kini, Mbaru tidak pernah mendapat dana pensiun apapun dari pemerintah Indonesia. Padahal, banyak sekali orang yang mengetahui perjuangannya di garis depan kemerdekaan di masa lalu, termasuk pejabat yang memegang tampuk kepemimpinan di Kabupaten Karo.
Jamin Ginting pernah berjanji kepadanya akan mengurus gelar veteran untuknya sekembalinya dari tugas sebagai Duta Besar di Kanada tahun 1972. Setelah bertugas selama 2 tahun, tepatnya di 1974, Jamin Ginting dinyatakan meninggal karena serangan jantung saat usianya masih 53 tahun.
Mbaru sendiri mengaku tidak yakin Jamin Ginting meninggal karena penyakit tersebut. Namun, janji sepupunya tersebut akhirnya kandas di tengah jalan.
PEJUANG DI KARO DITUDUH PKI DEMI KEPENTINGAN POLITIK DI JAKARTA
Gejolak politik juga membuat nama Mbaru dan para pejuang lain terseret masalah. Mereka yang sudah berkorban demi kemerdekaan justru dituduh anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) yang dianggap bertentangan Pancasila.
Termasuk Mbaru dan suami serta anak-anaknya. Tak terkecuali keluarganya. Kehidupan Mbaru yang bahagia di desanya terusik sebab tuduhan tersebut muncul saat suaminya yang bekerja sebagai guru sekolah dasar serta pemain musik yang akan manggung ke desa-desa lain.
Sebagaimana diketahui, pasca 1965 banyak pejuang di Karo, termasuk seniman dan tokoh masyarakat, aktif dalam Revolusi Sosial Sumatra Timur yang memiliki kedekatan ideologis dengan kelompok kiri/komunis saat melawan sisa-sisa kekuatan kolonial/feodal.
Tuduhan yang tidak beralasan ini membuat Mbaru dan keluarganya dipecat dari mata pencaharian mereka setiap hari.
“Kami disebut PKI waktu itu. Jadi saat kami para pejuang disebut PKI maka banyak saudara dan anak saya yang diberhentikan secara paksa dari pekerjaannya. Anak perempuan saya yang paling muda bernama Nelsen diberhentikan,” ungkapnya.
Enak saja menuduh sepeti itu, kami tidak menerima apa-apa,” katanya dengan gusar saat mengingat masa lalu.
Tuduhan politik ini membuat seluruh keluarga Mbaru sangat terluka sebab tuduhan serupa juga sempat dirasakan oleh Jamin Ginting.
HANYA SEGELINTIR YANG TAHU TENTANG PERJUANGAN MBARU BERSAMA JAMIN GINTING

Mbaru mengatakan bila keluarga melarang dia ikut bersama Jamin Ginting untuk menjadi tentara.
Namun, Ia bersikeras saat itu sebab semua keluarganya ikut menjadi relawan perang. Ia tidak menyesali sedikitpun pengorbanannya itu.
Usai kemerdekaan, Mbaru kerap dipanggil datang ke Kantor Bupati Taneh Karo di Kota Kabanjahe untuk menyanyikan lagu-lagu kebangsaan yang pernah dikumandangkan oleh para pejuang di tahun 1945-1949.
Mbaru dianggap sebagai saksi sejarah yang tidak bisa dilupakan namun tuduhan pada keluarganya dan seluruh pejuang yang sebenarnya tidak pernah dilakukan oleh pemerintah.
Ia mengaku pernah datang ke Kantor Camat dan Kantor Koramil Berastagi di awal-awal tahun 1958 untuk mendaftarkan diri sebagai veteran. Tapi, kedatangannya justru tidak digubris sama sekali oleh petugas saat itu.
Mbaru mengaku sangat kecewa.
“Kecewa sekali. Ikut berperang bersama tentara itu sangat melelahkan karena tidak jelas kapan makan dan minum. Harus selalu siaga setiap waktu. Kadang berpikir hendak istirahat sejenak tapi ternyata harus pindah lagi ke daerah lain,”.
“Jadwal makan dan istirahat tidak teratur karena selalu berada di area pertempuran. Kalau dipikir-pikir kadang sedih karena tidak mendapatkan apa-apa,”.
“Ada 16 orang wanita yang tergabung dalam Sindo waktu itu. Teman saya ada namanya Ibu Sinar,” katanya lagi.
Dari investigasi The Editor, Bupati Tanah Karo Antonius Ginting juga sempat bertemu dengan Mbaru br Ginting di Desa Salit saat kampanye. Dalam tayangan video tersebut, terlihat Antonius Ginting datang dan memeluknya. Namun, belum diketahui apakah Antonius yang kini sudah terpilih sebagai Bupati di Kabupaten Karo tahu mengenai sejarah wanita tersebut.
MBARU BR GINTING DAN JAMIN GINTING BUKAN KELUARGA BIASA
Mbaru br Ginting dan Jamin Ginting berasal dari kalangan raja-raja bermarga Ginting di Tanah Karo.
Keduanya merupakan keturunan raja dari Marga (baca: Merga) Ginting Rumah Pengulun yang berkuasa di Kerajaan Suka.
Situasi politik dan pemerintahan yang berubah membuat nama-nama kerajaan di Tanah Karo berubah mengikuti sistem pemerintahan Republik Indonesia pasca kolonial.
Namun, Marga Ginting Rumah Pengulun adalah satu dari raja-raja Karo yang ditakuti oleh Belanda dan dalam sejarah sulit untuk dikalahkan oleh Belanda.
Di Desa Suka tempat asal Mbaru dan Jamin Ginting, terdapat beberapa sub marga ginting yang tinggal bersama dengan damai.
Ginting Rumah Pengulun yang merupakan pendiri desa terkenal dengan kekuatannya dan membuat Belanda harus mengadakan politik adu domba untuk bisa menguasai kerajaan tersebut.
Salah satu yang dilakukan adalah dengan melakukan pertandingan antara sub marga ginting yang tinggal di dalam kerajaan tersebut.
Aturan tersebut seharusnya tidak terjadi karena pendiri kerajaan tidak bisa dimiliki oleh orang asing. Aturan ini menjadi pondasi dasar kehidupan Suku Karo sejak ribuan tahun yang lalu dan dihormati.
Namun, dengan ancaman akhirnya pertandingan dilakukan dimana setiap perwakilan sub marga dari Kerajaan Suka harus melawan kerbau bertanduk yang kuat dan besar.
Siapapun yang berhasil membanting kerbau tersebut singa terkapar jatuh akan jadi pemenang.
Tak hanya dengan metode adu domba, Belanda juga mencoba menjauhkan Kerajaan Karo dari wilayahnya dengan membangun jalur lalu lintas utama yang jauh dari kerajaan.
Akibatnya, Kerajaan Suka tersudut dan wilayahnya yang luas terancam menjadi sempit sebab Raja dan rakyatnya tidak diizinkan keluar dari wilayahnya dan juga tidak diizinkan untuk lewat jalur utama lalu lintas yang dibangun oleh Belanda.
Sebagaimana diketahui, daerah Regaji menjadi salah satu wilayah Kerajaan Suka yang dihapus dalam sejarah oleh Belanda.
Bagaimana pendapat anda? Komen ya!
