20.9 C
Indonesia
Wednesday, January 14, 2026

1/2 Juta Umat Kristen Ortodox Etiopia Rayakan Natal Dengan Pakaian dan Tudung Kepala Putih. Mengapa? 

Must read

THE EDITOR – Lihatlah kemeriahan Natal di Etiopia ini, luar biasa bukan? 

7 Januari 2026 kemarin adalah perayaan hari Kelahiran Yesus Kristus oleh umat Katolik dari Gereja Orthodox. 44% masyarakat Etiopia di Afrika beragama Kristen dan perayaan yang diawali dengan puasa selama 43 hari di negara itu disebut Gena.

Natal bagi umat Kristen di Etiopia memang berbeda dengan negara barat yang umum merayakannya di tanggal 25 Desember. Mereka yang tergabung dalam gereja Ethiopian Othodox Tewahedo Church ini masih menggunakan kalender kuno gereja perdana, yaitu kalender yang menghitung waktu secara berbeda dengan Kalender Masehi dari Bangsa Eropa.

Perbedaan ini membuat perayaan Natal yang jatuh tanggal 25 Desember di Eropa jatuh tepat di tanggal 7 Januari bagi orang Etiopia. Hal ini terjadi sejak ribuan tahun yang lalu, dan tidak pernah berubah.

Etiopia sendiri adalah salah satu umat dengan gereja tertua di dunia, bahkan jauh sebelum nama Yesus, yang disebut Tuhan dalam Alkitab dikenal di Eropa.

1/2 juta orang umat dari Gereja Ortodox berkumpul di Lapangan Meskel di Ibukota Etiopia bernama Addis Ababa pada tanggal 7Januari 2026 untuk merayakan Natal (FOTO: Instagram @amanuel_sileshi)

1/2 juta orang umat dari Gereja Ortodox berkumpul di Lapangan Meskel di Ibukota Etiopia bernama Addis Ababa pada tanggal 7Januari 2026 untuk merayakan Natal (FOTO: Instagram @amanuel_sileshi)

The Editor sendiri melakukan penelusuran panjang di media sosial tentang Natal yang meriah ini. Hasilnya cukup mengesankan karena jutaan orang hadir di Lapangan Meskel di ibukota Etiopia, Addis Ababa pada Selasa lalu waktu setempat.

Sambil menyanyikan himne puji-pujian kepada Tuhan, umat Gereja Otodox ini membawa lilin di tangan mereka masing-masing. Dengan memakai pakaian tradisional, seluruh pria dan wanita berbagai umur terlihat memakai pakaian berwarna putih dengan topi putih bagi pria dan kerudung putih bagi wanita.

Mereka berdiri teratur dan rapi tanpa berdesakan sama sekali. Tidak ada kericuhan selama perayaan berlangsung. Dari video yang beredar, setiap umat baik yang duduk di depan gedung mimbar yang dibangun melingkar, maupun yang berdiri di atas bukit sembari berbaris dengan rapi. 

Ratusan ribu cahaya lilin menjadi penerang yang dominan di acara yang dilakukan pada sore hingga malam hari tersebut. Tanggal 7 Januari menjadi puncak peristiwa kelahiran Yesus Kristus yang mereka awali dengan puasa selama 43 hari sebelumnya. 

Suasana tenang dan penuh syahdu ini sangat membuat dunia berdecak kagum pada Etiopia karena di saat yang bersamaan banyak kota di negara tersebut tengah mengalami konflik bersenjata, seperti Amhara dan Oromia. 2 kota tersebut tengah mengalami krisis karena kericuhan terjadi terus-menerus.

(FOTO: Instagram @amanuel_sileshi)
(FOTO: Instagram @amanuel_sileshi)

Etiopia menjadi salah satu negara penganut Kristen Ortodox tertua di dunia. Dimana agama ini masuk kesana pada abad ke-4 Masehi, sementara Yesus Kristus sendiri lahir di abad 1 Masehi.

Perayaan ini merupakan simbol pemurnian diri karena umat Ortodox Etiopia lebih mengutamakan acara sederhana yang diikuti dengan sakral, puji-pujian kepada Tuhan serta kotbah dari Imam.

Lagu-lagu pujian memenuhi Lapangan Meskel yang mampu menampung hingga 1/2 juta orang. Dari berbagai sudut terlihat warna putih dengan pendar-pendar kekuningan dari cahaya lilin yang tertiup angin. Tidak ada acara hingar bingar, hanya khusyuk.

Perayaan spiritual suci ini tidak ada hubungannya dengan konsumerisme, pohon Natal, Santa putih, rusa, hadiah berlebihan dan budaya Barat sama sekali.

APA ARTI PENUTUP KEPALA UMAT KRITEN ORTODOX INI?

Imam atau pastor saat menebarkan asap dupa sebelum perayaan ibadah Natal dimulai di Lapangan Meskel (FOTO: Instagram @amanuel_sileshi)

Imam atau pastor saat menebarkan asap dupa sebelum perayaan ibadah Natal dimulai di Lapangan Meskel (FOTO: Instagram @amanuel_sileshi)

Dalam acara Natal tersebut, perempuan terlihat menutup kepala mereka dengan kain linen putih yang menandakan kesucian dan penghormatan terhadap daerah sakral/suci. Model pakaian tersebut merupakan tradisi budaya Etiopia yang disebut dengan Netela atau Shash. Simbol serupa juga dipakai oleh pria.

Berbagai alat musik pukul hingga petik dimainkan pada perayaan tersebut. Pria dan wanita menyanyi dan menari bersama dalam jarak yang rapat. Namun disediakan tempat duduk yang terpisah antar keduanya agar nyaman.

 

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Baru