25.4 C
Indonesia

Wali Kota di Meksiko Menikah dengan Buaya, Lambang Penyatuan Manusia dengan Dewa

Must read

MEKSIKO – Suara musik tradisional terdengar meriah di salah satu kota kecil di barat daya Meksiko, tepatnya di Kota San Pedro Huamelula, Oaxaca, Kamis (30/6).

Selain musik, keceriaan orang-orang di kota itu juga mengiringi sebuah acara pernikahan penuh warna yang menyatukan wali kotanya sendiri dengan seekor buaya.

Mereka bersuka ria menari sambil meminta sang mempelai laki-laki untuk mengesahkan pernikahannya dengan sebuah ciuman.

Setelah digoda lebih dari satu kali, Wali Kota San Pedro Huamelula Victor Hugo Sosa akhirnya membungkukkan diri dan memberikan ciuman di moncong buaya kecil yang telah menjadi pasangannya.

Moncong itu tentunya telah diikat demi menghindari insiden yang tidak diinginkan–gigitan, misalnya.

Dilansir dari Reuters, ritual pernikahan ini kemungkinan berasal dari berabad-abad lalu, ke masa pra-Hispanik, di antara komunitas adat Chontal dan Huave negara bagian Oaxaca, seperti doa memohon karunia alam.

Buaya yang dinikahkan dengan Wali Kota Victor Hugo Sosa mengenakan pakaian berwarna putih. (Foto: Jose de Jesus Cortes/Reuters)

“Kami meminta hujan yang cukup kepada alam, untuk makanan yang cukup, agar kami memiliki ikan di sungai,” ujar Sosa, wali kota desa nelayan kecil tersebut.

Oaxaca, yang terletak di bagian selatan Meksiko yang miskin, bisa dibilang negara terkaya dalam hal budaya asli dan merupakan rumah bagi banyak kelompok yang terus mempertahankan bahasa dan tradisi mereka.

Ritual kuno di San Pedro Huamelula ini, yang sekarang bercampur dengan spiritualitas Katolik, mencakup merias buaya atau caiman dengan gaun pengantin putih serta pakaian warna-warni lainnya.

Reptil berusia tujuh tahun tersebut pun dipanggil putri kecil. Ia diyakini sebagai dewa yang mewakili ibu pertiwi.

Pernikahannya dengan pemimpin setempat melambangkan penyatuan manusia dengan dewa.

Saat terompet dibunyikan dan pukulan drum menghadirkan irama yang meriah, penduduk setempat membawa pengantin buaya di tangan mereka melalui jalan-jalan desa.

Di sisi lain, para pria mengipasinya dengan topi mereka.

“Ini memberikan saya begitu banyak kebahagiaan dan membuat saya bangga dengan asal saya,” kata Elia Edith Aguilar, yang dikenal sebagai ibu baptis yang mengatur pernikahan.

Ia mengatakan bahwa dirinya merasa istimewa karena dipercayakan untuk melaksanakan upacara ini.

Ia juga mengaku telah menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan apa yang akan dikenakan sang “pengantin wanita”.

“Ini tradisi yang sangat indah,” tambahnya sambil tersenyum.

 

Sumber: Reuters

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru